Menolak Untuk Menikah

Menolak Untuk Menikah
BAB 6 : Tidak Peka!


__ADS_3

Seusai dari rumah Jeli, Valen memutuskan untuk pergi ke kantor calon tunangannya. Siapa tau dengan menghabiskan waktu bersama Kein, membuatnya lupa dengan kekejaman Geng julid.


*Perusahaan Wangsa


Drett drett


Suara deringan telepon membuyarkan konsentrasi seorang laki-laki yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.


"Iya halo," sapanya pada seseorang yang menelepon.


"Apa kau sibuk?" tanya si penelpon.


"Tidak," jawabnya singkat.


"Aku akan berkunjung kesana," ucap si penelpon.


"Baiklah aku akan menunggu mu," sahutnya kemudian mengakhiri panggilan tersebut.


Tak berselang lama seseorang mengetuk pintu ruangan kerja Kein.


"Masuk," perintahnya.


Setelah mendapatkan izin, gadis itu masuk ke ruang kerja Kein, tak lupa dengan senyumnya yang secerah mentari.


"Apa kau tak kuliah?" tanyanya pada gadis itu.


"Eumm hanya ada satu pelajaran saja," ucap Valen berbohong.


Gadis itu kini duduk di sofa yang tersedia dalam ruang kerja Kein. Ia tak mengalihkan pandangan matanya sedetik pun, dari sesesok pria yang tengah serius memandangi laptopnya.


"Kenapa memandangiku seperti itu?" tanya Kein seraya menyunggingkan senyumnya.


"Kak Kei sangat tampan, jika sedang bekerja," sahut Valen menggoda Kein.


"Ayo temani aku makan siang," ajaknya kepada Valen.


"Ayoo aku sangat laparr," ucapnya semangat.


Valen langsung beranjak dari sofa sambil mengayun-ayunkan tangannya seperti anak kecil.


"Ayo ayo ayooo," ucapnya tak sabaran kepada Kein.


Kein bergegas membereskan berkas-berkas yang berserakan di atas mejanya.


Setelah selesai, mereka berdua menuju ke suatu Cafe untuk makan siang.


Cafe ini selalu ramai dikunjungi oleh orang-orang. Selain karena makanannya yang enak dan harganya ramah dikantong, Cafe ini juga mempunyai pemandangan yang asri ditambah dengan kolam ikan yang mengelilingi Cafe tersebut dan tak lupa juga interiornya, menambah daya tarik karyawan kantor, sehingga membuat rasa lapar dan lelah karena pekerjaan itupun sirna.


"Sayang mau makan apa?" tanya Kein sambil melihat buku menu.


"Sama seperti kak Kei saja, aku kan pemakan segalanya hehe," ucap Valen bercanda.


Kein kemudian melambaikan tangannya, memangil pelayan Cafe.


"Selamat siang Tuan, anda mau pesan apa?" tanya pelayan itu dengan ramah.


"Kami pesan soto ayam dua porsi, nasi putih dua porsi, sate ayam 20 tusuk dan jus jambu dua gelas." Kein mengucapkan semua pesanannya hanya dengan satu nafas, sehingga membuat pelayan Cafe tersebut kelabakan.


"Baik Tuan, mohon ditunggu pesanannya," ucap pelayan itu, kemudian beranjak pergi meninggalkan meja dua sejoli itu.


"Kak kenapa pesannya banyak sekali? kalau tidak habis bagaimana?" tanya Valen penasaran.


"Iya tidak apa-apa, kamukan jago makan mana mungkin tidak habis hahaha," ucapnya meledek Valen.

__ADS_1


Valen mengerucutkan bibirnya karena kesal diledek oleh Kein.


Tak lama mereka menunggu, akhirnya makanan pesanan mereka datang.


Dengan semangat keduanya menyatap hidangan di meja tersebut.


"Kak cuacanya panas yah," ucap Valen saat sudah menghabiskan makanannya hingga tak meninggalkan jejak sedikitpun di piringnya.


Valen diajarkan oleh orang tuanya agar selalu menghabiskan makanannya, Karena masih banyak orang di luar sana yang kurang beruntung untuk bisa makan setiap harinya.


"Biasa saja," ucap Kein datar.


"Ishh dasar tidak pekahh," gerutu Valen.


"Ngomong yang jelas, gak usah pake kode-kode! Dasar wanita!" seru Kein.


"Aku mau es krim boleh yaa," ucap Valen dengan tampang memelasnya.


Kein menghela nafas sejenak.


"Makan segini banyaknya kamu gak kenyang? Sekarang minta es krim lagi. Itu perut apa karung," ujar Kein merasa heran dengan gadis di depannya itu.


"Yasudah tidak jadi," ucap Valen dengan wajah yang ditekuk.


