METANOIA

METANOIA
Patah Hati Yang Pertama


__ADS_3

Tubuh tante Sana bergetar hebat. Gigil. Ia hampir tidak sanggup menopang tubuhnya. Ia hanya bisa terduduk di bangku putih yang ada di lorong RS. Sepasang tangannya masih menyisakan bau anyir darah Sasya. Tante Sana memejamkan mata dengan air mata yang kian deras membasahi dirinya. Meski kata dokter masa kritis telah lewat, tapi tetap saja, Percobaan bunuh diri Sasya cukup membuatnya syok. Setelah tiga tahun Sasya tidak pernah berniat bunuh diri, dia kembali membuat ulah.


"Tante!"


Patra berhenti tepat di depan Tante Sana dengan napas terengah. Wajahnya nampak pias, pucat. Tante Sana menatap Patra dengan wajah kecewa. Ia bangkit dari duduknya dan memukul kecil bahu Patra.


"Kenapa kamu lakuin ini, Patra... Tante mohon, bantu Tante... bantu Sasya. Tante tidak sanggup jika harus kehilangan Sasya."


"Tante tenang, oke? Ada Patra. Maafin Patra. Patra janji gak akan biarin Sasya kenapa-kenapa lagi."


Patra menuntun tante Sana untuk duduk kembali di bangkunya. Patra bisa merasakan getaran hebat dari tubuh ringkih tante Sana. Hati Patra serasa mencelos. Harusnya memang dia belum saatnya mengguncang kesehatan Sasya. Jika ada pertanyaan, kenapa Patra sampai segini pedulinya pada Sasya... jawabannya adalah, hukum timbal balik. Patra juga pernah berada di titik terendah saat ayah dan bundanya meninggal. Hanya om Dani, adik kandung bunda dan keluarga Sasya yang menolongnya. Tante Sana dan Sasya adalah keluarga kedua baginya. Maka sedemikianlah ia merasa ingin ikut andil dalam pemulihan Sasya.


"Maafin gue, Sya..." lirih Patra sambil memggenggam erat tangan tante Sana yang begitu dingin.


-oOo-


Patra menggenggam tangan lemah Sasya. Tangan kiri Sasya masih terpasang transfusi darah. Percobaan bunuh dirinya kali ini cukup menghabiskan banyak darah. Patra semakin jengah melihat sayatan di pergelangan tangan Sasya yang kini bertambah satu lagi goresan yang lukanya masih basah. Sasya sudah berkali-kali berusaha mengakhiri hidupnya. Dia benar-benar trauma. Dan Patra, hampir membuat Sasya meninggal, karena keegoisannya yang mendambakan kebebasan...


Mendambakan Zeline... .


Patra menghela napas panjang, mengecek ponselnya. Ada WA dari Zeline, namun ia tidak berniat membacanya. Belum.


"Patra... ."


Patra meletakkan ponselnya, menatap Sasya yang mulai membuka mata sambil memanggil namanya lirih.


"Sya... kamu udah bangun. Kamu bikin cemas, tau."


"Kenapa kamu di sini? Kenapa kamu peduli?"


"Sya... maafin aku. Maaf... ."


Sasya tersenyum lemah, "Kamu gak perlu minta maaf. Kamu memang berhak untuk bebas dari aku, Patra."


Patra menggeleng kecil, "Aku butuh kamu buat pulih. Bukan kebebasan. Pertunangan ini, bukan sandiwara bagiku, Sya. Aku janji."


"Patra... ."


"Kamu tenang, ya? Aku akan ada di sisi kamu. Aku janji." ujar Patra sembari mengelus rambut Sasya.

__ADS_1


Di ambang pintu, tante Sana menatap putrinya dengan wajah lelah. Dia tersenyum tipis penuh kelegaan. Namun, di satu sisi perasaannya, ia merasa bersalah pada Patra.


Dia seolah mendorong Patra untuk bertanggung jawab pada Sasya.


"Maafin, tante... dan Terimakasih, Patra... ."


-oOo-


"Dia belum baca WA gue... ." Zeline meletakkan kembali ponselnya ke sebelah bantalnya.


Ia merentangkan tangannya, merasakan empuk kasurnya. Dia belum mendapat kabar Patra. Tanpa ia sadari, ia cemas pada Patra. Ekspresi terakhir di pertemuan mereka, cukup menegangkan. Di sisi lain, perasaan Zeline semakin gusar setelah mendapat pengakuan dari Reksa.


Reksa menyukainya. Mencintainya. Cinta?


Zeline mengerang kecil sambil menutup wajahnya dengan bantal. Apa yang harus ia lakukan? Dia tidak memahami jalan hidupnya akhir-akhir ini.


Dia merasakan getaran tidak biasa pada seorang Patra dan seorang Reksa merasakan getaran tidak biasa padanya. Dia seperti hidup dalam FTV.


Tapi...


"Apa gue jatuh cinta padanya... seorang Daun Pedang?"


