
Cahaya sang surya sudah tak nampak, karena digantikan oleh sang rembulan beserta kerlipan bintang-bintang yang menghiasi langit malam.
Malam yang sangat dingin bagi seseorang yang tengah berlibur tanpa ditemani kekasihnya.
Valen asik bermain dengan ponselnya. Ia bertukar kabar dengan calon tunangannya sambil meluapkan kerinduannya.
Sedangkan Anjelina, si gadis malang tanpa pujaan hati, hanya bisa melamun di dekat jendela menatap kosong pada deburan ombak yang menabrak karang.
Drett drrtt
Getaran ponsel yang menandakan ada pesan masuk, membuyarkan lamunan Jeli. Ia segera membaca pesan teks tersebut.
Nata de coco : Anjelina ku mohon tolonglah aku! Bujuklah Valen agar dia mau makan malam berdua dengan ku. Aku akan mengizinkan mu menginap disini lebih lama tanpa membayar. Aku akan menunggunya di Restaurant dekat laut.
Bilang juga padanya aku tidak akan pergi sampai dia datang!
Anjelina menghela nafasnya, kini hati dan pikirannya sedang berkecambuk. Haruskah ia menyampaikan pesan Nathan pada Valen?
Jika ia mengatakan atau membujuknya, pasti sahabatnya itu tetap tidak mau datang. Tapi kalau dia tak memberitahu pesan Nathan pasti laki-laki itu akan tetap menunggu disana sampai Valen datang.
Valen dan Nathan sama-sama keras kepala. Nathan tak pernah main-main akan ucapnnya, membuat Jeli semakin takut. Bagaimana kalau Nathan sampai sakit karna terlalu lama menunggu, bukankah angin malam di laut tak baik bagi kesehatan.
Arrghhh Anjelina sangat kebingungan saat ini. Hatinya ingin dialah yang makan malam romantis dengan Nathan, namun otaknya juga memikirkan bagaimana perasaan Nathan nanti. Ia tak ingin membuat laki-laki pujaannya kecewa walaupun ia harus menahan rasa sesak di dadanya.
Dengan berani Anjelina berusaha membujuk sahabatnya. Jelas saja hal itu semakin membuat amarah Valen mencuat. Hingga Valen ingin pergi mencari penginapan lain pada saat itu juga.
Anjelina putus asa hingga dia memberitahu ancaman Nathan, yang tak akan pergi sampai Valen datang.
"Aku tidak peduli!" Bentaknya pada Anjelina.
"Tapi aku peduli padanya," ucapnya sendu.
"Kalau begitu kau saja yang pergi," balas Valen menatap kesal pada sahabatnya itu.
"Aku tidak bisa Valen, dia menginginkan mu bukan aku." Jeli sudah tak bisa menahan air matanya.
Valen merasa bersalah karna membuat sahabat kesayangannya menangis. Ia kemudian menggenggam kedua tangan gadis yang sedang sesegukan itu.
"Anjelina, pergilah temui laki-laki yang kau sukai. Tunjukkan padanya bahwa kau tulus mencintainya, sehingga dia bisa melupakan aku yang tak pernah bisa ia miliki." Valen menatap lembut mata Jeli penuh keyakinan dengan apa yang ia ucapkan.
__ADS_1
"Berjuanglah mendapatkan hatinya, hingga dia sadar mana yang harus di perjuangkan dan mana yang harus direlakan." Sambungnya lagi.
Anjelina memeluk erat sahabatnya kemudian berkata, "bisakah aku melakukan itu, bagaimana jika dia malah menghindari ku?"
Valen melepaskan pelukannya, tangannya mengusap sisa air mata di pipi sahabatnya itu.
"Jika kau tulus maka jangan pernah menyerah," ucap Valen menguatkan sahabatnya.
"Terima kasih Valen, kau memang sahabat terbaik," ucapnya sambil memeluk Valen lagi.
"Aku akan membuat mu sangat cantik malam ini, ayo bersiap-siap," ucap Valen dengan semangat.
Dengan lihay Valen membantu mendandani sahabatnya itu. Maklum lah, namanya juga gadis tomboy mana bisa dandan sendiri.
"Nah..., sudah selesai. Sahabatku ini memang sangat cantik, Nathan pasti langsung tergila-gila kepadamu," ucap Valen takjub akan hasil riasannya.
"Umm Valen bisa tidak aku pakai celana jeans saja? Kaukan tahu aku tidak terbiasa memakai dress seperti ini, apalagi harus pakai high heels." Anjelina terus memandangi dirinya di depan cermin.
