
"Maaf kan aku," ucap Nathan rendah. Suaranya terdengar sangat menyesal.
Saking kesalnya, kedua tangan Jeli mengepal dan melayangkan pukulan bertubi-tubi ke dada laki-laki yang ada di depannya.
Nathan membiarkan Jeli meluapkan amarahnya. Rasa sakit karena pukulan Jeli tak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang diberikan Valen di hatinya walau hanya lewat kata-kata.
Karena pukulan Jeli mulai melemah, kedua tangan Nathan mencengkram pergelangan tangan gadis itu kemudian memeluknya dengan erat.
"Maaf." Hanya satu kata yang terucap dari mulut Nathan.
Jeli yang mendapat perlakuan mengejutkan dari Nathan pun akhirnya luluh.
Keduanya memasuki mobil. Tak ada percakapan apa pun diantara mereka. Nathan mengantarkan Anjelina sampai kerumahnya. Gadis itu hanya mengucapkan terima kasih lalu meninggalkan Nathan. Setelah itu Nathan kembali ke kediamannya.
-----*****------
Keesokan harinya di Kediaman Brama.
Seorang gadis cantik terlihat masih setia memeluk bantal guling. Nyawanya saat ini pasti masih berkeliaran kesana-kemari entah kemana.
Dering jam alarm yang tiba-tiba berbunyi menyebabkan nyawa yg bergentayangan itu kembali ke tubuhnya.
Dengan mata yang masih tertutup, tangan gadis itu meraih benda yg amat berisik dan mengganggu tidurnya lalu mematikannya.
Nyawanya pun kembali bergentayangan. Lagi-lagi ada suara berisik yang harus membuat nyawanya kembali lagi.
"Arggghh." Dengus gadis itu kesal lalu mencari suara berisik itu.
Ponselnya lah yang sedang berdering. Nampak nama Jeli di layar ponselnya dan dengan cepat ia menekan tombol hijau.
"Apaan sih ganggu tidur gue aja lu! Gue baru aja nyampe korea ehh balik lagi kesini," ucapnya kesal Karena Jeli mengganggu mimpinya yg sedang makan tokpokki di korea bersama oppa Sehun.
"Maaf Len, gue cuman mau bilang hari ini gue gak masuk kulih gue demam! Makasi!" ucap Jeli cepat lalu memutuskan panggilannya dengan Valen tanpa menunggu balasnnya.
"Idihh ni anak udah ganggu tidur gue, ga jelas lagi ngomong apaan, mana langsung dimatiin aja nih telpon," gerutu Valen lalu ia mencoba memejamkan matanya lagi berharap mimpinya yang terputus bisa tersambung lagi.
Belum beberapa menit memejamkan mata. Suara gedoran pintu dan teriakan sang mama membuatnya terbangun lagi.
"Valen bangunnn!"
"Arghhh ia Ma Valen udah bangun," ucapnya dengan berteriak agar didengar oleh mamanya.
Karena harapannya gagal ingin melanjutkan mimpinya. Valen memutuskan untuk bangkit dari ranjang empuknya dan berjalan ke arah kamar mandi.
Setelah selesai mandi Valen turun dari lantai dua menuju ke ruang makan untuk sarapan bersama kedua orang tuanya lalu bergegas berangkat ke kampus.
-----*****-----
Setelah sampai di tujuan ia meraih ponselnya dan mulai mengetik pesan.
Valen : Jell lu udah sampe kampus belum? Gue nunggu di parkiran, kita masuk kelas bareng ya gue males kalau ketemu geng julid.
Tak berapa lama pesannya pun terbalas.
Anjelina : Len lu gimana sih gue kan udah telpon tadi bilang gak masuk gue demam!
Valen : Hah masak? Lu sih belum juga nyawa gue kekumpul lu udah nyeroscos aja! Cepet banget lagi matiin telpon!
__ADS_1
Anjelina : Lu juga sih marah-marah pas angkat telpon! Gue jadi males ngomong! Soal geng julid gak usah lu hirauin, kalau dia ganggu lu tenang aja si Nathan pasti bantuin Lu! Bye!!
Valen : Yaudah lu gws ya.
Valen menyudahi chatnya dengan Jeli. Ia diam sejenak mengambil nafas dalam-dalam dan beranjak keluar dari mobilnya.
"Huhh semoga hari ini berjalan dengan lancar tanpa gangguan," gumam Valen
Ia melangkahkan kakinya memasuki ruang kelasnya dan nampaklah sosok-sosok makhluk halus yang tak ingin dia temui.
Valen mencoba tak menghiraukan geng julid yang sudah mulai menatap tajam kearahnya.
Namun sayang geng julid itu menghampirinya dan mulai mencari gara-gara dengannya lagi.
Geng julid itu kemudian menggiring Valen dengan paksa ke belakang kampus.
"Mana ajudan lo yang bar-bar itu, gue mau buat perhitungan sama dia!" Seru Dinda yang merujuk pada Anjelina.
"Lo masih belum kapok dihajar sama dia!" balas Valen yang tak mau kalah.
Dinda berjalan mendekati Valen dan satu tanggannya mencengkram pipi gadis itu.
"Huhh sayang banget dia gak ada disini, padahal gue mau dia liat gimana sahabat tercintanya ini menderita!" ucap Dinda dengan seringai jahatnya.
"Lo mau apa hah!" Bentak Valen seolah dia tak takut akan perkataan Dinda.
"Pegang dia!" Perintah Dinda pada anak buahnya.
Geng julid kemudian memegang tubuh Valen dan mencengkram tangannya dengan kuat sehingga gadis itu tidak bisa bergerak.
