
"Aku pikir kesempatan itu bisa kapan saja datang, asalkan ia punya kesungguhan."
- Tami Pradipta
__________________________________________
Bel waktu pulang telah berbunyi, guru pengajar telah keluar 5 menit yang lalu, dan semua murid telah berhamburan keluar kelas untuk pulang. Lagi-lagi dua sahabat sejoli masih saja adem ayem di kelas dan saling memainkan ponsel. Siapa lagi kalau bukan Tami dan Tia.
"Tam, gak pulang?" tanya Tia yang masih mengutak ngatik ponselnya.
"entar dikit kenapa, ah tau sendiri kalau aku badmood gini uring-uringan terus di rumah. Bisa-bisa semua orang rumah aku bikin sasaran, terus kalo ketahuan bapak uring-uringan malah aku yang di galaki." ucap sebal Tami yang memanyunkan bibir kemudian.
"Lah, terus mau pulang jam berapa? Mau pulang bareng gak? Belum juga ngerjain tugas biologi loh, disuruh print tugasnya pula, besok kan ada jadwalnya." ucap Tia yang kemudian menatap Tami.
"iya iya, ayok pulang. Bentar aku beresin buku-buku dulu." kata Tami sambil lekas membereskan buku.
Saat Tami dan Tia siap-siap untuk keluar kelas, Tami terhenti melakukan kegiatannya dan menatap Tia. "Kayak ada langkah orang berlari di depan kelas Tia?" Tia yang menyadari kebenaran ucapan Tami menatap pintu kemudian.
"hosh..hosh..hosh.. Duh untung belum di kunci kelasnya." ucap seseorang yang tengah menunduk memegang dengkul karena kelelahan.
"Raf, kok balik lagi kenapa?" tanya Tia penasaran.
"eh, Tia, Tami, anu.. ada yang ketinggalan di meja." ucap Rafli yang berjalan segera menuju mejanya. Mengambil buku yang agak tebal di atasnya.
Tami dan Tia pun reflek melihat gelagat Rafli yang aneh, seperti menyembunyikan sesuatu.
"kayaknya penting banget ya kok balik ke kelas crut, tumben-tumbenan balik cuma ambil buku, buku apaan sih itu? Porno ya?." ucap Tami yang tiba-tiba menggoda Rafli mungkin efek karena sebal tadi pagi.
"ye.. Kurang asem Tami emang! Enak aja porno, di jaga tuh mulut, entar kamu yang aku bugilin baru tau rasa!" ucap Rafli dengan wajah jengkel lalu berjalan keluar kelas.
"Tia, Tia.. Ayuk ikutin dia, sekalian jalan pulang." kata Tami yang langsung ngacir mengikuti langkah Rafli dari belakang.
Tia yang melihatnya hanya menggelengkan kepala melihat dua temannya itu. Karena memang pasti ada kejahilan di salah satunya, ujung-ujungnya salah satu ngambek dan saling adu mulut mengucap hal yang nirfaedah. Lalu tak lama berbaikan dan kembali seperti itu lagi.
"Rafli, jajan yuk. Katanya mau jajanin. Ehehe" ucap Tami cengengesan yang mencoba menyamakan langkah Rafli.
__ADS_1
"udah gak PMS lagi kamu? Besok aja ya, aku mau pulang." kata Rafli datar tanpa menoleh Tami sedikit pun.
"di bilangin nggak PMS kok bilang gitu terus, lama-lama Tami tampol beneran kamu Raf." ucap Tami melotot menatap Rafli
"udah ah berisik, mau pulang. Itu loh kamu udah di jemput pangeran kadal." ucap Rafli yang kemudian menuju parkiran.
"Tam..Tam..Doni tuh depan gerbang. Aku ke parkiran dulu ya ambil motor. Kamu bareng aku kan?" ucap Tia yang mempercepat langkah karena sedari tadi dia hanya mengikuti temannya di belakang sambil memainkan ponsel.
"em.. Apa aku coba dengerin dia ngomong dulu ya Tia?" kata Tami sambil memperlihatkan deretan giginya.
"ck.. Kamu masih bisa ngasih dia harapan ya, diemin aja dulu ah, kamu terlalu polos Tam. Bucin tau gak!" kata Tia yang greget dengan ucapan Tami.
"Aku pikir kesempatan itu bisa kapan saja datang, asalkan ia punya kesungguhan. Bukankah gitu Tia?" ucap Tami dengan menatap Tia meyakinkan.
"udah lah. Terserah! Bucin tau gak. Mau pulang. Inget tuh PR anak pinter!" ucap Tia malas.
"Tiaa.. Jangan marah ya, nanti aku bantuin ngerjain tugas." teriak Tami.
Tia pun berlalu menuju parkiran. Sedangkan Tami pergi menemui Doni yang telah di depan gerbang sekolah.
"Eh, Desya.." ucap Doni yang kemudian turun dari motor scoppy-nya.
