
"Sudah bertunangan"
Seolah tulisan itu tertempel erat di kening Patra. Tanpa sadar, Zeline diam-diam menatap Patra. Seolah, ada magnet yang menarik dirinya yang kian kuat bahkan setelah statemen tentang 'tunangan' diutarakan oleh Patra dengan lantang di kelas tadi. Ah, Zeline nyaris tidak pernah tertarik dengan urusan 'pribadi' dengan lawan jenis. Serius. Satu-satunya makhluk lawan jenis yang bisa leluasa berbincang dengannya hanyalah Reksa. Sahabat sedari SMP.
"Lo bisa berhenti menatap gue? Asli... gue risih." celetuk Patra.
"Sori... gue cuma... ," Zeline menelan ludah sejenak, "Hmm... gue cuma mau bilang makasih buat plesternya." kilah Zeline.
"..."
"Dan.. kebetulan banget nih, gue alergi plester cokelat. Jadi, cocoknya emang pake plester bening gini." Zeline mengelus plester bening yang tertempel di tangannya. "Bener-bener kayak kebetulan gitu gak sih?"
"Gue denger percakapan lo ama temen lo diperpus tadi. Jadi, emang sengaja tau soal plester itu. Gak usah berlebihan." sahut Patra.
Zeline mengingat sejenak. Harusnya saat itu Patra sudah berlalu pergi. Ternyata, dia mendengar percakapannya dengan Reksa. Zeline melirik kecil ke arah Patra. Jadi, sedikit banyak, Zeline tetap merasa... hmmm, terharu.
"Well... tetep aja. Makasih." sahut Zeline setenang mungkin.
Zeline kembali menarik napas panjang. Kenapa semakin canggung saja bersama pemuda ini. Zeline menatap Patra yang sibuk berkutat dengan catatannya. Setelah berdebat di perpustakaan, diakhiri dengan satu tim tugas mendadak menarik perhatian Zeline. Kenapa tiba-tiba dunia Zeline berputar ke arah Patra? Hari ini, seperti secara kebetulan, dia terus terhubung dengan Patra.
"Tunangan lo... anak sini juga?" tanya Zeline.
"Tidak komentar soal pribadi."
Zeline menggigit bibir bawahnya lalu meneguk minumannya, menghilangkan rasa canggung. "Oke... jadi, lo punya tema apa soal tugas kita?" tanya Zeline mengalihkan topik.
"Tentamen Suicide." Patra menatap Zeline sekilas sebelum kemudian fokus pada catatannya.
Zeline mengetik kata yang disebut Patra di ponselnya. Mencoba mencari informasi tentang Tentamen Suicide. "Percobaan bunuh diri." ujar Zeline yang memaknai kalimat tersebut.
"Anxiety, personality disoder... adalah penyakit mental yang kebanyakan bermuara pada Tentamen Suicide. Ini adalah bagian dari mental health yang sedang banyak terjadi. Seperi pada artis Kpop dan arris hollywood."
Zeline mengangguk-angguk kecil. "Menarik. Tema yang memang sedang on fire di sekeliling." Zeline tersenyum ouas dengan penjelasan Patra, "Kita bisa melakukan dialog ini. Nanti gue bikin percakapannya. Trus, tinggal tentuin kapan bikin videonya."
"Gue aja yang bikin naskahnya. Kita selesaiin videonya besok." tegas Patra.
Zeline mengangguk singkat,"Oke. Sesuai planning lo aja."
Patra nampak sibuk kembali menuliskan sesuatu di catatannya. Zeline hanya bisa terdiam lalu ikut sibuk dengan ponselnya. Dia mencari tahu lebih jauh tentang Tentamen Suicide. Jadi, dia tidak harus ketinggalan jauh dari info yang dimiliki Patra. Tapi, bagaimana Patra bisa paham soal ini? Dia terlihat cuek dan dingin, tapi begitu luwes dalam pembahasan ini. Seolah wawasannya begitu luas.
"Lo jurusan psikologi?" tanya Zeline penasaran.
"Hukum."
Zeline sedikit tercenung, "Kok lo paham soal ini?"
"Pertanyaan pribadi. Skip." Sahut Patra. Patra menyodorkan sebuah catatan pada Zeline, "Itu dialognya. Kita mulai besok."
Tepat setelah mengucapkan kalimat itu, Patra membereskan barang-barangnya dan melangkah pergi begitu saja. Zeline buru-buru ikut membereskan barang dan mengejar langkah lebar Patra. Zeline bahkan belum bisa menyelesaikan rasa penasarannya. Tapi, Patra bergerak begitu cepat.
"Besok.. jam berapa? Dimana?"
__ADS_1
Patra terhenti sejenak dan menatap Zeline. "Ponsel." Patra menengadahkan tangan seolah meminta sesuatu pada Zeline.
Zeline merogoh ponsel dari saku jaketnya dan menyerahkan pada Patra. Pemuda itu mengetik sesuatu di layar ponsel Zeline lalu menyodorkannya kembali pada Zeline.
"Gue bakal WA tepatnya."
Perlahan, Zeline meraih kembali ponselnya. Tanpa sadar, tangan mereka sejenak bersentuhan. Zeline bisa merasakan tangan hangat dari Patra. Dan, kehangatan itu mendadak menjalar dan menggepak di dadanya. Zeline hanya bisa menelan ludah sambil mencengkeram ponselnya.
"Udah. Gue cabut."
