Mendua

Mendua
Jangan Ganggu


__ADS_3

Langit yang cerah dan matahari pun nampak terik dipagi hari, ternyata itu pun tidak bisa mencerahkan hati Tami Pradipta juga.


"assalamualaikum bu, pak, aku berangkat ke sekolah dulu." ucap Tami sambil menyalami bapak dan ibunya bergantian.


"dek, gak salaman sama aku?" ucap kak Kanita sambil mengulurkan punggung tangannya, dia adalah kakak perempuan satu-satunya Tami.


"assalamualaikum." ucap Tami ketus sambil menerima tangan kakaknya.


"waalaikumsalam. Yee.. Sewot mulu kamu dek cepet tua loh." teriak Kanita.


Kanita menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya yang sedang labil itu. Walaupun sikap dan perkataan Kanita terkadang asal, sebenarnya Kanita sangat menyayangi adiknya satu-satunya itu.


Tami pun berangkat dengan gusar, karena suasana hatinya memang masih dalam keadaan tidak baik. Mengingat perihal kemarin, sampai pagi ini Doni tidak menyadari kesalahannya. Karena yang di harapkan Tami adalah penyesalan dan kata maaf.


Saat dia akan naik bis ke sekolahnya, tiba-tiba ponsel di sakunya bergetar. Sekali, dua kali ia abaikan karena dia rasanya itu hanya sebuah pesan yang tak penting. Berbunyilah nada telpon selanjutnya,


"*Takkan pernah terlintas


Tuk tinggalkan kamu


Jauh dariku, kasihku


Karena aku milikmu


Kamu milikku


Separuh nyawaku


Hidup bersamamu*"


*(nada ponsel Tami)


"apaan sih berisik banget!" umpatnya yang telah menaiki bis.


"Oh iya, aku lupa matiin nada dering," sambungnya merutuki diri sendiri.


Setelah melihat nama di layar ponselnya, akhirnya ia putuskan menggeser tombol hijau di layarnya.


๐Ÿ’“Doni๐Ÿ’“


*Telepon*


"Halo, assalamualaikum adek sayang??"


Tami hanya terdiam mendengarkan,


"Halo adek? Dengarkan? Aku jemput ya sayang?"

__ADS_1


Tami pun masih enggan menjawab,


"Heh dosa loh dek! tadi aku salam gak di jawab, assalamualaikum adek sayang?"


"Waalaikumsalam."


Tut..(terputuslah sambungan telepon)


Dengan geram Tami memencet tombol merah pada layar ponselnya,


"huuuhh.. Sapa suruh kemarin nyebelin!" ucapnya kesal namun pelan.


Tapi nampaknya ada yang mendengar ucapannya,


"neng, marah-marah aja PMS ya?" ucap abang kernet bis sambil menagih upah angkutan.


"gak bang! Nih!" ucap Tami sambil menyodorkan uang lima ribuan kepada abang kernet. Dan masih memanyunkan bibirnya selanjutnya.


"pagi-pagi udah sewot aja sih cantik." ucap abang kernet sambil berlalu.


"ish" Tami hanya mencebik setelah mendengarnya.


"kiri..kiri.." ucap abang kernet, tanda bis sampai pada tujuan salah satu penumpang atau lebih.


Bis pun berhenti di jalan Raya dekat sekolah SMA KARTINI, Tami pun turun kemudian karena sampailah ia di sekolahnya.


Dengan langkahnya yang tiba-tiba malas setelah turun dari bis, ia cerahkan wajahnya saat sampai depan ruang guru untuk memberi salam kepada guru-guru di ruangan yang telah datang. Itu lah kebiasaannya sebelum melewati ke kelas tercintanya, X IPA 2.


"cewek, manyun aja, lagi PMS ya? Ehehe" ucapnya dengan senyum menggoda dan di naik turunkan sebelah alisnya.


Tami geram lagi, ia hentakan kakinya saat telah memasuki ruang kelasnya. Geramnya menambah saat Rafli malah menegurnya di depan pintu tadi.


Tia yang telah duduk di bangkunya menyerngitkan dahi heran, "kenapa sih kamu Tam, Rafli kamu sewotin?"


"Abis aku di bilang manyun karena PMS!" jawab Tami dengan nada masih sewot.


"lah emang salah nggak ngomongnya dia? Kok malah kamu tambah sewot ke aku?" tanya Tia dengan geleng-geleng melihat tingkah Tami.


