
Bel istirahat pun berbunyi, Bu Tuti sudah merapikan mejanya dan telah memberi tugas di akhir pelajaran sebelum meninggalkan ruangan yaitu PR Biologi. Kemudian beliau memberi salam kepada muridnya, lalu berjalan keluar ruang kelas sepuluh IPA dua, kelas tempat Tami dan Tia.
Tia yang telah merapikan buku sedari tadi, kembali cengar cengir sambil memegang ponselnya. Sedangkan Tami masih saja merapikan bukunya.
Setelah selesai Tami mengajak Tia ke kantin untuk jajan mengisi perutnya yang sedang teriak kelaparan.
"kantin yuk Tia!" ajak Tami
"iya yuk! Eh nanti aku belok kebelakang kantin dulu ya. Entar kamu nunggu di kantin beli mi ayam dulu sama es, aku juga pesenin es teh dulu ya?" tanya Tia yang masih fokus mengetik sesuatu diponselnya tanpa menoleh Tami sedikit pun.
"lhah mau ngapain kamu??" tanya Tami penasaran.
"itu loh tadi mau di kasih cokelat sama kak Firdaus." jawab Tia yang akhirnya melirik Tami.
"loh tadi yang kamu maksud kak Firdaus yang jago basket itu?" Tanya Tami kembali.
"iya. Emang kenapa?? Ssstt! Udah deh diem aja. Entar kamu kan aku kasih cokelat juga sih." jawab Tia yang menjelaskan sambil menaruh jari telunjuknya didepan mulutnya.
"loh kok kamu bisa dikasih cuma-cuma cokelatnya? Terus sejak kapan kalian deket? Bukannya dia banyak gebetannya??" cerocos Tami heran dengan tingkah temannya itu.
"udah deh nanti aku ceritain lagi. Ayok aku udah ditungguin di depan kantin." ucap Tia sambil menarik tangan Tami.
Tami menyerngitkan dahi kemudian mengikuti langkah Tia dengan heran. Dengan bahagia Tia berjalan membuat Tami geleng kepala.
Diperjalanan menuju kantin Tia masih saja asyik dengan ponselnya. Sedangkan Tami masih saja dengan pertanyaan penasarannya dengan hubungan mereka. Dan Tia hanya mengabaikan pertanyaan Tami, sesekali menjawab iya atau pun tidak.
Dari kejauhan Tami yang menyadari kak Firdaus memandang ke arah Tami dan Tia, lalu dia memberi kode Tia dengan kepalanya di gerakan menuju sosok yang menunggu temannya itu.
"Tia, itu orang nya dah nunggu." ujar Tami. "Eh dia udah jalan ke belakang." sambung Tami melihat Firdaus lebih dulu.
Tia kemudian meliriknya kemudian mempercepat langkahnya dan menggandeng tangan Tami. Ia ingin segera menemui pemuda yang kulitnya lebih putih dibandingkan pacarnya.
"Tam aku duluan, inget pesenin es teh dulu. Bye" pamit Tia melambaikan tangan yang kemudian buru-buru mengikuti tempat kak Firdaus berada.
__ADS_1
Tami memesan mi ayam kepada pak Asep dan dua gelas es teh ke bu Inem.
Tami kemudian mencari tempat duduk yang kosong. Ia mengedar pandangan, akhirnya ia memilih meja di dekat jendela.
"loh kok sendirian, mana temennya neng ini pesen dua gelas." ucap bu Inem yang telah membawakan es teh ke mejanya Tami.
"iya bu terima kasih, orangnya lagi ngelayap cari wangsit. Haha" jawab Tami yang asal.
Sudah menjadi kebiasaan Tami selalu saja bergurau dengan para penjual di kantin.
Bu Inem pun hanya tersenyum dan geleng-geleng pada Tami. Bertanya pada Tami memanglah terkadang hal yang sia-sia. Karena Tami memanglah orang yang suka bercanda. Bahkan terkadang bisa jauh lebih nyebelin daripada tadi.
Sambil menunggu mi ayamnya jadi, Tami memainkan ponselnya sesekali membuka whatsapp berharap ada kabar dari Doni. Tapi Nihil tak ada pesan satu pun darinya.
