
"Kamu jadi pulang bareng kak Anton Tia?" tanya Tami.
"Iya Tam, Sorry ya nggak bisa anter kamu?" ucap Tia merasa bersalah.
"Iya. Nggak apa-apa Tia. Kamu baik-baik aja kan sama kak Anton??"
"Iya baik kok, kemarin dia udah perhatian lagi. Semoga aja nggak ada hubungan apa-apa sama Ayu."
"Kamu juga harus yang baik-baik sama kak Anton," Pertegas Tami
Tia pun hanya nyengir, untuk menanggapi perkataan Tami. Ia melabaikan tangan lalu pergi ke arah ruang kelas Anton.
Tami tidak habis pikir dengan sahabat satu-satunya itu, dia tidak ingin disakiti dan diduakan, tetapi Tia sendiri suka mendua. Entah Tami harus menghadapinya seperti apa lagi, tentu saja sebenarnya tidak suka dan tidak mendukung.
Namun Tami juga tidak ingin setiap ia ceramah membuat Tia jengah lalu akan menjauhi karena merasa Tami terlalu banyak mengatur. Sesekali saja Tami mengingatkan, jika selanjutnya dia tidak mendengar itu sudah bukan urusan Tami. Di balik fakta itu, Tami tetap sahabat yang akan selalu baik dan setia.
"Doorrr!!" Teriak Rafli mengejutkan.
"Aw..aw..aw!" Reflek Tami berbalik badan ketika pundaknya dipegang.
"Eh, Gila! Kalau aku mati jantungan gimana!" Lanjut umpat Tami.
"Ya di kubur lah pinter!" ledek Rafli.
"Sumpah ya, sehari aja kamu nggak bikin menderita orang hidupmu hampa ya!" kesal Tami.
"Sana loh cari cewek biar nggak ganggu orang mulu. Jadi itu kamu punya kerjaan, bukan cuma ngerjain orang." Beo Tami lagi sambil berjalan pulang.
"Iya.. Iya. Besok. Aku cari cewek dua sekalian, tapi kamu nanti jangan rindu ya nggak ada yang usilin kamu lagi. Haha" Ucap Rafli percaya diri.
Tiba-tiba Tami berhenti berjalan, "Idih! Amit-amit! Bersyukur iya woi!"
"Gak usah segitunya entar kebayang mimpi loh. Haha."
Tami hanya diam dan menatap sekilas Rafli. "Kok dia lurus ke gerbang sih, nggak ke parkiran apa dia nggak bawa motor?" batin Tami.
"Kenapa liatin kayak gitu. Udah ah, bercanda doang tadi. Pulang bareng yuk." Ajak Rafli.
"Motor mana?" Tanya Tami
"Bengkel. Hehe. Nih mau naik Bis, bareng ya?" Ucap Rafli sambil menaik turunkan alisnya.
"Kok bareng? Jalur bis kita kan beda." Kata Tami sambil mengawasi Bis yang lewat.
"Motornya di rawat di Rumah sakit dr. Tono, bocor di jalan pas mau sekolah tuan putri." ucap Rafli dengan senyum menggoda.
"Oh!"
"Gitu doang?!"
"Ayo neng naik," Ajak kernet Bis.
__ADS_1
"Tam, duduk di sini!" panggil Rafli dari depan dekat supir.
Tami mendekat, menuruti panggilan Rafli. "Perhatian banget. Nggak ada udang di balik batu ini kan?"
"Udang di balik bakwan aja ah enak. Buruk sangka mulu kamu ah."
Drrrt...drrrtt..
*Telepon*
°❤️Doni❤️
Tami : "Assalamualaikum, halo kasya? Aku baru pulang nih, kamu udah pulang?"
Doni : "Waalaikumsalam desya, yah.. padahal aku mau jemput kamu."
Tami : "Maaf ya, libur dulu hari ini, nggak enak aku kalau kamu yang antar jemput terus. Tahu sendiri alasannya kak. Jemput besok pagi aja ya gantinya?"
Doni : "Iya udah deh enggak apa-apa. Hati-hati di jalan ya desya. Kalau udah nyampe rumah telpon aku lagi. Soalnya nanti malam aku ada acara."
