Menolak Untuk Menikah

Menolak Untuk Menikah
BAB 4 : Bersalah


__ADS_3

*AREA PARKIR MALL


"Valen tunggu!" teriak Nathan kemudian berlari kecil mendekati Valen.


"Kau baik-baik saja kan?" tanyanya lagi.


"Aku baik-baik saja. Minta maaflah pada Jeli karna kamu membentaknya tadi!" perintah Valen.


"Tapi jelas-jelas dia mendorong mu tadi," sahut Nathan mengelak perintah Valen.


"Kau itu tidak tau apa-apa! Jadi jangan menyalahkannya! Cepat minta maaf padanya!" Seru Valen.


"Sudahlah Valen aku juga tak perlu permintaan maaf darinya, karena aku yang salah jadi aku yang harusnya minta maaf kepadamu. Maafkan aku Valen," ucapan Jeli penuh dengan penyesalan.


Valen kemudian memeluk gadis yang sudah dianggapnya sebagai adiknya itu.


"Sudahlah, kau kan sudah memberikan pelajaran pada wanita iblis itu jadi jangan merasa bersalah lagi," ucap Valen meyakinkan sahabatnya itu dan mengusap lembut rambutnya.


Mendengar perkataan sahabatnya itu, hati Jeli menjadi sedikit lega. Kemudian ia melepaskan pelukannya dan berkata, "baiklah ayo kita pulang, rasanya penampilan ku sudah seperti preman pasar yang dihajar warga sekampung."


Mereka pun tertawa. Jika Jeli sudah mulai ngebanyol lagi itu artinya dia baik-baik saja.


"Umm Anjeli maafkan aku karena sudah membentakmu," ucap Nathan.


"Tumben kau mau minta maaf, biasanya juga kau selalu mengejekku dan mencari masalah denganku," ledek Anjeli.


"Yasudah kutarik lagi permintaan maaf ku!" balas Nathan.


"Iss iss kenapa kalian jadi bertengkar, awas loh nanti malah naksirrr wkwk," ucap Valen meledek keduanya.


"Ogahh ihh amit-amit dah," celetuk Jeli.


"Siapa juga yg naksir sama okky Jeli drink. Kamu kan tau Valen kalau aku hanya menyukaimu!" sahut Nathan tak mau kalah.


"Nathan jangan membahas hal itu!" seru Valen meninggalkan laki-laki itu kemudian berjalan ke arah mobilnya dan duduk di bangku kemudi.


"Kasihan deh loo," ledek Jeli kemudian berlari meninggalkan Nathan yang wajahnya mulai suram.


“Aku tidak akan menyerah Valen sampai aku mendapatkan dirimu,” ucap Nathan pada dirinya sendiri.


-----*****-----


*DI MOBIL VALEN


Di dalam mobil Valen, Jeli sedang asik bercermin melihat wajahnya yang kena cakar sambil membenarkan rambutnya yang kusut karna pergulatannya dengan geng julid.


“Apa yang akan aku katakan pada ibuku nanti jika dia melihatku seperti ini,” gerutu Jeli.


“Maaf ya Jell, gara-gara aku ada masalah sama Dinda, kamu juga jadi kena imbasnya,”


ucap Valen menyesal.


“Hei gak apa kalik, lagi pulakan aku akhirnya bisa menjambak rambut badai nya si Dinda dan gengnya itu,” ucap Jeli tak lupa dengan tawanya.


“Kamu memang cocok jadi preman pasar Jell wkwkwk,” balas Valen.


“Ini pujian atau kamu ngejek?” tanya Jeli yang mulai kesal.


“Yaa maap loo. Btw Jell Papa ku bilang setelah wisuda nanti aku akan tunangan dengan kak Kein,” ucap Valen.


“Apaa! Gilak kok cepet banget tunangan Len!” ucap Jeli yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


“Gak usah teriak sakit nih kuping. Lagi pula gue itu cuman tunangan gak nikah,” sahut Valen berusaha menenangkan sahabatnya itu.


“Yahh kasihan deh tu si Nathan gak ada kesempatan,” ucap Jeli yang mulai mengejek Nathan.


“Gue juga heran kenapa si Nathan gak mau nyerah ngejar gue, jadinya kan gue ngerasa gak enak sama dia Jell. Gue harus gimana Jell biar dia gak ngejar gue lagi?” ucap Valen mengeluarkan isi hatinya dan meminta saran pada sahabatnya itu.


