Menolak Untuk Menikah

Menolak Untuk Menikah
BAB 8 : Bali


__ADS_3

Valen dan Anjelina akhirnya bisa mewujudkan rencana mereka yang akan pergi berlibur ke Bali setelah wisuda.


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan melalui jalur udara, akhirnya mereka tiba juga di Bandara I Gusti Ngurah Rai.


Mereka kemudian menuju ke sebuah Villa milik teman Anjelina yang terletak di Desa Subagan, Karangesem, dengan mengendarai taksi.


Saat sampai ditujuan, mata mereka dibuat takjub akan desain Villa yang unik menyerupai rumah panggung khas Sumatera Barat.


Dengan jendela-jendela kaca yang besar, Villa ini berdiri di tepi laut sehingga bukan hanya pemandangan Gunung Agung, tetapi juga laut biru nan membentang indah terlihat dengan jelas memuatnya memanjakan mata kalian.



Saat sedang asik menikmati pemandangan sekitar, mata Valen tertuju pada seorang laki-laki yang tak asing baginya, sedang berdiri di balkon Villa sambil asik berselfi ria dengan ponselnya.


"Jell kok ada dia juga sih disini?" tanya Valen binggung hingga menghentikan langkahnya.


"Ya iyalah dia ada disini, orang dia yang punya nih Villa," sahut Jeli.


Valen terkejut, "kok gak bilang sih Jell ni Villa punya dia. Gue sengaja liburan jauh-jauh kemari mencari ketenangan, malah ada dia disini. Cari Villa lain aja yuk!" Protes Valen.


Segera Valen memutar tubuhnya hendak meninggalkan Villa tersebut dengan tangan yang sudah menarik koper.


Dengan cepat Jeli menarik tangan Valen dan berbisik, "Len kita nginep disini tuh gak bayar alias GERATISS. Lumayan kan hemat uang biar bisa beli oleh-oleh" ucapnya membujuk Valen dengan wajah memelas agar Valen luluh.


"Ngapain kalian pada bisik-bisik?" Tanya laki-laki itu yang sudah berada di depan mereka.


"Emm enggak papa Nathan," balas Jeli dengan sekilas melirik Valen.


"Mana kopernya biar aku bantu bawain." Nathan meraih kedua koper mereka dan membawanya ke salah satu kamar di Villa tersebut.


Valen tak bergeming dari tempatnya, ia masih kesal dengan sahabatnya itu.


"Ayok!" Seru Jeli sembari menarik tangan Valen dengan paksa mengikuti Nathan menuju ke kamar mereka.


"Awas aja ya kalau liburan gue kacau gara-gara lu!" Ancamnya pada Jeli.


"Kalian istirahat dulu ya, nanti aku ajak jalan-jalan," ucap Nathan saat sudah tiba di depan kamar Valen dan Anjelina.


Kedua gadis itu langsung mengangguk kemudian membawa koper mereka memasuki kamar.


Mereka melihat-lihat isi kamar Villa tersebut. Kamar yang besar dengan ranjang king size yang terbalut sprei putih.


Anjelina melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan. Hingga matanya dikejutkan lagi dengan bathtub terbuka dengan pemandangan laut dan juga gunung. Pasti sangat asik pikirnya jika berendam di bathtub itu. Lalu ia bergidik ngeri, bagaimana jika ada yang mengintipnya saat sedang asik berendam.


__ADS_1


"Gilak bagus banget nih Villa, pasti mahal. Untung dikasi gratis sama si Nathan hahaha," ucapnya masih takjub dengan keindahan Villa milik temannya itu.


Setelah puas melihat-lihat pemandangan dari kamar mereka, kemudian mereka merebahkan diri di sebuah ranjang empuk nan luas itu. Karena perjalanan panjang yang melelahkan membuat mereka langsung terlelap dengan mimpi mereka masing-masing.


Drettt drettt


Getaran ponsel membuat gadis yang tengah asik menjelajahi mimpi tersebut harus terbangun.


"Halo." Sapannya pada si penelpon dengan mata yang masih mengantuk.


"Kamu sudah sampai dengan selamat di Balikan nak?" tanya si penelpon.


Dengan mendengar suara cempreng di sebrang sana, Valen langsung tahu yang menelponnya adalah mamanya.


"Iya Valen sudah sampai dengan selamat, Ma. Valen ketiduran jadi lupa memberi tahu Mama," ucapnya sambil menguap.


"Baiklah kalau begitu, have fun ya disana jangan lupa bawa oleh-oleh untuk Mama. Bye...."


