Menolak Untuk Menikah

Menolak Untuk Menikah
BAB 2 : Makan Malam


__ADS_3

*UNIVERSITAS NASIONAL


Universitas Nasional adalah perguruan tinggi swasta yang sangat diminati oleh orang-orang berduit. Mahasiswanya kebanyakan dari kalangan artis dan anak pejabat tentunya.


Pagi itu, terlihat seorang gadis dengan rambut hitam panjang bergelombangnya, berjalan menyusuri koridor kampus. Semua mata tak bisa berpaling dari wajah cantiknya. Dengan postur tubuh yang ideal berlenggak-lenggok menuju ruang kelasnya.


"Valenn, tunggu aku!" Dengan sedikit berteriak Jeli berlari menghampiri gadis yg sudah berdiri di depan ruang kelasnya.


Karena marasa namanya dipanggil gadis itu menoleh ke sumber suara.


“Yaelah ini anak, aku kira kamu sudah sampai duluan,” ucap Valen sambil menunggu sahabatnya.


“Iya aku kesiangan bangun. Ayo masuk, sebentar lagi dosennya datang,” ucap Jeli sambil menggandeng tangan Valen dengan mesranya.


Merekapun berjalan beriringan masuk ke ruang kelas. Hingga geng julid mencegat langkah mereka.


“Selamat pagi tuan putri dan ajudannya. Wah wah sepertinya kalian tampak serasi,” ucap Dinda menyindir baju couple yang dipakai Valen dan Jeli.


“Woi ratu drama! Pagi-pagi gak usah sirik sama kita, urus aja idup lo itu, biar lebih bermanfaat dikit!” balas Jeli.


Melihat Valen dan Jeli diganggu oleh geng julid, laki-laki itu tak bisa tinggal diam. Ia pun menghampiri mereka.


“Dinda ini masih pagi jaga sikap kamu!” ucap laki-laki itu.


“Apaan sih, aku gak ada ngapa-ngapain jugak,” ucap Dinda sambil menatap Valen dengan sinis.


“Maaf ya Dinda, tapi hari ini aku lagi ga mood ngeladenin kalian semua,” ucap Valen dengan wajah datarnya kemudian pergi meninggalkan geng julid tersebut dan diikuti oleh Jeli.


Geng tersebut menatap sinis mereka sambil tertawa meremehkan.


“Dinda aku peringatkan kamu ya, jangan gangguin Valen lagi! Memangnya dia ada salah apa sih sama kamu, hingga kamu terus mengganggunya sampai sekarang! apa kamu gak bosan!” ucap laki-laki itu penuh kekesalan.


Laki-laki itu adalah Nathanael, ia menjadi koordinator tingkat di kelas Valen. Dari awal semester memang Nathan tertarik dengan Valen, bahkan ia sempat menyatakan perasaannya sewaktu mereka semester tiga. Namun sayang, cintanya bertepuk sebelah tangan.


Valen menolak perasaannya, karena dia sudah melabuhkan hatinya pada calon suaminya, dan tak mungkin memberi Nathan harapan palsu. Walaupun begitu Nathan sampai saat ini masih menyimpan rasa pada Valen.


“Karena kamu menyukainya! Itulah yang membuat aku kesal pada wanita yang sok cantik itu,” ucap dinda ketus kemudian meninggalkan Nathan


Mendengar ucapan Dinda membuat Nathan sangat geram pada gadis itu.


Dinda juga menyukai Nathan namun cintanya bertepuk sebelah tangan. Itulah yang membuatnya membenci Valen, karna laki-laki yang ia sukai tak juga menyerah untuk mendekati Valen meski Nathan sudah ditolak berkali-kali.


Karena popularitasnya di kampus tersebut, menjadikan Dinda sebagai ketua geng julid.


Geng julid tersebut terdiri dari empat gadis cantik, dan tentunya dari keluarga kaya sehingga membuat mereka sangat sombong. Padahal mereka hanya menghambur-hamburkan uang orang tua mereka.


Geng yang hobinya mengganggu Valen dan Anjeli dari awal perkuliahan sampai sekarang. Kebencian dan juga rasa iri membuatnya tak pernah bosan mengganggu Valen.


-----*****-----


*WANGSA COMPANY


Seorang pria gagah dengan tubuh atletis tak kalah dengan wajahnya yang juga tampan, terlihat memakai setelan jas dengan rambut yang disisir rapi, tak lupa dengan pomade yang membuat rambut hitamnya klimis. Ia berjalan memasuki ruangan Presiden Direktur.


