Menolak Untuk Menikah

Menolak Untuk Menikah
BAB 10 : Emosi


__ADS_3

Kriukk kriukkk


Suara yang berasal dari perut Valen yang sedang demo minta diisi makanan.


Sebenarnya ia sangat bosan berdiam diri di kamarnya itu, untung saja gadis itu kini punya alasan untuk keluar dari Villa tersebut.


Kakinya melangkah kesembarang arah mencari tempat yang bisa ia singgahi untuk mengisi perutnya.


Hingga ia berhenti disebuah rumah makan seafood yang terlihat sederhana, namun banyak sekali turis yang berkunjung untuk bersantap ria disana.


Valen kemudian memesan menu olahan laut yang menggiurkan baginya. Tak tanggung-tanggung gadis itu memesan tiga porsi olahan laut yang berbeda.


Sembari menunggu hidangannya datang, Valen menyibukkan dirinya melihat pemandangan disekitar rumah makan yang dekat dengan laut itu.


Lalu ia tersadar dengan situasinya saat ini. Hanya dia yang makan sendirian, sedangkan yang lainnya nampak bersama pasangan dan teman-temannya.


"Ngenes banget sih gue, Jelii aku merindukanmu." Tangisnya dalam hati.


Hingga Akhirnya tiga porsi makanan laut yang ia nantikan itu pun datang. Aroma khas dari ikan bakar membuatnya tersadar dari lamunannya. Dengan indahnya makanan itu tersaji di atas meja, membuat siapapun yang melihatnya akan menelan ludah.


Dengan cepat ia menyantap semua makanannya, merasa masa bodo dengan situasinya saat ini. Yang penting perut kenyang, hatipun senang.


Valen yang sedang asik menyantap makanannya, tiba-tiba dihampiri oleh seorang pria asing.


"Hai Nona," sapa pria itu dengan mengedipkan salah satu matanya.


Valen tak menggubrisnya, ia masih asik mengunyah makanannya.


"Kenapa gadis cantik sepertimu duduk sendirian Nona? Apa mau aku temani?" rayu pria asing itu.


Malas sekali rasanya ia menanggapi pria asing yang tak ia kenal itu. Lebih baik ia pergi saja, tidak ingin memperpanjang obrolan yang hanya berisi omong kosong yang sama sekali tak penting.


"Terima kasih, tapi itu tidak perlu. Saya sudah selesai makan." Valen beranjak dari kursinya, padahal makanannya belum habis. Gara-gara pria asing itu nafsu makan Valen jadi hilang.


Pria itu mencengkram lengan Valen seakan tak membiarkannya pergi.


"Lepaskan tangan anda Tuan!" ucapnya penuh penekanan.


Pria itu tertawa sinis, "jangan sok jual mahal Nona. Banyak wanita yang sepertimu, tapi ujung-ujungnya menjadi murahan karena tergiur dengan uang," ucap pria itu seolah meremehkan.


"Terserah kau mau bilang apa Tuan yang terhormat, aku tidak peduli sama sekali!" Serunya sambil menghempaskan cengkraman pria asing itu dari tangannya kemudian meninggalkannya.


"Huhh..., sombong sekali dia. Lihat saja aku akan memberi mu pelajaran, Nona sok suci," ucap pria asing itu disertai dengan seringai jahat.


Valen pergi dari rumah makan itu dengan kesal. Saat ia berjalan menuju kembali ke Villa, rasanya ada seseorang yang mengikutinya. Ditambah lagi tempatnya berada saat ini sangat sepi. Tidak ada kios para pedagang, membuatnya semakin takut. Bahkan penerangan pun sangat minim disana.


Gadis itu mengambil ancang-ancang, dengan cepat ia melesat seperti peluru. Valen terus berlari, sesekali ia menoleh kebelakang, dan benar saja ada yang mengikutinya.


"Cihh..., itu pria asing yang tadi, mau apa dia?" gumamnya sambil terus berlari.


