
Masih ditempat yang sama, dua sejoli itu masih ingin menikmati waktu kebersamaan mereka.
“Apa kak Kei banyak pekerjaan akhir-akhir ini?” tanya Valen mengungkapkan kegelisahan hati nya selama ini.
Kein menghela nafasnya, matanya menatap wajah sendu gadis di depannya.
“Iya pekerjaan ku tidak ada habisnya, aku juga sangat merindukan mu Valen. Maafkan aku yang jarang ada waktu untuk mu,” ucap Kein sambil menggenggam erat tangan Valen.
Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut manis Kein, dengan spontan Valen memeluk tubuh laki-laki di depannya dengan erat. Ia meluapkan rindu yang selama ini dibendungnya. Kein pun membalas pelukan Valen dengan erat, ia juga sedang mengobati rindu dihatinya.
“Aku gak papa kok kak, kalau kakak banyak pekerjaan kan jadinya tak akan ada waktu untuk selingkuh wkwkwk,” ucap Valen cekikikan.
Valen melepaskan pelukannya, dan kini matanya menatap lekat sepasang mata laki-laki di depannya.
“Tapi janji ya, kak Kei gak akan ninggalin Valen. Valen sangat mencintai kak Kei, Valen juga takut kalau kak Kei berpaling hati dan menyukai wanita lain. Valen takut kehilangan orang yang Valen sayang.”
Valen mengangkat tangan kanannya dan menunjukakan jari kelingkingnya agar Kein mau berjanji untuk selalu bersamanya.
Dengan senang hati Kein menautkan jari kelingkingnya ke kelingking Valen.
“Iya sayang kakak janji gak akan ninggalin kamu.” Kein berucap meyakinkan Valen lalu mengecup punggung tangannya.
Valen menjadi terharu, kilauan bening lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Kecemasan yang selama ini menghantuin perasaannya kini mulai menghilang. Ia merasa beruntung mendapatkan laki-laki seperti Kein yang akan menjadi calon suaminya kelak.
Kein mengusap air mata Valen dan menatap lembut mata wanita itu kemudian berucap,
“jangan menangis, aku tau kamu bahagia tapi aku tidak suka kamu meneteskan air mata, itu membuat hatiku sakit. Jadi tersenyumlah.”
Valen dengan cepat mengusap matanya kemudian ia memberikan senyuman termanisnya untuk Kein.
Dengan jantung yang berdebar Kein merengkup kedua pipi Valen dengan tangannya, kemudian mengecup bibir mungil itu.
“Ayo kita cari makan, jagung bakar saja tak akan membuat perut kita kenyang.” Kein beranjak dari tempat duduknya. Ia menggenggam tangan Valen, lalu berjalan mencari warung makan untuk mengisi perut mereka yang mulai demo.
Karena ini di pantai jadi restoran disini kebanyakan menyajikan olahan laut.
Dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu kini tengah menikmati makan malam romantis mereka. Dengan pemandangan laut dimalam hari yang dipenuhi dengan bintang-bintang di atas laut yang gelap, ditambah lagi musik romantis yang dibawakan oleh penyanyi solo di restoran tersebut.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Setelah menikmati makan malam romantis, mereka memutuskan untuk segera pulang.
Karena restoran tempat mereka makan terletak di tepi pantai dan tentunya jauh dari tempat parkir, jadi mereka berjalan pelan sambil menikmati pemandangan sekitar.
Tampak banyak pengunjung sedang menikmati waktu luang mereka. Terlihat juga banyak pasangan kekasih berjalan bergandengan tangan dengan mesra. Tentunya hal itu yang ditakutkan oleh para jomblo. Mereka ingin menghilangkan penat untuk sekedar pergi ke pantai tapi pemandangan disini malah membuat hati mereka meronta-ronta alias ngeness wkwkwk.
Angin malam berhembus sangat kencang, mungkin karena mereka di dekat pantai, membuat gadis itu kedinginan. Ia terlihat mendekap tubuhnya dengan kedua tangannya, dan sesekali mengusap-usap lengannya agar angin malam tak semakin menusuk kulitnya.
Kein yang melihat gadis disampingnya kedinginan, ia kemudian melepaskan hoodienya lalu memakaikannya pada Valen.
