
Sebuah bangunan dua lantai dengan warna putih tulang yang menjadi peran utama dalam pewarnaannya, nampak berada di depan tatapan Patra. Patra terhenti sejenak setelah turun dari motornya. Ia menghela napas panjang menatap bangunan di depannya. Rumah yang cukup membuatnya sedikit jengah, sebenarnya. Tapi, dia tidak bisa jujur dengan perasaannya. Tidak bisa menghindarinya. Patra menyentuh cincin yang berada di jarinya. Cincin perak yang sudah mengikat perasaan alih-alih jarinya. Rasa sesak yang sejujurnya sudah membuatnya muak.
"Eh, mas Patra. Sudah datang kok gak langsung masuk?" tanya seorang wanita tengah baya yang muncul mengagetkan lamunan Patra.
Patra tersenyum tipis, "Sore mbak Darmi. Saya baru sampe. Ini mau masuk masih lepas jaket, dulu." sanggah Patra sambil melepas jaketnya.
"Non Sasya sudah nungguin di atas. Ada ibuk, juga."
Patra mengangguk paham, "Oh, Tante Sana sudah pulang dari kantor?"
"Iya... katanya mau prepare, lusa mau ke Singapura. Perjalanan bisnis."
"Oh... oke. Mari mbak Darmi. Saya masuk dulu."
"Iya, mas Patra. Eh, iya.. nanti mau minum apa? Sekalian abis ini saya buatin. Ini mau ke supermarket depan beli gula dulu."
"Teh hangat aja, mbak.. Lagi pingin yang anget-anget."
"Asiyaaapp."
Mbak Darmi nampak melangkah pergi meninggalkan Patra yang kembali berkutat dalam keheningan. Sekali lagi, ia menghela napas panjang sebelum kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah putih tulang itu, rumah Sasya. Tunangannya. Yah... begitulah mungkin.
-oOo-
"Beeeeebbb!" Sasya yang tengah memakai dress sederhana warna hijau nampak berlari kecil menyambut Patra dan langsung memeluknya.
"Sore, Sya... ." ujar Patra sambil menepuk kecil kepala Sasya. Tak lupa, ia memasang senyum. Palsu.
"Gimana kuliahnya?" tanya Sasya sambil menarik Patra untuk duduk di sofa kecil yang berada di taman belakang rumah Sasya.
"Begitulah... seperti biasa."
"Kamu gak digodain ceweeeek, khan?" tanya Sasya.
Zeline.
Entah tiba-tiba saja nama itu muncul dalam benak Patra seakan menjawab pertanyaan Sasya. Entah kenapa, Zeline benar-benar menarik perhatiannya yang sudah jengah dengan semua yang ia jalani selama ini. Tapi, jelas saja dia tidak mungkin mengungkapkannya pada Sasya.
Patra menggeleng sambil mencubit gemas hidung Sasya, "Gimana ada yang bisa lebih menggoda dari kucing manis, ini... ." ujar patra berbohong. Yah, begitu memasuki rumah putih tulang ini, dia akan jadi pembohong yang profesional.
"Ihhh... sakit, tau!" omel Sasya sembari mengusap hidungnya yang memerah.
Patra tersenyum tipis.
"Patra... kamu sudah, datang?" Seorang wanita dengan masih memakai baju kantoran terlihat muncul dari kamar mandi. Tante Sana.
"Sore, Tante... ." sapa Patra.
"Nanti sekalian makan malam di sini, ya?"
"Iya, Tante... oh, ya... katanya tante mau perjalanan bisnis, ya?"
__ADS_1
"Kalau gak ada halangan, besok malam berangkatnya."
"Oohh gitu."
"Titip Sasya, ya? cuma tiga hari aja."
"Yang lama juga gak apa kok, ma... ." celetuk Sasya kegirangan.
"Itu sih, maunya kamu."
Patra hanya tersenyum simpul menanggapi ujaran Sasya yang kini sudah menggenggam tangan Patra. Tangan mungil yang dingin. Dan kurus.
Tak lama, mbak Darmi datang sambil menenteng kresek putih. Dia segera bergegas sibuk di dapur.