Brughh


Saat menolah kebelakang untuk memastikan dirinya sudah tidak diikuti lagi, Valen malah menabrak tubuh kekar seseorang.


"Apa kau tidak punya mata!" Teriak orang itu.


"Ma- maaf," ucap Valen dengan nafas yang terengah-engah sambil sesekali menoleh kebelakang.

__ADS_1


"Apa kau sedang dikejar hantu?" tanya orang itu lagi.


"Tidak, kumohon tolong aku. Ada yang menguntitku," ucap Valen ketakutan.


Orang yang tak sengaja ditabrak Valen adalah seorang pria bernama Morgan.


Pria asing yang mengikuti Valen akhirnya menampakkan dirinya. Lalu dia menghampiri Valen yang terlihat bersama seorang pria.


Valen yang melihat orang asing itupun langsung bersembunyi dibalik punggung Morgan.


"Honey ayo ikut aku kenapa kau bersembunyi?" ucapnya berbohong seolah Valen adalah kekasihnya.


Pria asing itu mencoba menarik tangan Valen, namun ditangkis oleh Morgan.


"What are you doing Mister?" tanyanya pada pria asing itu.


"Hey dude, it's not your business! Get out of the way!" seru pria asing tersebut.


"Enyahlah kau dari sini dan jangan coba-coba untuk mengganggu kekasihku!" Balas Morgan dengan menatap tajam pria asing tersebut.


Morgan kemudian merangkul pinggang Valen dengan mesra menunjukkan bahwa Valen benar-benar kekasihnya.


Mimik wajah pria asing itu langsung berubah menjadi muram. Ternyata ia menggoda wanita yang sudah memiliki kekasih, pantas saja wanita itu sok jual mahal kepadanya, dan sepertinya pria yang dilihatnya itu lebih kaya darinya. Ia lalu pergi meninggalkan Valen dan Morgan tanpa berkata apapun.


"Tuan tolong kendalikan tanganmu!" seru Valen sambil menjauhkan tubuhnya dari Morgan.


"Aku melakukannya agar dia percaya kita memang sepasang kekasih," ucap Morgan tanpa merasa bersalah.


"Tapi tidak perlu sampai seperti itu tau! Itu sama saja dengan mencari kesempatan dalam kesempitan!" Protes Valen dengan nada kesal.


"Dasar pria mesumm!" teriaknya lalu berlari lagi menuju Villa.


"Apa-apaan gadis itu, tidak tau terimakasih! Apa yang dia bilang tadi? pria mesum? Aku dikatai pria mesum? Dasar gadis tidak waras!" gerutu Morgan menatap kesal pada Valen yang terlihat samar-samar dalam cahaya yang minim sedang berlari ke arah Villa.


Akhirnya Valen sampai juga di tempat ia bermalam. Gadis itu mengatur nafasnya yang terengah-engah sembari melangkahkan kakinya memasuki kamarnya. Segera ia membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Rasanya kakinya akan terlepas dari tubuhnya saat ini.


"Kenapa aku tidak bisa menjalani kehidupan dengan tenang? Ada saja masalah yang datang, bahkan ketika aku sedang ingin menikmati liburanku," lirihnya.


"Kenapa Jeli belum juga kembali?" gumamnya saat tersadar bahwa sahabatnya itu tak ada di kamarnya.


-----*****-----


*Di tempat Anjelina dan Nathan


"Apa kau menyukaiku?"


"A-aku...." Jeli tak sanggup melanjutkan ucapannya.


Nathan tertawa dengan sangat keras. Ketahuilah dibalik tawanya, tersimpan begitu banyak kekecewaan.


Anjelina mengerinyitkan dahinya kebingungan dengan sikap Nathan yang tiba-tiba tergelak. Apa dia kerasukan? Entahlah...


"Sahabatmu saja tidak menyukaiku, apalagi kau hahaha," ucap Nathan masih tertawa.


Tawa yang lama kelamaan menjadi tawa yang menyeramkan. Ia tak bisa menahan emosinya lagi. Dengan marah ia menghempaskan gelas-gelas yang tertata dengan rapi di atas meja.