"Apa ayah memanggil ku?" tanya Kein dengan wajah datarnya.


"Iya, nanti kita akan makan malam di rumah keluarga Bramasta. Pulanglah tepat waktu kita akan berangkat sama-sama," kata tuan Wangsa pada putra sulungnya.


"Baiklah ayah, jika tidak ada lagi yang ayah sampaikan, aku akan kembali ke ruangan ku," ucap Kein.


-----*****-----


*KEDIAMAN BRAMASTA


Waktu menunjukan pukul 5 sore. Valen dengan wajah lelahnya karena sepulang kuliah ia melanjutkan bekerja di perusahaan ayahnya. Ia berjalan memasuki rumahnya, rumah yang sangat mewah dan luas serta dikelilingi taman bunga yang indah. Tentu memerlukan banyak pelayan untuk untuk mengurus rumah besar itu.


Dilihatnya Nyonya besar rumah itu sedang duduk di ruang keluarga seraya asik menonton drama korea favoritnya, yang sepertinya tidak bisa diganggu gugat.


Valen langsung naik menuju kamarnya tanpa menyapa mamanya. Namun sepertinya sang mama menyadari kepulangan anaknya itu.


"Hai sayang kenapa baru pulang jam segini dan kenapa tidak menyapa mama?" teriak sang mama.


Valen yang mendengar teriakan mamanya itu kemudian berbalik lagi menghampiri mamanya.


"Mama sih fokus banget liat si ahjussi ganteng, kan aku jadi gak tega gangguin wkwk," ucap Valen menggoda mamanya.


"Ahh kamu ini kan mama jadi malu, tapi jangan bilang ke papa ya hehe," balas sang mama dengan kocaknya.


Tawa mereka pun pecah, dan mereka masih terus membahas ahjussi dan oppa ganteng idola mereka.


"Oiya mama hampir lupa, nanti malam keluarga Wangsa akan makan malam disini, kamu jangan lupa berdandan yang cantik ya sayang," ucap sang mama penuh semangat.


"Apa benarkah ma!" teriak Valen karna terkejut.


"Emang mama ada di Korea apa sampe kamu teriak begitu, kuping mama ini bisa budeg tau," gerutu sang mama.

__ADS_1


"Hehehe maaf ya Eommonie ku yg cantik, baiklah aku akan istirahat sebentar lalu bersiap-siap," ucap Valen penuh semangat memuat lelahnya sirna seketika.


Dengan cepat ia menaiki tangga meninggalkan ruang keluarga, menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


“Ahhh akhirnya ketemu kasur." Valen merebahkan badannya hingga tak terasa dirinya sudah terlelap.


Waktu menunjukan pukul tujuh malam. Di dapur para pelayan tengah sibuk bergulat dengan alat masak mereka. Sedangkan Valen masih berada di alam mimpinya.


Menyadari putrinya tak juga nongol batang hidungnya, Nyonya Bramasta kemudian pergi ke kamar Valen.


tok tok tok


“Valen kamu masih tidur?” teriak sang mama, masih terus menggedor pintu kamar putri kesayangannya.


Valen yang terkejut karna gedoran pintu kamarnya langsung bangkit dan berjalan ke arah pintu.


“Apasih mah, baru juga mimpi ketemu oppa Seo Joon,” ucap Valen dengan muka bantalnya.


“Seo Joon Seo Joon, noh Lee min ho bentar lagi datang.” Teriak sang mama karna melihat putrinya belum bersiap-siap untuk makan malam.


“Ihh mama, kak Kein itu lebih ganteng dari Lee Min hoo tau. Udah ah aku mandi dulu, mama tunggu aja di bawah," ucap Valen meninggalkan mama nya.


Sang mama hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya.


“Sebegitu cintanya dia sama Kein. Gak salah aku jodohin mereka.” Gerutu sang mama sambil senyum-senyum sendiri menuruni tangga.


-----*****-----


*KEDIAMAN WANGSA


Seorang pria paruh baya terlihat sedang menelepon seseorang.


“Kein kamu dimana? Apa kamu lupa hari ini kita akan makan malam di rumah calon istrimu?” tanya tuan wangsa penuh selidik.


“Aku tidak lupa ayah, masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan. Berangkatlah duluan nanti aku akan menyusul,” jawab Kein meyakinkan ayahnya.