“Coba lo kasi tau Nathan kalau lo bakal tunangan sama kak Kein, mungkin dia bakal nyerah. Memang sih dia masih terus ngejar lo walau tau lo udah punya pacar. Tapi kalau tunangan kan itu artinya dia udah gak ada harapan lagi buat bisa sama lo,” ucap Jeli panjang lebar memberikan sarannya.


“Makasi sarannya Jell. Nanti gua pikirin lagi gimana ngomongnya biar Nathan gak sakit hati,” ucap Valen merasa lega mendapat pencerahan dari Jeli.


Jeli hanya tersenyum. Tak berselang lama akhirnya mereka sampai di kediaman Rahardian. Setelah mengantar Jeli pulang, kemudian Valen melajukan mobilnya lagi menuju ke rumahnya.


-----*****----*


Keesokan harinya Valen kembali menjalankan rutinitasnya seperti biasa.


*Universitas Nasional


Valen dan Jeli berangkat kuliah bersama, karna mengingat kejadian kemarin dengan Geng julid. Ada rasa takut sebenarnya di hati mereka jika Geng julid nantinya akan balas dendam pada mereka. Mereka yang hanya berdua pasti akan kalah jumlah dengan geng julid yang terdiri dari empat orang itu.


Saat akan memasuki ruang kelas Valen dan Jeli menarik nafas dahulu sambil memikirkan bagaimana menghadapi perlakuan Geng julid nanti.

__ADS_1


Ketika mereka memasuki kelas, Jeli yang sudah memasang badan untuk siap bertempur pun ia urungkan karna sepertinya suasana kelas tidak lah mencengkam seperti yang mereka duga.


"Huhh semoga mereka semua tak menghadiri kuliah hari ini sampai kita lulus nanti," ucap Jeli dengan bernafas lega karna Geng julid tak nampak batang hidungnya.


"Hahaha ia Jel, aku rasa mereka pasti kapok karna mendapat serangan dari mu maka dari itu mereka tak berani nongol," ucap Valen yang juga merasa lega karna terbebas dari Geng julid.


Mereka pun duduk di bangku masing- masing dan mengikuti pelajaran dengan hati yang gembira.


Hingga kelas pun dibubarkan dan mereka bergegas untuk pulang, namun dicegat oleh seseorang.


"Valen makan siang bareng yuk." Ajak laki-laki yang mencegat mereka.


"Baru aja geng julid ilang ehh muncul lagi nih Si Bucin," ucap Jeli menyindir laki-laki itu.


Laki-laki itu tak menghiraukan ledekan Jeli. Ia hanya fokus menatap Valen berharap ajakannya diterima.


Setelah beberapa saat berperang dengan pikirannya, akhirnya Valen pun menjawab ajakan laki-laki tersebut.


"Baiklah ayo kita makan siang bersama. Aku juga mau mengatakan sesuatu kepada mu."


Dengan wajah yang berbinar laki-laki itu tentu merasa bahagia karna pertama kalinya Valen mau menerima ajakannya. Iaki-laki itu adalah Nathan.


Mereka kemudian berjalan bersama menuju ke parkiran. Tiba-tiba Nathan merasa ada yang aneh dengan suasana disekitarnya.


"Bentar-bentar, kok lo ikut sih Jell?" tanya Nathan yang menganggap Jeli akan menjadi obat nyamuk baginya dan Valen.


"Jeli tadi berangkat bareng gue jadi pulangnya juga dia harus sama gue. Gue gak mau makan siang sama lo kalau Jeli gak ikut," ucap Valen menjelaskan pada Nathan.


Jeli pun menjulurkan lidahnya mengejek si Nathan dan dibalas dengan tatapan jengkel dari laki-laki tersebut.


"Yaudah kalau gitu kalian naik mobil gua aja, entar gue anterin lagi ke kampus," ucap Nathan.


"Nggak papa kok gue naik mobil gue sendiri aja, biar nanti bisa langsung pulang," ucap Valen menolak secara halus.


Mereka bertiga pun menuju sebuah cafe dengan mengenderai mobil mereka masing-masing.