"Mbak... nanti siapin makanan sekalian buat Patra, ya?" ujar Tante Sana.
"Beres, buk... ."
"Makasih, mbak... maaf merepotkan." ujar Patra.
"Tenang aja, mas Patra. Toh, nantinya mas Patra jadi tuan rumah juga di sini kalau udah nikah ama non Sasya."
"Ihh, mbak Darmi... jauh banget, mikirnyaaa... ." seloroh Sasya
Kedua wanita itu tertawa kecil sementara Patra hanya terdiam sambil menyunggingkan senyum palsu. Menikah? Dia dan Sasya? Patra menatap Sasya dalam diam. Perempuan yang sudah cukup lama ia kenal, yang kini memiliki hubungan 'tunangan' dengannya. Apakah Patra mencintainya? Patra menatap pergelangan tangan Sasya yang tertutup gelang kain sutra yangg cantik, seolah jadi aksesoris manis. Tapi, Patra tahu persis apa yang ada di balik gelang kain sutra yang menutup area pergelangan tangan gadis itu.
-oOo-
Patra menyesap tehnya sambil menatap langit malam yang terbentang di atas sana. Ia terdiam menikmati hangatnya teh yang melewati tenggorokannya. Rasa manis dan aroma teh kuat, terhirup oleh inderanya. Namun, semakin ia menyesap aroma kuat itu, semakin menyesakkan dada. Dia tidak tahu, sampai kapan ia harus begini. Dia sudah merasa ingin melepas kepalsuan ini. Ah... memang sudah tiga tahun. Harusnya, memang sudah waktunya.
"Eh, iya tante... ."
"Sasya mana?"
"Masih bersih-bersih diri."
Hening sejenak. Namun, pemikiran Patra masih mencuat. Pemikiran yang lelah dengan sandiwara ini. Terlebih, semakin begitu kuat setelah ia bertemu Zeline. Rasa tertarik Patra terhadap Zeline memperkuat rasa jengahnya terhadap sandiwara pertunangan ini. Yah... ini hanya sandiwara. Yang ia sepakati dengan Tante Sana.
"Tante... ini sudah hampir tiga tahun sejak Patra bertunangan dengan Sasya. Tante... tidak lupa, khan? Kesepakatan kita... hanya tiga tahun sebelum jujur pada Sasya?" tanya Patra.
Tante Sana terdiam sejenak. Cukup terkejut dengan ucapan Patra yang akhirnya muncul, "Sejujurnya... Kondisi Sasya sudah jauh lebih baik, Patra. Semua berkat kamu. Tante bersyukur kamu mau membantu Sasya untuk pulih."
"Tante... Sasya sudah jadi bagian dari hidup Patra sejak kecil. Patra tentu ingin membantu Sasya. Karena memang Patra dan Sasya sudah bersahabat sejak kecil. Tapi, tidak dengan kebohongan ini." Patra menghela napas, "Kebohongan yang akan semakin memperkeruh keadaan nantinya."
Tante Sana terdiam. Patra menghela napas panjang. Dia ingat betul, tiga tahun adalah memang masa perjanjiannya dengan Tante Sana soal pertunangannya dengan Sasya. Perjanjian pertunangan yang disepakati oleh Patra dan Tante Sana guna membantu penyembuhan Sasya. Sasya divonis mengalami gangguan pasca trauma. Kondisi Sasya begitu buruk di masalalu. Dan, menjadi tunangan Sasya adalah salah satu metode di luar obat-obatan medis untuk membantu memulihkannya. Sasya ternyata memiliki perasaan kuat pada Patra. Sehingga, dengan berada di sisi Sasya sebagai tunangan, bisa menstabilkan emosi Sasya. Namun, Perjanjian ini hanya disepakati tiga tahun.
"Apa kamu sungguh tidak menyukai Sasya, Patra? Bahkan setelah tiga tahun ini?" tanya Tante Sana, "Tante pikir, akan ada bentuk perasaan yang seimbang dengan pertunangan, setelah sandiwara ini berjalan."