Saat Valen akan berteriak, salah satu geng julid membekap mulutnya. Gadis itu meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari cengkraman manusia-manusia yang gak ada akhlak itu.
Mata Valen terbelalak melihat benda yang di pegang Dinda ternyata sebuah gunting.
"Ini karna temen lo udah berani nyentuh rambut badai gue, dan sekarang lo yang bakal nerima akibatnya!" Ancam Dinda sambil menarik rambut panjang Valen yang akan dia potong.
Valen semakin ketakutan, ia memejamkan matanya rapat-rapat, dan berharap ada yang akan menyelamatkan dirinya.
"Dinda!!" Teriakan itu berasal dari seorang laki-laki yang wajahnya nampak menahan amarah.
Semua mata tertuju pada laki-laki yang berjalan mendekati mereka. Dinda kemudian mengurungkan niatnya untuk memangkas habis rambut Valen.
"Sial!" umpatnya karena rencananya gagal.
"Ayo pergi dari sini!" Perintahnya pada geng julid dan meninggalkan Valen.
Keempat gadis itu berlenggak-lenggok dengan santainya meninggalkan Valen, seolah tak terjadi apa-apa.
"Lo gak papa kan Len?" Tanya laki-laki itu.
"Iya Nathan gue gak papa," balas Valen.
"Mana si Anjelina, bisa-bisanya dia ninggalin lo sendiri!" ucap Nathan dengan kesal.
"Emangnya dia body guard gue apa yang nemenin gue kemana-mana," ucapnya datar.
"Jeli lagi sakit" sambungnya lagi.
__ADS_1
"Yaudah ayo balik ke kelas bentar lagi Dosennya datang." Ajak Nathan.
"Gue males balik ke kelas, mending gue pulang aja. Tolong absenin gue ya," ucapnya lalu bergegas meninggalkan Nathan tanpa menunggu balasan laki-laki itu.
Nathan menatap kepergian Valen dan sejenak berfikir.
"Pasti semua ini gara-gara keegoisanku. Gara-gara aku nolak Dinda dengan alasan suka sama Valen, dia jadi gak ngebiarin Valen hidup tenang. Ditambah lagi Jeli sakit, pasti gara-gara yang kemarin. Argghh bodoh banget sih gue jadi cowok bisanya cuman ngebuat orang menderita!" Gumamnya pada dirinya sendiri.
-----*****-----
Valen kini sudah berada di dalam mobilnya. Ia bolos kuliah karena merasa sesak jika harus bertemu dengan Geng julid. Ia kemudian berniat untuk ke rumah Jeli dan menjenguknya.
Setelah menempuh perjalanan yang agak lama karena kemacetan jalanan kota, Valen akhirnya sampai di Kediaman Rahardian.
Ting tong
Valen memencet bel rumah Jeli, tak berselang lama pintunya pun dibukakan oleh seorang pelayan.
"Selamat pagi Nona. Silahkan masuk," ucap pelayan itu dengan ramah.
"Selamat pagi Bi, aku ingin menjenguk Jeli. Apa dia ada di kamarnya?"
"Ada Non, Non naik saja, bibi akan buatkan minuman."
"Terima kasih, Bi."
Valen berjalan menaiki tangga menuju ke kamar Anjelina. Gadis itu membuka pintu kamar Jeli dan langsung saja nyelonong tanpa mengetuk pintu.
Dilihatnya Jeli sedang terbaring di kasurnya dengan handuk kecil yang menempel pada dahinya. Valen juga ikut merebahkan dirinya di samping Jeli. Ia masih terbayang-bayang akan kejadian di kampus tadi. Tak terasa cairan bening keluar dari pelupuk matanya.
Hiks hiks
Mendengar suara tangisan, sontak Jeli terbangun. Dikiranya ada mbak kunti yang sedang menangis di kamarnya hingga membuatnya takut.
"Valen! Yaampun lu bikin gue takut aja kirain mbak kunti yang nangis di samping gue."
"Hiks hiks maaf Jell," ucap Valen masih dengan isak tangisnya.
"Len gue tu cuman demam, bukannya sekarat. Ngapain lagi pake nangis segala," ucapnya kesal.
"Jell tadi gue di kampus digangguin Geng julid." Valen mulai menceritakan detail kejadian tadi pagi.
"What! Awas aja tu ya si geng julid gue pites palak nya satu-satu," ucap Jeli kesal.
"Udahlah Jell, jangan nyari gara-gara lagi sama Geng julid. Kita kan tinggal lagi satu semester aja kuliahnya, jadi kita harus bertahan setelah itu kita bisa terbebas dari mereka."
"Iya sih bener kata lo Len, tapi kalo mereka sampai kelewatan, gue gak bisa tinggal diam!"
"Kok lo bisa sakit sih Jell, kemarin kayaknya lu sehat-sehat aja deh?" tanya Valen mengalihkan pembicaraan karena malas membahas Geng julid tersebut.
Jeli pun mulai menceritakan dengan detail kejadian kemarin saat dia ditinggal oleh Nathan.
"Gue terus kepikiran Len sama kejadian kemarin sama Nathan," ucapnnya pada Valen.
"Udah mending lu istirahat aja dulu, gue mau balik pulang. Bye," ucap Valen kemudian beranjak dari ranjang empuk Jeli dan berjalan ke arah pintu.
"Hati-hati Len, besok gue ngampus kok," ucap Jeli Sambil menatap Valen yang berjalan keluar kamarnya.
__ADS_1
*bersambung...
jangan lupa like, komen, dan vote yaa*