
Zeline terdiam terpaku. Ini hari pertamanya magang dan dia mendapat kejutan satu per satu. Tiba-tiba mendapat pengakuan cinta dari sahabat, bertemu dengan Patra yang kembali 'dingin' dan sekarang, dia berhadapan langsung dengan tunangan Patra, menyaksikan tangan Patra yang sibuk menggenggam tangan tjnangannya sembari melilitkan kain sutra cantik di area pergelangan tangan tunangannya. Aksesoris yang cantik, melingkari tangan kurus yang putih itu. Benar-benar romantis.
Saat ini, ia bersama tiga temannya yang juga magang di RS yang sama sedang orientasi ke ruang-ruang pasien, termasuk ruang perawatan tunangan Patra yang bernama Sasya Antara. Sesekali, ia menatap Patra yang seolah tidak mengenalnya, mengacuhkannya secara sempurna.
"Pasien Sasya adalah pasien anemia. Pagi ini, dia cek darah. Apabila HB (Hemoglobin) nya normal, ada rencana KRS (Keluar Rumah Sakit)." ujar dokter Andara, seorang dokter spesialis penyakit dalam yang ikut mengorientasi mahasiswa magang.
Sasya tersenyum kecil, "Terimakasih untuk perawatannya, dokter."
Ughh! Suaranya lembut! Zeline merasa jauh dari Sasya.
"Mas Patra ini adalah tunangan Sasya. Karena Sasya cukup sering masuk RS ini, jadi kita juga udah lama kenal sama mas Patra. Omong-omong, mas Patra ini kuliah di kampus kalian, lho... ."
Patra tersenyum simpul, "Mungkin mereka tidak mengenal saya. Beda jurusan. Dan, saya cukup tertutup."
Hah! Tertutup sekali! Zeline hanya bisa mengumpat sambil meremas tangannya dari dalam saku jas dokternya. Dia sebisa mungkin menghindari keinginannya untuk menatap Patra lama-lama.
"Ganteng juga nih si Patra," lirih Jena di telinga Zeline.
Zeline menelan ludah, "Dia udah bertunangan." lirih Zeline pada Jena. Lebih seperti, meyakinkan diri jika Patra sudah memiliki orang spesial. Dan, bukan Zeline!
"Sama-sama Sasya. Jaga kesehatan, ya? Kami permisi."
Zeline buru-buru mengekori dokter Andara yang mulai berderap meninggalkan ruang perawatan Sasya. Zeline tidak bisa terus menyaksikan keromantisan Patra dan tunangannya. Sesak. Terlebih, Patra sama sekali tidak memandangnya. Sial!
-oOo-
Zeline membereskan barang-barangnya, menyurukkan beberapa barang ke dalam loker dengan letih. Hari pertamanya cukup melelahkan. Dia mengusulkan diri berjaga di rawat jalan daripada di rawat inap. Alasannya? Dia belum bisa jika harus berhadapan dengan Patra dan tunangannya. Jadi, dia memilih berjaga di rawat jalan yang nyatanya, pasiennya mencapai ratusan! Tenaganya terkuras habis.
"Yah lebih baik daripada perasaan yang terkuras habis," lirih Zeline seraya memaksakan langkah kakinya meninggalkan ruang ganti karyawan. Dia terhenti sejenak, menatap kamar di ujung lorong, tempat perawatan Sasya. Zeline mendesah panjang, menatap kembali ponselnya. Pesan WA nya pada Patra, masih belum terbalas sampe sekarang.
Masih fokus pada pesan WA, sebuah panggilan membuat dia semakin jengah. Reksa. Zeline mendesah panjang dan memilih mengabaikan panggilan itu. Ia menyurukkan ponselnya ke dalam tas dan mencoba untuk acuh.
Zeline melangkah meninggalkan RS dan menuju ruang tunggu lobby, dia hendak memesan ojek online saat sebuah motor berhenti tepat di depannya. Zeline mengenali motor Reksa!
"Aduh... dompet gue ketinggalan!" seloroh Zeline memutar tubuhnya hendak kabur saat Reksa menarik tali tasnya. "Aaak!! Eh, dasar guguk... asal aja lo narik tali tas gue! kecekikkk!" omel Zeline sambil melempar tatapan tajam.
"Oke. Udah balik normal. Gih, naik motor!" ujar Reksa.
Zeline menelan ludah sejenak, "Emang gue kenapa? Gue gak berubah kenapa-kenapa, tuh... ." kilah Zeline.
"Lo mau naik secara ikhlas ke motor gue, atau secara kurang ikhlas, atau sangat tidak ikhlas?" tanya Reksa.
__ADS_1
Zeline menengadahkan tangannya ke arah Reksa yang kemudian menyodorkan helm warna navy pada Zeline. Zeline memakai helm dalam diam dan menaiki motor Reksa. Reksa mengegas sedikit motornya, membuat Zeline tersentak hingga nemplok pada punggung Reksa yang terkekeh puas.
