METANOIA

METANOIA
Mine!


__ADS_3

Patra memarkir motor, melepas jaket serta helm lalu buru-buru memasuki rumah Sasya. Mbak Darmi nampak menyiram tanaman di taman depan saat menyapanya. Patra hanya tersenyum singkat sembari mengangguk kecil saat ia tetap melangkahkan kaki memasuki rumah. Mbak Darmi mengernyit, tidak biasanya Patra akan buru-buru seperti itu. Mbak Darmi mematikan kran dan masuk ke rumah. Ia membuatkan segelas minuman alih-alih menguping pembicaraan Patra dan Sasya dari dapur.


"Kamu memblokir nomor temanku, Sya?" tanya Patra.


Sasya sedang membaca buku di atas sofa, membalik halaman ke tujuh puluh delapan sebelum kemudian menutupnya da meletakkannya di atas meja. Ia tersenyum tipis ke arah Patra.


"Selamat malam, beib... ." sapa Sasya. "Kenapa datang tiba-tiba sambil ngomel, sih? Kayak bukan kamu."


Patra mendesah panjang. Dia lupa jika Sasya baru saja sembuh, akan sulit menghadapinya saat seperti ini. "Kenapa kamu memblokir nomor temanku... beib." Patra menurunkan nada bicaranya.


"Zeline. Nama yang unik dan bagus. Hanya penasaran karena itu satu-satunya nomor cewek yang kamu simpan."


"Aku ada tugas penting sama dia. Jadi, aku butuh menyimpan nomornya."


"Sampai kalian bahkan berpura-pura tidak mengenal di RS. Aneh... ."


"Karena kupikir, dia mengabaikan tugas. Dia tidak menghubungiku. Kupikir, dia sengaja begitu. Aku jadi ikut pura-pura tidak kenal."


Sasya meraih ponsel Patra, mengotak-atiknya sejenak lalu tersenyum kecil, "Sudah tidak diblokir."


Patra meraih kembali ponselnya. Nama Zeline memang sudah tidak diblokir tapi dia melihat Sasya baru saja membuat status WA berisi foto dirinya dan Sasya yang bermesraan. San, status itu di hidden, hanya satu orang yang bisa melihatnya. Zeline.


"Sya.. ," lirih Patra yang hanya bisa protes dengan nada lembut. Dia tidak bisa dan dilarang kasar pada Sasya.


"Youre mine. Ingat janjimu. Tidak akan meninggalkanku." tegas Sasya. "Atau... ." Sasya membelai kain sutra yang selalu menutupi pergelangan tangannya. "Kamu tau konsekuensinya... beib."


Patra mendesah panjang, menahan kekesalan dan kemarahannya. Hanya tiga bulan!


-oOo-


Zeline menatap dirinya di depan kaca. Ia menyentuh permukaan bibirnya yang sedikit perih. Semalam, Reksa sudah mencuri ciuman pertamanya dengan kasar. Entah setan mana yang merasukinya hingga berbuat hal segila itu. Zeline masih bisa merasakan hawa panas dari diri Reksa yang kian menggebu kala mencium bibirnya dengan kasar. Desah napas kesal terhela saat Zeline memplester punggung tangannya. Terlihat sedikit luka di sana, bekas perjuangannya menghajar Reksa semalam. Dia sukses meninju hidung Reksa dan meninju perutnya, meski akhirnya dia terluka karena ikat pinggang Reksa. Tapi, sedikit mengobati kemarahannya yang membuncah.


"Reksa b*rengs*k!" umpat Zeline sembari memakai jas dokternya.


Ia menarik napas panjang, mengecek ponselnya yang menunjukkan puluhan panggilan dari Reksa. Puih! Zeline tidak sudi mengangkat panggilannya!


Zeline membuka pintu dan berderap menuju ruang kerja perawat dan dokter ruangan. Namun, langkahnya terhenti dan ekspresi kemarahannya berubah drastis menjadi membeku. Ia melihat sosok yang cukup mengejutkan hadir sambil membagi kopi dan kue di area ruang perawat. Sasya.

__ADS_1


Zeline menelan ludah sejenak, menatap Sasya yang nampak manis dengan balutan dress pink sebetis. Fokus Zeline beralih pada pergelangan tangan Sasya yang terlalu gelang kain sutra cantik, penutup bekas luka sayatan yang justru membuatnya nampak kian manis.


"Waah... makasih ya nona Sasya," ujar suster Kia.


"Kalian sudah bekerja keras merawat saya. Terimakasih banyak ya, suster... ."


"Eh, dokter Zeline. Ini pasien nona Sasya. Dokter sempat ketemu waktu orientasi kemarin, khan?" sapa suster Dina.


Zeline mengangguk kecil, "Iya... tau."


Sasya tersenyum ke arah Zeline dan menatap nametag yang tertera di jas dokternya, "Dokter Zeline. Nama yang cantik. Saya dengar, anda satu kampus dengan Patra, ya?" tanya Sasya.