“Baiklah hati-hati di jalan,” balas sang ayah.


Tuan dan nyonya Wangsa kemudian berangkat menuju kediaman keluarga Bramasta. Sedangkan Kein masih di kantornya, ditemani oleh berkas-berkas yang menumpuk dan tak akan pernah ada habisnya.


Kein Adiwangsa memanglah seorang yang sangat gila kerja atau bisa disebut workaholic. Dalam hidupnya hanya dipenuhi dengan buku-buku tebal mengenai bisnis. Maka tak diragukan lagi, karena kerja kerasnya ia bisa menjadi seorang direktur diusia yang muda tanpa ada campur tangan dari ayahnya. Ia ingin menjadi seseorang yang pantas untuk menggantikan posisi sang ayah kelak.


Kalau mengenai wanita atau hubungan percintaan, Kein tidak terlalu memikirkannya. Karena tau ia sudah dijodohkan dengan Valen jadi dia hanya fokus menyayangi wanita itu.


-----*****-----


*KEDIAMAN BRAMASTA


Valen memakai dress berwarna putih yang panjangnya selutut dengan lengan pendek, tak lupa sedikit make untuk melengkapi penampilannya. Malam itu Valen terlihat sangat cantik. Matanya menatap sekitar, mencari sesosok pangeran impiannya namun tak ia temukan.


“Kenapa hanya kalian berdua? dimana calon mantuku?” tanya tuan Brama.


“Dia ada beberapa pekerjaan, nanti Kein akan menyusul kemari,” balas tuan wangsa.


Mendengar perkataan tuan Wangsa, Valen terlihat kecewa. Ia sudah lama tidak bertemu dengan pujaan hatinya. Dia seperti di nomor duakan, karna Kein lebih memilih pekerjaannya.


Mereka berkumpul di ruang keluarga, berbincang-bincang mengenai bisnis dan tak luput juga beberapa candaan yang membuat mereka semua terbahak-bahak.


Namun disisi lain Valen merasa gelisah, hatinya tak tenang karna Kein tak kunjung datang.


“Om tante, Valen permisi dulu ya mau ke kamar sebentar,” ucapnya sambil pergi meninggalkan ruang keluarga.


Valen mangambil benda pipih di atas tempat tidurnya dan mulai menekan tombol telepon.


tutt tuttt tutt


Tak berapa lama panggilan itu langsung terhubung.


“Ada apa, aku sedang sibuk,” ucap Kein datar.


“Selalu saja seperti itu, apa kamu tak merindukan tuan putri mu ini?” tanya valen kesal.


Mendengar Valen yang sudah mulai merajuk, langsung saja kein menutup teleponnya.


“Hei kenapa diam saja! KAMPRETT malah ditutup teleponnya.” Dengan kesal Valen melempar ponselnya ke tempat tidur.


Valen menghela nafasnya beberapa kali mencoba mengendalikan hatinya yang sedang bergemuruh.


Dengan langkah yang berat dan mood yang lagi anjlok, Valen turun dari kamarnya menuju ruang keluarga.


Matanya membulat menatap sesosok pria yang sedang duduk di sofa seraya berbincang dengan ayahnya.


Walau hanya memakai celana pendek dan hoodie ditambah dengan rambut yang sedikit berantakan karena tak memakai pomade, pria itu tetap terlihat tampan.


Ya dia laki-laki yang membuat moodnya hancur, namun bisa membuatnya kembali membaik seketika. Senyumannya tak henti-hentinya menghiasi wajah cantiknya itu.

__ADS_1


Melihat Valen berjalan turun dari tangga, Kein langsung menghampirinya. Dengan cepat Valen memalingkan wajahnya, ia juga menahan senyumnya, pura-pura masih kesal dengan sikap Kein, padalah ia sangat bahagia sebenarnya.


“Cepat bersiap-siap kita akan pergi keluar,” ucapnya sambil mengacak-acak rambut Valen.


“Memangnya mau kemana?” tanya Valen jutek.


“Kencan,” ucapnya datar sambil memandang Valen dengan lembut.


“Bagaimana dengan makan malamnya?” Tanya Valen lagi.


“Aku sudah minta izin dengan ayahmu, kita akan makan di luar,” sahut Kein.


“Aku tidak mau,” jawab Valen masih pura-pura marah. Berharap Kein akan membujuknya.