" Dasar guguk! Lo--."
Belum sempat Zeline menyelesaikan kalimatnya, Reksa menutup kaca helm Zeline dan melajukan motornya, mengabaikan sepenuhnya segala umpatan dari Zeline. Ha-ha!
Di sisi lain, Patra menyaksikan kejadian Zeline dan Reksa dari balik kaca jendela kantin RS. Dia yang tengah menikmati kopi panas di tangannya, tanpa sadar mencengkeram erat gelas kopinya hingga tangannya memerah panas. Dia pun teringat dengan ucapan om Dani.
"Kamu tidak punya kewajiban terhadap Sasya. Kamu berhak akan kebebasanmu sendiri. Tergantung kamu, mau melepas atau bertahan."
-oOo-
Reksa menghentikan motornya di Kafe are puncak. Zeline turun dari motor, melepas helm dan dengan semangat menggebuk bahu Reksa.
"Eh, guguk! Bisa-bisanya lo bawa gue ke puncak! Gue capek ini!" omel Zeline.
Reksa membekap mulut Zeline dan menariknya hingga masuk ke dalam kafe. Mereka mengambil posisi di area luar kafe yang menghadap ke arah pemandangan sore pegunungan puncak yang dingin.
"Reksa!" protes Zeline.
"Kita butuh suasana dingin untuk membicarakan sesuatu yang panas." ujar Reksa.
Zeline terdiam mendengar ucapan Reksa. Sesuatu yang panas? Mendadak, perasaan Zeline menjadi was-was. Dia hanya bisa beringsut duduk di kursi, mendekap totebag cokelat lusuhnya dan melempar pandangan ke arah lain.
"Berhenti berubah terhadap gue, Zel... ." ujar Reksa.
"Gue gak--."
"Mau pesan apa, kak?" tanya seorang pelayan yang menginterupsi pembicaraan Zeline dan Reksa.
"Teh panas. Sama roti bakar coklat." ujar Reksa.
"Cokelat panas. Mie pedas. Porsi double. Extra telur." Sahut Zeline.
"Baik, kak... ."
Pelayan itu pun berlalu pergi meninggalkan meja Reksa dan Zeline. Reksa kembali melempar tatapan sendi pada Zeline yang mencoba mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia terlalu gugup menghadapi tatapan Reksa. Yang sendu.
"Gue cuma mau membuat pengakuan. Bukan berarti lo harus menjawabnya, Zel... Gue cuma--."
"Maaf, kak... Cokelat panasnya tinggal varian dark. Masih mau atau pesan yang lain?" tanya pelayan tadi yang kembali datang menginterupsi pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Gak apa. Dark coklat bagus buat diet." ujar Zeline.
"Baik, kak... ."
Pelayan itu kembali pergi meninggalkan meja mereka. Reksa kembali menatap Zeline.
"Gue cuma gak mau kalah sebelum bertanding." ujar Reksa.
"Bertanding sama siapa?"
"Patra."
"Dih... dia udah punya tunangan." seloroh Zeline setengah dongkol.
"Dia udah pu--."
"Maaf, kak... ganggu lagi. Ini extra telurnya mau satu atau dua?" tanya pelayan tadi yang sekali lagi, hadir menginterupsi pembicaraan mereka, membuat Reksa mendengus sebal.
"Satu aja." sahut Zeline dengan nada sabar.
" Oke, baik kak."
Pelayan itu kembali pergi meninggalkan meja mereka. Reksa menarik napas panjang, menahan kekesalannya yang nyaris memuncak.
"Intinya... gue gak mau sikap kita berbeda satu sama lain," ujar Reksa.
"Gie gak berubah."
"Zel... lo gak bisa bohongin gue. Kelihatan banget, lo--."
"Maaf kak... ," sekali lagi pelayan tadi menginterupsi pembicaraan mereka.
"Apa lagi???" tanya Reksa.
"Telornya mau matang atau setengah matang?" tanya pelayan itu dengan nada polos.
"Mateng." sahut Zeline. "Mie pedes lombok 5. jaga-jaga aja.. takutnya lo nanya lagi."
"Oke, kak. Noted." pelayan itu tersenyum puas lalu melangkah pergi meninggalkan meja mereka.
Reksa dan Zeline beradu pandang sejenak sebelum kemudian tertawa bersama. Mereka menertawakan momen gila dari si pelayan. Siapa sangka, kejadian itu membuat suasana keduanya kembali mencair. Reksa tidak menyesal sudah mengungkapkan perasaannya. Dia lega. Meski, cintanya bertepuk sebelah tangan. Setidaknya, Zeline masih di sisinya. Semoga. Biarlah mereka selalu dalam friendzone yang aman dan nyaman. Untuk saat ini, itu yang terpenting.
__ADS_1
-oOo-
TBC