Mendua

Mendua
Aneh


__ADS_3

Semenjak hari itu Doni jauh lebih memperhatikan Tami. Biasanya Doni hanya mengucapkan selamat pagi dan menanyakan aktifitas pagi lewat ponsel, kini ia berinisiatif menjemput Tami untuk berangkat bersama ke sekolah.


Tentu saja Doni menjemputnya di pinggir jalan raya, bukan tepat depan rumah Tami. Mengingat orang tua Tami yang pasti akan tanya macam-macam jika mengetahui ada anak cowok yang menjemput anaknya


Keluarga Tami membatasinya untuk berteman dengan laki-laki, karena takut akan pacaran di usia muda akan menggangu pendidikannya.


๐Ÿ’“Doni๐Ÿ’“


Desya, ayok berangkat. Udah ku tunggu di tempat biasa kamu nongkrong pinggir jalan. Ahaha. Luv


Getar ponsel di saku rok Tami menghentikan sarapan paginya. Senyum simpul pun tertorehkan.


"Dek, senyum-senyum sendiri dari pacar ya?" ucap kak Kanita dengan senyum menggodanya.


Tami menatap tajam kakaknya, seolah mengisyaratkan agar kakaknya tidak berkata macam-macam lagi. Bisa saja setelah ini akan ada banyak larangan-larangan yang dibuat orang tuanya, jika kebenaran itu terungkap.


"Enak aja, ini dari si Tia, pagi-pagi dia udah kasih tebakan aja. Kalau ngomong jangan asal deh," protes Tami meyakinkan kebohongan.


"Tebakan apa emang dek? Kok sampai senyum kayak orang gak waras?" tanya kak Kanita dengan senyuman sebelahnya.


Tami beranjak dari kursi dan memakai tas sambil berucap, "Ikan, ikan apa yang jorok kalau pagi-pagi?"


"Ikan lele di empang kalo lagi pup, abis makan terus dikeluarin lalu dimakan lagi." ucap kak Kanita tanpa sadar di tatap kedua orang tuanya, untung saja mereka sudah selesai sarapan dan beranjak dari meja makan.


Kak Kanita hanya cengengesan dan mengambil piring kotor di atas meja. Tami masih mengutak-atik ponselnya membalas pesan dari Doni. Menyuruh Doni menunggunya, karena ia telah bersiap akan berangkat ke sekolah.


"Salah!" ucap Tami berdiri,


"Bu, pak, Tami berangkat sekolah dulu, assalamualaikum," lanjut ucap Tami sambil menyalimi ke dua orang tuanya.


"Mau tau? Jawabannya adalah i...kanita suka ngupil pagi-pagi dijilat terus di peper ditembok. Ahaha.." lanjut Tami lagi sambil menyalimi kakaknya lalu segera berlari sebelum kena jitakan dari kakaknya.


****

__ADS_1


"Terimakasih ya kak, maaf jadi ngerepotin. Ini helm-ny," ucap Tami sambil mengembalikan helm kepada Doni.


"Nggak apa-apa. Dari tadi minta maaf mulu deh, sekali-kali nggak apa-apa kan. Kalau tiap hari malah katanya gak boleh, benarkan? Ucap Doni sambil menerima helmnya.


"Ehe iya sih. Tapi seneng juga. Ya udah aku masuk dulu ya kak, bye kakakku," ucap Tami sambil melambaikan tangan.


Saat keluar dari ruang guru, seperti biasanya setiap pagi menyapa dan menyalimi guru yang telah datang, Tami tanpa sengaja bertemu pandang dengan Rafli yang berjalan ke arah kelas.


Rafli yang telah menatapnya berlalu kemudian mengabaikan keberadaan Tami.


"Eh, kutil ganteng tumben diem aja. Sakit gigi ya?" ucap Tami yang mengikuti langkah Rafli dari belakang.


"Tumben bilang ganteng, kutilnya aja ganteng gimana orangnya bukan?" ucap Rafli sambil mengangkat satu alisnya.


"Maksudnya kamu kutilnya orang ganteng, jadi harus bersyukur walau pun cuma dapet bagian kutil," ucap Tami dengan tertawa lepas.


"Terus kamu dakinya! Ck!" ucap Rafli seadanya.


