
Masih menikmati sisa-sisa liburan yang akan berakhir, Valen dan Anjelina melanjutkan liburannya ke Ubud.
Ubud menjadi salah satu tujuan liburan terakhir mereka, karena kawasan pariwisata Ubud identik dengan seni, budaya serta keindahan alam pedesaannya.
Kebisingan kota dan juga polusi udara yang menjadi makanan sehari-hati mereka, membuatnya memilih menghabiskan waktu liburan di desa Ubud ini. Karena Keindahan alam juga menjadi keunggulan pariwisata Ubud. Disini kita dapat melihat lereng bukit hijau, sawah berundak, serta sungai yang masih alami.
Pertama-tama mereka mengunjungi Ubud Monkey Forest, yang terletak pada hutan lindung yang masih asri dan tentunya banyak terdapat kera.
Setelah puas menyapa saudara jauh mereka, Valen dan Jeli memilih nongkrong di objek wisata sawah terasering Tegalalang Ubud. Disana mereka menikmati pemandangan alami dari bentangan sawah terasering dengan kemiringan yang lumayan curam.
Sore harinya mereka mengunjungi Bukit Campuhan Ubud, yang sering disebut dengan nama bukit Cinta.
Dikatakan seperti itu, karena dibukit ini tempat yang terbilang romantis. Banyak pasangan yang berkunjung kemari sembari melihat indahnya langit senja dari atas perbukitan seakan dunia milik berdua. Yang lain mah numpang.
Mata Valen dan juga Jeli disuguhkan dengan pemandangan bukit, pepohonan dan pemandangan sawah terasering.
"Jell apa kau sepemikiran denganku?" tanya Valen yang matanya tak pernah lepas memandangi keindahan langit saat matahari terbenam.
"Memangnya kau berpikiran apa?" Jeli balik bertanya.
"Aku rasa kita salah mengunjungi tempat ini, Jell." ucapnya yang tiba-tiba lesu.
"Lah kenapa? Tempat ini sungguh indah dan juga romantiss," ucap Jeli dengan takjup.
"Nah itu masalahnya, tempat ini terlalu romantis untuk kita yang tak membawa pasangan. Aku jadi merindukan kak Kein," ucap Valen dengan wajah manyunnya.
"Iya benar juga, kalau aku kesini bersama Nathan pasti sangat seru, tapi aku malah terjebak bersamamu disini," gerutu Jeli meratapi nasibnya dan mendapat tatapan maut dari sahabatnya.
"Apa kau mau kudorong dari atas sini, sepertinya seru!" ucapnya ketus pada Jeli.
"Hehe maaf aku hanya bercanda," ucap Jeli sambil tertawa palsu.
Setelah kejadian di Restaurant tepi laut,
Nathan memilih pergi berlibur ke luar negri. Ia berniat menenangkan hati dan juga pikirannya. Lebih baik menjauh dari dua gadis yang hampir membuatnya menjadi hilang akal.
Sore itu dengan cepat berganti malam. Valen dan Jeli kembali ke penginapan mereka.
Setelah tiba di penginapan, Valen membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk nan luas itu.
"Jell ternyata liburan itu melelahkan juga ya," ucapnya dengan mata terpejam dan tubuh yang terlentang.
"Iya, Len. Selain itu dompetku juga mulai menangis." Jeli meringis melihat isi dompetnya yang mulai menipis.
"Makanya punya mata itu jangan baperan! Liat yang bagus dikit langsung diembat," ucap Valen ketus.
Jeli menatap Valen kesal, hatinya mulai memaki-maki sahabatnya itu. Dengan wajah yang ditekuk ia berjalan memasuki kamar mandi, tak memhiraukan celotehan Valen yang terus mengatainya boros.
Valen membuka matanya setelah mendengar kucuran air dari arah kamar mandi.
"Sial! Dari tadi gue ngomong sendiri." Kini tangannya meraih benda pipih di dalam tasnya.
Valen menghela nafasnya, tampaknya gadis itu merasa kecewa.
"Kenapa kak Kei tidak membalas pesanku? Bahkan tidak memberiku kabar sedari tadi." Valen kemudian mencoba menelpon calon tunangannya itu.
Tutt tutt tutt
"Kenapa tidak diangkat? Apa dia sesibuk itu? Bukankah proyeknya sudah selesai?" Batin Valen mulai bertanya-tanya.
Valen mengurungkan niatnya untuk kembali menghubungi Kein. Ia memilih mengiriminya sebuah pesan. Jari jemarinya dengan lihay menekan keyboard untuk mengetik pesan singkat.
Kedua mata Valen terus memandangi ponselnya, menunggu pesannya dibalas oleh Kein.
Saking lamanya menunggu, sampai-sampai Valen terlelap dan tak terasa ia sudah bearada di alam mimpinya.