“Kak kenapa ini dipakaikan kepadaku?” Valen pura-pura bertanya, padahal ia juga menginginkan hal itu.
“Kalau kamu kedingan, seharusnya katakan padaku jangan diam saja.” Kein menjawab dengan lembut kemudian menggenggam tangan Valen dan memberikan kehangatan disana.
“Terima kasih kak, kamu memang yang terbaik,” ucap Valen tak lupa dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya.
Akhirnya mereka sampai di parkiran. Kein membukakan pintu mobil untuk Valen, setelah itu ia berjalan ke sisi yang satunya, membuka pintu dan duduk di bangku kemudi. Dengan kecepatan sedang Kein melajukan mobilnya menembus keheningan malam.
Mereka akhirnya tiba di kediaman Bramasta. Kein hanya mengantarkan Valen sampai di depan gerbang rumahnya saja. Kein membukakan pintu mobil untuk Valen.
“Kak terima kasih ya untuk hari ini. Aku sangat bahagia.” Valen lalu memeluk Kein sebagai tanda sayang dan terima kasihnya.
Kein membalas pelukan gadis yang dicintainya. Tangannya mengusap lembut rambut Valen lalu mengecup keningnya.
“Masuklah ini sudah malam. Tidurlah yang nyenyak dan jangan lupa masukkan aku ke dalam mimpi mu.” Kein melepaskan pelukannya.
Valen berjalan memasuki halaman rumahnya, lalu ia menoleh kebelakang. Disana masih ada Kein yang menunggunya hingga masuk ke dalam rumah.
Gadis itu kemudian melambaikakan tangannya dan mendapat balasan dari Kein. Laki-laki itu juga ikut melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Kein masih menatap punggung gadis yang meninggalkannya.
__ADS_1
Setelah Valen masuk ke dalam rumah, bergegas kein memasuki mobilnya dan meninggalkan kediaman Bramasta menuju ke kediamannya.
-----*****-----
Pagi ini Valen bersiap-siap untuk berangkat ke kampusnya. Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna hijau tua ditambah dengan celana hitam panjangnya yang sedikit ketat sehingga menampakkan lekuk tubuhnya itu, dan tak lupa juga sneakers yang membungkus kedua kakinya.
Walaupun ia memakai make up yang natural, ia masih terlihat cantik. Rambut panjangnya pun dibiarkan terurai. Ia kemudian keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang makan. Disana sudah ada kedua orang tuanya yang menunggunya untuk sarapan.
“Selamat pagi semuanya,” ucap Valen menyapa kedua orang tuanya.
“Pagi sayang. Bagaimana kemarin kencannya apa menyenangkan?” tanya nyonya Brama dengan tangan yang sibuk mengolesi roti tawarnya dengan selai coklat kemudian memberikannya pada Valen.
“Iya Ma, kemarin kak Kei mengajak Valen ke pantai,” ucap Valen seraya mengunyah roti selainya.
Tuan Brama yang awalnya sibuk membaca koran sambil sesekali menyeruput kopi hitamnya pun mulai angkat bicara.
“Valen ada yang ingin Papa katakan kepadamu.”
“Mengatakan apa Pa?” sahut Valen.
“Rencananya kamu dan Kein akan bertunangan setelah kamu wisuda nanti. Papa harap kamu menyelesaikan kuliah mu dengan baik. Mulai hari ini kamu tak usah bekerja di kantor dan fokus saja pada kuliahmu!” perintah tuan Brama.
“Baiklah Pa, Valen akan fokus pada kuliah Valen. Tapi kalau soal pertunangan bukankah ini terlalu cepat? Rencananyakan Valen ingin menikah diumur 25 tahun Pah,” ucap Valen meyakinkan Papanya.
“Pertunangan ini dilakukan agar statusmu jelas sebagai tunangan Kein, dan ini akan menguatkan ikatan kalian. Papa juga tak perlu mengkhawatirkanmu lagi karena sudah ada tunanganmu kan,” balas tuan Brama.
“Baiklah jika itu yang Papa inginkan. Kalau begitu Valen pamit berangkat ke kampus dulu.” Valen berpamitan kepada orang tuanya kemudian beranjak meninggalkan ruang makan.
