METANOIA

METANOIA
Just Mine!


__ADS_3

"Selamat... Proposal kalian lulus. Masa magang kalian tinggal seminggu tapi kalian sudah menyelesaikan proposal kasus. Kerja bagus." ujar Alya Gunawan saat memberikan sambutan di aula RS.


Zeline tersenyum lebar sembari ikut bertepuk tangan bangga bersama rekan-rekan lainnya. Tidak terasa jadwal magang mereka selesai dengan baik, artinya mereka bisa bebas menikmati waktu liburan sejenak. Dan, Zeline bisa bertemu dengan Patra sesering mungkin. Zeline mengecek sejenak ponselnya. ada pesan WA dari Patra yang berjanji akan menjemputnya pulang sore nanti. Tanpa sadar Zeline tersenyum lebar. Menjadi yang kedua, tidak terlalu buruk.


"Hanya tiga bulan dan setelah itu, lo akan jadi satu-satunya. "


Kalimat Patra itu terus terngiang dalam ingatan Zeline, lebih dari cukup untuk membuatnya berbunga dan berdebar bahagia. Ternyata, perasaan Patra padanya memang spesial.


"Yuk, Zel.. balik kerja." ajak temannya.


Zeline menyimpan ponselnya dan mengangguk. Mereka melangkah menuju pintu aula dan berpapasan dengan Alya Gunawan yang juga hendak ke luar. Zeline dan rekannya terhenti dan mempersilahkan Alya untuk berjalan dulu. Zeline dan rekannya menyempatkan untuk tersenyum.


"Terimakasih." ujar Alya Gunawan.


Zeline beradu pandang sejenak dengan Alya Gunawan dan merasa aneh. Tatapan Alya Gunawan mungkin disertai dengan senyuman namun Zeline bisa merasakan aura dingin dari sorot matanya, terlebih setelah Alya Gunawan melirik nametag di jas putihnya.


"Gila... auroranya begitu kuat. Benar-benar direktur yang mengagumkan... ." puji rekan Zeline.


Zeline hanya mengangguk asal menyetujui ucapan rekannya. Ia menatap kepergian Alya Gunawab yang kian jauh menyusuri koridor RS. Mungkin ini hanya perasaannya. Pasti bukan hal yang besar.


Di sisi lain, Alya Gunawan yang awalnya menyunggingkan senyumnya, perlahan memasang wajah datar. Dia mengingat wajah dan nama gadis itu. Zeline Zakeisha.


"Aku butuh daftar nama para dokter magang. Serahkan berkasnya ke atas meja." ujar Alya Gunawan pada sekertarisnya, Dena.


"Siap, ibuk."


...****************...


Zeline Zakeisha. Putri tunggal. Ayahnya adalah seorang CEO perusahaan investasi yang berbasis di Australia. Ia dan istrinya, ibu Zeline, menetap di Australia. Zeline hanya tinggal di Indonesia sendiri.


"Hmmm... ."


Terdengar hela napas berat dari Alya Gunawan saat membaca berkas milik Zeline yang ada di tangannya. Dia menatap berkas itu dengan tajam dan dalam diam. Seolah, sedang mempelajari calon musuhnya.


...****************...


Suara deru motor Patra berlomba dengan devar jantung Zeline. Sejak mengukuhkan hubungan gelap mereka, Zeline masih sering dilanda Aritmia. Gugup. Dia masih tidak percaya dengan hubungan ini, meski termasuk hubungan yang tabu.


Tak lama, motor Patra terhenti di parkir Kafe book miliknya. Zeline menyerahkan helm dan merapikan rambutnya. Patra tersenyum kecil seraya menyimpan helm mereka. Sejenak, ia menahan tangan Zeline.


"Kenapa?" tanya Zeline.


"Gue gak terlalu suka kalo rambut lo dikuncir," ujar Patra sembari melepas karet yang mengikat rambut Zeline lalu merapikannya sejenak alih-alih membelainya, "Karena gue gak mau orang melihat leher cantik lo."


Zeline yang awalnya bersemu merah, melototkan matanya terkejut, "Gue gak tahu kalo seorang Patra... ternyata mesum."


"What?" Patra terkekeh sekilas dan mengacak rambut Zeline gemas, "Gak bisa banget diajak romantis."


"Serius... itu romantis? Lebih ke arah mesum, sih... ."

__ADS_1


Patra mendekatkan diri ke telinga Zeline dan berbisik, "Lo belum lihat sisi ter-mesum gue."


Bugh!


Zeline sukses mendaratkan pukulannya di perut Patra yang terasa cukup berotot juga. Patra meringis kecil sambil menggenggam tangan Zeline.


"Gue laper. Ada baiknya kita lanjutkan sambil makan."


Patra tersenyum lebar seraya menarik lembut Zeline memasuk Kafe Book. Aroma khas buku menyeruak, mengiringi langkah ringan keduanya memasuki Kafe yang cukup hingar. Zeline masih bisa merasakan debarannya.


"So... lo udah siap buat cerita tentang tiga bulan yang lo maksud?" tanya Zeline.


Patra menarik napas panjang, "Gue dan Sasya... adalah sahabat sejak kami kecil."


"Gue dan Reksa juga."


Patra menatap Zeline, "Gue gak terlalu suka saat ada nama cowok lain dalam percakapan kita."


