Mendua

Mendua
Tak Ada Kabar


__ADS_3

Waktu pulang sekolah telah tiba, kali ini sekolah memang di pulangkan lebih awal. Tepatnya pukul 13.00 WIB SMA Cakra Buana sudah dipersilahkan membereskan buku-buku.


Tami dan Tia saling pandang yang sebenarnya sudah mengetahui akan pulang lebih awal hari ini.


"Kalian pasti sudah tahu kalau kakak kelas kalian hari ini ada study tour. Jadi semua kelas sepuluh dan dua belas di pulangkan lebih awal. Mengingat juga ada beberapa guru pengajar yang akan mendampingi. Ayo Arif siapkan kelas untuk berdoa akan pulang." ucap bu Ajeng guru bahasa Inggris yang cantik dan ramah itu.


Arif pun mengikuti perintah sang guru untuk menyiapkan kelasnya, semua siswa yang ada segera membereskan mejanya. Tentu saja itu adalah hal membahagiakan. Siapa siswa yang tak buru-buru untuk segera menghirup udara kebebasan di luar. Tentu saja semuanya menjadi bersemangat.


Setelah selesai berdoa, dan bu Ajeng memberi salam meninggalkan kelas. Beberapa dari murid pun segera berhamburan keluar kelas. Kecuali Tia dan Tami yang masih asyik dengan ponselnya.


"Pulang yuk Tam, kamu mau aku anter gak? Mampir ke toko accessories dulu tapi. Hhehe" Tawar Tia dengan baik dan pasti ada maksud terselubung di baliknya.


"Sebentar ah. Chat Doni dulu kalau aku pulang lebih awal." ucap Tami sambil memanyunkan bibir. Jarinya segera sibuk mengutak-atik ponselnya.


"Ya elah.. Katanya dia lagi sibuk. Udah biarin aja dia. Kalau inget pasti dia bales pesan yang tadi." ucap Tia yang seperti telah ahli dengan sikap para cowok.


Tia dan Tami tentu saja berbeda untuk hal menangani masalah percintaan. Bedanya Tia selalu mudah mendapatkan yang baru walau masih punya pacar. Tia pun telah berganti 3 kali lelaki selama ini, dan terakhir kak Anton ini. Tami sering menggapnya playgirl, tapi ada maksud dari setiap Tia lakukan. Selalu ada sebab dari setiap perbuatan.


Sedangkan Tami hanya punya satu pacar yaitu Doni yang telah berpacaran hampir 2 tahun. Dia selalu mengedepankan kesetiaan. Dan pasti dia lah yang selalu berusaha mengalah dan terus percaya. Karena terlalu takut ditinggal Doni yang dia pikir bisa selalu ada dan menjaganya.


Sayangnya Doni berbeda sekolah dengan Tami, itu yang terkadang membuat Tami sedih. Menahan rindu jika sudah saling banyak kegiatan sekolah.


°💓Doni💓


~Kasya aku pulang lebih awal. Sekarang aku pulang bareng Tia mau mampir dulu ke toko accessories. Kalo udah selesai latihan aku kabarin yah??? Kangen🤗


Dengan penuh semangat Tami memgetiknya. Berharap Doni segera membalasnya.


Sedangkan Tia kicep dengan tingkah polos Tami. Lalu kemudian menulis pesan kepada seseorang.


Tia mengangkat alis sebelah dan tersenyum sebelah, jarinya lihai mengetik sesuatu di ponselnya.

__ADS_1


°My Love💕


~bee aku udah pulang. Kamu udah datang ke sekolah belum? Aku mau pulang sama Tami, mampir ke toko accessories dulu tapi. Kamu tungguin apa nggak bee?


Ternyata Tia pun ikut menunggu harapan kabar dari sang pacarnya. Setelah beberapa menit mereka memainkan ponselnya setelah mengirim pesan WhatsApp. Tak ada pesan balasan pun yang bertengger di ponsel mereka.


"huh!" mereka mendesah bersamaan. Saat menyadarinya, mereka malah saling pandang dan tertawa bersama.


"Dasar cowok! Haha" ucap mereka bersamaan lagi kemudian tertawa terbahak.


