
"Pagi-pagi udah di sini aja, lo... ." sapa seorang gadis berambut pendek dengan kacamata terbingkai manis di atas hidungnya, cukup kencang ucapannya hingga membutarkan lamunan Reksa. Gadis itu nampak meletakkan tas di kursi dan menatap Reksa yang sedang serius dengan catatannya.
Reksa tersenyum simpul, "Lagi pingin menikmati pagi aja."
Gadis berambut pendek itu --Helena-- menghampiri meja Reksa, "Pasti lagi badmood." tebak Helena.
"Tau aja lo... ." Reksa nampak menaikkan sebelah alisnya terkejut. Helena hanya tersenyum kecil.
'Gue tau segalanya kalo soal elo, Rek.' lirih Helena dalam hati.
"Ketebaklah... udah kebiasaannya elo." kilah Helena sambil diam-diam menahan debaran dadanya.
Reksa hanya tersenyum simpul. Dia membolak balik catatannya yang sejujurnya sama sekali tidak ia pahami. Dia hanya sedang tenggelam dalam perasaan tidak nyamannya sejak semalam. Sejak melihat status WA Zeline. Sejak dia mengumpat segala sesuatu yang berhubungan dengan 'friendzone' sialan. Dia hanya ingin melampiaskan kekesalannya karena keadaan tidak berpihak padanya sama sekali. Dan, di sinilah ia pagi hari ini. Mencoba mengalihkan perhatiannya dari 'friendzone'.
"Lo udah nyelesaiin tugas pak Reyhan?" tanya Helena membuyarkan laminan Reksa.
Reksa menarik napas panjang, "Hampir kelar sih... ."
Helena mengangguk kecil dan merebut catatan Reksa, "Gue gak bisa mecahin masalah yang ini, nih... ."
Reksa menatap Helena yang sibuk menuliskan sebuah tulisan, namun lagi-lagi Reksa sama sekali tidak fokus. Helena menyadari itu dan hanya bisa mendesah pendek. Dia masih menuliskan sebuah catatan saat pintu laboratorium terbuka. Dia masih belum bisa membuat Reksa fokus. Entah apa yang sedang dipikirkan Reksa. Tapi, Helena tau persis siapa yang sudah membuat Reksa seperti ini. Dan, memahami hal itu, membuat hati Helena mencelos.
"Reksa!"
Helena mengenali suara itu. Reksa pun segera menoleh ke arah asal suara itu dan raut wajahnya nampak berubah. Helena mendengus dongkol. Sudah pasti... Zeline! Si sumber masalah.
Zeline berderap masuk dan duduk di sebelah Reksa sembari menyodorkan sekotak makanan, "Gue diminta nyokap lo buat ngasih ini. Katanya, lo berangkat pagi-pagi buta. Gak sempet sarapan.." Zeline meletakkan tangannya ke atas pundak Reksa, "Biasanya... kalo lo gini, artinya lo lagi galau! Ada apa, bro?"
Reksa terkekeh, "Sok tau, lo!"
Zeline tersenyum lalu menoleh pada Helena, "Eh... pagi, Helena.. ." sapa Zeline yang bau menyadari adanya sosok Helena.
Helena tersenyum datar meski dalam hati, dia mencaci kesal, "Pagi juga, Zel." Helena beringsut kembali ke kursinya dan menenteng tasnya kembali, "Gue ada urusan. Cabut dulu, ya.. ," pamit Helena lalu menatap datar ke arah Zeline, "Dan, Zeline... lain kali kalo ke laboratorium jangan bawa makanan. Bisa merusak area laboratorium. Dan juga, makannya jadi terkontaminasi."
Zeline tersenyum kecil, "Oh... iya sori." Zeline meraih kembali kotak makanan tadi dan memasukkannya ke dalam tas, "Ini juga titipan nyokapnya Reksa."
