Mendua

Mendua
Firasat


__ADS_3

Tami mengedar pandangan ke penjuru kelas yang ternyata masih sepi. Memang sudah ada beberapa tas di bangku temannya masing-masing. Namun sepertinya mereka sedang berada di Kantin.


Tami yang tak sengaja berbalik badan, terhenti tiba-tiba. Jantungnya berdegub kencang saat matanya bertatapan dengan netra seorang cowok.


Tiga detik kemudian, cowok didepannya berkedip berkali-kali menyadarkan Tami yang sedang menahan nafas.


Suara deheman menetralkan rasa kecanggungan, Rafli membenarkan dasinya.


"Kamu begitu terpesona lihat aku ya Tam?" dengan percaya diri Rafli tersenyum.


"Ngaco! Enak aja kamu!" ketus Tami.


"Buktinya kamu sampai enggak kedip tadi," bantah Rafli.


"Itu kaget dodol!" Tami menoyor kepala Rafli dengan telunjuknya refleks, lalu pergi meninggalkan Rafli dengan mulut yang sudah terbuka akan membalas perkataan Tami.


"Eh itu bocah ya!" umpat Rafli yang tangannya telah di udara.


...


"Tami!" panggil Tia di pintu masuk kantin.


"Kok kamu baru dateng sih Tia. Aku udah nunggu dari tadi tahu enggak." Tami memajukan bibirnya, merasa bosan menunggu temannya sudah setengah jam sendiri.


"Lah kan emang aku berangkat siang, kemarin aku udah bilang kan Tam. Kamu kenapa aneh banget di kantin lama-lama minum es teh aja?".


Tami ingin menceritakan kejadian saat bertatapan dengan Rafli jantungnya berdebar. Namun ia urungkan, sepertinya itu hanya reaksi dari sikap kagetnya saja.


"Kamu masih kepikiran kakak sayang lo yang tidak jelas itu kan Tam?" sambung Tia.


"Enggak jelas gimana maksud kamu Ti? Enak aja, jelas-jelas dia pacar aku gitu kok."


Bel tanda masuk pun berbunyi. Tami pun segera berdiri mengajak Tia masuk ke kelas.


"Yaelah, baru juga duduk mau pesen makanan, udah bel aja," gerutu Tia.


"Lah emang kamu datengnya mepet kan," balas Tami.


"Aku mencium bau-bau kau menyembunyikan sesuatu dari ku Tam," ungkap Tia yang curiga dengan sikap Tami hari ini.


*****


Di akhir pelajaran, bu Dara yang mengajarkan bahasa Indonesia memberikan tugas kelompok yang terdiri dari dua orang.


"Kelompok selanjutnya, Tami dan Rafli," kata Bu Dara melanjutkan menyebutkan nama muridnya.


Tami menganga mendengar namanya di sebut. Masalahnya bukan tugas yang memberatkan dirinya, tapi pasangan yang akan satu kelompok dengannya.


Tia tertawa melihat ekspresi Tami. Tia hanya tak menyangka mereka berdua akan satu kelompok.


"Santai aja ekspresinya enggak usah baper gitu," ledek Tia.


"Baper pala kau!" Tami menyubit lengan Tia pelan.

__ADS_1


Tami melirik bangku belangkang, tempat duduk Rafli.


"Awas baper!" goda Tia.


Tami menghembuskan nafas kasar. "Kenapa tugas wawancaranya cuma dua orang sih? Kenapa enggak tiga aja."


"Ya sana protes sama bu Dara aja Tam, mumpung orangnya baru keluar ruangan."


"Sebenarnya—" ucapan Tami terjeda saat Rafli menuju bangkunya.


"Tam, tugasnya mau kerjain nanti apa besok? Soalnya lusa aku enggak bisa," ucap Rafli.


"Terserah. Nanti juga enggak apa-apa. Lebih cepat lebih baik," balas Tami.


Tia yang menengahi mereka berdehem memecah percakapan serius kedua temannya itu.


"Oke. Jadi kalian nanti pulangnya bareng ya," sela Tia.


"Iya boleh. Ya udah kalo gitu." Rafli mengangguk kaku, lalu kembali ke bangkunya.


Tami hanya mengangguk sebagai jawaban. Tia yang menyadari sikap Tami yang aneh menggandengnya keluar kelas.


"Ayo ke toilet," ajak Tia.


Seperti itu lah cewek, ke toilet wajib di temani.