“Ya sudah tidak jadi pergi kalau begitu.”


Mendengar ucapan Kein, Valen kemudian menatapnya tajam. Ternyata rencananya gagal untuk membuat kein merayunya.


“Dasar tidak peka! Yasudah aku akan mengambil tas ku dulu.”


Valen pergi ke kamarnya untuk mengambil tas, kemudian turun ke ruang keluarga menghampiri semua orang.


“Om tante saya dan Valen akan berangkat sekarang.” Pamit kein kepada orang tua Valen.


“Baiklah hati-hati ya, pulangnya jangan terlalu malam,” ucap tuan Brama.


“Om dan tante Valen pamit ya,” ucap Valen giliran berpamitan pada orang tua Kein dan dibalas senyuman oleh mereka.


Setelah berpamitan Valen dan Kein menuju ke garasi mobil. Dengan cepat Kein membukakan pintu mobil untuk Valen, kemudian ia berjalan kesisi satunya, membuka pintu mobil, memakai seatbelt, dan mulai menyalakankan mesin mobilnya. Kein melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menembus keramaian kota.


“Kita mau kencan dimana kak?” tanya Valen memecah keheningan.


“Sudah diam saja, aku tak akan mengecewakan mu.”


“Humm baiklah, apa masih lama sampainya?” tanya Valen lagi.


“Sebentar lagi kita akan sampai sayang,” balas Kein.


Suasana di mobil hening kembali, hingga mereka tiba di tempat tujuan Kein mengajak Valen kencan.


“Kak Kei ini di pantai kan?” ucap Valen penuh kegirangan.


“Iya ini tempat kesukaan mu kan, kamu juga pernah bilang ingin makan jagung bakar, jadi aku ajak kamu kesini,” ucap Kein lembut


“Hehehe kak Kei ini kadang peka, kadang enggak, tapi makasi ya kak udah ngajak aku kesini,” ucap Valen kemudian mengecup pipi Kein dengan lembut.


Kein mencoel hidung mancung Valen dan tersenyum. Ia kemudian melepaskan seatbeltnya, keluar dari mobil, berjalan kesisi mobil dan membukakan pintu untuk Valen.


Valen keluar dari mobil dan Kein mengulurkan tangannya. Valen menyambut uluran tangan Kein, kemudian mereka berjalan bergandengan tangan menyusuri pedagang kaki lima di sekitaran pantai.


Setelah melihat apa yang ia cari, Valen berlari kecil sambil menarik tangan Kein menuju ke salah satu pedagang disana.


“Mas jagung bakarnya dua ya, jangan lupa pedess.” Dengan riang Valen memesan makanan kesukaannya.


“Ditunggu ya adik manis,” sahut si mas-mas jagung bakar.


Tak berselang lama, jagung bakar pesanan mereka pun sudah matang. Kein mengeluarkan selembar uang kemudian memberikannya pada mas-mas jagung bakar tersebut.


Setelah itu mereka berjalan ke tepi pantai dan memakan jagung bakar mereka sambil menikmati deburan ombak dan angin pantai yang menyapu kulit mereka.


“Umm ini enak sekali, sudah lama aku tidak memakannya.” Valen berbicara dengan mulut yang penuh dengan jagung bakar.


Kein yang melihat tingkahnya pun hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepala.


“Kau ini seperti anak kecil, makan saja belepotan.” Tangan Kein mengusap bibir Valen yang penuh dengan bumbu jagung bakar, kemudian mengecupnya.


“Tapi aku suka,” sambung Kein lagi.


Pipi Valen merona merah , jantungnya berdebar-debar karna perlakuan Kein pada dirinya. Ia tak henti-hentinya tersenyum.


“Aku haus,” ucap Valen cepat menghilangkan gugupnya.


Mereka kemudian menghampiri pedagang minuman dan membeli sebotol teh berperisa buah. Setelah membayar mereka kembali lagi ke tepi pantai.


Mereka berjalan ke arah bangku yang sudah disediakan oleh pihak penjaga pantai untuk duduk.


Mereka menikmati waktu kebersamaan mereka, menatap bintang- bintang di langit malam dan menikmati suara deburan ombak yang saling beradu.


*bersambung


p.s. jangan lupa like, komen, dan vote ya*. 😘


Semoga hari kalian menyenangkan yaa


salam hangat dari Yona..

__ADS_1


__ADS_2