Tami : "Oke. Aku tutup dulu ya kak. Assalamualaikum"
Doni : "Waalaikumsalam desya"
Tami yang tahu sedari tadi saat telpon dengan Doni diperhatikan Rafli terus, kini memandang tajam Rafli.
"Aku ganteng ya dilihatin terus" ucap Rafli sambil menaik turunkan alisnya.
"Iddiiihh.. Lagi ya, hari ini udah 2000 kali kamu ngomong dengan pede banget."
"Kiri bang!" Teriak Rafli supaya dihentikan laju bisnya.
"Mau aku antarin sampe rumah nggak?" lanjut tawar Rafli kepada Tami sebelum turun dari bis.
"Enggak." Tolak Tami.
"Ayo ah enggak apa-apa, kamu enggak di antar Doni juga kan?"
"Bang ini aku bayar sama temenku yang itu ya" tunjuk Rafli kepada Tami.
Tami ingin menolak, tetapi sudah terlanjur dibayarkan. Mau tidak mau Tami biarkan sikap Rafli. Namun nampaknya Tami juga enggan turun.
Kini hanya menyisakan punggung Rafli dari kejauhan dan perlahan menghilang.
~Pesan Masuk~
Raf🐿️
Ati-ati dijalan.
"Ini orang kenapa sih, sebentar galak, nyebelin, usil, sebentar lagi perhatian dan baik banget" batin Tami.
__ADS_1
"Kiri bang!"
***
"Bee makasih ya udah mau jalan-jalan sebentar terus antar aku pulang. Seneng deh kalau kamu perhatian gini." ucap Tia bahagia.
"Iya honey. Nanti sering2 jalan deh. Maaf ya kadang malah sibuk sama temen-temen. Jadi kita jarang punya waktu berdua." kata Anton sambil melepaskan helm Tia.
"Iya. Enggak apa-apa kak. Enggak tiap hari jalan sebenarnya enggak apa-apa sih, asal kakak bisa ngabarin aku terus." Jelas Tia
"Iya.. Iya.. Ya udah aku pulang dulu ya. Dah" Pamit kak Anton.
Tia pun melambaikan tangan sampai kepergian Anton dari pandangan. Dengan wajah sumringah Tia pun memasuki rumah.
~PESAN~
Tami☠️
~Udah pulang Tam?
TELPON
Tami☠️
Tia : "Haloo, semangat banget langsung telpon, udah kangen ya beb. Hehe"
Tami : "Sebenarnya tadi iya, tapi sekarang berubah gara-gara yang di telpon pede-nya melebihi langit."
Tia : "Gitu amat buk. Eh, aku seneng banget baru aja di ajak kak Anton jalan-jalan di jajanin. Tumben loh ya. Tapi bagus deh. Kalau gitu terus aku kan nggak bakal meleng. Hehe"
Tami : "Hih.. Apaan, sebentar lagi juga kamu lirik sana sini lagi. Udah selalu dapat aja ntar,"
Tia : "Loh, lirik aja juga enggak salah kan. Aneh kamu Tam,"
Tami : "Iya.. Terserah. Asal kamu bahagia udah."
Tia : "Tadi kamu di jemput Doni lagi Tam?"
Tami : "Enggak aku naik bis. Aku enggak enak kalau di antar jemput terus, takut ketahuan orang rumah. Bisa Runyam. Tapi tadi dia nawarin sih lewat telepon pas aku udah naik bis,"
Tia : "Oh iya sih, bisa dipingit terus kalau ketahuan pacaran. Haha"
Tami : "Nah itu. Eh, btw lumayan lah tadi di bayarin ongkos naik bis Rafli,"
Tia : "Loh, kok bisa? Kamu enggak bawa uang?"
Tami : "Tadi itu kita naik bis bareng, motornya di bengkel. Dia turun ya nyampe bengkel Pak Tono aja. Abis itu aku di bayarin sekalian."
Tia : "Oh, kirain,"
Tami : "Loh, kamu kira apa? Tapi dia itu aneh tadi, nyampe bengkel aku di tawarin turun mau di anter dia. Ya aku nolak lah, udah naik bis juga. Nambah ngrepotin nanti."
__ADS_1
Tia : "Tuh kan.. Kayaknya dia itu suka sama kamu,"
Tami : "Ngarang kamu! Mana mungkin ah! Eh, udah dulu ya, di panggil ibu aku. Nanti lanjut chat aja lah. Bye.