
Patra menatap kameranya, mengecek hasil video yang ia buat bersama Zeline. Sesekali ia menarik napas panjang. Jujur saja, kadang fokusnya masih terpecah antara tugas dan menikmati keindahan sederhana yang ditampilkan Zeline. Ah... momen sore hari yang serasa begitu panjang namun seolah pendek karena tanpa terasa tugas mereka hampir selesai.
Zeline yang tengah menyesap strawberry punch pesanan Patra, merasakan sensasi masam sekaligus manis yang nikmat. Patra tidak menanyakan padanya soal mau pesan minuman apa, tapi tidak masalah. Karena pilihan menu Patra, boleh juga. Ah, Patra tidak ada habisnya membuat Zeline kagum. Belum lagi fakta Patra sudah punya bisnis yang keren begini. Zeline menatap Patra yang nampak serius. Ekspresinya terlihat datar dan serius. Tanpa sadar, Zeline menikmati pemandangan langka di depannya. Alis mata yang tebal berpadu dengan sepasang mata hazel. Sudut bibir yang tajam ditambah hidung yang tidak terlalu mancung tapi tidak pesek juga. Pas. Parasnya khas Indonesia banget. Kulitnya juga tidak putih. Sawo matang. Tubuhnya tidak begitu atletis tapi tegap dan dadanya bidang. Kenapa Zeline baru menyadari keberadaan makhluk yang mempesona ini?
"Suah puas, liatin gue?" tanya Patra yang tanpa sadar sudah menatap Zeline. Sementara Zeline? Dia malah menatap Patra sambil bertopang dagu. Wait... bertopang dagu??? Sejak kapan dia bertopang dagu begini???
Zeline berdeham sejenak seraya melepas posisi topang dagu melongonya, "Welll.. gue masih kagum aja sih... lo bisa kuliah sambil punya bisnis... ." kilah Zeline. "Apalahi, Kafe lo rame gini. Sukses gini."
Patra tersenyum simpul, "Lo juga bisa kayak gini asal punya om yang kaya. Bisnis gue ini.. 75% modal om gue. 25% tabungan gue. Jadi... asal om lo kaya, semua tercapai. Lebih bagus... bokap lo juga kaya. 100% sukses tanpa modal."
Zeline tertawa mendengar ucapan Patra, "Bener juga. Itu kata- kata motivator paling bener... ."
Melihat tawa Zeline, membuat Patra ikut tertawa juga. Ah, ini juga pertama kali Patra bisa tertawa lepas. Rasanya, dia memang merindukan kata 'bebas'. Patra mengelus kembali cincin perak yang masih melingkar di tangannya. Dia belum melepas cincin itu. Masih ada perasaan cemas. Patra terdiam, mengingat jika sejak semalam dia belum dapat kabar terbaru lagi dari Sasya. Terakhir, Tante Sana masih mengabari jika Sasya baik-baik saja. Masih mau sarapan dan melakukan aktivitas biasa. Tapi, rasanya Patra belum tenang. Terlebih, nomernya ternyata telah diblokir oleh Sasya.
"Jadi... gimana videonya? Udah bagus, belum?" tanya Zeline membuyarkan lamunan Patra.
Patra mengangguk sekilas. "Cukup. Besok biar gue edit sedikit-sedikit terus gue kumpulin ke profesor Samuel."
Zeline mengangguk puas. "Bagus deh. Soalnya gue juga mau ada praktek sebulan di RS. Bakal susah dapat waktu luang lagi. Gue serahin sisanya sama elo. Gue pasrah banget ama lo." ujar Zeline yang lagi-lagi membuat Patra tersenyum tipis. Senyum tipis yang cukup membuat dada Zeline ketir-ketir.
"Oh... baguslah. Jadi emang lebih cepat lebih baik juga buat kita nyelesaiin tugas. Jadi, lo santai aja."
Ada semburat kecewa dalam helaan napas Zeline. Benar juga, setelah ini akan semakin sulit ikut kelas profesor Samuel. Artinya, kesempatannya untuk melihat Patra juga sudah sulit. Sial. Kenapa baru sekarang dia sadar ada sosok Patra di kelas profesor Samuel?
Patra mulai membereskan kameranya saat suara ponselnya membuat fokusnya teralih.
Patra menatap layar ponselnya dan buru-buru mengangkat panggilan itu dengan wajah cemas sekaligus lega. Panggilan dari Tante Sana.
"Halo, Tante... ."
"Patra... kamu dimana?"
"Lagi ngerjain tugas ama temen di Kafe. Kenapa Tante?"
"Sasya... ."
__ADS_1
"Sasya kenapa?"
"Sasya kembali drop! dia.. berulah lagi!"
Sial! Patra terdiam seketika. Tanpa basa-basi, ia segera merapikan seluruh barangnya secara serampangan lalu pergi begitu saja meninggalakan Zeline yang menatapnya bingung. Zeline hendak memanggil Patra namun terhenti di depan Kafe karena motor Patra sudah melaju kencang meninggalkan Kafe, meninggalkan Zeline. Sendiri. Zeline mengeluarkan ponselnya dan mengetik WA pada Patra.
