Minecraft : Save The Over World

Minecraft : Save The Over World
Bangunan tua


__ADS_3

Seiring perjalanan, mereka dihadapkan dengan monster-monster dari berbagai jenis, hingga mereka menemukan sebuah bangunan tua mirip seperti kastil di kerajaan tapi kelihatannya sudah bobrok termakan usia. Sarang laba-laba hampir tampak di semua pojok atas tembok.


Mereka baru melangkah masuk melewati gerbang, sudah ada yang menunggu. Beberapa laba-laba berukuran cukup besar menghadang, namun itu hal mudah bagi mereka untuk mengatasinya.


Riko maju ke depan menghadapi tiga laba-laba sekaligus sedangkan yang lain hanya melihat dari belakang. Sebelum menghabisi lawannya dia bergaya layaknya orang sombong dihadapan teman-temannya dan menganggap remeh lawan.


Setelah puas dengan apa yang dilakukannya, dia segera mengambil ancang-ancang. Tangannya memegang tombak berlumuran darah yang sudah kering, lalu membungkukkan badan dengan sorotan mata tajam,


Slash!


Dia tiba-tiba berada di belakang laba-laba dan membuat satu laba-laba mati tertusuk, itu membuat kawanan laba-laba yang lain marah. Mereka menembakkan jaring putihnya ke arah Riko, namun dapat dihindari dengan sangat mudah.


Serangan terus dilancarkan oleh para laba-laba secara bertubi-tubi, tapi seperti biasa Riko dapat menghindarinya dengan mudah.


"Hoam.. Cepatlah Riko, jangan bermain-main, aku mulai bosan dan mengantuk," cetuk Yoga yang sedang menguap.


Riko melirik sesaat pada mereka yang baru saja menganggu kesenangannya, "Baiklah... " ucapnya datar lalu memutar pandangan.


Sekarang di depannya adalah beberapa laba-laba yang tersisa, kemudian dia mengambil pisau di dalam tas, dan melemparkannya seperti bumerang. Perlu waktu bagi dia untuk menghabisi monster berkaki delapan tersebut.


Mereka melanjutkan kembali perburuan, beberapa monster muncul menghadang, namun dapat diatasi dengan mudah. Mereka masuk ke dalam salah satu ruangan di kastil tersebut, tidak ditemukan monster, hanya beberapa buku usang yang tersusun rapi di meja.


"Masih ingin lanjut?" tanya Yoga sembari menatap teman-temannya.


"Ya!" jawab salah satu dari mereka. Yang lain hanya mengangguk setuju.


Beberapa buku tidak hanya tersusun rapi di meja, tapi juga ada di lemari.

__ADS_1


Shinta penasaran dengan buku-buku tersebut, dia memberanikan diri mengambil salah satu buku dari lemari dan mencoba membukanya. "Eh kosong?" Shinta terkejut ketika membuka lembaran buku itu dengan cepat.


"A-ada apa?" tanya Anya merinding.


"Tidak ada, hanya saja buku ini sama sekali tidak ada tulisan," jawab Shinta sambil menunjukkan buku tersebut.


Mereka masih mencoba untuk mencari petunjuk dalam ruangan tersebut. Riko yang mulai bosan menyenderkan badannya pada salah satu lemari, tiba-tiba lemari itu bergerak ke belakang dan Riko terjatuh.


Brakk! beberapa buku jatuh ke bawah berserakan menindih Riko.


"Hati-hati!" teriak Yoga yang berada di dekatnya. Yoga mencoba membantu Riko berdiri.


"Terimakasih," ujar Riko sambil membersihkan pakaiannya dari debu.


Di depan pandangan mata mereka, terlihat ruangan yang berbeda dengan yang lainnya, sangat bersih dan rapi. Susunan penempatan barangnya pun ikut beda.


Shinta mencoba membuka lembaran awal dari buku tersebut. Sama seperti sebelumnya, lembaran tersebut hanyalah kertas kosong yang agak kotor sampai pada lembaran terakhir dia melihat kalimat yang dirangkai oleh dua kata dan gambar anak panah yang menyamping.


