
Patra melajukan motornya secepat kilat begitu ia mendapat pesan WA dari Sasya. Gadis itu tidak mengatakan apapun hanya mengirimkan foto dirinya yang sedang berbagi makanan dan kopi pada perawat tempat ia di rawat kemarin. Sepasang mata hazel Patra merespon dan membuat kecemasannya memuncak saat ia mendapati sosok Zeline ada di dalam foto yang Sasya kirimkan. Ia tahu, Sasyasedang ingin melakukan sesuatu. Dan, ia cemas.
Begitu motornya sampai di parkir RS, ia buru-buru menapakkan kaki menyusuri koridor RS namun terhenti saat ia mendapati Sasya sedang bersama Zeline di taman. Pemuda itu mengatur napasnya dan melangkah perlahan menuju taman saat terdengar suara jeritan Zeline. Patra melihat Zeline berdiri sambil memgibaskan tangan dan terlihat segelas minuman tergeletak tak jauh dari Zeline. Sasya menyiram Zeline dengan air panas. Patra yang cemas, mendapati pandangan Sasya yang tertuju padanya. Detik berikutnya, Sasya sudah berteriak kencang seperti orang gila. Patra terhenyak sejenak dan responnya cepat tertuju pada Sasya. Dia akan melakukan hal yang lebih gila jika tidak dihentikan. Patra pun berlari melewati Zeline yang begitu saja.
"Sasya!" pekik Patra yang berharap bisa menghentikan niat lanjutan Sasya. Dengan sigap, Patra menggendong tubuh Sasya. Patra bisa melihat seulas senyum kemenangan terukir di bibir Sasya. Dada Patra berdenyut sekilas. Dia bahkan harus mengabaikan jerit kesakitan Zeline. Dia harus segera membawa Sasya sejauh mungkin.
'Sori, Zeline... .'
Dan, sekilas Patra bisa mendengar suara Zeline menyebut nama Reksa. Patra melirik ke arah Zeline saat ia berbelok menuju koridor, ia bisa melihat Zeline bersama 'sahabatnya' Reksa. Satu hentakan cemburu meluap di dada Patra. Namun, dia hanya bisa mengabaikannya.
-oOo-
Patra meletakkan tubuh Sasya ke atas bed. Dia meminjam satu kamar dari ruang perawatan Sasya yang terdahulu pada suster. Ia mendengus menahan kemarahan dan melangkah menuju jendela kamar. Ia mengepalkan tangan di sisi celana sambil menatap langit, menahan amarah. Jika ia meluapkannya sekarang, Sasya akan lebih gila lagi. Tak seberapa lama, sepasang tangan Sasya melingkari pinggangnya, memeluk Patra dari belakang. Patra tidak mengelak, pun tidak merespon pelukan itu.
"Jangan tinggalin aku, Patra." ujar Sasya. "Kamu tahu hal gila apa yang bisa aku lakukan. Tidak hanya padaku, tapi juga gadis itu."
Patra memejamkan mata sekuat-kuatnya, "Don't."
"Aku cinta kamu." Sasya kian erat memeluk Patra. Patra hanya bisa semakin terdiam dengan pikiran berkecamuk. Terlebih, dia penasaran dengan Zeline dan Reksa sekarang. Apa yang sedang mereka lakukan?
-oOo-
"Aww!"
Zeline melempar tatapan tajam ke arah Reksa yang sedang mengoles obat luka bakar di tangan Zeline. Reksa mengabaikannya, dan hanya tahu terus mengoles obat di tangan Zeline. Zeline bisa merasakan napas panjang dan panas dari Reksa, efek dari menahan kemarahan. Zeline mendesah kecil dan mengingat perbuatan Sasya yang tiba-tiba tadi. Dia tidak tahu jika Sasya akan berbuat sejauh itu. Dia bahkan belum sempat merespon apapun.
"Kalo cinta, jangan jadi bego kebangetan, dong... ." omel Relsa sambil menyentil kening Zeline.
"Isshh!!!" omel Zeline yang kemudian menonjok perut Reksa dengan tangan lain hingga merintih. "Nggak usah sok. Gue juga belum puas ngehabisin elo yang udah nyari ciuman pertama gue!" omel Zeline.
__ADS_1
Reksa menghela napas panjang, menutup tabung salep obat luka bakar di tangannya, "Gue cuma mau berjuang, Zel... ."
"Stop ngomongin soal perjuangan elo, Reksa!" seloroh Zeline.
Zeline menatap tangannya yang semerah kepiting rebus akibat panas. Siapa sangka, rupanya Sasya menyiapkan kopi yang luar biasa panas. Agaknya air yang dipake benar-benar mendidih. Ada kedut nyeri yang hilang timbul dari luka merah itu.
"Gue gak mau kehilangan sahabat terbaik gue, Reksa." ujar Zeline. "Kita udah sahabatan sejak SMP. Gue gak siap menghadapi perubahan emosi elo. Gak siap menghadapi perubahan perilaku perasaan elo. Jadi... berhenti melakukan hal-hal seperti ini dengan atas nama perjuangan atau apapun."
