Menolak Untuk Menikah

Menolak Untuk Menikah
BAB 14 Pilihan


__ADS_3

Dua hari sebelumnya, Kein dan Candra sudah kembali dari Paris. Tentu saja kabar kepulangannya tak sampai di telinga Valen. Rasanya Kein benar-benar ingin menghindari gadis itu.


Hari ini, ketika jam makan siang, Kein mengajak kekasih barunya untuk bertemu dan bersantap siang bersama. Baru dua hari tak berjumpa, rasa rindunya begitu menggebu jika tak melihat Candra.


Kein ingat Cafe ini adalah tempat makan favorit bagi Valen. Entah kenapa laki-laki itu mengajak Candra ke tempat ini. Apa dia tak takut jika kepergok dengan calon tunangannya itu?


Setelah pesanan makanan mereka datang, tak ragu Kein dan Candra menyantap hidangan yang begitu menggugah selera mereka.


Kringg kringg


Deringan telpon dari ponsel Kein, membuat laki-laki itu menghentikan acara makannya.


"Sayang, klienku menelpon, aku keluar sebentar." Pamitnya pada Candra.


Kein pergi ke luar Cafe untuk berbicara dengan klien pentingnya melalui telpon. Cukup lama mereka berbincang mengenai bisnis lalu Kein mengakhiri panggilan tersebut setelah mereka mendapatkan kesepakatan.


Saat hendak kembali ke dalam Cafe, mata Kein menangkap sosok tak asing baginya. Dengan cepat ia berbalik dan bersembunyi di tempat yang tak dapat dijangkau oleh mata Valen.


"Dia di sini? Apa dia melihatku?" gumamnya was-was.


Sepasang mata Kein masih memantau Valen. Hingga gadis itu sudah tak menampakkam batang hidungnya, bergegas Kein menghampiri Candra yang masih ada di dalam Cafe.


Setelah perbincangan singkatnya dengan Valen, Candra masih menunggu Kein yang sedang menerima telpon. Dari raut wajahnya tampak wanita itu sedang memikirkan sesuatu.


Tak lama kemudian Kein sudah kembali ke dalam Cafe tersebut dan menghampiri Candra yang sedang melamun.


"Maaf lama, tadi aku melihat Valen, jadi aku bersembunyi dulu," ucap Kein.


"Menurutmu apa dia melihat kita? Aku rasa dia juga makan siang disini," sambung Kein dengan menampakkan wajah panik.


"Sebaiknya kita akhiri saja semua ini," ucap Candra datar.

__ADS_1


"Sudah kubilang jangan memikirkan apapun atau merasa bersalah!" seru Kein.


"Aku tidak mau menjadi penyebab hancurnya sebuah hubungan." Mata Candra mulai berkaca-kaca.


"Aku mohon akhiri saja semua ini." Candra tak bisa lagi menahan air matanya.


Kein menggenggam kedua tangan wanita yang tengah terisak di hadapannya.


"Aku sungguh sangat mencintaimu. Bagaimana aku bisa mengakhiri hubungan kita?" ucap Kein meyakinkan Candra.


Candra masih terisak. Bagaimanapun juga, sebenarnya ia tak ingin mengakhiri hubungannya dengan laki-laki yang sangat ia cintai. Namun apa daya, ia hanyalah orang ketiga di antara hubungan Kein dan juga Valen.


Wanita itu kemudian melepaskan genggaman Kein dari tangannya. Candra menarik nafas dalam-dalam, mencoba menguatkan hatinya sembari menghapus air mata yang mengalir di pipinya.


"Sudahlah, ini yang terbaik untuk kita semua. Jangan menghubungi atau mencariku lagi, karna hubungan kita sudah berakhir," ucap Candra kemudian pergi meninggalkan Kein.


Kein mengusap wajahnya yang gusar. Jalan keluarnya ada pada pilihannya sendiri. Memilih cintanya atau gadis yang dijodohkan dengannya.


