
Siang hari, Celia sudah berdandan cantik untuk temu kangen dengan para sahabatnya. Mereka sudah bersahabat sejak masih kuliah karena satu kampus dan mengambil jurusan yang sama.
Semua sahabat Celia juga mengenal Wisnu, karena walau beda kampus, tapi Wisnu selalu rajin mengantar maupun menjemput Celia saat kuliah.
Setelah memarkirkan mobilnya, Celia pun bergegas menuju Union Cafe, tempat janjian dengan sahabat-sahabatnya.
"Haiiii Lin.." teriaknya saat melihat Linda sudah menunggunya di meja.
"Hai Cel.. sini beb" mereka pun berpelukan sambil cipika cipiki.
"Gimana rasanya jadi jomblo?" ledek Linda
"Iih apaan si lo, sedih tau" jawab Celia sambil merengut.
Linda memang tipe yang ceplas ceplos, namun hatinya sangat baik dan tulus.
"Ya udah biar ga sedih nanti gw cariin pengganti yang lebih ganteng ya".
"Bener ya.. eh jangan cuma ganteng doang dong, harus tajir, rajin menabung dan yang penting.." Celia menjeda perkataannya.
"Yang penting apaan nih? gw baru tau ada syarat lain yang lebih penting" tanya Linda penasaran.
"Yang penting SeAmin dan Se Iman shayyy" jawab Celia sambil tertawa.
"Hahaha.. trauma dia" Linda pun terkekeh mendengar jawaban Celia. "Siap Cel, Insya Allah gw cariin yang bisa Ijab Kabul ya" lanjut Linda.
"Aamiinnn yang kenceng" sahut Celia.
Lalu mereka pun lanjut berbincang sambil menunggu 2 sahabatnya yang lain datang.
Setelah Indah dan Nita datang, obrolan pun tak jauh dari rencana mereka untuk mencarikan jodoh untuk Celia. Semua semangat dengan jagoannya masing-masing untuk dikenalkan pada Celia.
__ADS_1
"Nanti lo harus atur jadwal kencannya ya Cel, jangan sampe bentrok atau sama tempatnya, pokoknya tiap kencan harus pindah tempat biar ga kepergok sama yang lain" Nita mengajari Celia cara berkencan dengan calon-calon yang mereka berikan.
"Ya Tuhan, gini banget jadi jomblo, berasa lagi mau pilkada ya, banyak bener calonnya". Kekeh Celia. Ia merasa di support oleh teman-temannya dan merasakan bahwa keputusannya yang lalu tidaklah salah. Ia pun yakin untuk melanjutkan harinya dengan lebih semangat.
Menjelang sore, Celia pun pamit pulang karena ia berjanji untuk makan malam bersama orangtua dan tamu mereka.
Selepas Maghrib, Celia bersiap menyambut tamunya. Ia memakai dress lengan pendek dengan panjang selutut berwarna kuning gading. Pakaian yang simpel dan sopan, namun tidak mengurangi kecantikan alami yang dimiliki Celia. Yah, darah campuran Austria dari sang Mama memang membuat siapapun yang melihat Celia akan terpukau.
Saat Celia sedang memoleskan lipglossnya, pintu kamarnya diketuk.
Tok..tok..tok..
"Non Celia.." suara mbak Asih memanggilnya dari balik pintu.
Ceklek..
"Ya mbak" jawab Celia setelah membukakan pintu.
"Baik mbak, makasih ya" sahut Celia sambil menutup pintu kamarnya dan menuju ke lantai bawah.
"Nah ini, designer interior kita Pak Wijaya" sambut Papa Anton dari ruang tamu saat Celia muncul.
"Wah, cantik sekali jeng anaknya" ucap seorang wanita yang usianya kira-kira sebaya dengan Mama Tia.
"Sini Cel, kenalan dulu sama Om Wijaya dan Tante Rani"
"Iya Pa"
"Halo Om, Celia"
"Halo Tante, Celia"
__ADS_1
Celia memperkenalkan dirinya sambil mencium tangan kedua tamu orangtuanya.
"Aduh anak jaman sekarang udah susah ya yang mau salim" kata Tante Rani yang seolah terpikat dengan Celia.
Celia pun hanya tersenyum dan duduk di sebelah Mamanya.
Sang Papa dan Om Wijaya nampak mengobrol serius masalah pekerjaan mereka dan sesekali mengajak Celia berdiskusi tentang project yang akan mereka laksanakan.
Tiba-tiba..
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab semua yang ada diruang tamu itu serentak.
"Eh kamu udah sampe Ndra, sini sayang kenalan dulu" Tante Rani berdiri dan menyambut anaknya yang baru tiba di rumah Celia.
"Andra"
"Andra"
Andra pun memperkenalkan dirinya pada orangtua Celia.
Dan begitu tiba di hadapan Celia, ia pun terdiam sampai akhirnya.
"Ekhemmm" deheman Om Wijaya menyadarkannya dan membuat Andra mengulurkan tangannya menyalami Celia.
"Andra"
"Celia"
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1