To: Daun Pedang
Ada apa? Kenapa buru-buru? Kabarin jika memang ada hal buruk. Hati-hati di jalan.
Zeline menghela napas panjang dan menyimpan kembali ponselnya. Ada sedikit kekecewaan karena Patra sudah pergi begitu saja. Tanpa pamit.
"Apa ada hal buruk yang terjadi? Tapi, apa?"
Ah, Tidak masuk akal bagi Zeline untuk sepenasaran itu dengan urusan pribadi Patra. Zeline menatap langit petang yang gelap mulai menggelayut. Dia tidak berhak apapun terhadap Patra. Terlebih, dia sudah bertunangan. Dan Zeline... akan masuk ke jam praktek. Semakin sulit saja untuk bertemu Patra.
Ah, sekali lagi... ini seperti dipermainkan takdir.
-oOo-
"Dibales gimana... dia baca WA gue aja, enggak." Zeline menghela napas panjang, "Mungkin... itu telepon dari tunangannya. Dia sampe pergi begitu saja. Hmmm... kayaknya dia cinta banget sama tunangannya. Ah, pasti tunangannya cakep. Pasti mereka adalah pasangan yang sempurna."
Sakit. Ada perasaan sakit yang menjalar. Padahal, dia baru kenal sama Patra. Tapi, perasaannya sudah begitu berbeda pada Patra. Apa ini sungguh cinta pada pandangan pertamanya? Pada Patra?
"Zeline!"
Zeline mendongak dan menemukan Reksa sudah berada di atas motor yang terparkir depan rumahnya. Reksa terlihat lega melihat kedatangan Zeline.
"Reksa? lo kok bisa di sini?"
"Kenapa WA gue gak lo bales?"
Zeline mendesah. Dia memang melihat WA dari Reksa. Tapi, dia terlalu fokus pada rasa penasaran terhadap kabar Patra. Jadi, dia mengabaikan pesan Reksa. "Sori. Baterai gue udah tinggal dikiittt." kilah Zeline sedikit bohong. Oke, banyak bohongnya.
Reksa turun dari motornya dan menghampiri Zeline dengan lega. "Gie kira lo kenapa-kenapa."
__ADS_1
"Gue udah gedhe, kali. Lagian, udah biasa khan gue lama bales WA lo. Kom tumben lo sampe nungguin gue."
"Kali ini beda."
"Dih... beda kenapa?"
"Karena lo lagi keluar ama si Patra. Gue gak bisa tenang lo ama si Patra itu."
Zeline mengernyit bingung. "Dih.. emangnya kenapa kalo gue keluar ama si Patra? Lagian, ini demi tugas, Reksa... lebay, deh... ."
Reksa terdiam. Dia tertunduk dalam diamnya. Dia cemas karena Zeline sudah mengatakan soal perasaannya pada Patra. Jelas, ini membuatnya cemas. Dia tidak bisa dan tidak mau Zeline kian menyukai Patra. Dia harus menghentikannya sebelum semakin jauh. Dia melakukan sesuatu.
"Gue suka ama lo, Zeline... ." lirih Reksa.
Zeline mengerjap sejenak, "Gue juga suka ama lo."
Reksa mendongak terkejut, "Ha?"
"Lo khan bestie, gue! Ya gue sukalah... mana mau gue jadi bestie ama orang yang gak gue suka."
Reksa mendengus, "Perasaan gue lebih dari itu, Zeline... ."
"Maksudnya?"
"Perasaan gue lebih dari sekedar suka. Gue... jatuh cinta ama lo. Gue cinta sama lo, Zeline Zakeisha."
Deg. Reksa tidak menyangka sudah mengucapkan kalimat itu. Reksa tidak menyangka dia sungguh mengucapkan kejujuran perasaannya pada Zeline. Cemas, namun juga lega. Kini, dia hanya harus siap menghadapi resiko setelah mengucapkan semua ini. Tapi, ini lebih baik daripada mengalah sebelum berjuang.
Reksa perlahan menggenggam tangan Zeline, "Gue cinta ama lo. Sejak awal, hanya elo di hati gue." Reksa sudah yakin untuk jujur pada perasaannya. Dia takut akan kehilangan Zeline jika tidak jujur sekarang. Dia memang harusnya mulai memperjuangkan perasaannya alih-alih mengalah pada orang yang baru hadir di antara mereka. Patra. Dia belum bisa megalah begitu saja.
Zeline menelan ludah penuh keterkejutan. Tangan hangat Reksa yang menggenggam tangannya kian membuat perasaannya amburadul. Dia tidak menyangka akan mendengar pengakuan selugas ini dari seorang Reksa. Dia baru saja mengakui perasaan tertariknya pada Patra, justru mendapat pengakuan cinta dari Reksa. Cinta? Ah, ini suatu perasaan berlebihan dari Reksa untuknya. Ini... terlalu mendadak. Dan, seperti tidak nyata.
Sungguh... apa lagi rencana dari takdir?
TBC
__ADS_1