METANOIA

METANOIA
Manis Dan Pahit


__ADS_3

Zeline tidak pernah merasa spesial. Dalam siklus hidupnya yang sederhana, Zeline tidak pernah berharap terhadap sesuatu yang spesial atau istimewa. Namun, sekua berubah begitu ia mengenal sosok bernama tajam setajam daun pedang. Asipatra. Patra.


Sosok yang sejak awal sudah membuatnya tertarik. Jujur saja, Zeline sudah terperangkap dalam pesona Patra sejak awal. No. No. Patra tidak begitu istimewa. Dia biasa. Hanya seperti pemuda dominan biasa. Tapi, di mata Zeline, pesona Patra sudah membiusnya. Membuatnya sanggup mengambil keputusan jodoh untuk jadi yang kedua. Kedua!


Zeline bersumpah bisa menebak sumpah serampah Reksa di balik tatapan tajamnya itu. Tapi, Zeline tidak peduli. Jujur saja, Zeline tidak pernah mengira ia akan jadi orang ketiga. Jadi pelakor! Dia sudah mengumpat banyak pelakor di sosmed. Nyatanya, dia sendiri juga sama. Dia tahu, kenapa para pelakor bisa begitu bodohnya mau dijadikan yang kedua. Yah, karena memang sihir atas nama pesona dan cinta, tidak bisa di hindari. Seperti saat Zeline dengan gamlang mengucapkan..


"Ya, gue mau jadi cewek lo yang kedua. Atau keberapapun."


Ugh! Zeline seperti menonjok mukanya sendiri. Tapi, ada perasaan begitu lega. Even, Patra tidak mengucapkan kalimat cinta atau apapun. Dia hanya mengucapkan 'Hanya tiga bulan. Dan aku akan menjadikanmu satu-satunya.' Itu sudah menggambarkan banyak hal! Kalimat itu cukup membuat kupu-kupu di perut Zeline beterbangan begitu cantik. Semburat hingga membutakan kesadarannya.


Zeline hanya membayangkan dia berada dalam hubungan biasa yang entah dengan siapa, dengan Reksa, mungkin. Jatuh cinta dan berpacaran. Jika jodoh, akan menikah dan membangun rumah tangga cemara yang sederhana. Ternyata dia terseret dalam pusara hubungan yang rumit. Tapi, Zeline menikmatinya. Sangat.


Seperti saat ini, saat ia berada di atas motor Patra, merangkul pemuda itu dengan perasaan berbunga. Menikmati debar jantung ya bertalu bersama debar jantung Patra. Suara debar jantung Patra begitu indah, membuatnya hanyut dan semakin erat memeluk pemuda itu yang juga sibuk mengatur diri untuk fokus pada jalanan, melajukan motornya yang mengabaikan mendung di langit sana. Perasaan Patra pun, sama.


Mereka menikmati momen saat kupu-kupu dalam perut mereka yang kian lama terkurung, mulai berhamburan.


-oOo-


Reksa terduduk di bangku RS dengan wajah tertunduk. Ia mencengkeram erat tangannya yang kian terkepal. Dia masih bisa merasakan dadanya memanas saat mendengar pernyataan konyol dari Patra dan Zeline. Mereka sudah gila! Sudah sinting!


Terlebih, Zeline! Reksa tidak pernah tahu jika Zeline akan sebodoh itu. Reksa menelan pahit ludahnya, sepahit kenyataan. Dia selangkah lebih dulu kehilangan Zeline.


Kenapa harus Patra? Apa yang lebih baik dari Patra? Reksa yang lebih dahulu menyukai Zeline!


"Pasti begitu kesal. Kalah sebelum perang dimulai."


Reksa menoleh ke arah seorang gadis yang sudah duduk di sebelah Reksa. Gadis itu terlihat kurus dan sedikit pucat. Reksa mengernyit bingung.


"Nama gue... Sasya. Tunangannya Patra." ujar gadis itu dengan seulas senyum rapuh.


Reksa menelan ludah dengan sorot mata terkejut.

__ADS_1


"Biasa aja. Gue tahu kok, kisah kita berempat. Gue. Elo. Zeline. Dan Patra. Tapi, gue bisa memperjelas kalau kita berdua ada di kubu yang sama." ucap Sasya dengan tenang, meski Reksa bisa mendengar sedikit nada yang syarat kesedihan dari gadis itu. Ternyata, seperti inilah tunangan Patra yang seperti... mayat hidup.


-oOo-


"Kenapa tiga bulan?" tanya Zeline.