Reksa terdiam sejenak, tangannya terkepal kuat hingga ia bisa merasakan ujung kuku menancap pada kulit tangannya. "Gue akan coba. Tapi gue gak bisa menjanjikan apapun." Reksa menatap Zeline lekat, "Karena perasaan gue tumbuh begitu besar ke elo. Gue gak pernah tahu kalau ini akan menjadi kian kuat."
"Artinya, elo siap kehilangan persahabatan ini."
"Ughh! F*ck!" Reksa hanya bisa mengumpat. Dia mengumpati dirinya sendiri, mengumpati segala perasaan atas nama friendzone sialan ini.
Zeline kembali merenung. Pikirannya bercabang antara mempertahankan persahabatannya dengan Reksa dan memikirkan tentang Patra. Dia menggendong Sasya kemana dan apa yang sedang mereka lakukan? Apa yang Patra pikirkan?
-oOo-
"Sasya ada di dalam. Dia sedang tidur." ujar Patra yang melangkah menepi. "Saya akan mengantarnya pulang saat sudah bangun."
"Belum tiga bulan. Hanya tersisa tiga bulan.Tapi, kamu sudah membuatnya seperti ini." ujar Alya Gunawan. "Ingat saja pada janjimu." Alya menatap Patra tajam. "Jangan macam-macam dengan cucuku. Jaga dia dan antarkan dia pulang nanti."
Tepat setelah mengucapkan kalimat detail dan tajam itu, Alya Gunawan sudah melangkah menjauh. Ia mengurungkan niatnya menemui Sasya karena tidak mau mengganggu istirahat cucunya. Dia tadi buru-buru turun dari ruangannya saat mendengar cerita para perawat jika Sasya pingsan di taman namun beruntung Patra menggendongnya, membawanya seperti pangeran dalam dongeng. Puih! Alya tahu persis seperti apa sifat Patra yang penuh kepalsuan itu.
Di sisi lain, Patra hanya bisa terdiam memandang kepergian Alya. Jujur saja, Patra tidak pernah bisa berkutik jika berurusan dengan sosok Alya Gunawan. Dia bisa merasakan sorot tajam penuh intimidasi dari wanita tua itu.
Patra menghela napas panjang, melirik kaca pintu ruang Sasya yang tengah terlelap dan melangkah menuju kantin. Dia butuh asupan kafein sekaligus ingin mencari tahu keadaan Zeline. Benar saja, Patra sudah menemukan Zeline sedang duduk berdua dengan Reksa di sudut koridor sepi. Patra mengepalkan tangan erat melihat kedekatan mereka. Tanpa sadar, Patra menghampiri keduanya. Ia berdiri di depan Zeline yang masih terduduk sembari mengelus tangannya yang baru saja diobati oleh Reksa. Bukan olehnya!
"Patra... ." lirih Zeline yang bangkit dari duduknya. Pandangan mereka berserobok dalam diam, "Gi-gimana Sasya? Tadi itu--."
__ADS_1
"Lo ngapain ngekhawatirin cewek dia? inget, Zel... 'tunangan' kesayangannya yang udah nyiram elo pake air panas!" seloroh Reksa yang memperjelas nada saat menyebut kata 'tunangan'. Sekilas, Patra meliriknya tajam namun kemudian kembali fokus menatap Zeline.
"Lo gak tahu kejadiannya, Reksa... ." ujar Zeline.
"Lo gila? Lo ngebelain cewek itu?" tanya Reksa kesal. "Dan, lo! lo udah punya tunangan! Jadi, berhenti gangguin Zeline!" omel Reksa yang mencengkeram kerah kaos Patra dengan kesal.
"Reksa!" erang Zeline sembari berusaha menarik lengan Reksa.
Patra menoleh ke arah Reksa, mencengkeram tangan Reksa dan menepisnya dari kerah kaosnya. "Gak usah ngurusin soal tunangan gue. Ini urusan gue ama Sasya." Patra menatap Zeline kembali, "Dan maaf, gue gak bisa ngelepasin gadis ini."
"Hah!" umpat Reksa.
Zeline terdiam menatap Patra yang mengatakan sesuatu selugas itu. Patra tidak bisa melepaskan dirinya? Apa artinya itu?
"Gue mau lo jadi cewek gue, Zeline." ujar Patra.
"Hah?" Zeline dan Reksa memekik bersamaan.
"Sinting! Lo udah punya tunangan!" omel Reksa.
"Maka jadilah yang kedua buat gue. Gue janji, tiga bulan lagi, gue bakal jadiin lo satu-satunya." ujar Patra.
"Gila! Sinting!" umpat Reksa.
"Gue mau." sahut Zeline.
"Zeline!" pekik Reksa.
"Yang kedua atau keberapapun. Gue mau jadi cewek lo."
__ADS_1
-oOo-
TBC