Zeline menyipitkan mata sejenak, "Ini berlaku dengan nama cewek?"


"Lo yang minta penjelasan."


Zeline mengangguk sekilas lalu tersenyum. Dia selalu merasa kalah debat dengan Patra. Tapi, memang benar dia sedang ingin mendengar penjelasan dari Patra.


"Oke. Tiga tahun yang lalu, Sasya mengalami depresi yang cukup berat. Dan, anehnya dalam masa depresi itu... dia menganggap gue.. tunangannya."


Zeline menopang dagu menatap Patra. Dia mulai bisa memahami alur cerita yang ingin diucapkan Patra. Sepertinya, inti dari semua ini adalah... mereka bertunangan palsu.


Zeline mengangguk paham. Itulah kenapa Patra menjadikannya yang kedua hanya selama tiga bulan. Tidak terlalu lama tapi juga tidak cepat. Zeline seperti ingin segera memiliki Patra seutuhnya. Tunggu... sejak kapan Zeline jadi sebucin ini?


Zeline mendesah kecil dan tersenyum, "Oke. Gue udah paham semuanya."


"So... gue butuh pengertian elo."


"Tapi... kenapa sekarang lo buru-buru ngajak gue kencan? Kenapa gak nunggu sampe tiga bulan lagi? Daripada... kita menjalani hubungan yang agak... tabu gini."


"Gue gak mau lo ama cowok lain."


"Reksa?"


"Siapapun itu." ujar Patra.


"Egois."


"Gak suka?"


Zeline tersenyum, "Suka." sahutnya. "Banget."


Patra tersenyum lega. Tapi, senyumnya tidak bertahan lama. Sebuah denting dari ponsel, membuatnya membeku. Denting berbeda dari nomor yang ia khususkan. Sasya.

__ADS_1


Patra berdeham sejenak seraya mengecek ponselnya. Tidak ada kata atau apapun. Hanya sebuah foto. Foto lukisan gelap yang dikirim oleh Sasya. Patra mengernyit bingung. Tak lama, pedang dari Tante Sana menyusul muncul yang mengatakan jika Sasya mengurung diri di kamar. Napas Patra tercekat.


"Kenapa?" tanya Zeline.


Patra menggeleng kecil sembari menggenggam ponselnya, "Nothing."


Zeline mengernyit, "Yakin? Sasya?"


Patra mengangguk lemah. Zeline hanya menarik napas panjang. Dia masih ingin sedikit lebih lama dengan Patra. Namun, dia ingat cerita Patra soal depresi Sasya. Ditambah, posisinya saat ini masih yang kedua. Dia tidak punya hak sepenuhnya atas Patra.


"Pergilah." ujar Zeline dengan suara serak.


Patra menatap Zeline dengan lekat namun tangannya masih erat mencengkeram ponselnya yang beberapa kali berdenting. Dari Tante Sana maupun Sasya.


"Gue bisa pesan ojek online nanti." Zeline tersenyum tipis, "Just... go."


"Sorry... ." Hanya itu kalimat terakhir Patra sore itu.


Zeline memejamkan mata pasrah. Suara napasnya berat. Ternyata, menjadi yang kedua... begitu berat.


...****************...


Patra buru-buru melangkah memasuki kamar Sasya yang cukup temaram. Sore mulai berganti malam namun Sasya tidak ada niatan menyalakan lampu kamarnya. Gadis itu duduk di sudut kamar dengan berteman cahaya lampu tidur dan sebuah kanvas lukisan penuh warna hitam. Diam.


"Sasya... ." panggil Patra seraya perlahan mendekati Sasya.


Sasya menoleh lalu tersenyum kecil. Ia bangkit dari duduknya, meletakkan kuas di meja kecil lalu bergegas memeluk Patra.


Patra hanya terdiam mendapati pelukan Sasya. Tubuhnya dingin. Patra bisa merasakan kulit Sasya begitu dingin. Patra menarik tubuh Sasya dari pelukannya dan menatap gadis itu dengan raut cemas.


"Sya... ."


"Aku pernah bilang... kamu milikku. Just mine!"


Belum sempat Patra mengatakan apapun, Sasya sudah membekukan pikiran Patra. Sasya menciumnya. Sasya mencium bibir Patra dengan penuh perasaan. Bibirnya yang dingin bersentuhan dengan bibir Patra. Patra hanya terdiam. Perlahan ia memejamkan mata. Hanya pasrah saat gadis itu menciumnya tanpa jeda. Perlahan, tangan Sasya merangkul leher Patra dan semakin ******* bibir Patra. Patra tidak merespon. Hanya terdiam, merasakan bibir dingin Sasya. Membeku.


...****************...


"Lo belum pulang, Rek?" tanya Helena yang berdiri di ambang pintu lab. Dia hendak pulang saat ia ingat meninggalkan catatannya di lab.


Ternyata, Reksa masih di sana. Pemuda itu berdiri di sudut lab dalam diam. Helena melangkah perlahan mendekati Reksa yang terdiam.


"Reksa?" Helena menyentuh bahu Reksa dan tiba-tiba...


BRUK!


Reksa terjatuh di lantai. Helena menjerit terkejut dan panik. Ia memegangi tubuh Reksa yang panas. Sangat panas.


"Reksa... bangun, Rek!" Tanpa terasa, air mata menetes di pipi Helena. "Reksa!"

__ADS_1


-TBC-


__ADS_2