-----*****-----
Sementara di Paris, Kein sedang menatap ponselnya yang berdering. Terlihat jelas nama Valen terpampang di layar ponsel pintarnya, menunggu dijawab oleh Kein.
Laki-laki itu tidak menggerakkan jarinya untuk menekan tombol hijau bergambar telepon tersebut.
Ia terus menatapnya, hingga tak terdengar lagi deringan suara ponsel yang menggema di kamar hotelnya. Namun tak berselang lama, sebuah pesan singkat mendarat dengan mulus di nomor teleponnya.
Valen : Kak Kei apa kau baik-baik saja? Kapan kau akan pulang? Aku sudah sangat merindukanmu. Setelah membaca pesan ini, jangan lupa untuk menelponku ya! Love you 😘
Kein menghela nafasnya dengan kasar. Nampak jelas wajahnya terlihat sangat frustasi.
__ADS_1
"Maafkan aku Valen," ucapnya lirih.
Flash back on
Kein mengajak Candra menghadiri jamuan makan malam yang dihadiri oleh para pemegang saham dan juga Investor yang tergabung bersama perusahaannya, untuk merayakan suksesnya acara Paris Fashion Week.
Kein kemudian menuju kamar Candra yang hanya terpisah dua pintu dari kamarnya.
Tangannya menekan bel kamar Candra beberapa kali, seraya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Tak berselang lama pintu kamar itupun terbuka.
Kein kembali dibuat takjub oleh wanita yang menjadi perancang gaun pertunangannya itu.
Wanita itu terlihat mengenakan shoulder-less dress berwarna hitam yang melekat dengan sempurna sehingga menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah. Rambutnya yang lurus kali ini tampak berbeda, terlihat sedikit bergelombang membuat kecantikannya semakain bertambah.
Candra menjadi salah tingkah karna kedua mata Kein menatapnya tanpa berkedip.
"Apa kita bisa berangkat sekarang, Tuan?" Suara Candra sontak membuat laki-laki itu tersadar dari kekagumannya.
Kein tersenyum, kemudian mempersilahkan Candra untuk berjalan duluan.
"Apa dia baru saja tersenyum? Kepadaku? Astaga jantung ini serasa mau copot. Kenapa sikap anda tiba-tiba berubah, Tuan?" gerutunya dalam hati.
Hatinya terus saja berdebar jika berada dekat dengan Kein.
Selang 15 menit akhirnya mereka tiba disebuah Restaurant yang terlihat mewah.
Keinpun menghampiri para Investor dan berbincang-bincang dengan mereka. Candra juga selalu mengikuti kemana Kein pergi, karena ia tak mengenal satu orangpun di pesta itu.
Karena merasa haus, Candra pergi meninggalkan Kein yang masih asik menyapa para tamu, menuju kearah mini bar.
Ia memesan segelas jus alpukat kesukaannya. Karena tak bisa menahan haus lagi, Candra segera meneguk minuman berwarna hijau tersebut.
"Selamat malam nona Candra, lama tidak berjumpa," ucap seorang pria yang sudah berdiri disamping Candra hingga membuatnya terkejut.
"Tuan Morgan, anda berada disini juga?" tanyanya pada pria yang bernama Morgan itu.
Pria itu tersenyum, nampaknya ia juga kagum akan kecantikan wanita disampingnya.
"Kau terlihat sangat cantik," ucap Morgan merayu Candra.
"Terima kasih, Tuan. Anda juga sangat tampan mengenakan tuksedo ini," balasnya pada Morgan dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
Candra dan Morgan saling mengenal, karena mereka pernah menjadi rekan kerja dan menjalin kerjasama sebelum wanita itu memutuskan untuk membuka butik sendiri.
Hal itu hingga sontak menarik perhatian Kein. Terlihat jelas wajahnya berubah kesal seketika. Tak terasa kedua kakinya membawanya kearah sepasang manusia yang sedang bercanda gurau itu.
"Kalian saling mengenal?" tanya Kein pada keduanya.
Lagi-lagi Candra dibuat terkejut dengan kemunculan tiba-tiba Kein.
"Kenapa aku sering dibuat terkejut akhir-akhir ini. Untung saja tidak kena serangan jantung," gumamnya dalam hati.
"Tuan Kein, perkenalkan ini Tuan Morgan. Beliau atasan saya dulu," ucap Candra memperkenalkan Morgan kepada Kein.
"Aku sudah mengenalnya," celetuk Kein.
Wanita itu tersenyum kikuk
"Oiya ya, mungkin saja tuan Morgan salah satu Investor tuan Kein, tentu saja mereka saling mengenal. Kenapa aku tiba-tiba bodoh seperti ini," gumam Candra lagi dalam hatinya.
"Tuan Morgan, nikmatilah jamuan makannya. Saya permisi dulu," ucap Kein seraya menarik tangan Candra.