Pyanggkkk

__ADS_1


Semuanya pecah berserakan, tak ada yang selamat dari amukannya kala itu. Ia melampiaskannya pada semua benda yang ada disekitarnya.


"Nathan tenanglahh." Teriak Anjelina berusaha meredam amarah Nathan.


Namun gagal, laki-laki itu tak mendengarkannya.


"Nathan kumohon jangan seperti ini, kendalikan dirimu!" Anjelina kembali berteriak.


Mendengar teriakan kedua Jeli, Nathan yang masih mengamuk itu langsung terdiam. Matanya kini menatap tajam Anjelina. Mata dan wajahnya terlihat memerah karena amarah.


Ia berjalan mendekati Jeli, tangannya langsung mencengkram bahu gadis yang terlihat ketakutan itu.


"Apa aku seburuk itu, kenapa dia selalu menolakku dan membuat ku menderita?" ucapnya, masih dengan tangan yang mencengkram kuat bahu Jeli.


"Kau tau, aku bahkan melakukan hal gila untuk bisa mendapatkannya!" ucapnya lagi.


"Hal gi- gila apa yang ka- kau lakukan?" Jeli memberanikan diri untuk bertanya.


"Aku memasukkan obat perangsang ke minumannya," ucap Nathan dengan seringai jahatnya.


Jeli terkejut, "apa kau sudah gila?"


"Ya aku menjadi gila karna mencintainya. Semua adil dalam cinta dan perang bukan. Apakah aku salah?"


Masih dengan nada emosi, semakin mencengkram erat bahu Anjelina.


Gadis malang itu meringis kesakitan, suaranya seakan tersekat ditenggorokannya tak mau menyahuti pertanyaan Nathan. Takut, itulah yang ia rasakan saat ini. Tak pernah ia melihat Nathan semarah ini sebelumnya.


"Jawab akuu kenapa kau diam saja!! Apa aku salah!" Bentaknya lagi seraya mengguncang bahu Anjelina.


"Ka- kau ti- tidak mencintainya," ucap Jeli terbata-bata.


"Apa maksud mu!" Teriaknya dengan penuh amarah.


Anjelina menarik nafasnya lalu menghembuskannya dengan perlahan, berusaha menyembunyikan ketakutannya dan menahan agar cairan bening tak lolos dari pelupuk matanya.


Jeli memberanikan dirinya menatap mata laki-laki yang dipenuhi dengan emosi itu. Kedua tanggannya merangkup pipi Nathan, sesekali mengusapnya dengan lembut, mencoba meredam emosi laki-laki itu.


"Kau hanya terobsesi dengannya. Jika kau mencintainya, kau tidak akan merasa menderita ketika menunggunya. Apalagi melakukan hal gila untuk mendapatkannya." Jeli menjeda ucapannya agar Nathan bisa mencerna semua apa yang ia katakan.


"Aku tidak akan membiarkan mu terluka dan jatuh lebih dalam lagi. Aku akan membantu mu melupakannya, karena aku mencintai mu," ucap Jeli dengan mata yang berkaca-kaca. Ia mendekatkan wajahnya, sehingga bibirnya kini menempel pada bibir Nathan.


Natahan terkejut dengan pengakuan Jeli, ditambah lagi kini gadis itu berani menciumnya.


Jantung Nathan menjadi berdebar, hatinya menjadi luluh. Bahkan amarahnya meredam seketika. Matanya yang awalnya terbuka lebar, kini perlahan terpejam. Mulai menikmati kehangatan dari bibir mungil Anjelina, membuatnya ikut terhanyut dalam ciuman itu.


Bahagia, sedih, rasa takut, semua tercampur aduk dalam hatinya, saat Nathan membalas ciumannya. Hingga tak terasa air matanya mengalir begitu saja.


"Aku senang bisa berada disisi mu saatkau terpuruk. Walau hanya sebagai pelampiasanmu saja."


-


-


-


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2