Dan, Patra pun melangkah pergi begitu saja menyusuri lorong, meninggalkan Zeline. Zeline menatap punggung tegap itu yang kian jauh hingga menghilang di balik persimpangan.
Zeline menghembuskan napas panjang seraya menggigit bibir kecilnya dengan rasa cemas. Dadanya serasa berdegup kencang seiring ia mengingat akan kehangatan kecil dari tangan Patra si daun pedang. Sungguh, apa yang terjadi padanya hari ini. Dia seperti terbius begitu saja oleh Daun Pedang yang tajam.
"Zeline!"
Zeline tersadar dari perasaan anehnya dan menoleh ke arah asal suara. Nampak Reksa berlarian kecil menghampiri Zeline masih lengkap dengan jas laboratorium. Ujung jas putih itu berkibar seiring langkah kaki Reksa menghampiri Zeline. Saat memakai jubah putih seperti itu, Reksa nampak begitu berbeda. Hanya saya, tiba-tiba saja bayangan Patra juga ikut terlintas dengan jas putih di otak Zeline. Ah, pasti akan semakin mempesona.
'Wait... gue udah gila? Ngapain gue mikir ginian?' Zeline semakin merasa gila.
"Zeline.. ." panggil Reksa yang sudah berdiri di depannya.
Zeline berdeham sejenak, mengembalikan fokus dirinya, "Oh... kenapa?" Zeline menatap Reksa, "Lo gak mungkin udah kelar lab."
"Emang belum."
"See? Mending gue balik sendiri, deh... ."
"Dih! Jangan doong... Tungguin gue di kantin. Sepuluh menit gue kelar."
"Iyeee... ." Reksa meraih tangan Zeline dan hendak memasangkan sebuah plester. Namun terhenti, "Eh... udah pake plester."
Zeline menarik tangannya kembali, "Udah. Telat, lo."
"Perasaan lo tadi buru-buru ke kelasnya profesor Samuel... kok sempet beli?"
"Dikasih."
"Sama?"
"Cowok yang di perpus tadi. Dia ikut kelas profesor Samuel juga. Trus kayaknya dia juga lumayan merasa bersalah, sih... jadi, dia ngasih gue ini ama minuman."
"Ha?"
"Baik, khan dia? Ternyata... dia gak seburuk yang kita pikirin, deh... ." ujar Zeline.
"Tumben lo muji 'cowok'..."
"Daripada gue muji elo. Dih... gak ada yang istimewa."
"Jahat."
__ADS_1
"Udah... buruan kelarin lab lo. Gue tunggu di kantin. Sepuluh menit lo gak nongol... gue balik naik ojek."
Mengacak rambut Zeline dengan gemas "Iya... bawel!"
"****! Reksa!"
Belum sempat Zeline menggepuk pemuda itu, Reksa sudah keburu kabur melarikan diri. Dasar, Reksa si rese! Hobinya selalu mengacak-acak rambut Zeline. Dia pikir, mereka masih SMP? Dih.
-oOo-
Zeline membolak-balik catatan yang diberikan Patra tadi. Cukup detail tapi mudah dihapal. Dia cukup yakin dengan hasil tugas ini. Ternyata, Patra cukup cerdas juga. Dia bisa segera mendapatkan ide untuk tugas mereka. Juga, tulisannya rapi. Untuk ukuran cowok, tulisannya bagus. Jauh dengan tulisan Zeline yang sudah khas dengan coretan dokter. Zeline terkekeh kecil membandingkan tulisan ceker ayamnya dengan tulisan Patra yang begitu rapi.
Terdiam sejenak.
Zeline tercenung kembali. Sejak pertamuannya dengan Patra, kenapa pikirannya selalu jatuh kembali kepadanya? Tak lama, ponselnya berdenting. Sebuah pesan muncul dari nomor asing.
From: 08xxxxxxxxxx
Kita ketemu besok di Kafe book. Jam 4 sore.
Patra.
Seulas senyum merekah di bibir Zeline saat melihat nama Patra muncul. Dengan sigap, Zeline menyimpan nomor tersebut. Dan foto profil yang awalnya tampak tanpa foto, berubah... tetap tanpa foto! Zeline mengernyit kecil. Patra tidak menampilkan foto profil apapun di WAnya.
"Tanda manusia yang hidupnya ruwet adalah... tidak memasang foto profil!" Zeline mendengus. Memang benar-benar tajam setajam pedang. Tsk!
"Siapa yang tajam?"
Zeline mendongak dan menemukan Reska sudah muncul. Zeline hanya menggeleng kecil dan segera beberes barangnya sebelum kemudian mengamit lengan Reska.
"Gak usah kepo... yang penting sekarang, gue laper... ."
"Baik, nona... mau makan apa?"
"Terserah."
"Dih!"
Di sudut lain, Patra nampak duduk di sudut kantin dalam diam. Dia menarik napas panjang, menatap arah kepergian gadis yang cukup menarik perhatiannya sejak pagi. Zeline Zakeisha. Nama yang cukup unik. Dan sesungguhnya yang paling membuat Patra cukup tertarik padanya... dua lubang kecil di pipi kirinya. Jarang sekali ada yang memiliki dua lesung pipi sekaligus disatu sisi. Terlihat lucu.
Tak lama, sebuah suara denting ponsel membuatnya kembali fokus pada ponselnya. Sebuah WA dari nama yang seketika membuat wajahnya berubah masam. Datar.
From: Sasya
Kamu jadi ke rumah, beb?
-oOo-
TBC
Jangan lupa komentar, like yaaa^^
__ADS_1
Regards Me
Far Choinice