"Ayolah Jell, inikan demi pujaan hati mu, jadi kau harus menderita sedikit hahaha," ucapnya menggoda Jeli.
"Apa tidak apa-apa meninggalkan mu sendirian disini? Bagaimana kalau kau ikut juga?" Pertanyaan Jeli sontak membuat mata Valen mendelik menatapnya.
"Hei gadis bodoh, untuk apa aku ikut. Yang ada kau yang jadi obat nyamuk nanti bukan aku," ledeknya.
"Baiklah, fighting!!" Dengan semangat Jeli memeluk sahabatnya itu, lalu bergegas menemui Nathan.
-----*****-----
Di sebuah Restaurant dengan latar lautan yang membentang luas. Sebuah meja dengan sepasang kursi terpampang dengan sangat indah, dilengkapi dengan lilin-lilin kecil membangkitkan suasana romantis.
Ditempat itulah, Nathan menyiapkan makan malam romantisnya dengan Valen.
Dengan harap-harap cemas laki-laki itu menunggu kedatangan pujaan hatinya.
Tubuhnya kini menghadap pada luasnya lautan. Menghirup udara segar yang menenangkan pikiran. Mendengarkan deburan ombak yang beradu.
Hingga suara hentakan high heels yang berpijak pada lantai kaca, membuatnya segera membalikkan badan dan berucap dengan senangnya, "akhirnya kau datang Va-"
__ADS_1
Laki-laki itu tak melanjutkan ucapnnya, bahkan senyuman yang awalnya merekah pada bibirnya kini mulai menghilang dan terganti oleh tatapan bingung.
"Mengapa kau yang kemari?" tanyanya dengan raut wajah yang kecewa.
"A- aku, maafkan aku...." Gadis itu tau bahwa ia kini membuat Nathan kecewa dan terluka.
Mendengar ucapan Jeli, laki-laki itu langsung tau, jika Valen tidak akan datang. Padahal ia berharap rencananya akan berhasil kali ini. Nathan hanya bisa menghela nafasnya, berusaha meredam rasa kecewanya.
"Sudah tau hal ini pasti akan terjadi, lalu kenapa aku masih berharap lebih huh." Gerutu Nathan dalam hatinya.
Kini pandangan Nathan berpindah pada gadis di depannya. Dari ujung kepala sampai kaki, setiap jengkal dari tubuhnya tak terlewat sedikitpun dari pandangannya.
Jeli merasa risih akan tatapan Nathan, apakah ada yang salah dengan penampilannya saat ini? Begitulah pikirnya.
"Apa kau ada janji dengan seseorang? Kau tampak berbeda hari ini," ucap Nathan berusaha tetap tegar walau dengan jelas wajahnya terlihat suram.
"Emm tadinya iya, tapi sekarang tidak." Jeli berucap dengan gugup.
"Kenapa?"
"Karena undangannya ditujukan bukan untuk ku. Kehadiran ku juga tak diharapkan, jadi sebaiknya aku kembali saja ke Villa. Kau juga lebih baik kembalilah," ucapnya dengan tersenyum kecut menikmati sayatan pisau di hatinya.
Nathan berusaha mencerna ucapan Anjelina.
Karena tak ada sahutan dari Nathan, Anjelina menundukkan pandangannya, kemudian membalikkan badannya perlahan berjalan meninggalkan Nathan yang masih menatapnya dengan tatapan aneh.
"Apa kau menyukai ku?" Pertanyaan yang tiba-tiba terlontar dari mulut Nathan.
Degg
Sontak saja Jeli membalikkan badannya lagi menghadap laki-laki di depannya.
Pandangan mereka bertemu. Nathan menatap lekat sepasang mata indah Anjelina, dengan memasang wajah yang serius.
Jantungnya berdebar, bahkan untuk bernafas saja Jeli tak berani. Mungkin wajahnya tengah memerah saat ini. Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya, tak berani menatap mata Nathan lagi.
"Kenapa dia tiba-tiba mengatakan hal itu? Apakah dia menyadari perasaan ku? Haruskah aku jujur dengan perasaanku sekarang? Bagaimana ini aku sangat bingung, aku belum siap menerima penolakan darinya. Hatiku masih belum siap."
"A- aku...."
__ADS_1
aku mau minta like sama vote nya dongg jangan lupa ratenya juga hahahaha. Peace😋
( pict sc : Tirtha Dining Pecatu )