
Sebulan berlalu sejak awal pertemuan Celia dan Andra. Sudah sebulan juga hidup Celia menjadi penuh warna.
Setiap weekend, ia selalu memenuhi keinginan para sahabatnya untuk berkenalan dengan pria-pria yang mereka pilihkan untuk Celia.
Namun sampai saat ini, di hati Celia masih bertengger satu nama, Kalandra Wijaya. Pria itu yang menyempatkan diri untuk sekedar menyapanya walau hanya lewat telepon.
Andra memang masih bekerja bolak-balik Jakarta-Bali untuk keperluan pekerjaannya. Ia juga masih berharap Celia mau menerima ajakannya untuk bekerja dengannya.
Sabtu ini Celia sengaja tidak membuat janji dengan siapapun karena ia mulai merasa lelah untuk selalu berkenalan dengan pria-pria yang kadang justru membuatnya kesal.
"Hari ini ga kemana-mana sayang?" tanya sang Mama.
"Ngga ma, Celia mau istirahat aja dirumah"
"Kebetulan kalau gitu, Pak Wijaya dan keluarga juga mau mampir untuk makan siang disini, mereka baru aja tiba dari Bali"
Deg.. hati Celia merasa senang mendengar keluarga Wijaya akan kerumahnya. Karena itu tandanya Andra juga akan datang.
"Jam berapa mereka mau dateng ma?"
"Mungkin jam 11 siang ini Cel, mama juga mau siapkan menu istimewa ni untuk mereka, kamu bantu mama yuk"
"Boleh Ma, Celia bikin brownies sama puding mangga aja ya buat cemilan dan hidangan penutup?"
"Wah boleh tu, kebetulan bahannya juga lengkap di dapur"
__ADS_1
"Ok ma, let's cooking" ujar Celia dengan ceria.
Jam menunjukkan pukul 10.30 saat Celia selesai memanggang brownies andalannya.
"Udah beres ni ma, Celia mandi dulu ah, gerah banget"
"Iya sana, jangan lupa dandan yang cantik, siapa tau nanti Andra ikut" ledek sang Mama.
"Iih Mama.. apaan si" Celia pun berlalu ke kamarnya sambil tersenyum malu karena digoda sang bunda.
Tok.. tok.. tok
Pintu kamar Celia diketuk.
"Yaaa.. sebentar" sahutnya.
"Ok mba, aku turun sekarang, makasih ya"
Celia merapikan dandanannya dan segera turun untuk menemui tamunya.
"Siang Om, tante" Celia memberi salam sambil mencium tangan Pak Wijaya dan istrinya. Pandangannya tampak mengedar seolah mencari sosok lain yang ada diruang tamu itu.
"Cari siapa Cel?" tanya sang Mama.
"Ehh, engga kok Ma" ucap Celia gugup.
__ADS_1
Pak Wijaya dan istri hanya tersenyum melihat tingkah Celia.
"Andra ga ikut pak?" tanya Pala Anton pada pak Wijaya.
"Andra masih ada keperluan pak, mungkin nanti menyusul jika sempat" jawab Pak Wijaya yang langsung membuat wajah Celia berubah muram.
Celia pun duduk di samping Mamanya dengan tatapan kosong. Ada perasaan kecewa ketika mendengar jika Andra tidak datang bersama orangtuanya.
"Gimana Cel, apa sudah mengambil keputusan untuk pindah ke perusahaan Andra?" tanya Pak Wijaya.
"Sudah Om, selama sebulan ini Celia sudah memikirkannya dan juga sudah mengajukan resign dari kantor sekarang"
"Jadi kamu setuju untuk pindah sementara ke Bali Cel?" tanya Mamanya kaget. Mama Tia tak menyangka jika Celia sudah mengambil keputusan tersebut.
"Iya Ma, Celia sudah memutuskan setuju untuk pindah ke Bali untuk sementara, Celia juga nanti akan tinggal bareng sama Sasa"
"Baiklah kalau itu sudah keputusan kamu nak" sahut sang Mama yang sebenarnya berat melepaskan anak gadisnya pindah keluar kota.
"Ayo mari kita makan siang dulu" ajak Papa Anton kepada tamunya.
Namun saat mereka baru beranjak menuju ruang makan, ada seseorang yang mengucap salam.
"Assalamualaikum"
*******
__ADS_1
Siapakah itu? terima kasih para readers yang sudah membaca karyaku ini. Jangan lupa like dan komennya yaa biar aku semangat untuk update. Terima kasih 😘