
"Sampai kapan buku itu dipinjam? lagian... kenapa sih, ada yang minjem buku gak pake otak? bisa-bisanya sampe dua bulan dia gak ngembalikan bukunya?"
Seorang pemuda dengan perawakan tinggi dan menenteng tas ransel navy, tengah berkacak pinggang, melampiaskan emosi di depan meja reseptionist perpustakaan. Wanita penjaga perpustakaan nampak hanya terdiam. Pemuda itu nampak kian berdecak kesal. Dia menatap jam tangan yang melingkar di tangan sebelah kirinya, seolah sedang diburu waktu.
"Iya, maaf ya kak... karena emang yang meminjam ini, merigester untuk perpanjangan peminjaman."
"Tapi, gue juga butuh itu buku!" Pemuda itu kembali gelisah menatap jam tangannya, "Bentar lagi gue ada kelas, dan gue butuh buku itu."
Agaknya, suara ribut pemuda itu, cukup menarik perhatian beberapa orang. Yang harusnya hening saat berada di perpustakaan, menjadi sedikit riuh. Yang bilamana ada Rangga dalam film ada apa dengan cinta, mungkin keduanya sudah ditimpuk pakai bolpoin.
"Oke. Gini aja... Siapa yang minjem bukunya? jurusan apa? biar gue samperin." ujar pemuda itu. Asipatra Darmawan.
"Hmmm.. biar saya saja yang menghubunginya. kak..." ujar si penjaga perpustakaan sembari membuka buku catatannya. Akan tetapi, Patra --Asipatra Darmawan-- merebut buku itu dan membaca sendiri. "Kak!" protes si wanita penjaga perpustakaan, namun Patra mengabaikannya. Dia membuka lembar demi lembar buku catatan peminjaman buku perpustakaan dengan dongkol.
"Zeline Zakeisha. Fakultas kedokteran. Hah! Sejak kapan anak kedokteran butuh buku ensiklopedia bahasa inggris?" Ujar Patra dengan setengah bernada sinis.
"Ya... Karena gue ikutan kelas bahasa inggrisnya profesor Samuel. Lagian, gak ada larangan fakultas apapun buat belajar bahasa Inggris. Terlebih, bahasa Inggris adalah bahasa internasional." sahut seorang perempuan dengan rambut ikal yang dikuncir asal. Perempuan itu melangkah perlahan mendekati meja perpustakaan.
"Siapa lo?" tanya Patra dengan nada ketus.
"Zeline. Zeline Zakeisha." Gadis itu menunjukkan sebuah buku. "Dan ini. Ini, gue mau balikin buku yang lo cari. Sori kalo lo jadi nunggu lama." Ujar Zeline.
Belum sempat Zeline meletakkan buku itu ke atas meja, Patra buru-buru merebut buku itu dengan sedikit kasar. Dan, tanpa sadar sudut buku itu melukai tangan Zeline.
"Aww... ."
"Zel.. lo gak apa?" Seorang pemuda muncul menghampiri Zeline lalu menatap Patra dengan beringas, ia sedikit mendorong kecil pundak Patra dengan kesal. "Lo hati-hati ama cewek, dong... ." protes pemuda bertubuh tak kalah tinggi dari Patra. Reksa Hendrawan.
"Gue gak sengaja." ujar Patra acuh yang segera menulis namanya di buku peminjaman perpustakaan dan bergegas pergi begitu aja. Tanpa menoleh ke belakang lagi. Tanpa kata maaf.
"Sinting tuh, bocah!"
"Udahlah Rek... lagian, gue juga salah sih.. minjem bukunya terlalu lama." ujar Zeline. "Maaf ya mbak, udah bikin keributan." ujar Zeline pada si penjaga perpustakaan.
"Iya gak apa, kak... harusnya saya juga bisa mencegah hal ini. Tangan kakaknya, gak apa?"
"Iya gak apa. Luka kecil, doang... ."
"Luka kecil gimana... berdarah tuh, Zel... ." Seloroh Reksa sedikit panik.
Reksa buru-buru merogoh tasnya dan menemukan sebuah plester cokelat. "Gue cuma punya plester ini... ." ujar Reksa.
