Mendua

Mendua
Menganggumi


__ADS_3

"Halo kak?" Tami mengangkat telpon sedikit menjauh dari motor Rafli.


"Aku udah balik kak. Lagi ada kerja kelompok sama temen-temen sekarang. Maaf ya. Lain kali aja ya kak," lanjutnya melirik Rafli yang bersender di motornya.


"Iya. Pengennya gitu. Tapi ya gimana. Ada tugas."


Rafli yang mengawasi Tami berbicara, mengejek menirukan gaya bicara Tami tanpa suara.


Tami memicing pada Rafli ketika menyadari apa yang dilakukan Rafli sejak tadi.


"Iya. Makasih ya sayang. Kamu juga hati-hati," sambung Tami berpamitan.


Rafli bersiul-siul berpura-pura tidak mendengar perkataan Tami sejak dari tadi mengangkat telepon.


"Maksudnya apa tadi mulutnya gerak ngikutin perkataanku?"


Rafli hanya menggeleng lalu mengenakan helmnya lagi, kemudian menyalakan motornya.


"Buruan naik, keburu tutup cafenya," celoteh Rafli.


"Mana ada keburu tutup cafe jam segini. Yang ada, rame tuh iya."


"Ada. Nanti aku tutup pintu cafenya kalau kamu yang masuk."


"Gak jelas!" Tami mendengus kasar.


"Pegangan, mau ngebut!" teriak Rafli.

__ADS_1


"Jangan ngebut!" Bukan memegang Rafli, Tami justru memukul pundak Rafli kesal.


Di balik helm, Rafli terkekeh dengan sikap Tami.


Setelah sampai di depan cafe, Rafli turun dari motor langsung membantu melepaskan helm Tami.


Tami menatap Rafli dengan gugup saat wajahnya tepat berhadapan. Jantungnya kini ikut berdegub kencan tak karuan.


"kamu ngapain?" sergah Tami.


"Bantuin nyopot helm, kan kamu manja," jawab Rafli asal.


"Ngawur!" Tami lantas masuk cafe lebih dulu dengan emosi.


Rafli segera menahan tangan Tami ketika akan sampai di meja kasir.


"Es Capucino pakai cream," balas Tami.


Beberapa menit kemudian. Rafli membawa dua cup ke meja yang telah di duduki Tami.


"Eh, sama cupcake?" tanya Tami dengan senang melihat nampan yang di bawa Rafli.


"Makan dulu gih," kata Rafli dengan senyuman.


Tami makan dengan lahap kuenya. Rafli memandang Tami tak henti, bibirnya iya tarik sedikit menampilkan senyum tampan di wajah Rafli.


"Kamu ngapain lihatin aku terus." Tami berkedip berkali-kali melihat Rafli. "Enggak kamu makan itu kuenya?"

__ADS_1


"Enggak. Udah kenyang liat kamu makan."


"Kenapa kamu samain semua pesenannya? Enggak di makan lagi."


"Ya udah buat kamu aja ini kuenya," jawab Rafli lantas meminum Es capucino-nya.


Tami hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Kini pikiranmya juga menerawang dan menebak semua arti sikap Rafli.


Rafli menarik nafas dalam. "Boleh enggak sih Tam, aku nge-fans sama kamu," katanya.


"nge-fans?" ulang Tami. "Lah kan aku bukan artis Raf. Ngapain nge-fans?" tanya Tami dengan salah tingkah.


Rafli memcondongkan tubuhnya di hadapan Tami. "Tam, aku tahu kamu udah punya pacar. Aku enggak tahu harus ngomongin perasaanku kayak gimana. Boleh, aku sering memandangimu untuk sekedar mengagumimu?" kata Rafli dengan lembut.


Tami yang sedang minum segera menghabiskannya sambil berfikir tentang jawaban apa yang akan ia berikan.


"Udahlah Raf. Jangan bercanda terus. Enggak lucu! Kamu selalu nyebelin jadi orang." Tami mengibas-ngibaskan tangannya dengan berharap itu memang hanya candaan.


"Aku serius Tami."


Tami berdehem, lalu berdehem memanggil pegawai cafe. "mbak, boleh bungkusin cupcake yang ini?" Tami menunjuk kue yang belum tersentuh di depan Rafli.


"Sekalian bayar ya mbak," lanjut Tami.


"Udah di bayar mbak," jawab pegawai cafe.


"Nanti aku ganti ya Raf," ucap Tami.

__ADS_1


"Enggak usah." Setelah menjawab Tami, Rafli keluar lebih dulu, dengan raut wajah yang sulit diartikan.


__ADS_2