
Satu bulan telah berlalu.
Setelah puas dengan liburan mereka, Valen dan Anjelina kembali menjalani rutinitas mereka masing-masing.
Kini Valen menjadi karyawan tetap di perusahaan papanya. Namun ia tak langsung menjabat diposisi tinggi, karena tuan Brama ingin agar Valen sukses meniti karirnya sendiri tanpa koneksi dari papanya.
Di belahan Eropa sana, Kein dan Candra menjalani sebuah hubungan tanpa diketahui oleh siapa pun. Selama satu bulan ia menetap di Paris bersama kekasih barunya. Lebih tepatnya selingkuhanya.
Karena asik dengan dunianya sendiri, Kein mengabaikan Valen dan tak pernah mengabarinya ataupun menelponnya selama ia berada di Paris.
Valenpun sering merasa bingung akan perubahan sikap tiba-tiba Kein yang berubah seratus delapan puluh derajat. Sikap yang awalnya hangat kini berubah menjadi sedingin es. Namun Valen menepiskan pikiran-pikiran negatifnya. Ia menggap Kein sedang sibuk dengan pekerjaannya disana sehingga laki-laki itu jarang menghubunginya.
*Perusahaan Brama
Disebuah ruangan yang sangat luas nampak terlihat banyak meja kerja berjejer dengan rapi, dan juga para pegawai yang tengah sibuk mengerjakan pekerjaan mereka.
Disalah satu sudut ruangan itu, nampak seorang gadis tengah fokus melihat layar komputernya. Deringan ponsel membuatnya berpaling seketika.
*Valen : Iya halo?
Jeli : Valen nanti makan siang bareng yuk, di tempat biasa.
Valen : Baiklah, Jel. Aku tutup dulu ya, aku sangat sangat sibuk. Bye*..
Valen masih memandangi ponselnya. Ia membuka aplikasi chat dan melihat riwayat pesan singkatnya yang tak pernah dibalas oleh Kein.
"aku sangat merindukanmu," gumam Valen.
Valen meletakkan benda pipih itu di atas mejanya, kemudian melanjutkan lagi pekerjaannya yang sempat tertunda. Kesibukan dikantor membuat rasa rindunya kepada Kein sedikit teralihkan.
*****
Hingga tiba saatnya untuk makan siang, Valen bergegas ke Cafe untuk makan siang bersama Jeli.
Hanya butuh waktu 10 menit perjalan, Valen sudah tiba di Cafe tersebut. Anjelina terlihat sudah menunggu Valen di sebuah meja yang terletak di pojokan cafe.
Jelipun tersenyum dan melambaikan tangannya saat melihat sahabatnya itu berjalan kearahnya.
"Maaf aku telat, Jell. Kau sudah memesan makanan kan?" ucap Valen seraya mendudukkan tubuhnya.
"Tenangg aku sudah pesankan kok, nah itu dia mereka datang," ucap Jeli seraya menunjuk pelayan yang berjalan kearahnya dengan nampan yang terisi banyak makanan.
Pelayan itupun menyajikan hidangan yang tampak menggugah selera di atas meja.
Valen dan Jeli dengan semangat memasukkan makanan tersebut ke mulut mereka.
__ADS_1
Saat sedang asik menyantap makanannya, sepasang mata Jeli menangkap sesosok pria yang tak asing baginya nampak menggandeng tangan seorang wanita.
Kedua mata Jelipun bergantian menatap pria itu dan juga Valen. Dengan gugup ia pun memberanikan diri bertanya kepada sahabatnya itu.
"Umm Valen. Apa kak Kein sudah kembali dari Paris?" tanya Jeli.
"Aku rasa belum, Jell. Dia juga tak pernah membalas pesan yang aku kirim," ucap Valen dengan lesu.
"Kenapa begitu?" tanya Jeli kembali.
"Entahlah mungkin dia sangat sibuk," jawab Valen masih dengan wajah lesunya menyantap makanannya.
"Emm, Valen. Bagaimana jika kak Kein berselingkuh disana,?" ucap Jeli dengan gugup menanyakan pertanyaan yang mungkin dapat melukai hati sahabatnya itu.
Valen sontak tertawa mendengar ucapan Anjelina.
"Hahaha Jeli... Jeli..., kau ini ada-ada saja. Kak Kein terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Mana mungkin dia punya waktu untuk selingkuh," ucap Valen.
"Hehehe iya ya." Jeli pura-pura tertawa.
"Valen semoga yang sedang aku lihat ini tidaklah benar. Tapi, mereka sangat mesra. Aku yakin mereka menjalin hubungan," gumamnya dalam hati.