Patra tertunduk, "Saya sudah bilang... Sasya sudah jadi bagian dari hidup Patra sejak kecil. Tapi bukan dengan kebohongan ini. Bukan juga perasaan seperti itu. Patra menyayangi Sasya sebagai sahabat sejak kecil. Patra ingin Sasya pulih tapi bukan sebagai tunangannya."
"Kenapa?!" pekik sebuah suara. "Kenapa kamu masih belum mencintaiku!"
__ADS_1
Patra dan Tante Sana berdiri panik saat melihat Sasya sudah berdiri tak jauh dari tempat mereka berbincang.
"Sudah tiga tahun, dan kamu mau pergi dari aku, Patra?" tanya Sasya dengan semburat wajah memerah.
"Sasya... ."
Sasya mengacungkan sebuah kertas, "Aku udah tau soal perjanjian kamu sama mama. Aku udah tahu sejak lama. Tapi... ternyata kamu tetap tidak mencintai aku, Patra?"
"Sasya... kita udah berteman--."
"Sudahlah. Kalau memang kamu gak mau. Kita batalin saja."
"Sya... ."
"Bukan cuma kamu yang capek. Aku juga. Aku juga capek berusaha membuat kamu suka sama aku. Aku capek berusaha membuat kamu jujur padaku."
"Sasya sayang... ," lirih Tante Sana sembari menghampiri Sasya.
"Ma... akhiri saja perjanjian ini. Aku sudah baik-baik saja." Sasya meneteskan air mata menatap Patra, "Kamu bebas, Patra... itu yang kamu mau, khan?"
-oOo-
Patra melempar menghempaskan dirinya ke atas sofa di rumahnya. Rasa lelahnya semakin bertumpu setelah perdebatan ya dengan Sasya. Sasya menyuruhnya pulang dan mengatakan jika dia baik-baik saja. Tapi, Patra sedikit ragu. Ia mengetik sebuah wA pada tante Sana.
To: Tante Sana
Gimana Sasya, tante? Maaf sudah bikin keributan.
Patra mendesah panjang sambil memijat kecil keningnya. Tak lama, ponselnya berdenting.
From: Tante Sana
Tidak apa, Patra. Tante yang sudah merepotkan kamu. Sasya sudah tenang. Dia barusan tidur setelah minum obatnya.
Patra menghela napas cukup lega. Setidaknya, untuk saat ini, keadaan Sasya memang cukup membaik. Sasya menunjukkan kemajuan pada kesehatannya. Metode ini mulai menunjukkan hasil, sebenarnya. Ah... Benar-benar melelahkan.
Patra hendak meletakkan ponselnya saat ia tiba-tiba melirik pesannya pada nomkr Zeline. Mendadak ia penasaran karena Zeline terlihat tengah membuat status di WA. Penasaran, Patra membuka status WA Zeline.
Sebuah foto memperlihatkan Zeline sedang menikmati roti sandwich bersama seorang pemuda di sebelahnya. Pemuda yang juga bersamanya pagi tadi di perpustakaan. Selain foto, Zeline juga menyelipkan kalimat 'Hangout with bestie... wkwkwk'. Patra tersenyum tipis. Gadis ini sungguh menarik perhatiannya. Setelah sekian lama kuliah, dia baru bertemu dengannya. Kenapa baru sekarang? Seakan memang takdir baru melakukan tugasnya.
-oOo-
Zeline tengah duduk memainkan ponselnya di kamar saat ia membuka WA dan mengecek status WA. Ia penasaran siapa saja yang sudah melihat statusnya. Dan, memang ia menunggu nama itu muncul.
Zeline tersenyum kecil saat menemukan nama 'Daun pedang' muncul sebagai kontak yang melihat statusnya. Memang, ini salah satu momen yang ia tunggu. Nama Patra.
-oOo-
Di sisi yang lain, Reksa menyurukkan ponselnya dengan gundah. Layar ponselnya yang tengah menunjukkan status WA Zeline. Tak lama, ia mendengus sambil tersenyum getir.
"Welcome to Friendzone... F*ck!"
__ADS_1
-oOo-
TBC