Ide pertanyaan itu kian membuat dadanya berdebar. Apa ia sungguh jatuh cinta? Lalu Reksa? Apa yang harus ia katakan pada Reksa?


-oOo-


Patra menoleh dan menemukan om Dani sedang menikmati sarapan rotinya. Ah, jika dipikir, Patra belum mengisi perutnya sejak kemarin. Dia bahkan baru bisa pulang untuk sekedar.m bersih-bersih diri. Patra melangkahkan kakinya menuju meja makan dan ikut menyomot satu helai roti dengan selai cokelat.


"Better."


Om Dani mendesah panjang, "Om susah dengar semua detail ceritanya dari Sana."


Patra mengunyah pelan rotinya, menikmati bagaimana tenanganya mulai perlahan terisi.


"Om juga melihat kamu bersama gadis itu di Kafe kemarin."


Patra terhenti dari kegiatan makannya dan menatap om Dani. Patra meneguk segelas air yang ada di meja dan terdiam.


"Gadis itu yang merubah pandangan kamu, khan?" tanya Om Dani.

__ADS_1


"Mungkin. Tapi sekarang tidak." sahut Patra.


Om Dani tersenyum tipis, "Tidak ada yang tahu tentang yang akan terjadi nanti. Tapi, kamu juga tidak perlu terlalu mengekang diri kamu pada Sasya. Sejujurnya, mental Sasya bukan sepenuhnya tanggung jawab kamu. Dia seperti ini juga bukan karena kamu."


"Tapi, Patra punya andil untuk bisa membuatnya pulih."


"Sampe kapan? Tiga tahun berlalu, tapi hanya satu hari kebebasanmu, Sasya sudah kembali rapuh. Itu artinya, metode pertunangan kalian, bukan solusi tepat."


Patra mengernyit. Ia mencerna kalimat om Dani dan menyadari jika ucapan om Dani benar. Tapi rasa ingin balas budinya, cukup besar. Dia merasa ingin... balas budi.


"Tapi bukan berarti metode pertunangan ini salah. Jika memang harus melanjutkan ini, tapi kamu tidak nyaman, mungkin kamu mulai bisa perlahan menjauh. Bukan langsung memutuskan." lanjut om Dani.


Patra terdiam. Ada benarnya juga. Daripada harus langsung melepaskan, perlahan menjauh agar Sasya terbiasa, mungkin bisa memberi solusi. Tapi, apa bisa? Sasya adalah tipikal gadis yang luar biasa posesif.


-oOo-


Zeline memakai jas putih dengan tulisan namanya, dr Zeline Zakeisha. Ia mematut dirinya di depan cermin. Meski hanya sebatas magang, tapi ada rasa bangga yang merayapi hatinya. Rasa ketegangan hadir seiring hela napas panjangnya.


"Semangat, Zeline."


Namun, Zeline tercenung sejenak. Dia merogoh ponsel di saku jas dokter dan menatap ponselnya. Pesan WA nya pada Patra masih belum dibaca oleh si daun pedang. Di sisi lain, ada puluhan pesan yang dikirim oleh Reksa. Jujur saja, sampe sekarang dia belum punya cukup keberanian untuk membuka pesan Reksa. Pun, dia belum menjawab apapun soal pengakuan Reksa. Dia hanya merasa belum siap.


"Zeline, ayo... semua udah pada kumpul di aula." ujar Jena, salah satu rekannya yang ikut magang di RS Bumi Sehat.


Zeline menoleh dan mengangguk sembari kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku jas dan melangkah mengikuti Jena. Baru saja membuka pintu ruang ganti yang ada di satu lorong RS, dia berhadapan langsung dengan sosok yang ia nantikan.


"Patra... ," sapa Zeline.


Patra terdiam sejenak. Mereka beradu pandang dalam diam. Zeline merasakan sesuatu membuncah. Rupanya dia menyimpan rindu dalam diam terhadap pemuda itu. Namun, pemuda itu membisu tanpa kata dengan aura yang... dingin.


"Lo kok--."


"Patra...," sebuah suara lembut membuat Patra menoleh. Pun dengan Zeline yang mencari asal suara lembut itu.


Seorang gadis dalam balitan baju pasien dan tengah mendorong tiang infus, menatap lembut pada Patra. Meski dalam balutan baju pasien, tapi sama sekali tidak mengurangi kecantikan dari gadis yang tampak kurus dan pucat itu.


Patra melangkah pergi menghampiri gadis itu dalam diam, tanpa kata. Tanpa sapa pada Zeline. Zeline terdiam menatap Patra yang perlahan menuntun gadis itu memasuki sebuah kamar perawatan. Samar, Zeline bisa mendengar kata 'sayang' dari bibir Patra. Dan kata itu, meruntuhkan rindu yang awalnya membuncah.


"Jadi... itu tunangannya." Zeline menelan ludah sekuat tenaga, menahan perih yang tiba-tiba hadir menelesup, "Cantik... ."

__ADS_1


-oOo-


TBC


__ADS_2