"Udahlah... luka kecil gini. Lagian, lo tau, gue gak bisa pake plester cokelat. alergi."
"Tapi, luka lo-."
__ADS_1
"Udah... Jangan ribut lagi. Udah cukup jih ributnya. Kalo ada si Rangga, udah habis bolpoin berlusin-lusin ditimpukin ke kita."
"Gak lucu, lo... ." Omel Reksa.
"Lha elo... lebay. Luka kecil gini, nanti gue beli plester yang bening di supermarket kampus."
"Hmmmphhh." Reksa hanya bisa mendesah panjang lalu menatap jam tangannya, "Tsk. Udah jam segini lagi... Gue kudu ngisi kuliah Pak Reyhan."
"Ya udah... lo masuk aja. Lo khan asdos kesayangan Pak Reyhan."
"Dih... biasa aja."
"Udah lo pergi aja, daripada ribet di sini. Lagian, Gue juga ada kelasnya profesor Samuel."
"Ya udah... tapi, Ntar pulang bareng, ya?" ujar Reksa.
"Ogah gue. Biasanya kalo udah ama pak Reyhan, udah masuk lab... lo bakal lupa waktu. Lumutan gue nungguin elo!"
"Tapi, Zel... ."
"Udah sono. Gue juga cabut ke kelas."
"Pokoknya, ntar tungguin, gue!"
"Ogaahh!"
"Byeeeee."
Zeline buru-buru pergi begitu saja, mengabaikan tatapan Reksa. Serius, Zeline ogah banget nungguin Reksa. Dia adalah asisten dosen kesayangan Pak Reyhan. Mereka biasa praktek lab sampe sore. Selain Reksa, juga ada Helena, salah satu mahasiswi yang juga kesayangan Pak Reyhan. Para mahasiswa jenius. Apalah Zeline yang hanya mahasiswa biasa. Bersyukur saja nilainya gak sampe jelek banget. Rata-ratalah.
-oOo-
Zeline tiba di depan ruang kelas yang lumayan ramai. Ia berdiri sejenak di depan, menelaah sekeliling untuk menentukan tempat duduknya selama kelas profesor Samuel. Saat itulah. ia menemukan satu sosok yang duduk di bangku nomor dua dari depan. Sosok pemuda yang berdebat dengannya tadi. Mereka beradu pandang sejenak. Zeline buru-buru mengalihkan pandangannya dan melangkah menuju bangku yang di belakang.
Zeline mengusap tangannya yang terluka dan menatap bahu pemuda tadi dalam diam. Pemuda yang sempat ia dengar bernama Asipatra Darmawan. Nama yang unik. Zeline mengetik sesuatu dari ponselnya. Asipatra. Salah satu nama beraroma kejawaan dengan arti Daun Pedang.
"Hmm.. pantes, lidahnya agak tajam kayak pedang" lirih Zeline yang ternyata cukup penasaran dengan nama 'Asipatra'.
Tanpa Zeline sadari, Patra melangkah menghampiri mejanya. Zeline mendongak sedikit terkejut. Tanpa sadar, ia segera membalik layar ponselnya. Takut ia kepergok mencari tau nama pemuda itu. Mereka beradu pandang dalam diam sebelum kemudian Patra meletakkan sebuah botol minum dengan sebuah plester dan kertas bertuliskan 'Sorry'. Belum sempat Zeline berkata sesuatu, Patra buru-buru pergi kembali ke bangkunya. Bersamaan dengan itu. Profesor Samuel memasuki ruang kelas.
Zeline menatap pundak Patra dari belakang dan tanpa sadar sedikit tersenyum tipis. Zeline menatap plester yang ada di mejanya. Sebuah plester bening. Zeline sedikit tercenung dan menatap kembali pundak Patra yang kian lama dipandang, kian terlihat lebar. Dan bidang.
Dan keren. Jujur saja, kemana saja Zeline hingga tidak menyadari ada sosok yang menarik selama di kelas profesor Samuel.
