
Kosong.
Ruang perawatan Sasya, tunangan Patra sudah kosong. Hasil laboratoriumnya bagus dan dia diperbolehkan pulang. Dan, kenyataan ini membuat Zeline merasa cukup puas. Karena hari ini dia bertugas di ruang perawatan inap, Shapirre. Ruang perawatan pasien kelas 1 dan VIP RS ini.
Zeline menarik napas lega namun juga sedikit gusar. Ia menatap kembali layar ponselnya. Pesan terhadap nama Daun Pedang sungguh sepi. Pesan terakhirnya tidak dibalas dan bahkan tidak dibaca juga! Sialan! Zeline mengumpat kesal. Sebegitu hebatnya, kah memiliki tunangan? Dih! Di sisi lain, ada pesan dari Reksa yang mengatakan tidak bisa menjemputnya pulang praktek. Dia masih harus menyelesaikan tugas khusus dari pak Reyhan.
Kenikmatan anak jenius mana lagi yang Reksa dustakan? Dia bahkan harusnya ikut praktek magang, namun dapat diskon khusus. Dia juga sering melewatkan beberapa materi tertentu karena pak Reyhan menyibukkannya dengan penelitian laboratoriumnya. Anehnya, Reksa tetap jadi mahasiswa kedokteran dengan nilai yang fantastis. Ujian materinya nyaris sempurna. Ujian praktek? Justru sangat bagus. Zeline ingat saat ia harus membelah boneka manusia untuk praktek bedah, Reksa bisa sempurna melakukan heacting (Menjahit kulit yang robek), Sementara Zeline, bisa mengikat benang tanpa semarawut saja, sudah bersyukur. Sudahlah, pada intinya Reksa yang seolah sibuk dengan pak Reyhan dan Helena, dia masih menunjukkan kepandaiannya dalam pelajaran apapun. Materi maupun praktek. Dia memang sudah jenius sih sejak SMP.
Dan anehnya, kenapa Zeline dulu ikutan ambil jurusan kedokteran seperti Reksa? Zeline terdiam sejenak. Ah, dia ingat... dia pernah menyimpan perasaan khusus pada Reksa! Sial! Zeline hampir lupa kalau dia duluan yang pernah naksir Reksa. Sampai-sampai dia mengikuti jejak Reksa untuk kuliah di kedokteran.
"Tsk. Untung Reksa gak tau kalau gue pernah naksir dia. Bisa ge-er dia. Dan gue? Bisa maluu." lirih Zeline seraya memukul kecil kepalanya dengan bolpoin.
Zeline terdiam lagi. Dia berhenti menyukai Reksa sejak ia terpilih sebagai asisten dosen pak Reyhan. Dia sibuk dan begitu dekat dengan Helena. Sempat cemburu dan membuatnya bertekad untuk berhenti menyukai Reksa. Eh, malah terjebak dengan perasaan rumit terhadap si daun pedang.
Zeline mengalihkan perhatiannya, menyimpan kembali ponsel ke dalam saku jas saat para perawat sudah kembali setelah tindakan.
"Eh, pagi dokter... ." sapa seorang perawat bernama Naina.
Zeline tersenyum, "Pagi... hari ini saya praktek di sini. Menggantikan dokter Jena untuk visite ke pasien."
"Oh... baik dokter. Mau langsung visite?" tanya Naina.
"Masih baca status dulu. Mau mempelajari data pasien dulu. Mbaknya boleh lanjut kegiatannya dulu, saja." ujar Zeline sambil membuka dan membaca satu status pasien bernama Mahardika.
"Siap, dok."
__ADS_1
Para suster tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing sementara Zeline masih membaca-baca status pasien Mahardika dengan diagnosa CKD atau gagal ginjal akut. Zeline tenggelam dalam fokusnya membaca status pasien tersebut saat suster Naina menyeletukkan sebuah kalimat yang cukup membuat Zeline tertegun.
"Pasien nona Sasya yang kemarin, cantik ya? Mana tunangannya ganteng." ujar Naina.
"Cantik... tapi dengan diagnosa Tentamen Suicide, bikin agak ngeri... ." sahut suster Lina.
"Eh iya... kenapa dokter Jena mengganti diagnosa untuk Sasya dari Tentamen Suicide ke diagnosa anemia, sih?" tanya suster Naina.
"Kamu masih baru di sini. Nona Sasya itu udah jadi pasien lama di sini. Neneknya, adalah salah satu pemegang saham terbesar di RS ini. Jadi, bisa dibilang nona Sasya adalah pasien khusus. Dia sudah lama menderita Anxiety sekaligus PTSD." ujar suster Lina.
"Aku inget, duku waktu masih baru di sini... sekitar tiga tahun yang lalu, nona Sasya juga sedang perawatan. Dia hampir bunuh diri dengan menyayat tangannya." sahut suster lainnya, suster Kia.