Patra terdiam menatap lurus ke depan. Tangan Patra masih memggenggam tangan Zeline dengan lembut. Zeline bisa dengan detail merasakan urat nadi kekar dari tangan kasar nan hangat Patra. Zeline tersenyum kecil menatap tangan kecilnya yang begitu lucu dalam genggaman tangan Patra. Dia merasa ingin berada di komen sederhana ini selama mungkin. Dan semoga, ini bukan momen sesaat.


"Ini perjanjian gue dengan keluarga Sasya." tutur Patra.


"Perjanjian?" tanya Zeline.


Patra mengulas sebuah senyum sambil kian erat menggenggam tangan Zeline. Mendapat senyum yang sangat jarang dari Patra, membuat Zeline kembali terjerumus dalam kesesatan pikiran. Dia dengan sangat yakin, pelakor, bukan sosok yang buruk!


"Pelan-pelan, Zel. Kita banyak waktu untuk saling mengenal." ujar Patra.


Zeline menelan ludah susah payah saat mendengar namanya disebut Patra dengan nada lembut, bukan nada yang dingin. Zeline tidak bisa menahan senyum bahagianya.


"Iya. Kita punya banyaaaaak waktu."


-oOo-


Zeline mempercepat langkah kakinya, mensejajarkan dirinya dengan Reksa yang berjalan cepat tanpa kata, tanpa sapa. Zeline sedang libur dari magang hari ini dan memutuskan untuk menemui Reksa. Selain perasaan egois karena bahagia menjadi kedua bagi Patra, Zeline merasa tidak nyaman dengan Reksa.


Mereka tidak sempat berdebat banyak kemarin karena Patra sudah menariknya pergi meninggalkan RS setelah mengucapkan kalimat 'tembakan'. Zeline hanya tahu, Reksa memekik dengan nada frustasi. Reksa pasti begitu kecewa. Benar saja, Reksa totalitas mengabaikannya. Tidak menggubrisnya sejak pertemuan mereka lima belas menit yang lalu. Zeline sedikit terengah mengikuti langkah Reksa.


"Plis, Rek... lo dengerin gue." pinta Zeline. "Gue tahu lo kecewa berat. Gue tahu... lo pasti jijik sama gue. Tapi, gue gak mau kehilangan persahabatan kita. Gue tahu--."


Zeline menghentikan kalimatnya saat Reksa berhenti tepat di sudut taman belakang kampus yang jauh dari keramaian. Jadi, Reksa memang menuntunnya untuk jauh dari keramaian.


"Gue udah kehilangan lo sejak lama." ujar Reksa.

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Sejak lo tertarik dengan cowok yang udah bertunangan itu--."


"Patra. Namanya Patra." sela Zeline.


"Gue sengaja nyebut begitu. Biar lo sadar. Cowok itu udah punya tunangan. Biar lo sadar dari jiwa gila elo!"


Zeline mendengus sekilas, "Denger ya Rek... gue jatuh cinta sama Patra. Dan, gue rasa... gue gak butuh larangan dari elo."


"Hah! Terus lo ngapain ngikutin gue sampai bilang maaf berkali-kali?"


"Karena lo sahabat gue. Dan karna gue mau minta maaf kalau gue nolak perasaan lo. Jujur saja, daripada gak terima soal gue jadi orang kedua, lo lebih gak terima karena gue nolak lo dengan alasan yang menjijikkan ini, khan?"


"Lo tahu itu menjijikkan!"


"Tapi, gue bahagia. Gue jatuh cinta. Dan, itu begitu membahagiakan."


"Lo udah gila, Zel!"


Zeline menarik napas panjang. Dia cukup sadar dan mengakuinya. Zeline sudah gila. Dia sudah gila sejak memutuskan untuk jatuh cinta pada Patra. Dia tidak tahu kenapa dia bisa terjerat dalam magnet pesona Patra. Dan... dia menikmatinya!


"Sekali lagi... gue bukan berniat nyari restu elo. Juga. gue gak lagi mengemis pengertian dari elo. Gue cuma mau minta maaf karena bikin lo kecewa. Dan, gue gak menyesal. Sama sekali tidak."


"Dan semoga tidak menyesal untuk selamanya." tegas Reksa yang terkesan penuh sendirian.


Zeline menggeleng mantap, "Tidak ada yang harus gue sesali."


"It's over. About us." ujar Reksa kecewa. Tanpa sadar, tangannya terkepal kuat menahan kemarahan dan kekecewaan.


"I know."

__ADS_1


-oOo-


TBC


__ADS_2