"adek..aku ngomong loh. Ah, assalamualaikum..?" bujuk Doni.
"waalaikumsalam." jawab Tami singkat.
Doni mengendikkan bahu dan berucap, "adek, udah ah jangan ngambek lagi. Stok manyunnya entar habis loh. Iya, iya aku minta maaf, aku salah." ucap Doni memohon.
"emang apa salah mu?" ucap Tami yang kemudian menatap mata Doni.
"em.. Iya aku salah ngabaikan kamu pas aku tanding. Gak telpon kamu lagi kemudian, baru malem aku chat kamu. Maaf ya, aku soalnya capek." ucap Doni menjelaskan.
"ck.. Salah! Kamu tahu kan, aku bakal ngertiin kamu kalau cuma capek abis tanding! gak sadar ya selain itu apa salah mu?!" ucap Tami menunjuk-nujuk Doni kemudian.
Tin..tin..tin..
__ADS_1
Suara klakson motor Rafli menghentikan ucapan Tami. Dari belakang terlihat juga motor Tia, namun Tia melajukan motornya tanpa menoleh Tami sedikit pun. Tami pun terpaksa tersenyum melihat kedua temannya lewat melajukan motor masing-masing.
"udah-udah ayok cari tempat lain buat ngobrol jangan di sini. Malu di liatin banyak orang." ajak Tami kemudian duduk di motor pacarnya.
"iya..iya.. Di taman biasa ya sayang. Udah ah jangan manyun terus. Senyum dong!" ucap Doni sambil memberi helm kepada Tami.
Tami tetap diam, hatinya terlampau dongkol karena dia pikir perkataan maaf tadi Doni akan menyadari kesalahannya, ternyata tidak. Di hembus lah nafas kasar dari hidung Tami. Mengelus dadanya sendiri mencoba sabar menghadapi pacarnya yang pintar tapi bodoh itu.
Di perjalanan Doni selalu berusaha mengajak ngobrol Tami, namun selalu jawaban singkat yang di berikan.
__Taman__
"adek.. Nih buat kamu. Kemarin aku menang." ucap Doni yang kemudian membuka tasnya, dan mengeluarkan boneka mini icon kejuaraan beladiri, di leher boneka tersemat ada pita dan logo berwarna emas.
"kamu menang?" ucap Tami datar, namun di dalam hatinya menyimpan kebahagiaan untuk pacarnya. Ia kemudian menerima boneka itu.
"iya. Kemarin sebenarnya aku mau video call kamu pas malem, karena abis tanding aku langsung tidur capek sayang. Sebenarnya kamu marah kenapa? Seharian aku mikirin, kamu cuekin aku kenapa?" ucap Doni menatap Tami kemudian.
"kamu beneran gak tau? Kamu inget nggak siapa yang video call pas kamu tanding? Terus siapa yang matiin telepon itu? Sadar gak selama itu kamu ngapain aja sehabis tanding??" ucap Tami yang kini berkaca-kaca
Doni menepuk jidat dan mengusap kasar wajahnya. Terhembuslah nafas kasar yang kemudian tersenyum kikuk.
"iya aku salah. Aku minta maaf, aku gak tau kalau video call-nya belum dimatiin. Kamu udah liat apa saja emang?" ucap Doni menggigit bawah bibirnya, menyadari kesalahannya.
"Siapa wanita itu? Seberapa dekat kalian?" tanya Tami yang pandangan kini buram karena linangan air mata.
"menangislah, aku salah. Aku minta maaf. Aku tak kan mengulangi lagi. Dia hanya teman satu kelasku, namanya Yani. Maaf aku tak tahu kalau belum di matikan video call-nya." ucap Doni yang kemudian memberikan sapu tangan.
Tami menampiknya, "bagaimana bisa kamu gak tahu belum di matiin? Aku nunggu kamu negur aku dulu atau bilang apa pun itu sebelumnya. Lah ini apa?, apa yang kamu lakuin?" tangis pun pecah dari Tami.
"maaf.. Maafkan aku ade sayang. Beri aku kesempatan lagi untuk memperbaiki." ucap Doni kemudian mengusap air mata di pipi Tami yang telah jatuh.
"ehiks..hiks..hiks.." Tami pun sudah tak bisa menahan, air matanya terus saja keluar, bibirnya bergetar tak mampu lagi mengucap kata.
"janji, aku gak akan mengulanginya lagi. Sebagai gantinya kamu boleh minta apa pun itu sekarang asal masih di batas mampuku sayang." ucap Doni yang memberi jari kelingkingnya kemudian.
__ADS_1
"udah jangan nangis lagi, tambah jelek nanti" lanjut ucapnya
Tami hanya memandang tak mampu berkata apapun, selain anggukan kini yang dia bisa. Di kaitannya jari kelingkingnya pada kelingking Doni, kemudian Tami mencoba tersenyum. Semoga kembali seperti semula.