-oOo-
__ADS_1
"Jadi, kali ini saya mau ngasih kalian tugas untuk membuat video conversation tentang trust issue tentang mental health dalam satu grup. Satu grup berisi dua orang. Dan, saya akan mengacak namanya."
Semua mulai riuh. Tugas yang sederhana tapi akan sedikit sulit. Kelas Profesor Samuel diikuti hampir dari seluruh fakultas dnegan jurusan berbeda-beda. Kelas yang diperuntukkan bagi yang berminat mendalami bahasa Inggris yang mungkin berguna jika ada yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri. Berbeda jurusan artinya, mereka harus menyesuaikan jadwal yang sama-sama sibuk satu sama lain. Meski terlihat seperti kelas Inggris biasa, tapi nilai di kelas Profesor Samuel cukup membantu dalam mendongkrak nilai akhir semester. Jadi, mereka cukup serius dalam kelas ini.
"FYI, tugas ini saya sudah terapkan bertahun-tahun. Dan, tugas ini bisa memberikan jalan bagi beberapa pasangan, lho... kadang takdir tugas seperti ini, jadi ladang pencarian jodoh... ," seloroh profesor Samuel yang disambut tawa dari seluruh siswa.
"Serius. Coba setelah tugas ini berakhir, akan ada berapa pasangan yang berlanjut dengan 'dating'."
Pernyataan profesor Samuel semakin membuat riuh kelas. Zeline hanya tersenyum tipis sambil memulai untuk mencari trust issue untuk tugasnya. Jadi, dia bisa segera bisa menyelesaikan tugasnya dengan partnernya nanti. Dia tidak terlalu peduli dengan istilah mak comblang seperti yang dilontarkan profesor Samuel. Dia hanya butuh agar bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Mengingat, sebentar lagi dia bakal ada jadwal praktek magang. Jelas akan semakin sulit mengatur jadwal.
"Baik, grup yang pertama. Aleysa Kinanti dan... Keira anastasya. Ah, sayang sekali... pasangan pertama adalah sesama wanita. Kalian bisa jadi sahabat saja."
Seluruh kelas kembali tertawa menanggapi lelucon profesor Samuel. Profesor Samuel kembali fokus dengan kertas absensi di tangannya.
"Hmmm.. oke, Selanjutnya... semoga ini bisa jadi tali jodoh... Denandra dan Lusiana. Yak! Benar, khan? Ini pasangan pertama kita! Semoga tugas ini jadi berkah kalau memang kalian jodoh." Ujar profesor Samuel dengan lugas.
Kelas kembali riuh. Dua orang yang mengangkat tangan saat dipanggil profesor Samuel tadi nampak tersenyum malu-malu. Hal itu, semakin membuat kelas semakin riuh dengan celetukan 'ciye'.
"Oke.. selanjutnya Zeline Zakeisha." Zeline mendongak sambil mengangkat tangan, "Dan... Asipatra Darmawan."
Huh?
Zeline menatap Patra yang juga mengangkat tangannya. Lelucon macam apa ini? Kenapa mendadak, Zeline harus berurusan dengan Patra dalam satu waktu.
"Waa... bakal ada aroma pasangan juga, nih... ."
Zeline hanya bisa melotot terkejut diiringi suara 'Ciyeee' dari penjuru kelas yang riuh. Zeline bisa merasakan kedua pipinya memanas malu. Dan... deg-deg an... Kenapa tiba-tiba kata 'takdir' membuat Zeline berdebar-debar. Dia yang awalnya acuh dengan grup pasangan ala profesor Samuel, mendadak jadi baper.
"Saya sudah punya tunangan." ujar Patra tegas yang sontak membuat seisi kelas terdiam.
Huh?Tunangan? Zeline tercenung. See? Lelucon takdir yang sungguh membadutkan.
Omonaaaa... Ini adalah Love at the first sight yang salah.
Wait... love at the firt sight? Zeline? Pada pria yang bahkan sudah bertunangan? Sinting!
-oOo-
TBC
Yuhuuu... ini adalah karya baruku... semoga kalian pada suka yaaa.. ^^
Jangan lupa komentar^^
Regards Me
__ADS_1
Far Choinice