METANOIA

METANOIA
First Kiss


__ADS_3

"Beri tante waktu.. 3 bulan, Patra."


Tante Sana menatap Patra yang terduduk di sofa putih tulang. Bersama keduanya, seorang wanita baya berusia sekitar hampir 50 tahunan, memakai jas dokter tengah duduk di kursi, di balik meja dengan papan nama dr Alya Gunawan, Direktur. Wanita baya itu nampak menatap Patra dengan tatapan tajam. Diam namun cukup menusuk. Jelas dominasi menguar dari sorot mata tuanya yang masih terlihat kuat. Alya Gunawan, direktur RS sekaligus nenek dari Sasya. Sorot tajam ditambah aroma khas obat-obatan herbal, menguar di penjuru riang kantor Alya Gunawan. Meski bergelar direktur dan dokter bedah yang ternama, namun Alya lebih suka metode obat herbal untuk dirinya. Itulah kenapa dia lebih banyak mengkonsumsi minuman herbal serta memakai aroma terapi herbal untuk ruangannya. Seperti sekarang, bargamot berbaur dengan mint, cukup membuat napas serasa segar saat memasuki ruang kantor Alya Gunawan.


"Saat ini, kakak Tante yang ada di Singapura tengah merenovasi apartemen pribadi keluarga. setelah selesai, Tante berencana membawa Sasya di sana untuk berobat. Maka, saat itu perjanjian ini akan berakhir. Tante janji." ujar Tante Sana.


Patra hanya tertunduk dalam diam. Dia tidak menyangka jika keinginannya untuk bebas, berujung pada tindakan Sasya yang kembali ingin bunuh diri. Ditambah, Alya Gunawan ikut turun tangan. Sejujurnya, dari dulu Patra tidak punya cukup keberanian melawan Alya Gunawan. Mereka jarang bertemu, tapi setiap pertemuannya pasti saat Sasya dalam keadaan drop. Dan, itu jelas membuat sudut pandang yang cukup buruk dari Alya terhadap Patra.


"Hanya itu yang bisa tante minta tolong sama kamu. Nenek Sasya juga menyetujui ide ini." Tante Sana menoleh pada Alya.


"Sejak awal, saya juga tidak terlalu setuju dengan metode pertunangan ini. Tapi, saya berusaha positif thinking. Dan hasilnya... tetap mengecewakan. Jadi, saya tetap berterimakasih karena kamu punya niat membantu keluarga kami. Untuk terakhir kalinya, kami memohon bantuan kamu. Tiga bulan. Dan setelah itu, silahkan lakukan yang kamu mau." jelas Alya Gunawan.


-oOo-


Setelah menjalani perbincangan ketat yang menyesakkan, Patra hanya bisa terdiam, terdampar di sudut kafetaria RS. Menikmati segelas kopi dan sepotong roti sandwich menemani lamunannya. Tiga bulan. Memang waktu yang singkat. Tapi, Patra tetap cemas. Nyatanya, meski memang ia tidak punya kewajiban terhadap Sasya, dia tetap ingin membantu Sasya. Keluarga Sasya juga adalah orang terdekat almarhum orang tuanya terdahulu.


Tapi, sungguh... Patra cukup lelah. Awalnya, dia pun berpikir sama seperti banyak orang. Cinta bisa tumbuh karena terbiasa. Namun, kasus ini tidak berlaku baginya dan Sasya. Semakin Patra berusaha mencintai Sasya, ia justru merasa semakin engap. Terlebih, setelah pertemuan mendadaknya dengan Zeline akhir-akhir ini.


"Musim hujan mulai datang," Patra menatap air hujan yang mulai turun menyergap, membasahi tanah.


Zeline, nampak begitu semakin kuat auranya dalam balutan jas putih. Meski begitu, dalam posisi rambut terkuncir dan menenteng tasnya, menanti hujan seperti sekarang saja sudah cukup membuat dada Patra bergejolak. Tunggu... apa?


Patra baru sadar, jika dia sedari tadi sudah menatap Zeline. Benar juga. Zeline sedang duduk di lobby tunggu. Dia nampak sedang duduk menunggu dengan cukup gelisah. Melihat Zeline, membuat dadanya semakin berdentum. Tinggal tiga bulan. Jadi, boleh kah ia menyanding gadis itu?


Tanpa sadar, tubuh Patra tergerak. Ia membeli secangkir kopi panas yang baru dan membawanya menuju tempat Zeline duduk. Dengan nalurinya, ia menyodorkan cangkir kopi panas itu ke arah Zeline. Zeline mendongak, rambut kuncir kudanya bergoyang seiring pergerakannya. Tak lama, kedua mata coklatnya yang lebar, membulat terpana menatap Patra.


"Patra... ." lirihnya dengan suara khas yang nyatanya, membuncahkan kerinduan Patra padanya.


"Lo sibuk?" tanya Patra.


"Ini mau pulang, sih... ."


"Gue antar sekalian mampir ke kafe?" tawar Patra.


"Hujan."


"Gue bawa jas hujan lebih."

__ADS_1


Zeline mengangguk mantap. Tanpa basa-basi. "Oke."


-oOo-


Suasana Kafe Book milik Payra, masih sama seperti yang dulu. Masih begitu tenang dan cukup ramai. Kafe book ini memang cukup terkenal di kalangan anak muda. Zeline pernah membaca review di media sosial, Kafe Book ini adalah tongkrongan nomor tiga yang ramai dan banyak diminati.