"Iya, Ma." Valen menutup panggilannya.


Matanya terbelalak melihat jam di ponselnya yang menunjukan pukul lima sore.


Bergegas ia membangunkan kebo di sampingnya.


Gadis itu bukannya bangun malah tambah ngorok, membuat Valen kesal.


Valen kemudian beranjak dari ranjang empuknya dan meninggalkan Anjelina yang tidurnya macam kebo, menuju ke luar Villa.


Gadis itu berjalan sendirian di tepi laut, menapakkan kakinya di atas pasir hitam, dan menikmati hembusan angin dari pohon kelapa. Matanya menatap indahnya Gunung Agung yang menjulang tinggi.


"Pasti seru kalau ada kak Kei disini," gumamnya sambil menghela nafas.


"Valen!" Teriakan Nathan membuyarkan pikirannya.


Nathan menghampiri Valen dengan sedikit berlari hingga akhirnya ia berada tepat di depan gadis itu.


"Ayo ku temani jalan-jalan." Tawarnya pada Valen.


Valen tak menyahuti ucapan Nathan. Gadis itu melangkahkan kakinya lagi menyusuri lautan yang terbentang luas disampingnya.


Dengan cepat Nathan mengikuti Valen, "Valen, mau tidak nanti malam dinner berdua dengan ku?" tanyanya lagi.


Valen menghentikan langkah kakinya, ia menoleh dan menatap tajam pada Nathan, "apa kau masih belum menyerah?"


"Selagi janur kuning belum melengkung, aku tidak akan menyerah!" balasnya dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


Valen memutar kedua bola matanya jengah. Ia meninggalkan Nathan yang masih memandangnya dengan penuh harap. Valen menuju kembali ke Villa dengan kesal.


Sedangkan Nathan masih mematung ditempatnya, matanya menatap lekat tubuh gadis yang berjalan meninggalkannya.


"Lihat saja nanti, aku akan menggagalkan pernikahmu dan membuat mu bertekuk lutut kepadaku."


-----*****-----


Di kamar, Anjelina mengerjapkan kedua matanya, tangannya meraba kasur disebelahnya. Sontak ia membuka matanya dan mendapati Valen tidak ada disebelahnya. Jeli menjadi panik ia mencari Valen di seluruh kamarnya, namun tidak ada juga.


"Kemana dia pergi? Atau jangan-jangan dia kabur kalik ya nyari Villa lain. Arrgghhh," ucap Jeli frustasi.


Lalu ia mengambil ponselnya, berusaha menghubungi Valen, namun tidak diangkat oleh sahabatnya itu. Jeli jadi semakin frustasi memikirkannya.


Matanya melihat ke arah koper yang jumlahnya masih sama. Ada dua koper, satu milik Jeli dan satunya lagi milik Valen.


Anjelina bernafas lega, karena Valen tidak meninggalkannya. Ia kemudian keluar kamar bermaksud mencari Valen, namun ia urungkan karena Valen terlihat memasuki Villa dengan wajah yang ditekuk.


"Valen lu kok gak bangunin gua sih maen tinggal-tinggal ajee!" gerutunya pada Valen.


"Siapa suru lu tidur kayak keboo!" bentaknya kemudian.


"Kenape muka lu ditekuk gitu, kaya baju gak disetrika setaun ajee." Godanya pada Valen.


Valen tak menyahuti ocehan Jeli. Ia bergegas menuju kamarnya kemudian mengemasi barang-barangnya.


"Len lu ngapain?" tanyanya pada Valen.


"Cepet beresin barang-barang lo, kita pergi dari sini!" Perintahnya pada sahabatnya yang menatapnya dengan kebingungan itu.


"Kita mau kemana Len, ini udah mau gelap?"


"Gausah banyak tanya!" serunya kemudian.


"Len kalau nyari Villa lain tempatnya jauh. Mending besok aja ya, pagi-pagi kita berangkat," ucapnya meyakinkan Valen.


Valen berfikir sejenak. Ia kemudian menatap ke arah Jeli yang juga menatapnya dengan wajah memelas.


"Yaudah pokoknya besok pagi kita cari penginapan lain!" ucapnya sembari meninggalkan Jeli menuju kamar mandi.


"Pasti Nathan gangguin Valen lagi. Kenapa sih dia selalu mengharapkan sesuatu yang mustahil untuk dia miliki. Kenapa dia tak pernah melirikku yang selalu ada untuknya."


bersambung...


pict source by TripCanvas

__ADS_1


__ADS_2