Satu setengah jam, waktu yang mereka tempuh menuju sebuah cafe yang letaknya agak jauh dari perkotaan, dan akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan.


Sebuah cafe dengan suasana pedesaan, dan juga Instagramable yang menjadikannya banyak dikunjungi oleh kaum melenial.


Mereka pun duduk di meja yang sekitarnya agak sepi supaya nyaman untuk mengobrol.


Lalu datang seorang waitress yang akan mencatat pesanan-pesanan mereka.


Tak berselang lama, makanan yang mereka pesan pun datang dan kemudian dihidangkan di atas meja.


Dengan lahap mereka menghabiskan makanan mereka tanpa ada yang berbicara. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling beradu.


Hingga suara Jeli memecah keheningan di antara mereka.


"Gue permisi ke toilet dulu ya," ucap Jeli kemudian berjalan menuju ke arah toilet.


Tersisa Valen dan Nathan di meja tersebut. Belum ada obrolan diantara mereka hingga Valen memutuskan untuk memulai percakapan.


"Umm Nathan setelah Wisuda nanti aku akan tunangan," ucap Valen datar.


Deg


Nathan yang mendengar ucapan Valen pun terkejut, tak kalah terkejutnya dengan Jeli.


Ia berfikir sejenak, menarik nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan pikiran dan hatinya.


Ia berusaha beranggapan bahwa Valen hanya bercanda agar ia menyerah untuk mendapatkan cinta Valen.


"Hahaha itu semua gak lucu Valen," ucap Nathan sambil tertawa.


"Aku serius!" Seru Valen.


Seketika tawa Nathan pun lenyap.


"Terima kasih karna kamu setia menungguku, tapi aku tidak bisa menerima perasaanmu. Aku akan bertunangan, jadi aku harap kamu tidak mengejarku lagi."


Valen berhenti sejenak agar Nathan bisa mencerna perkatannya.


"Banyak gadis yang diam-diam menyukaimu. Bukalah hati mu untuknya. Maaf kan aku Nathan," sambung Valen lagi.


Nathan masih mencerna kata-kata Valen. Mata laki-laki itu terus menatap gadis di depannya itu dengan tatapan sendu.


"Mengapa kau melakukan ini kepada ku?" ucap Nathan dengan sendu.


"Aku harus mengatakan ini agar kau tak semakin terluka karna menungguku, maaf," ucap Valen dengan wajah yang merasa bersalah.


Nathan tersenyum sinis mendengar ucapan Valen.

__ADS_1


"Menyukai mu bukanlah sebuah kesalahan jadi jangan merasa bersalah. Aku yang bodoh karna masih mengharapkanmu walau tau kau sudah milik seseorang." Nathan menjeda ucapannya agar dicerna oleh Valen


"Jangan memaksa ku untuk melupakan mu. Ini adalah perasaan ku jadi biar aku yang menanggungnya sendiri kau tak perlu khawatir," sambungnya lagi.


Valen hanya bisa menunduk.


Karna suasana berubah menjadi canggung ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu.


"Maaf aku harus segera pergi karena ada janji dengan seseorang. Bisa tolong antarkan Jeli pulang? Karna aku buru-buru. Terima kasih," ucap Valen kemudian bergegas pergi tanpa menunggu balasan dari Nathan.


Tak berselang lama, kemudian Jeli datang menghampiri Nathan yang masih duduk menyendiri meratapi nasibnya.


Sebenarnya Jeli mendengar semua pembicaraan mereka karena meja mereka dekat dengan toilet. Tapi ia memutuskan untuk menunggu keduanya agar selesai berbicara, baru ia berani menampakkan diri.


"Loh kemana Valen?" tanya Jeli yang pura-pura tidak tau.


"Dia sudah pulang duluan. Apa kau sudah selesai? Aku akan mengantar mu pulang," sahut Nathan.


Mereka pun meninggalkan cafe tersebut dan Nathan melajukan mobilnya menuju rumah Jeli. Selama perjalanan suasana di mobil itu sangat hening. Bisa dibilang wajah Nathan terlihat sangat suram hingga Jeli memberanikan diri untuk membuka suara.


"Kenape muke lu di tekuk gitu kayak ikan pari," ucap Jeli berusaha menghibur Nathan namun gagal.


Laki-laki itu tak bergeming membuat bulu kuduk Jeli merinding. Namun bukan Jeli namanya kalau dia menyerah secepat itu.