"Ya udah kita ke kantin aja." sahut Reksa sembari menarik tangan Zeline.
Reksa dan Zeline kemudian melangkah pergi meninggalkan laboratorium terlebih dahulu dari Helena yang hanya bisa mematung dalam diam. Helena membanting kecil tasnya dan kembali duduk dengan dongkol. Ia mendengus kesal, "Apa istimewanya tuh cewek, sih? Sial!"
-oOo-
"Lo ngerasa gak sih, Helena tuh kayak gak suka gitu ama gue."
Reksa menggigit roti sandwich buatan mamanya yang dibawa Zeline tadi. Lembut roti dan nikmatnya sosis yang ada di dalam roti, cukup membuat lidah Reksa menari bahagia. Jujur saja, sih... dia cukup lapar. Ekor matanya, melirik ke arah Zeline yang tengah menopang dagu sambil memasang ekspresi berpikir. Ekspresi lucu yang membuyatmrkan kegundahan Reksa. Reksa mendesah kecil sembari terus mengunyah sebelum kemudian menyurukkan sisa rotinya ke mulut Zeline.
"Hmmpphh! Puih!" Zeline menyembur kecil namun terpaksa mengunyah roti yang disuapkan paksa oleh Reksa, "Eh, guguk... seenaknya aja lo ngasih gue roti sisa."
Reksa menahan tawa, "Lo ngatain gue anj*ng?"
"Tapi seenggaknya gak frontal... masih lembut tuh, gue bilangnya guguk."
__ADS_1
Reksa terkekeh, "Bisa ae lo... B*bi."
Zeline melotot, " Apaa?!"
"Beiiibiii, maksud gue."
Zeline menggebuk bahu Reksa dengan gemas! "Sialan, lo!"
Reksa mengerang kesakitan sebelum kemudian memegang kedua tangan Zeline, "Beibi... berhenti dong, sakit tau... ," ujar Reksa lembut.
"Lagian, lo sialan banget ngasih gue sisa roti lo!"
"Khan kita udah biasa berbagi, beibi... ."
"Sinting!"
"Ah... beibi... ."
Zeline terpana sejenak. Kedua manik matanya beradu pandang dengan Reksa. Dia baru saja sadar posisi mereka cukup dekat hingga Zeline bisa merasakan hangat dari hembusan napas Reksa. Zeline menatap Reksa seksama. Posisi mereka begitu dekat hingga Zeline merasakan sesuatu mulai menjalari pipinya.
Reksa menelan ludah panik dengan tatapan Zeline yang sedekat ini. Tiba-tibasaja dia cukup menyesal sudah menggoda Zeline karena akhirnya dia sendiri yang gugup dan berdebar gak karuan gini.
"Kenapa lo? Baper? gue panggil beibi?" tanya Reksa dengan suara serak, mengalihkan kegugupannya.
"Najis! Gue cuma baru sadar... lo belum gosok gigi? bauk!"
Reksa melempar tangan Zeline kesal, "F*ck!"
Zeline terkekeh geli, "Makanya, jangan sok romantis lo... geli!"
"Ciyeee.. yang maunya ngebaperin gue, malah lo yang baper, khan?" goda Zeline.
"Sok cantik lo!"
"Emang gue cantik."
"Dih!"
Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang terus mengikuti adegan mereka. Sepasang mata hazel dari seorang pemuda yang duduk di satu sudut kantin. Patra.
Patra menatap tajam ke arah keduanya. Ada perasaan tidak nyaman yang menyeruak. Terlebih, bayangan status WA Zeline yang ia lihat semalam terbesit. Jadi, ini adalah 'bestie' Zeline. Tapi, Patra bisa tau kalau ini lebih dari sekedar itu. Kilat mata dari pemuda yang berstatus 'bestie' itu, berbeda. Patra bangkit dari duduknya lalu menghampiri meja keduanya.
"Patra?" sapa Zeline yang perhatiannya teralihkan pada kehadiran Patra.