Langkah Rafli terhenti di tengah pintu kelasnya, "Abis berangkat bareng Doni ya jadi seneng banget gitu?" tanya Rafli memandang Tami.


Tami tersenyum dan menjawab antusias, "Iya dong, emang kamu lecek terus mukanya tapi pacar gak ada, atau jangan-jangan kamu PMS," ditutup mulutnya dengan tangan kanan Tami sendiri, merasa kelepasan menyinggung dalam bercanda.


"ck! Bodo amat! Di otak kamu pacaran doang ya emang! Berubah banget sekarang kamu Tam, jadi miris," ujar Doni kemudian berlalu ke tempat duduknya.


"kok malah sewot sih. Ya entar gantian aku yang traktir deh buat permintaan maaf, Ya Raf?" ucap Tami mendekat ke meja Rafli


"Terserah," ucap Rafli seadanya tapi sebenarnya menahan tawa.


"Kamu kalau ngerasa salah lucu tau gak Tam" batin Rafli


Tami pun kembali ke tempat duduknya, menaruh tas selempangnya. Hari ini jadwal hanya sedikit, karena hari ini adalah hari jumat pulang lebih pagi dari hari-hari lainnya. Jadi dia putuskan mengganti tas punggungnya yang biasa ia pakai.


"Si Rafli aneh tau gak Tia. Tumben banget sewot gitu pagi-pagi. Biasanya di ajak tawur di tanggepin melulu, mulutnya baru diem kalau aku kalah terus marah," bisik Tami kepada Tia.

__ADS_1


"Sukurin, gantian kamu paling yang di kerjain. Kamu sih minta traktir nggak kira-kira kemarin, nyampe mau nguras dompetnya pula, kan kasihan." ucap Tia yang ikut berbisik.


"Ye..kamu kan juga ikutan makan bakso sama jajan. Patungan traktir entar pokoknya, aku udah janji tratir dia nanti. Ya?" tanya Tami memohon.


"Bokek Tam, abis beli kuota kapan-kapan aja kalian aku traktir ya. Ya udah kamu traktir dia aja dulu, seadanya gak apa-apa paling tuh di kantin,"


"Itu cowok PMS ya, sewot mulu bener kamu Tam," lanjut Tia yang memperhatikan Rafli yang adu mulut dengan teman cowok lain.


"Lah ya emang, mungkin ada masalah kali di rumahnya atau sama temennya yang lain. Gak tau ah! Dasar cowok aneh!" ucap Tami acuh.


"Atau jangan-jangan ...., " ucap Tia tiba-tiba terhenti dan bungkam.


"Jangan-jangan apa Tia? Kok nggak di lanjutin?" tanya Tami penasaran.


"em.. Gak apa apa, tiba-tiba curiga aja. Bener kamu dia memang aneh Tam," jawab Tia.


"Iya. Udah ah biarin nanti balik lagi itu mulut bawelnya."


Tia hanya menjawabnya dengan senyuman, lalu menatap Rafli dan Tami pergantian.


"Semoga saja bukan seperti apa yang aku pikirkan" batin Tia.


"Kemarin aku liat kak Anton sama Ayu, Tam. Pas aku beli kuota malem-malem," ucap Tia datar.


"Terus? Ayu anak kelas 10 IPS 1 itu kan? Mereka ngapain?" ucap Tami


"Iya. Gak tau, aku liat dia lewat depan toko. Untung aja aku sembunyi. Udah lah. Capek aku, biarin aja. Kalau ngajak putus ya udah, dia udah banyak berubah soalnya,"


"Yakin kamu Tia? Sebenarnya aku juga curiga, soalnya aku pernah liat kak Anton sih kayaknya sama Ayu kayak akrab banget di kantin terus di bayarin juga jajanannya, tapi aku diem aja dulu. Mungkin aja punya utang janji kayak aku sama Rafli gitu, jadi aku diem aja dulu Tia. Sorry ya, " ucap Tami yang agak merasa bersalah.


"Em.. Iya nggak apa apa Tam," ucap Tia menenangkan Tami, walau sebenarnya hatinya sangat sakit mendengarnya.


Tami mengusap punggung tangan Tia, mencoba menenangkan.

__ADS_1


__ADS_2