Ketika Tia memanggil nama Tami berkali-kali, padahal sudah berada di sampingnya, dengan nada rendahnya dipastikan ke toilet adalah untuk bergosip.


"Kenapa bisik-bisik? Aku tahu pasti nanti di toilet cuma cuci tangan doang kan kamu?" tebak Tami.


Setelah sampai di toilet, seperti kebiasaan mereka yang tertuju pertama kaca kamar mandi.


"Apa yang kamu rasain ketika nama kamu di sebut satu kelompok bareng Rafli?" Tia mulai mewawancarai.


"Heh! Wawancaranya itu sama yang udah punya profesi pekerjaan, ngapain itu pertanyaannya tertuju ke aku?" balas Tami sambil merapikan rambutnya di depan kaca.


"Enggak baper kan?"


"Apaan ih! Enggak lah!"


"Kalo lo baper enggak apa-apa sih. Punya gebetan dua juga enggak apa-apa. Lagian si Doni kan beda sekolah. Ya aman lah kalo mau mendua Tam," ujar Tia mencoba provokasi.


"Kalau gila jangan ngajak orang!" sebal Tami.


"Kan kita bestie! Enggak mungkin kamu enggak ketularan aku." Tia tertawa remeh.


"Udah ah! Balik aja yuk!" ajak Tami balik mengalihkan pembicaraan.


Semakin di lanjutkan percakapan mereka maka akan berantem pasti nantinya.


*****


Seperti ada perasaan terpaksa Tami menunggu Rafli di parkiran, karena Raflin izin sedang ada urusan dengan teman ekskul volinya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Jadi kita mau wawancara siapa?" tanya Rafli yang telah sampai di parkiran.


"Terserah!" balas Tami malas.


"Kamu kenapa? Kalau lagi sakit besok aja enggak apa-apa," tanya Rafli.


Tami menggelengkan kepala. "Enggak! Hari ini aja," jawabnya ketus


"Ini aku udah pinjem kamera temenku yang kebetulan lagi dibawa, makanya aku ajak kamu hari ini sekalian."


"Ya udah ayo!"


"Kemana?"


"Terserah deh!"


"Ke bengkel Pak Tono aja ya? Pasti enggak ada yang ambil wawancara ke bengkel kan?"


"Iya ide bagus! Kita bikin kerangka pertanyaannya di kafe ya sambil basahin tenggorokan," ungkap Tami sembari memegang lehernya.


Rafli tertawa. "Iya boleh Tam!" ucapnya sambil mengacak puncak rambut Tami.


Tami berkedip berkali-kali, merasakan seperti ada yang hangat menjalar tubuhnya.


"Eh, sorry ya!" Rafli menarik tangannya salah tingkah.


Tami berdehem untuk menetralkan perasaannya. "Ayo langsung berangkat aja!" ajaknya kemudian.


"Enggak pegangan?" tanya Rafli dengan senyum mengembang di balik helm yang dikenakannya.


"Udah pegang tas kamu," jawab Tami. "Awas ya jangan ngebut!" peringat Tami.


Rafli menipiskan bibir menahan senyum. "Apa Tam?"


"Eh kok ngerem mendadak sih!" Tami refleks memeluk Rafli yang meminggirkan motornya.


"Tadi kamu ngomong apa? Aku enggak kedengaran," kata Rafli beralasan.


Tami memukul bahu Rafli setelah sadar tindakannya. "Kamu sengaja cari kesempatan ya Raf!"


"Apaan?! Enggak kok! Kamu aja kali yang kesempatan meluk aku," goda Rafli.


"Udah ayo jalan! Awas ya ngerem mendadak lagi!" Tami memanyunkan bibir sebal.


"Cantik kalau manyun gitu!" gumam Rafli yang masih bisa di dengar Tami


"Udah dari lahir!" ketus Tami.


Tami merasa hangat lagi di dalam dirinya. Rasa yang berbeda di bandingkan bersama Doni, pacarnya.


Rafli terlalu jelas mengungkap perasaannya dan terkadang bersikap humoris membuat Tami merasa tergelitik hatinya. Sangat menarik perhatian Tami untuk terus bercakapan dengan Rafli.


"Sebentar ya," ujar Tami memberi isyarat kepada Rafli untuk menunggunya menerima telepon.

__ADS_1


Tami mengangkat telpon yang telah berdering sejak tadi ternyata. Ia baru menyadarinya kini. Mungkin bersama Rafli membuatnya nyaman hingga tidak menyadari ada yang sedang meneleponnya.


"Halo kak?"


__ADS_2