Zeline kian tercenung lalu mengangguk, "Katanya begitu."


"Kalau begitu, saya butuh bantuan anda."


"Huh?"


"Butuh bantuan agar dokter menjaga Patra dari cewek-cewek genit." ujar Sasya diakhiri kedipan mata yang disambut tawa para suster. Tapi, tidak lucu bagi Zeline.


Sasya memasang wajah cemberut, "Iya juga. Tapi, tetap jika kakak dokter ini melihat kucing genit mendekati Ptra, tolong cakar dia mewakili saya." ujar Sasya yang lagi-lagi disambut tawa para suster.


"Kucing garoonggg, dong.. ." celetuk suster Kia.


****! Gak lucu! Masa, Zeline harus mencakar dirinya sendiri? Huh!


-oOo-


Mendung nampak mulai menggelayut di langit. Awan cerah, berangsur berubah jadi abu-abu. Agaknya, hujan akan turun tak lama lagi. Tapi, Zeline suka suasana teduh begini, terutama aroma tanah basah ikut hadir menemani sore mendung. Dia duduk di salah satu bangku taman RS, menikmati kesejukkan singkat ini sembari melepas penat. Banyak hal terjadi akhir-akhir ini. Tentang persahabatan, tentang percintaan dan tentang magang. Menjadi dokter bukan hal yang hebat namun penuh perjuangan. Dan teori, sangat jauh berbeda dengan kenyataan. Dia harus menghadapi banyak sifat dan kepribadian yang ternyata jadi aspek penting dalam metode pengobatan. Seperti hari ini, dia harus berhadapan dengan pasien dengan Tentamen Suicide yang meminta bantuannya menjaga tunangannya. Zeline terkekeh kecil menertawakan ide gila Sasya. Pada kenyataannya, Zeline lah yang kemungkinan jadi kucing pengganggu Patra. Namun, ada yang aneh. Tatapan Sasya seolah tahu tentang Zeline. Apa hanya perasaannya saja?


"Bau tanah basah... begitu enak."


Zeline menoleh dan menemukan Sasya sudah duduk di sebelahnya, meletakkan segelas kopi panas dengan asap mengepul. Sasya menatap Zeline sesaat.


"Tidak ada yang bisa menandingi aroma tanah basah sekuat ini." ujar Sasya. "Seperti aroma seseorang yang menginginkan kekasih orang lain."


Zeline mengernyit, " Apa maksud kamu?"

__ADS_1


"Patra... milikku."


Zeline menghela napas. Kecurigaannya benar. Sasya tahu soal dirinya, yang entah apa yang ia ketahui. "Perasaanku, hanya milikku."


"Mau tahu... seberapa hebatnya milikku itu?"


"Hah?"


"Seberapa cinta Patra padaku... apa kamu mau tau?"


Zeline menggeleng mantap, "Tidak perlu."


Sasya tersenyum kecil lalu menjatuhkan gelas kopi panas tadi ke arah tangan Zeline.


"Akkk!" Zeline bisa merasakan air panas menyergap permukaan kulitnya, seperti menusuk ribuan jarum kecil. "Gila lo!" pekik Zeline.


Sasya tersenyum kecil lalu menjatuhkan diri sambil berteriak hebat. "Aaargghhh!"


Zeline melotot tak percaya dengan adegan di depannya. Apa yang sedang di lakukan si gila ini? Zeline hendak menghampiri Sasya saat sebuah tangan menarik lengannya, mendorongnya ke belakang. Patra nampak menepisnya ke belakang dan menghampiri Sasya.


"Sya! Kamu, kenapa?" tanya Patra cemas.


"Aku... aku... ." Sasya hanya tampak tersedu sambil mencengkeram kaos Patra.


Tanpa basa-basi lagi, Patra menggendong tubuh Sasya yang merangkulkan lengannya ke leher Patra. Patra membawanya pergi dari sana, mengabaikan Zeline secara sempurna. Tanpa kata dan sapa, hanya fokus menggendong Sasya, meninggalkan Zeline. Zeline bersumpah bisa melihat Sasya mengulas sebuah senyum kemenangan di balik tubuh Patra.


Zeline mengelus tangannya yang masih serasa panas akibat kopi yang disiram Sasya. Namun, rasa panas yang menjalar itu, kian jauh menghujam dada Zeline. Lalu, sebuah tangan hadir, menghalangi pandangan Zeline, menutup pandangan menyesakkan itu. Zeline melirik dan menemukan Reksa sudah berdiri di sebelahnya dengan masih menutup arah pandang Zeline.


"Reksa... ." lirih Zeline.


"Bego! idiot!" omel Reksa yang kemudian menggenggam tangannya dan membawanya pergi ke arah lain. Tanpa kata.


Saat itulah, hujan perlahan mulai turun. Hujan hadir seolah menjadi pemanis untuk adegan penuh drama yang sesaat.


-oOo-


TBC

__ADS_1


__ADS_2