Tapi, jika Valen tau yang sebenarnya, tau jika Kein mencintai wanita lain selain dirinya. Maka sudah jelas hati gadis itu juga akan hancur. Ikatan pernikahanpun tak cukup untuk membuat keduanya bahagia.


"Biarkanlah semuanya mengalir sebagaimana mestinya." Dengan frustasi Kein meninggalkan Cafe menuju kantornya.


-----*****-----


Satu bulan telah berlalu, Kein dan Candra tidak pernah bertemu ataupun saling menghubungi lagi. Kein kembali dalam pelukan Valen, namun hanya raganya saja tidak jiwa dan hatinya.


Valenpun merasakan perubahan di dalam diri Kein. Sosok pria hangat yang selalu membuatnya meleleh kini menjadi seseorang yang berbeda. Dingin, tak ada lagi tatapan lembut dalam sorot matanya. Hal ini membuat hatinya menjadi gelisah.


Saat ini Valen berada di Cafe langganannya bersama Jeli. Sebenarnya ia ingin makan siang bersama Kein, tapi laki-laki itu tidak membalas atau mengangkat telponnya. Jadilah Valen mengajak sahabatnya, daripada makan sendirian, berasa jomlo.


"Apa dia tak bahagia? Apa dia menyukai orang lain? Apa aku membuat kesalahan hingga membuatnya marah? Ahh tidak-tidak aku yakin dia pasti sibuk, satu minggu lagikan pertungan kita mungkin dia menyelesaikan pekerjaannya. Tapi apa sesibuk itu sampai tidak bisa membalas pesanku?" Gerutu Valen mengungkapkan kekesalannya.

__ADS_1


"Woii ngapain sih bengong, sambil komat-kamit lagi tuh mulut, mikirin apaan sih?" tanya Jeli penasaran semari menyendokkan makanan ke mulutnya.


"Gapapa Jell, aku lagi bete aja" ungkap Valen datar sembari memandangi ponselnya.


"Idihh tumben lo kayak gini, kenapa sih? Cerita dong ke gua siapa tau gua bisa bantu" ucap Jeli dengan semangatnya.


"Hmm kak Kein sikapnya akhir-akhir ini berubah, menurutmu kenapa bisa seperti itu ya?" ucap Valen sendu.


"Apa aku harus memberitahu Valen mengenai perselingkuhan kak Kein? Apa ini waktu yang tepat?"


Anjelina menghela nafasnya, "Len, apa kak Kein gak keberatan sama pertunangan ini?"


Valen diam mematung mencerna pertanyaan Jeli, kemudian gadis itu menggeleng pelan.


"Kak Kein menyetujui hal ini, tapi aku jadi ragu karena sikapnya yang berubah sejak kak Kein kembali dari Paris."


"Lebih baik kau tanyakan lagi pada calon tunanganmu itu. Tapi-"


"Tapi?" Valen membeo.


"Tapi, jika kak Kein berubah pikiran, maka kau harus menerimanya," sambung Jeli.


Valen mengerutkan keningnya nampak tidak suka dengan ucapan Jeli, "Kak Kein mencintaiku, tidak mungkin dia tak menyetujui pertunangan ini!"


"Maka dari itu aku menyuruhmu untuk bicara dulu dengannya," ucap Jeli berusaha menenangkan sahabatnya yang terselut emosi itu.


Valen memejamkan matanya, mengambil nafas panjang kemudian menghembuskan nafasnya perlahan. Berusaha menetralkan perasaannya yang berkecambuk, "Aku sudah selesai, aku akan kembali ke kantor."


Anjelina memperhatikan tubuh sahabatnya yang berjalan gontai meninggalkannya.


"Akan lebih baik jika hubunganmu berakhir dengan laki-laki tak setia itu, Valen. Jika kau tetap bertahan maka hatimu akan semakin terluka."

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2