Valen berangkat ke kampus dengan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Jarak dari rumahnya menuju Universitas Nasional lumayan jauh, membutuhkan waktu 45 menit. Kalau lalu lintas sedang padat maka akan memakan waktu satu jam lebih.
-----*****-----
*UNIVERSITAS NASIONAL
Setelah melewati gerbang kampus, Valen menuju parkiran dan memarkirkan mobilnya disana. Di parkiran itu sudah terlihat hampir penuh dengan mobil-mobil mewah milik mahasiswa karena jam perkuliahan sudah mau dimulai.
Valen bergegas menuju ruang kelasnya dan untung saja ia tepat waktu sampai disana. Tak berselang lama Dosennya pun datang dan kelas dimulai.
“Jell nanti setelah wisuda kamu mau kerja dimana?” tanya Valen pada sahabatnya itu.
“Umm aku belum kepikiran Len, aku sih maunya liburan dulu wkwkwk,” ucap Jeli bercanda.
“Humm aku jadi ingin liburan juga, apa boleh aku ikut?” Valen bertanya dengan penuh semangat.
“Inikan baru rencana, tentu boleh kamu ikut kalo jadi liburan,” ucap Jeli sambil melahap nasi gorengnya.
“Pasti jadilahh, aku ingin ke Bali. Ayo kita pergi kesana!” seru Valen.
“Iya tapi-” Jeli menggantungkan ucapannya.
“Tapi apa Jel?” tanya Valen kebingungan.
“Tapi Valen yang bayarin hahahaha,” ucap Jeli dengan ketawa khasnya. Ya ketawa yang membuat pendengarnya menjadi jengkel.
Valen yang mendengar celotehan Jeli pun hanya menatapnya tajam sambil mengerucutkan bibirnya.
Disaat keduanya tengah asik mengobrol tiba-tiba datang seorang laki-laki yang mempunyai wajah baby face dan berkulit putih yang membuatnya juga digilai oleh banyak wanita namun hanya Valen yang ada di hatinya.
Laki-laki itu adalah Nathanael. Ia berjalan menghampiri Valen dan Jeli kemudian berbincang dengan mereka.
“Hai Valen,” sapa Nathan.
“Idihh Valen doang yang disapa, ada gua juga kalik disini!” seru Jeli.
“Ehh ada okky Jeli drink, sori-sori gua kira lo tadi di dalem kulkas.” Ledek Nathan.
Jeli mengerucutkan bibirnya diselingi dengan tatapan tajam yang mengarah pada Nathan.
Jeli dan Nathan memang tak pernah akur. Jika bertemu, mereka pasti akan beradu mulut. Valen hanya bisa tertawa melihat pertengkaran mereka. Rasanya ia ingin sekali menjodohkan mereka, pasti hubungan mereka sangat berwarna nanti.
__ADS_1
“Sudah jangan bertengkar, awas nanti kalian jatuh cinta hahaha.” Ledek Valen yang mendapat tatapan tajam dari dua manusia yang ada di dekatnya itu.
“Amit-amit dahh,” balas Jeli.
“Ayo kembali ke kelas aku sudah selesai makan,” ucap Valen.
Kemudian mereka berjalan meninggalkan kantin dan bergegas memasuki ruang kelas mereka.
Setelah jam perkuliahan selesai Valen memutuskan untuk langsung pulang, tapi Jeli meminta untuk menemaninya membeli buku untuk bahan skripsinya nanti. Mereka pun menuju ke sebuah toko buku yang ada di Mall pusat kota.
Bergegas mereka mencari buku untuk bahan skripsi mereka. Setelah satu jam memilih dan membeli buku, mereka memutuskan untuk ke food court yang ada di Mall karena melihat dan membaca sekilas buku-buku yang sangat tebal itu, membuat energi mereka seperti terkuras.
“Kau mau makan apa Len, aku yang traktir deh.” Tawar Jeli.
“Asikk aku mau takoyaki saja kalau begitu,” sahut Valen senang.
Setelah mendapatkan makanan pesanan mereka, Valen dan Jeli menuju ke meja makan yang sudah disediakan pihak food court untuk pengunjung agar bisa menikmati makanan mereka.
Disaat mereka tengah asik menyantap makanan mereka, tiba-tiba sekumpulan gadis cantik datang menghampiri mereka dengan tatapan meremehkan.
