
Celia yang mulai merasa tenang, beranjak ke toilet untuk mencuci wajahnya agar tidak sembab karena terlalu banyak menangis. Wisnu hanya bisa terdiam melihat wanita yang dicintainya berjalan perlahan sambil mengusap matanya. tak lama, Celia pun keluar dari toilet dengan wajah yang basah.
"Aku ambilin handuk ya, tunggu sebentar" kata Wisnu. Celia pun hanya mengangguk. Lalu Wisnu masuk ke kamarnya dan keluar sambil membawa handuk ditangannya. "Di lap dulu mukanya yank" ujarnya.
__ADS_1
"Mm.. Nu, maaf ya.. kalo bisa kamu jangan panggil aku ayank lagi, aku ga nyaman" pinta Celia. Wisnu pun menatapnya dan menghela nafas. "Trus aku harus panggil apa?". "Terserah tapi jangan ayank, panggil namaku juga gapapa" jelas Celia.
"Ok, aku panggil Kamu Celi ya" kata Wisnu. "Iya, terserah kamu aja" kata Celia lagi. "Tapi nanti noleh ya kalo aku panggil Celi, nanti aku panggil-panggil kamu ga mau nengok" ledek Wisnu yang membuat Celia tertawa. "Nah gitu dong, dari tadi nangis aja, kalo ketawa kan jadi tambah cantik" ledeknya lagi.
__ADS_1
"Celi" panggil Wisnu dengan lirih. "Ya, ada apa Nu?".
"Boleh aku peluk kamu lagi, untuk yang terakhir" pinta Wisnu dengan suara yang terdengar sangat sedih. "Iya boleh" jawab Celia. Wisnu pun merengkuh tubuh Celia ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat. "Kamu akan selalu di hatiku Cel" ujarnya. Wisnu lalu mengurai pelukannya setelah cukup lama mendekap Celia dan mengusap kepala Celia lalu memandang wajahnya. Lalu ia pun mengecup kening Celia, kemudian turun ke hidungnya lalu mengusap bibir Celia dengan ibu jarinya. Kemudian ia menatap Celia seolah meminta ijin untuk melakukan lebih. Celia pun mengangguk memberikan ijiinnya untuk Wisnu. "Biarlah ini menjadi kenangan sebelum kami mengucapkan selamat tinggal" ucap Celia dalam hati". Wisnu pun mulai menyatukan bibir mereka dan mulai mengecup dengan lembut. Celia pun menikmati ciuman Wisnu dengan mata terpejam dan membalasnya dengan lembut. Mereka berciuman cukup lama sampai nafas mereka tersengal saat ciuman itu terlepas. Lalu mereka saling menatap tanpa bicara. Mata mereka menyiratkan kepedihan yang amat mendalam karena semuanya harus berakhir begitu saja. Sampai akhirnya Celia memutus tatapan mereka dan berbalik ke sofa lalu mengambil tasnya. "Ayo Nu, kita kan mau makan dulu" ujarnya. "Baiklah" kata Wisnu dengan nada berat, karena ia masih ingin berlama-lama menghabiskan waktunya bersama Celia. "Kita makan di Cafe biasa aja ya" ajak Celia. Cafe langganan mereka jaraknya dekat dengan rumah Celia, jadi Celia pikir jika orangtuanya menelpon, ia akan merasa lebih nyaman karena sudah dekat dengan rumah. "Iya, boleh, aku juga kangen sama suasana dan makanan di sana" jawab Wisnu.
__ADS_1
Sebelum keluar dari pintu apartemen Wisnu, Celia pun memandang ke seluruh ruangan apartemen itu. Hatinya perih saat mengingat kenangan kebersamaannya bersama Wisnu di sana. Lalu ia beranjak keluar sambil berkata lirih. "Selamat tinggal"