"Maaf gue cukup mengabaikan elo akhir-akhir ini."


Zeline mengecek ponselnya. WA kepada Patra belum berubah. "Well... lumayan mengabaikan, sih... sampe elo nge blokir gue."


Patra mengernyit. "Hah?"


Patra mengecek ponselnya dan mengotak-atiknya sejenak sebelum kemudian tercenung. Kontak Zeline memang masuk dalam daftar blokiran. Tapi, Patra tidak pernah memblokir nomor Zeline. Justru, Patra pikir, Zeline yang memulai untuk menjauh. Jadi, Patra kesal dan ikut menjauh. Patra terdiam lama dan mengingat saat di RS, Sasya pernah mengutak-atik ponselnya. Apa mungkin... Sasya?


"Tunangan lo... udah sehat?"


Patra menatap Zeline lalu mengangguk sekilas, "Better." Ah, kening Patra serasa berdenyut nyeri. Pening. Dia masih kepikiran dengan siapa yang memblokir nomor Zeline di ponselnya. Yah, sudah jelas dan pasti. Sasya. Artinya, Sasya tahu tentang Zeline.


Zeline menatap Patra dengan ekspresi bingung, "Are you oke?" tanya Zeline.


Patra mendesah kecil, "Agak kurang fit."


Patra menatap Zeline dalam diam. Kalimat yang sudah ia tata di otaknya, harus menguap seketika hanya gara-gara perkara 'blokir kontak'. Jujur saja, Patra jadi cemas sendiri.


"Kayaknya gak sekarang... gue anter pulang dulu, ya?" tawar Patra.


Zeline mengernyit. Dia yang tadinya cukup antusias mendadak jadi kecewa mendapati respon Patra barusan. Gadis itu menghabiskan minuman yang bahkan belum lima menit tersaji. Beruntung dia tidak pesan makanan. Bisa mati tersedak dia buru-buru menghabiskannya. Di akhir tegukannya, ia meletakkan gelas dengan kesal lalu mengangguk, mengiyakan usulan Patra untuk 'pulang'.


-oOo-


Sepanjang perjalanan, mereka terdiam. Bukan lagi hujan yang membuat mereka terdiam, tapi pikiran kalut masing-masing. Zeline mendekap tasnya alih-alih mendekap tubuh Patra. Dia memilih menahan diri saat laju motor Patra naik turun, membuat tubuhnya beberapa kali nyaris menubruk punggung Patra. Tahan. Dia menahan diri. Dia seperti harus bertekad menahan kesucian dari yang bukan 'mahrom'. Sigh!


Perjalanan setengah jam menuju rumahnya, cukup membuat tubuh Zeline seperti dihantam truk! Kaku! Sakit!


"Makasih." ujar Zeline sambil masih mendekap tasnya begitu turun dari motor Patra.


"Sori soal blokir nomernya."

__ADS_1


Zeline mengulas senyum kecil, "No problem."


"Gue cabut. Dan... selamat istirahat." ujar Patra yang disambut anggukan kecil Zeline.


Dan, motor Patra pun melaju cepat menembus gelap malam, meninggalkan Zeline yang terpaku di posisinya. Perlahan, tangannya terjatuh dari pelukan tas sambil mendesah panjang. Sore menjelang petang yang singkat meski seperti begitu panjang. Lebih tepatnya, petang yang sia-sia. Dia pikir, dia akan membuat kemajuan apapun dengan Patra. Nyatanya, hanya sempat membahas soal blokir nomor. Hah!


Wait... emang apa yang dia harapkan???


"Zeline!"


"Aaakk!!!"


Zeline berjengit terkejut saat sebuah suara mengejutkannya tiba-tiba. Zeline melotot ke arah Reksa yang tiba-tiba sudah muncul dari belakangnya. Wajahnya nampak pias menunjukkan kekesalan.


"Eh, guguk! Bikin kaget!" omel Zeline.


"Lo masih berhubungan sama dia?"


"Kebetulan aja ketemu di RS."


Reksa mengernyit, "Kayak berasa takdir banget ketemu random di RS."


"Maksud lo apaan, sih? Tunangan dia sakit. Dirawat di RS tempat gue magang. Kebetulan, nenek tunangannya, direktur di RS."


"Takdir yang luar biasa," cercah Reksa. "Bahkan, dia sudah bertunangan pun, masih aja takdir kalian begitu ngalir."


"Nggak usah mulai deh, lo... ." omel Zeline. "Kita baru baikan, nih!"


"Maka kita akan bertengkar hebat lagi." ujar Reksa tegas.


"Maksud lo--."


Belum sempat Zeline melanjutkan kalimatnya, Reksa membungkamnya dengan sebuah ciuman kasar di bibirnya. Reksa ******* habis bibir Zeline yang belum sempat berkelit. Belum sempat menghindar. Bahkan, belum sempat menolak!


"Hmmmmpphh!"


Zeline nyaris kehabisan napas menghadapi ciuman beringas Reksa. Dia hanya tahu, tangan kekar Reksa mencengkeram kuat tengkuknya, membuat dia semakin sulit berkelit dari terkaman Reksa. Reksa semakin kuat dan intens ******* bibir Zeline, mengabaikan erangan Zeline. Reksa siap menghadapi kemungkinan terburuk sari persahabatannya dengan Zeline. Dia tidak perduli. Dia hanya ingin berjuang!

__ADS_1


-oOo-


TBC


__ADS_2