"gak tau ah!!" jawab Tami sambil melempar tas ke mejanya dan memilih menelungsupkan kepalanya kemudian.


"tuh kan.. Lagi sewot dia Tia, PMS itu pasti. Ihii..!!" Goda Rafli lagi.


"udah diem deh! Jangan ganggu!" tambah geram Tami.


"udah.. Udah.. Fli, mendingan minggir dulu kamu deh. Bercandanya nanti aja, ntar nambah ribet lo kalau dia ganas gini!" ucap Tia sambil mengibaskan tangannya.


"ehehe.. Siap bos! Nanti kalau gak galak kantin yuk Tami aku jajanin. Aahay!" ucap Rafli dan kemudian berlalu.

__ADS_1


"tau ah cerewet! Kucrut minggir sana!" ucap Tami sambil menutup kedua telinganya.


"Tami sayang kamu kenapa sih??" ucap Tia lembut sambil membelai punggung Tami.


Tami hanya diam dan kemudian beralih menatap Tia. Lalu, di hembusnya nafas kasar.


"ehem Tam, kenapa??" tanya Tia sekali lagi.


"Doni, Tiaaa.. " jawab Tami yang kemudian matanya berkaca-kaca.


"kalian bertengkar? Masalah apa? Dia gak ngehubungi kamu kemarin??"


"enggak, bukan itu.. Aku yang malah nyuekin dia dari kemarin."


"lah kenapa??"


"iya geblek lah dia, dia lagi panggilan vidio call sama aku. Eh, dia-nya malah asyik pijit-pijitan sama cewek,"


Tia yang mendengar hanya melongo,


"mana bercanda lagi kayak mesra gitu, lah pas kamera masih aktif. Temennya yang pegang kamera diem aja gitu gak negur! Gilak tau gak! Gimana gak emosi. Apa gak sadar dia salah! Nyampe dari tadi pas telpon gak ada kata maaf dari dia, sama sekali gak ada!" ucap Tami dengan ngotot.


Tia tersenyum dan mengelus lengan Tami seraya berkata, "iya bener gila mungkin dia, mengabaikan temanku yang baik ini!" ucapnya menggebu.


"buktiin Tam, bikin dia merasa salah. Eh, mana ponsel mu?" lanjut Tia yang kemudian mengambil ponsel Tami yang tergeletak di meja.


๐Ÿ’“Doni๐Ÿ’“


~Masih belum sadar apa salahmu? Ha? Jangan ganggu Tami dulu. Renungin kesalahanmu dulu apa?!


"ehehe.. Nih." ucap Tia cengengesan lalu mengembalikan ponsel Tami.


"kamu nulis apa sih?" ucap Tami sambil membuka pesan yang telah tertulis.


"hah?!" Tami kemudian melongo dan menatap Tia,


"kamu emang teman terbaikku Tia. " lanjut ucap Tami dengan senyum sebelahnya.


"ahaha.. Udah deh, gak usah di bawa ribet nambah emosi. Entar aku kenalin kakak-kakak ganteng dan lebih perhatian." ucap Tia sambil memainkan kedua alisnya.


"hisshh gak ah. Lagi males gituan Tia.."


Tettt..tett.. (bel sekolah pun bunyi tanda kelas akan dimulai)


"sstt udah jangan bete lagi, itu dah pada masuk anak-anak. Entar kamu di godain Rafli lagi kalo kamu masih sewot. Haha" ujar Tia sambil cekikikan


Tami hanya mencebik. Rafli termasuk kategori kumpulan orang jahil bersama Tami, tak jarang mereka saling lempar keusilan. Hal yang wajar jika keduanya berdebat.

__ADS_1


Kelas pun di mulai, semua anak tiba-tiba tertib di bangkunya masing-masing. Karena sang guru telah datang, Bu Dian. Bu Dian guru mapel bahasa Indonesia yang termasuk kategori killer. Jadi tak heran kalau sudah mendengar langkah kakinya masuk ruangan, semua jadi gelagapan untuk segera tertib.


Seperti biasa, bu Dian memasuki ruangan dengan ucapan salam, lalu murid satu ruangan berdoa, dan dimulai lah waktu belajar. Walau sebegitu galau-nya Tami, tapi dia tetap serius saat belajar.


__ADS_2