“Ehh Tuan putri dan ajudannya ada disini juga tohh.” Ledek Dinda.
“Ayo Valen lebih baik kita pergi dari sini, males banget berurusan dengan mereka!” ucap Jeli bangkit dari duduknya disusul juga dengan Valen.
Ketika mereka mencoba untuk pergi dari tempat itu Geng julid menghalangi jalan mereka.
“Minggir!” seru Valen.
Dinda menggeser badannya agar Valen bisa lewat, tetapi tidak dengan kakinya. Ia sengaja menghadangkan kakinya saat Valen berjalan di depannya sehingga membuat gadis itu tersandung dan jatuh tersungkur di lantai.
Geng julid itu sontak tertawa terbahak-bahak melihat Valen yang masih tersungkur di lantai, sehingga membuat semua mata para pengunjung Mall menatap ke arah mereka. Ya tujuan Geng julid itu hanya untuk mempermalukan kedua gadis itu.
Jeli yang geram melihat perlakuan geng julid pada sahabatnya, ia kemudian menjambak rambut Dinda kemudian mendorong wanita itu ke lantai.
Geng julid yang melihat bos mereka dihajar pun tak tinggal diam. Salah satu dari mereka kemudian mengambil minuman yang ada di atas meja dan menyiramkannya ke wajah Jeli.
Jeli yang tak terima disiram wajahnya pun langsung menarik rambut wanita itu dan mereka saling jambak-jambakan.
Melihat jeli yang masih asik bergulat dengan geng julid, Valen yg terduduk di lantai pun segera bangkit dan mendekati mereka. Valen berusaha melerai aksi jambak-jambakan mereka. Karena emosi yg menggebu-gebu, Jeli tak sengaja mendorong valen saat berusaha melerainya.
"Aghh!" Teriak Valen ketika tubuhnya menabrak badan kekar seseorang.
Teriakan Valen kemudian menyadarkan Jeli akan tindakannya barusan yang tak sengaja mendorong Valen.
"Anjelina!" Bentak laki-laki itu, matanya penuh amarah menatap ke gadis di depannya itu.
Laki-laki itu tak lain ialah Nathan, ia juga berada di food court mall tersebut dan melihat ada keributan di meja makan pengunjung lalu menghampirinya.
"Apa kau tau perbuatanmu! Kau hampir mencelakakan Valen, untung aku tadi berhasil menangkapnya, kalau dia terjatuh dan membentur meja bagaimana!!" sambung Nathan dengan membentak Jeli.
Gadis yang dibentak Nathan pun hanya bisa menunduk malu, karena penampilannya yang acak-acakan ditambah lagi semua mata tertuju padanya. Ia sangat menyesali dirinya yang tidak bisa menahan emosi dan hampir mencelakakan sahabatnya itu.
"Nathan kenapa kamu membentaknya, yang salah itu Dinda!" Bentak Valen yang tak terima sahabatnya yang disalahkan, padahal Jeli hanya membalas perlakuan buruk Dinda walaupun Jeli tak sengaja mendorongnya.
Valen kemudian menghampiri Jeli dan mengajaknya untuk pergi dari tempat itu.
"Maafkan aku Valen," ucap Jeli dengan suara paraunya.
"Tidak apa, ayo kita pulang. Biarkan saja mereka," sahut Valen sambil melirik tajam ke arah Geng julid.
Mereka pergi meninggalkan Mall tersebut menuju ke tempat parkir.
Nathan melihat kepergian mereka, lalu pandangannya beralih pada keempat gadis cantik yang penampilannya juga tak kalah acak-acakannya dengan Jeli tadi.
"Sudah kubilang jangan ganggu Valen lagi! Itu semakin membuat ku membenci mu!" Ucapan Nathan penuh penekanan dan juga amarah. Laki-laki itu kemudian berjalan pergi menyusul ke tempat Valen dan Jeli.
Sedangkan Dinda hanya bisa menggeram kesal dan meninggalkan tempat itu bersama gengnya.
Pengunjung yang tadi menyaksikan drama pertengkaran para gadis bar-bar itu pun sudah bubar, kembali ke urusan mereka masing-masing.
__ADS_1
*bersambung...
jangan lupa like, komen, dan vote timaaci 💕*