Karena waktu jam makan siang akan berakhir, mereka memutuskan untuk segera kembali ke kantor.


Dalam perjalanan kembali ke kantor, Kein tiba-tiba menepikan mobilnya di salah satu mini market.


"Tunggu sebentar," ucapnya pada Valen.


Gadis itu tak bergeming, ia masih kesal karena keinginannya tidak dipenuhi.


Kein keluar dari mobilnya, ia berjalan memasuki mini market tersebut. Hingga tak berapa lama, ia keluar dengan menenteng sebuah kantung plastik.


"Apa kau sedang kesal padaku?" sambung nya lagi karena Valen dari tadi tak merespon ucapannya.


"Hemmm." Valen malas menjawabnya.


Kein kemudian menyodorkan kantung plastik yang tadi di bawanya, tepat di depan wajah Valen.


"Ini, jangan marah lagi," ucapnya pada Valen.


Valen kemudian mengambil dengan kasar kantung plastik tersebut dan membukanya.


Ujung bibir mungilnya itu pun langsung tertarik ke atas menghasilkan sebuah senyuman yang sangat manis.


"Hehe terima kasih sayang," ucapnya senang, kemudian melahap es krimnya seperti anak kecil.


"Dasar bocah, dia bahkan tak menawari ku," gerutu Kein.


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan yang tertunda itu.


Hingga akhirnya mobil mewah tersebut telah terparkir sempurna di basement perusahaan wangsa.


Kein menoleh pada seorang gadis yang duduk di sampingnya itu.


Matanya menatap lekat pada Valen yang sedang tertidur pulas di mobilnya.


Tangannya meraih rambut Valen yang menghalangi sebagian wajahnya dan menyelipkannya ke belakang telinga.


"Sedang tidur pun dia tetap terlihat cantik dan menggemaskan," gumam Kein.


Kein kemudian mendekatkan wajahnya pada Valen, lalu mengecup pipi gadis itu dengan lembut.

__ADS_1


Plakkk


Tangan Valen refleks memukul kepala Kein.


"Awww," teriaknya.


"Ehh maaf kak Kein, aku kira ada nyamuk yang menggigitku," ucap Valen.


"Kak Kein mencium ku yaa," tanyanya lagi.


Kein tak menggubris pertanyaan Valen, ia dengan cepat keluar dari mobilnya, dan menuju mobil Valen yg terparkir tak jauh dari mobilnya.


Valen mengikutinya dari belakang seraya memanggil-manggil nama Kein.


Hingga langkah kaki Kein berhenti tepat di depan mobil Valen.


"Pulanglah aku ada banyak pekerjaan," ucapnya datar.


"Apa kak Kein marah? Aku kan tak sengaja dan sudah meminta maaf," ucap Valen seraya menggenggam tangan lelaki di depannya dan tak lupa memasang wajah memelas.


"Hemm." Laki-laki itu hanya berdehem masih dengan wajah datarnya.


Valen kemudian menjinjitkan kakinya kemudian mengecup bibir Kein sekilas.


"Dimaafin gak?" tanyanya lagi dengan wajah memelas.


(Aku yakin jurusku ini pasti ampuh )


Kein pun tersenyum kemudian mengecup kening gadis di depannya itu.


"Iya sudah ku maafin. Cepat pulanglah, hati-hati dijalan," ucap Kein sambil membukakan pintu mobil untuk Valen.


"Terima kasih untuk makan siangnya. Aku mencintai mu," ucap gadis itu dengan malu-malu.


Kein melambaikan tangannya. Setelah mobil Valen sudah tak terlihat dari pandangannya, ia kembali ke ruangannya.


-----*****-----


*Kediaman Rahardian


Anjelina yang saat itu masih terbaring di ranjang empuknya, tiba-tiba terbangun karena getaran dari ponselnya.


Sebuah pesan masuk ke ponselnya dengan nama Nata de coco.


( heh okky jeli drink, kau bisa sakit juga ternyata! ) Isi pesan tersebut.


( berisik! ) balas Jeli kemudian.


( kau cepatlah sembuh supaya aku bisa bertengkar dengan mu lagi!! ) Satu lagi pesan masuk dari kontak yang sama yaitu Nata de coco.


"Apa-apaan sih dia ini," gerutu Jeli.


Gadis itu tak henti-hentinya tersenyum sambil memandangi ponselnya. Kemudian ia membalas pesannya lagi.


( Ya cerewet! )


Jeli kemudian meletakkan ponselnya tak jauh darinya. Ia menunggu balasan pesan dari Nata de coco tapi tak ada balasan sama sekali.


"Menyebalkannnn!!" gumamnya langsung menarik selimut dan menyelimuti seluruh tubuhnya hingga tak terlihat.


*bersambung..


ingat like, komen, dan vote yaa*

__ADS_1


salam hangat dari Yona 😊


__ADS_2