"Kenapa dari tadi pagi enggak ada balasan dari Doni sih? Apa dia emang enggak sempet pegang hape?" gumam Tami
Tami memanyunkan bibir. "mungkin Doni sibuk sekali" batin Tami.
"Mi ayamnya satu aja neng?" tanya pak Asep yang menyadarkan harapan Tami yang mustahil mendapatkan pesan dari Doni, sembari pak Asep memindahkan mi ayam ke meja Tami.
"iya satu aja. Temenku gak pesen solnya pak. Terima kasih." ucap Tami sambil tersenyum.
Tami mengambil kecap di depannya, ditambah sambal banyak di masukkan ke dalam mangkuknya. Memakan pedas adalah solusi melupakan kejengkelan rindu yang dirasakan Tami.
Tak lama kemudian Tia datang, dengan senyum bibirnya yang dipaksa.
"gimana? Gimana? Mana cokelatnya??" tanya Tami yang penasaran sekali.
"Nanti aja ya. Lagi galau nih. Mana es ku?" jawab Tia yang kemudian memasang wajah masam.
"ahh.. Ayolah.. Aku penasaran. Lah mana cokelatnya?" tanya Tami lagi sambil mengunyah mi nya.
"ini!" ujar Tia yang telah merogoh cokelatnya dari kantong roknya dan menaruhnya di meja dengan bibir manyun kemudian.
__ADS_1
"Dia ngasih ini sambil nembak aku tau gak??! So sweet sih. Tapi aku takut. Kalo sekedar chat sih gak masalah lah. Kok jadi gini ya." lanjut Tia dengan nada kebimbangannya.
"lah kamu sendiri sih, udah aku bilangin 'kan. Masih aja kamu lanjutin. Dengerin yah, cowok itu pasti punya maksud tertentu ngasih kamu tiba-tiba dan enggak mungkin cuma-cuma." ucap Tami menasihati.
"iya aku dari awal sudah ngerasa sih. Ya kalii dia nganggep aku adek beneran. Lagian aji mumpung awalnya pikirku. Udah diperhatiin dikasih cokelat pula." ucap Tia membela dirinya. Wajahnya kini di tekuk sambil menerawang ke depan.
"nih ya, cokelat itu bukan sembarang bisa dikasih ke orang. Pasti ada maknanya." ucap Tami dengan keahliannya.
"sok pakar lo!" ucap Tia yang kemudian menonyor kepala Tami.
"terus..terus kamu jawab apa? Dia gak tahu emang kamu udah punya pacar?" tanya Tami lagi
"nanti malam aku jawab, bilang gitu aku. Dia udah tahu lah aku juga sering ganti poto di whatsapp pake potonya kak Anton." Jawab Tia sambil menyedot es nya.
"Lah gile itu ya cowok. Apa mau ngajarin mendua ya itu cowok! Setia napa sih kamu!" seru Tami.
"udah deh anggep aja cadangan. Nyampe sekarang kak Anton belum bales aku juga kan. Kamu itu masih polos Tami, belok dikit kenapa. Entar kamu ngerti kenapa aku begini." ucap Tia yang menikmati es tehnya yang juga sibuk dengan ponselnya.
Tami menggelengkan kepala. "ya udah deh terserah. Tapi setia itu kata orang mahal loh." ujar Tami yang pasrah kemudian.
Tia hanya menggelengkan kepala berkali-kali dan mengangkat bahunya sesekali menyedot es nya hingga kini tandas habis.
"Aku tetap setia Tami," bantah Tia.
"Setiap tikungan ada maksudnya?"
"Setia lah. Orang aku enggak ninggalin dia. Cuma cari selipan aja. Aku kan supel sama semua orang Tam, beda sama dia."
"Udah lah! Terserah! Kalau putus paling kamu juga curhatnya ke aku."
***bukan kah cinta juga seperti cokelat, banyak digemari yang menyukainya. Padahal kenyataannya cokelat aslinya pahit rasanya. Banyak yang mengharapkan, terkadang membelinya pun sayang karena mahal.
Untuk dia yang lebih matang memikirkan cokelat daripada hanya menikmatinya***
__ADS_1