"Tunggu... pantesan pergelangan tangannya dikasih kain sutra yang diikat kayak lagi pake gelang." sahut suster Naina.
"Untuk menutupi banyaknya luka sayatan di sana." ujar suster Lina.
Zeline yang sedari tadi ikut menguping per gibah-an tiga suster tadi, mendadak tidak bisa fokus dengan status pasiennya. Dia mungkin menunduk menatap status pasien, namun dua indera pendengarannya, fokus pada tiga suster tersebut. Zeline pun ingat tentang bagaimana Patra bisa tahu tentang Tentamen Suicide yang jadi bahan tugas mereka. Itu karena tunangannya menderita penyakit mental yang sama. Apa itu juga yang membuat Patra begitu keras dan dingin?
"Awalnya... Ayah nona Sasya itu selingkuh. Ini membuatnya bertengkar hebat dengan nona Sasya saat menyetir mobil. Yang akhirnya, menyebabkan kecelakaan dan ayah nona Sasya ini meninggal. Nona Sasya sampe koma selama tiga bulan sebelum kemudian sadar dengan keadaan histeris. Sejak saat itu, dia mulai trauma dan mendadak sering ingin bunuh diri." terang suster Lina.
"Dan, mas Patra ini sahabat dari kecilnya nona Sasya, adalah orang yang dicintai nona Sasya. Semenjak sadar, dipikiran nona Sasya, mas Patra ini tunangannya. Dia menjadi posesif hebat. Dan entah bagaimana ceritanya, pokoknya mereka beneran tunangan." lanjut suster Lina.
"Dan, sebenarnya udah lama sejak nona Sasya dirawat karena percobaan bunuh dirinya. Nona Sasya udah mulai membaik sejak tunangan. Tapi, kenapa dia balik lagi pingin bunuh diri, ya?" tanya suster Kia.
"Kayaknya lagi bertengkar deh ama mas Patra." sahut suster Lina.
__ADS_1
"Wajar sih... nona Sasya itu posesif banget." ujar suster Lina.
"Tapi, kebanyakan pasien dengan penyakit kejiwaan, pasti punya sisi posesif terhadap orang yang disayang." ujar suster Naina.
"Aku yakin, mas Patra sebenarnya udah capek jadi tunangannya nona Sasya. Mungkin, itu yang membuat nona Sasya jadi kumat lagi." telaah suster Lina.
"Kisah drama yang mirip sinetron aja gak, sih? Lagian, sebenarnya mas Patra bisa aja nolak ide tunangan ini. Tapi, dia masih mau menerima tunangan ini lho. Baik banget sih pastinya mas Patra" ujar suster Naina.
"Hmm... ya sudahlah. Itu urusan mereka. Kita tidak pernah tahu perjalanan kisah mereka sampai akhirnya memutuskan untuk bertunangan. Kita tidak tahu seberapa berat perjuangan mental mereka sampe di titik ini. Kita cuma tahu dari luarnya, tidak berhak men 'judge' kisah mereka. Mungkin saja, mas Patra sebegitu cintanyadengan nona Sasya. " celetuk suster Kia.
"Ughh... udah ganteng, baik, bertanggung jawab. Mana so sweetttttt lagi... ." ujar suster Naina.
Tanpa sadar, tangan Zeline bergetar mendengar keseluruhan cerita yang sedang jadi bahan gosipnpara suster jaga di ruangan perawat ini. Dia yang baru mengenal Patra, dihadiahi kenyataan yang luar biasa. Rahasia yang mungkin tidak akan pernah tahu jika tidak dari gosip seperti ini.
Zeline memghela napas panjang. Dia akhirnya tahu, kenapa Patra bisa sepaham itu tentang Tentamen Suicide. Dia akhirnya tahu, kenapa Patra bisa sedingin itu. Dia sedang melindungi dirinya sendiri dan melindungi mental tunangannya. Zeline mencengkeram erat bolpoint di tangannya. Entah dia sedang menjalani takdir seperti apa hingga terjebak dengan perasaannya terhadap sosok baru bernama Patra itu.
-oOo-
Hujan turun cukup lebat, membuat Zeline hanya bisa terduduk di ruang tunggu lobby RS. Dia mendesah panjang. Uangnya sedang pas-pasan jadi tidak mungkin memesan taksi. Uang kiriman mamanya udah habis untuk foya-foya di awal bulan kemarin. Zeline hanya bisa mendesah kesal, membodohi kelakuan borosnya. Dia jadi kesulitan saat genting begini. Jadi, Zeline hanya bisa menopang dagu pasrah sembari menatap hujan deras di luar sana.
Tak lama, segelas kopi panas dengan asap mengepul di dorong ke arahnya. Zeline menatap kopi panas itu dan mendongak. Dia terpana.
"Patra... ." lirihnya menatap sosok Patra sudah duduk di depannya, menyodorkan segelas kopi panas ke arahnya.
-oOo-
__ADS_1
TBC