"Hei ikan pari apa kau dikutuk menjadi batu? Kenapa diam saja sih. Heiii!" Jeli tak henti-hentinya mengoceh hingga membuat kuping Nathan panas.


Karna kesabarannya telah habis. Nathan kemudian menepikan mobilnya.


"Turun!" Seru Nathan.


"Ogahh!" Balas Jeli.


Karena Jeli tak juga bergerak dari posisinya, Nathan yang sedang kesal itu pun keluar dari mobilnya dan dengan cepat membuka pintu mobil Jeli kemudian berteriak.


"Anjelina keluar dari mobilku sekarang!" Bentak nya.


Jeli yang terkejut dengan sikap Nathan pun tiba-tiba tubuhnya membeku.


Nathan yang sudah kesal itu pun menarik paksa tangan gadis itu dan menyeretnya keluar dari mobil.


"Nathan kan gue cuman becanda, jangan tinggalin gue disini," rengek Jeli yang tanganya masih diseret Nathan.


Laki-laki itu tak menghiraukannya. Setelah Jeli keluar dari mobilnya ia bergegas masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendarannya dengan cepat.


"Dasar gilaa!!" Umpat Jeli saking kesalnya.


Tempat ia diturunkan secara paksa oleh Nathan, masih jauh dari rumahnya. Siang itu tampak mendung. Gadis itu berharap hujan tidak turun. Ia masih kebingungan bagaimana ia akan pulang. Dilihatnya ponselnya ternyata mati karena lowbat. Ia semakin khawatir karena tak ada angkutan umum yang lewat ditambah lagi disana sangat sepi dan masih jauh dari perkotaan.


Ia kemudian melangkahkan kakinya menyusuri jalanan itu berharap akan ada angkutan umum yang lewat.


Saat kakinya sudah tak kuat lagi untuk berjalan. Tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya membasahi bumi.


Jeli yang sedang panik kemudian melihat ada halte bus di seberang jalan yang letaknya lumayan jauh. Ia kemudian berlari sekencang mungkin ke arah halte tersebut untuk berteduh.


Hujan masih turun dengan lebatnya disertai dengan angin kencang hingga membuat tubuh gadis yang basah kuyup itu pun kedinginan.


Ia sebenarnya sangat takut apalagi hujan itu disertai dengan petir dan gemuruh, membuat air matanya keluar membasahi pipinya yang sudah basah karna hempasan air hujan.


Jeli menangis sesegukan apalagi siang itu tampak gelap karena hujan yang tak henti-hentinya mengguyur bumi.


Sretttt


Terlihat ada mobil sport berwarna biru berhenti di depan halte tempat Jeli berteduh. Pemilik mobil itu segera keluar dari mobilnya dan menghampiri gadis yang tubuhnya basah kuyup sambil menunduk meratapi kesialannya.


Karena merasa ada yang mendekatinya. Gadis yang awalnya menunduk itu dengan cepat menatap ke arah depan.


"Untuk apa kau kemari!" ucapnya lirih sambil mengusap cepat air matanya.


Laki-laki itu terkejut melihat keadaan Jeli dan ada rasa bersalah dalam hatinya.


"Ayo masuklah aku akan mengantarmu pulang," ucap laki-laki itu.


Dia adalah Nathan. Ketika dalam perjalanan pulang ke rumahnya tiba-tiba hujan turun dan membuatnya teringat pada Jeli. Lalu ia putar balik, kembali ke tempat ia meninggalkan Jeli.


Gadis itu tak bergeming, tentu ia sangat kesal pada Nathan.


Nathan menarik tangannya dan menyeretnya untuk masuk ke mobil namun Jeli menepisnya dengan kasar.


"Memang apa perduli mu! Tinggalkan saja aku seperti tadi!" bentak Jeli yang sudah tak bisa menahan air matanya.


Nathan yang baru pertama kali melihat Jeli meneteskan air mata pun membuatnya menjadi semakin merasa bersalah.


Nathan menyesali perbuatnnya karena melampiaskan amarahnya kepada Anjelina dan membuat gadis yang selalu ceria itu menitikkan air matanya.

__ADS_1


*bersambung...


jangan lupa like, komen, dan vote yaa* 😊


__ADS_2