Valen yang asik mengunyah makanannya, melirik sahabatnya yang terlihat melamun sambil terus memperhatikan seseorang. Karena penasaran Valenpun mencoba melihat kemana tatapan Jeli tertuju.
"Valen!" serunya agar sahabatnya itu tak menoleh kebelakang.
Valenpun tak jadi menoleh, kini ia menatap kesal Jeli.
"Lu udah selesai makan belum? Bengong mulu dari tadi, awas kesambet loh," gerutunya pada Jeli.
Jeli kembali berperang dengan pikirannya. Gadis itu menjadi bingung, apa ia harus memberitahu sahabatnya itu kalau calon tunangannya sudah kembali dari Paris dan kini pria itu sedang makan siang bersama seorang wanita.
"Jelii!" seru Valen lagi saat melihat Jeli kembali melamun.
"Ahh ehh iya, Len. Kenapa?" Ucap jeli gelagapan karna tak mendengar ucapan Valen sebelumnya.
"Udah selesai makan belum? Gue mau balik ke kantor!" ucap Valen.
Mata Jeli sekali lagi melirik ke arah Kein.
"Bentar, Len. Belum habis ini." Jeli kembali menyantap makanannya dengan perlahan.
"Duhh bagaimana ini. Kalau pulang sekarang, Valen bakal liat kak Kein lagi selingkuh. Hmm bukan maksud Gue nutupin ini dari Lu, Len. Gue cuman gak mau liat Lu sedih dan kecewa liat orang yang Lu sayang ngehianatin Lu." gerutu Jeli dalam hati.
Mata Jeli melirik lagi kearah Kein. Ia melihat Kein beranjak dari kursinya dan tampak pergi keluar Cafe. Sepertinya pria itu sedang mendapat telepon penting.
__ADS_1
"Oke! Setelah ini Gue bakal bikin perhitungan sama si pria tak setia itu!" Gumamnya dengan geram.
"Valen yuk buruan kita balik, aku lupa bakalan ada rapat dadakan," ucap Jeli pura-pura panik karena saat ini waktu yang tepat untuk keluar dari Cafe tersebut.
Valen dan Jeli bangkit dari tempat duduk mereka.
Saat Valen berbalik kebelakang, matanya langsung menangkap bayangan seorang wanita yang tak asing baginya sedang bermain ponsel.
Dengan semangat Valenpun berjalan meningalkan Jeli lalu menghampiri wanita yang ia kenal.
"Selamat siang, nona Candra," sapanya pada wanita itu.
Candrapun terkejut akan kehadiran Valen. "Astaga, apa dia melihatku bersama Kein."
"Selamat siang, nona Valen. Kau juga berada disini?" tanya Candra sembari tersenyum untuk menutupi kepanikannya.
"Iya saya biasa makan siang disini," jawab Valen dengan ramah.
Lalu Jeli datang menghampiri Valen yang sedang mengobrol dengan selingkuhannya Kein.
"Len, kamu kenal sama dia?" tanya Jeli ketus.
"Jeli, kenalin ini nona Candra. Dia loh yang buat gaun pertunanganku dengan kak Kein," ucap Valen memperkenalakan sahabatnya kepada wanita designer itu.
Candrapun mengulurkan tangannya, bermaksud untuk berjabatan tangan dengan Anjelina.
Namun gadis itu hanya menatap sinis pada Candra. Kemudian ia menarik tangan Valen dan menyeretnya meninggalkan meja Candra.
"Jell, bentar dulu Gue belum selesai ngobrol sama nona Candra," Valenpun meronta, namun Jeli tak melepas cengkraman tangannya.
"Nona Candra, nanti kita bicara lagi," ucap Valen sedikit berteriak.
Candra mengangguk dan melambaikan tangannya pada Valen.
Setelah sampai di tempat parkir, barulah Jeli melepaskan tangan Valen.
"Jell, Lu sadar gak sikap Lu tu gak sopan banget sama nona Candra!" bentaknya pada Jeli.
Anjelina menghela nafasnya sejenak dan mulai berkata, "Maaf, Len. Gue buru-buru, kan udah bilang ada rapat dadakan."
Valen manatap tajam sahabatnya itu. Jelipun langsung menampilkan wajah memelasnya.
"Kau ini sangat menyebalkan!" serunya kemudian melangkah meninggalkan Jeli, menuju mobilnya.
Anjelina masih mematung ditempatnya. "Maaf, Len. Aku tidak bermaksud menutupi ini darimu. Aku hanya tak mau hatimu terluka saat kau melihat orang yang kau cintai menghianatimu."
__ADS_1
bersambung...