Patra melirik pemuda di sebelah Zeline yang nampak mengernyit. Tatapannya seolah mengibarkan bendera perang. Patra kembali menatap Zeline dan kembali terbius dengan lesung pipi Zeline, "Ehem... jangan lupa nanti sore. Gue kirim sharelocknya."
"Oh.. oke."
"Jangan lupa hapalin catatannya."
"Siap!"
__ADS_1
"See you." Patra pun berlalu begitu saja.
Zeline menatap kepergian Patra dengan perasaan aneh. Ini seperti bukan 'Daun Pedang' biasanya. Bisa-bisanya dia mengatakan kata 'see you'. Ini seperti mendengar kalimat sihir mematikannya voldemort! Zeline tanpa sadar menyunggingkan senyum tipis seiring kepergian Patra yang kian menjauh.
"Kalian ada perlu apa sampe ngajak ketemuan?" tanya Reksa yang sedikit gundah melihat percakapan Zeline dan si pemuda siapa tadi? Patra!
"Tugas profesor Samuel. Khan gue udah cerita."
"Oh. Ketemu dimana?"
Zeline menatap Reksa seksama, " Kenapa nanya-nanya?"
"Ketemu di mana?"
"Rahasia, dong... Bisa-bisa lo nyamperin gue nanti. Bisa mengganggu."
"Mengganggu? Maksudnya?" Reksa menarik satu sudut alisnya.
Zeline tersenyum tipis, "Gue... agak tertarik ama dia... ."
Reksa mendengus kesal dan memgumpat dalam hati sejadi-jadinya. F*ck!!!
-oOo-
Suara alunan musik yang 'chill', identik dengan suasana kafe book yang jadi tempat janjian Zeline dan Patra, menguar dengan lembut begitu pintu terbuka. Aroma khas buku, berbaur dengan aroma kafe yang manis. Zeline mendadak jatuh cinta dengan suasana Kafe yang nampak begitu menenangkan. Deretan buku berbaris rapi di rak dinding. Ada juga rak vintage berisi buku yang jadi partisi pemisah antar meja satu dan lainnya. Benar-benar kafe book yang tenang dan nyaman. Patra punya selera bagus juga untuk urusan tempat nongkrong.
Zeline melongokkan kepala mencari keberadaan Patra saat seseorang mensejajarinya dengan membawa baki --Patra--. "Ikut gue."
Zeline menatap Patra yang sudah melangkah menuju satu meja sembari membawa baki. Zeline pun mengikutinya dan duduk berhadapan dengan Patra.
"Gue udah pesen minuman ama snacknya."
Zeline mengangguk paham, "Oh... oke. Santai aja. But... makasih."
Patra mengangguk sekilas lalu mulai mengeluarkan catatan dan sebuah kamera. "Kita bisa mulai. Suasana kafe yang tenang gini, juga cocok jadi background musik buat video kita."
Zeline mengangguk setuju, "Iya bener banget. Berasa kayak musik 'healing' gitu, sih... bagus juga ide lo bikin video tugas di sini." Zeline melirik beberapa petugas kafe, "Tapi... apa boleh ngerekam di sini?"
"No problem. Ini punya gue."
"Ha?"
"Kafe ini punya gue. Bisnis gue ama om gue."
Zeline menatap kagum pada Patra, "Waw... gue gak tau lo punya bisnis sekeren ini."
"Kita baru kenal. Wajarlah lo gak tahu."
Zeline terkekeh, "Lha iya.. gue baru sadar."
Patra terdiam namun ekor matanya sesekali melirik Zeline yang tertawa. Suara tawa renyah dan lesung pipi unik, membuat gadis itu semakin menawan. Patra berusaha menutupi perasaan anehnya dengan tetap memasang wajah datar, namun tetap menikmati momen indah dari seorang Zeline.
__ADS_1
-oOo-
TBC