Karena tiba-tiba tangannya ditarik oleh Kein, dengan cepat ia berpamitan pada mantan atasannya itu.
Morganpun melanjutkan meneguk winenya, sambil merayu bartender wanita yang berdiri di hadapannya.
Sedangkan Kein, laki-laki itu mencengkram erat pergelangan tangan Candra dan menyeretnya meninggalkan Restoran tersebut.
"Tuan sakit lepaskan!" Wanita itu meringis kesakitan.
Setelah sampai di tempat parkir, Kein dengan kasar menghempaskan tangan Candra.
"Apa aku mengajak mu kemari hanya untuk menggoda pria kaya!" ucap Kein dengan sedikit berteriak.
Plakk
Mendengar perkataan Kein, sontak tangan Candra menampar dengan keras pipi pria di hadapannya.
"Aku tidaklah serendah itu, Tuan!" ucapnya geram merasa tak terima.
Kein menjadi tersadar dengan ucapannya barusan.
__ADS_1
"Maafkan aku,"
Candra tak menghiraukannya. Ia berjalan meninggalkan Kein dengan hati yang panas.
Kein dengan cepat mengejar Candra dan menarik tangannya.
"Candra dengarkan aku, aku tak bermaksud berkata seperti itu. Kumohon maafkan aku," bujuk Kein.
"Pergilah jangan ganggu aku!" serunya kepada Kein dan mencoba untuk pergi. Namun Kein menghalanginya.
"Maafkan aku, aku hanya tidak suka melihatmu bersama pria lain," ucap Kein.
Wanita itu menatap tajam mata Kein.
"Kenapa tidak suka? Memangnya apa hubunganmu denganku? Kita tidak punya hubungan apapun!" ucap Candra penuh penekanan, agar Kein mengerti statusnya.
Kein menjadi terdiam, mencoba mencerna ucapan wanita yang sudah berjalan pergi meninggalkannya.
"Karna aku menyukaimu nona Candra," ucap Kein dengan keras agar Candra mendengarnya.
Wanita itu menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menghadap Kein.
"Apa kau sudah tidak waras?" teriak Candra.
Kein berjalan menghampiri wanita yang sedang menatapnya dengan tatapan kesal.
"Bukankah kau juga mempunyai rasa yang sama sepertiku?" tanya Kein seraya menatap sepasang mata coklat Candra.
Candra memalingkan wajahnya, "Sama sekali tidak!"
"Kau bohong!"
"Tidak!"
"Kalau begitu tatap mataku dan katakan bahwa kau tidak menyukaiku!" seru Kein.
Tangannya mencengkram kedua bahu Candra.
Wanita itu tak bergeming. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba menahan agar air matanya tak menetes. Kemudian ia memberanikan diri untuk membuka suara.
"Bagaimana dengan nona Valen? Apa kau sudah tidak mencintainya?" ucap Candra.
Dengan berani ia menaikkan wajahnya, mengamati ekspresi laki-laki yang masih mencengkram bahunya.
"Setelah bertemu denganmu aku sadar, bahwa aku tidak mencintainya. Aku merasakan hal yang aneh jika didekatmu dan aku merasa bahagia akan hal itu. Berbeda dengan Valen, aku tidak pernah merasa sebahagia ini jika bersamanya," ucap Kein mengutarakan perasaannya.
"Lalu bagaimana dengan pertunangan kalian?" tanya Candra.
"Aku akan membatalkannya!" ucapnya ketus.
Candra terkejut dengan keputusan Kein, bagaimana bisa laki-laki itu tak memikirkan perasaan calon tunangannya.
"Tapi-"
Wanita itu belum sempat menyelesaikan perkataannya, ketika Kein dengan cepat membungkam bibir Candra dengan bibirnya.
Candra awalnya berusaha untuk menolak saat Kein menciumnya, namun hati kecilnya juga menginginkan hal itu. Ia pun hanyut dalam kelembutan bibir Kein.
Sesudah itu, merekapun saling menatap. Tatapan penuh arti terpancar dari sepasang mata mereka.
Tangan Kein kemudian membelai wajah wanita yang berhasil mencuri hatinya.
"Yang terpenting sekarang, kita mempunyai rasa yang sama. Jangan memikirkan hal lain ataupun merasa bersalah," ucap Kein.
"Nona Fransiska Candra, maukah kau menjadi milikku?" tanya Kein lagi.
Tanpa berpikir panjang, Candra mengangukkan kepalanya. Keinpun langsung memeluk wanita itu dengan erat dan tentu saja dibalas oleh Candra.
"Maafkan aku Tuhan, aku menjadi sangat egois karena mencintai seseorang,"
*Flash back off
-
-
-
bersambung....
pict sc google.
p.s. hai reader follow akun Instagram Yona ya, @tanda_tanganku
__ADS_1
pasti yona foolback kok
TerimaKasih* 😊