Slime Dungeon -›


Kalimat itulah yang dilihat oleh Shinta dan teman-temannya. Mereka mencoba memahami petunjuk yang ada pada kalimat tersebut.


"Ada di antara kalian yang mengerti maksudnya?" ucap Yoga yang kebingungan.


Tapi dilihat dari ekspresi wajah mereka, semuanya juga ikut kebingungan. Shinta masih saja terus berpikir keras memecahkan masalah. Tangannya memegang dagu layaknya seorang detektif.


Shinta awalnya gambar anak panah itulah yang menjadi petunjuk, namun arah yang ditunjukkan hanyalah sebuah pintu usang yang sudah rusak. Sementara dari arah sebaliknya terdapat suatu tombol berukuran kecil.

__ADS_1


Yoga yang menyadari hal itu mencoba menyamakan kesimpulan yang ada dipikirannya sendiri dengan milik Shinta. "Apakah kamu punya pemikiran yang sama?" ucapnya bergairah.


Mereka berdua berkali-kali melihat tombol kecil itu dan pintu usang di samping. "Mungkin, lebih baik kita coba saja..." jawab Shinta yang sepemikiran.


Mereka dibuat kebingungan dengan sikap keduanya yang tidak ingin menjelaskan  situasi yang terjadi sekarang, kebingungan tersebut bertambah ketika Shinta melangkah beberapa meter dan mengambil tombol kecil yang di meja.


Riko yang penasaran akhirnya membuka mulutnya yang sedari tadi membungkam. "Sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan..." ucapnya terdengar bingung dan kelihatan sudah lelah berpikir.


"Kau lihat saja nanti..." Yoga terkekeh.


Shinta melirik Yoga beberapa kali sebelum itu untuk memastikannya. Yoga mengangguk mantap sambil mengepalkan tangannya. Shinta kemudian menekan pelan tombol merah yang ada di tangannya lalu dengan cepat memejamkan matanya karena agak takut dengan yang akan terjadi.


Beberapa detik berlangsung tapi tidak ada hal yang terjadi, mereka masih diam menunggu adanya keajaiban yang datang. Tepat setelah ketukan detik yang ke 30, pintu usang yang berada di samping memberikan reaksi. Shinta penasaran dengan itu dan membuka mata.


Bukannya seperti yang dibayangkan dalam benak mereka, pintu usang itu malah semakin rusak. Retakan kecil yang ada di gagang pintu melebar dan terus melebar hingga akhirnya bagian tengah pintu tak sanggup dan hancur. Hanya menyisakan bagian sampingnya saja yang masih kokoh.


Mereka menganggap hal itu cukup kesal karena merasa dipermainkan oleh keadaan, waktu antara tombol yang ditekan dan reaksi pada pinti tersebut sangatlah dekat hingga bisa dipastikan keduanya berhubungan.


Di saat mereka kesal, pintu yang tersisa pinggirannya saja tanpa bagian tengah tiba-tiba bereaksi kembali. Aliran listrik muncul di tengah-tengah pintu itu. Kemudian listrik tersebut memecahkan dirinya menjadi 4 cabang yang masing-masing cabangnya terus bertambah panjang menuju sudut pintu.


Mereka sangat terkejut, Riko sampai terjungkal ke bawah untuk ke dua kalinya. Tak butuh waktu lama, aliran listril itu semakin membesar dan memenuhi bagian tengah pintu. Aliran itu yang tadinya transparan kini berubah warna menjadi hijau setelah berhasil memenuhi bagian tengah pintu.


Sebuah Portal!


Itulah yang diteriakkan mereka secara serempak setelah mengetahui apa yang ada di hadapan. Aliran listrik perlahan menghilang dan menyisakan cahaya hijau. Sementara itu tulisan yang ada di buku tiba-tiba melayang ke atas, terbang menuju pintu dan menempel pada bagian atas.


Ketika pertama kali dilihat, aliran listrik yang lebih kecil dari sebelumnya terlihat bergerak dari satu kata ke kata yang lain seperti arus, sangat cepat tapi menakjubkan.

__ADS_1


"Apakah ini portal menuju Slime Chunk?"


__ADS_2