"Kau tahu Tam?? Saat seperti ini lah aku membencinya. Sebentar lagi pasti kita putus kalau dia tak memperjuangkanku lagi. Karena kita masih cinta monyet, bosan pasti kapan saja datang." ucap Tia dengan tersenyum miring.


"Ya.. Jangan mainin hubungan lah. Kali aja mereka benar-benar sibuk. Pasti selalu ada alasan dibalik ini semua kan?" ucap Tami yang mencoba berpikir positif


Bip..Bip...!! (suara getar ponsel)


Buru-buru Tia mengalihkan pandangan keponsel dan segera membuka layarnya.


Udah pulang dek?? Pulang bareng yuk.


~maaf kak, aku pulang sama temenku, udah ada janji mau mampir toko accessories dulu kita. Maaf banget :(


"siapa Tia? Kak Anton ya??" tanya Tami penasaran. Kepalanya mengintip layar ponsel Tia.


"Bukan. Kak Firdaus yang chat. Ngajak pulang bareng. Ya begini cowok di awal. Kalau udah pacaran ya paling bosan nanti" jawab Tia yang kemudian tersenyum kecut.


Tia seperti sudah hafal watak para cowok. Dia banyak menerima pendekatan cowok, dia pelajari satu persatu watak mereka.


"Udah yuk keluar. Dah sepi nih kelas. Mending kita happy sendiri aja!!" ucap Tami yang kemudian semangat.


Tami memberi ide lebih baik untuk bersenang-senang sendiri saja, atau lebih tepatnya girls time.

__ADS_1


"hhaha. Yuk Tam." balas Tia dengan bersemangat juga.


Akhirnya mereka memutuskan pulang saja, setelah berharap nyatanya tidak ada kabar dari pasangan mereka masing-masing.


Sambil berjalan sesekali mereka mengobrol dan bercanda bahkan kadang hal gak penting pun mereka bahas. Seperti itu lah mereka saling menghibur.


Begitulah wanita, selalu ada yang bisa jadi bahan gibahan bersama. Tak ada cowok, gosip apapun jadi.


Saat sampai di parkiran sekolah, memang sudah sepi sih. Tinggal bisa menghitung beberapa kendaraan yang masih berjejer. Yang pasti sebagian punya para guru.


Saat Tia melangkah mengambil motor yang telah berada di depannya, tiba-tiba dia terhenti ketika Tami malah menarik-narik tas punggung Tia.


"Apaan sih! Usil banget pasti!" ucap Tia sebal. Tia pikir, memang kebiasaan Tami untuk bersikap jahil.


Tami menepuk-nepuk bahu Tia supaya dia menoleh ke arah jarinya. "Itu tuh..kayak kenal deh yang pake jaket hitam." ucap Tami sambil menunjuk seseorang yang sedang diantar seorang cewek dengan seragam yang berbeda dengan kita.


Tia pun berbalik badan dan mengamati mereka satu persatu. Matanya menyipit, dengan jeli ia melihat kebenaran siapa yang ada di dahapannya.


"Kayak kenal itu cewek, tapi dimana ya. Itu bukan adik atau saudaranya kak Anton kan??" ucap Tami yang kemudian membungkam mulutnya. Alis Tami keduanya terangkat, matanya berkedip berkali-kali mengingat sepertinya ia telah sah bicara.


Segera Tia pun melangkah menghampiri pacarnya itu, yang baru datang memasuki area sekolah. Dengan langkah cepat dan tatapan mengintimidasi ia berikan.


"Waduh gawat ini! Bakal perang dunia!" ucap Tami menepok jidatnya, lalu terburu-buru menyusul temannya yang bersungut-bersungut.


Tami pun berlari menyusul Tia. Tas punggungnya naik turun seperti ikut juga mengkhawatirkan temannya.


"Tiaaa tungguin!!" teriak Tami kemudian.


Tia yang berjalan lebih dulu tak mendengar ucapan Tami. Ia menulikan panggilan temannya itu. Atau mungkin amarah sedang merasukinya.


Tia ingin segera mengintrogasi siapa wanita yang bersama lelaki jaket hitam itu. Lelaki yang sepertinya tak asing bagi Tia, Anton pacar Tia. Anton yang telah bersiap untuk berangkat study tour.

__ADS_1


>Terima kasih telah membaca<


__ADS_2