Minecraft : Save The Over World

Minecraft : Save The Over World
Sekolah


__ADS_3

"Huh minecraft lagi," dengusnya.


"Minecraft minecraft minecraft, dasar game kotak-kotak," ketusnya sambil memanyunkan bibir dengan bola mata yang terlihat jengkel. Dia mengumpat berkali-kali di dalam hatinya hanya untuk sebuah game.


Pada awal rilis game minecraft, sikap Kevin terhadapnya acuh tak acuh. Dia tidak peduli dengan game itu karena memang pada dasarnya dia tidak suka dengan game. Dia hanya suka anime dan kalau pun memainkan game dia hanya akan bermain game online.


Menurutnya game offline itu sangatlah membosankan, berbanding terbalik dengan game online yang bisa saling beradu skill dengan banyak orang agar menjadi pro player.


Namun setelah melonjaknya pengguna game minecraft sampai jutaan orang yang dicapai kurang dari satu tahun membuat rasa penasaran Kevin meningkat. Agar menghilangkan rasa penasarannya, dia segera membuka salah satu chanel video yang berisikan tentang minecraft.


Pada beranda game terlihat pemandangan hutan asri dipadukan dengan beberapa hewan di dalamnya, namun yang unik adalah semua hal yang ada di minecraft berbentuk kotak alias sandbox, mulai dari tanah, matahari, hewan, bahkan penduduknya juga.


Walaupun ada beberapa yang tidak menggunakan konsep sandbox, tetapi itu hanyalah sedikit. Dalam game ini pengguna bisa membuat sebuah dunia sebanyak yang dia inginkan, tentu saja disesuaikan dengan memori smartphonenya.


Hal unik lainnya dalam game ini adalah suatu benda bisa tetap melayang tanpa dasaran di bawahnya dan itu bukanlah sebuah bug. Kedua hal unik ini menurut sebagian orang adalah cukup imajinatif, tetapi menurut Kevin itu adalaha keanehan, bagaimana bisa suatu benda bisa melayang tanpa apa pun yang menahan di bawahnya, pikirnya.


Setelah melihat video tersebut, rasa penasaran Kevin hilang bagai ditelan bumi, tetapi menyisakan rasa hambar di dalamnya. Sebenarnya dia tidak terlalu menanggapi tentang minecraft.


Rasa hambarnya tersebut menjadi pahit terhadap game tersebut. Saat dia sedang mengikuti turnamen salah satu game online dan hampir memenangkannya, tiba-tiba sebuah iklan muncul pada layar smartponenya dan membuat dirinya kalah di detik-detik kemenangan.


Sontak dia marah dengan bola mata membelalak, namun kemarahannya dipendam dalam hati. Dia melihat iklan dengan sorot mata sinis dan ternyata itu adalah iklan promosi game minecraft. Tragedi itulah yang membuat kekesalan Kevin menjadi 100% full terhadap minecraft, padahal itu hanyalah sebuah iklan namun Kevin sudah diselimuti kemarahan.


-


Verent, gadis muda berumur 16 tahun, teman sekelas Kevin di sekolahnya, rambut panjangnya berwarna kuning dipadukan kulit yang putih, salah satu murid terbaik dalam pengurutan ranking dan pemegang prestasi terbanyak di sekolah. Dia handal dalam semua bidang, baik itu akademik maupun non akademik, dia juga menjabat sebagai ketua Osis.


Kevin mulai mengidolakan Verent saat melihatnya di pertandingan memanah tingkat SMP sederajat. Saat itu Kevin ikut temannya yang juga lolos dalam babak penyisihan. Dia duduk di bangku penonton, matanya terpanah fokus melihat kencantikan Verent ketika sedang melancarkan anak panahnya dan sekarang idolanya menjadi lebih dekat karena sekelas.


Sebagai seorang pengagum, mood Kevin akan berubah total menjadi ceria saat mendengar kehebatan dan kecerdikan idolanya apalagi kalau Verent kerja kelompok dengannya. Energinya seperti terisi penuh saat itu. Tetapi ketika dia mendengar orang lain memuji minecraft, moodnya berubah menjadi buruk dan energinya tersedot habis.

__ADS_1


-


"Vin!" sebuah suara tiba-tiba mengagetkan Kevin dari lamunannya. DUG! Kepalanya terbentur meja saat mendongak karena terkejut


"Akh.. siapa?" jawab Kevin sambil mengelus benjolan kecil di kepalanya yang sakit.


"Oy Vin!" teriak Baron sekali lagi.


"Oh kau Baron, bisakah kau tidak memanggilku dengan tiba-tiba!" Protesnya dengan suara tinggi karena sudah dua kali tersentak kaget.


Baron adalah ketua murid di kelas yang sama dengan Kevin, agak lebih tinggi dari Kevin karena selalu berolahraga dan bermain basket. Selain itu dirinya juga teman masa kecil Kevin saat SD. Namun saat lulus dan naik ke jenjang SMP, dia tidak satu sekolah dan pada akhirnya mereka bertemu kembali di SMA.


"Iya iya maaf," timpalnya dengan nada datar.


"Begini, tadi kan Pak Guru memberikan PR Matematika pada kita, bagaimana kalau kita kerja kelompok saat pulang sekolah?" ucap Baron menambahkan.


"Kerja kelompok?" tanya Kevin sambil mengelus benjolan kecil.


"Hm sebentar aku pikirkan dulu ya," tolak Kevin secara halus.


"Ah iya aku lupa kalau Verent juga akan ikut dalam kerja kelompok ini," ajak Baron sekali lagi.


"Benarkah? kalau begitu aku pasti ikut," Kevin tersenyum sambil mengayunkan tangan dengan senang.


"Jangan lupa saat pulang sekolah di kelas kita," Baron m


"Sipp," tegasnya. Setelah itu Kevin mengantungi smartphone dan fokus untuk pelajaran berikutnya karena waktu istirahat sebentar lagi habis.


-

__ADS_1


-Pulang Sekolah-


Sebelumnya Kevin sudah meminta izin kepada teman sekelasnya bahwa dia pulang terlebih dahulu untuk mengganti pakaian yang lebih bebas, dan juga datang sedikit terlambat ke sekolah. Setelah selesai makan, di bersiap-siap ke sekolah dengan menggendong tas kecil yang talinya melingkar di leher.


-


Dia melangkah masuk ke depan kelas dan tampak melihat beberapa temannya susah datang tetapi sedang sibuk dengan smartphone.


"Yo kawan-kawan, di mana yang lainnya?" ucapnya membuyarkan fokus mereka pada game.


"Yang ikut kerja kelompok hanya segini. Baron katanya tidak bisa karena harus ikut wali kelas untuk menjenguk teman yang sakit, dia menjadi perwakilan dari kelas kita, selain itu teman-teman yang lain kebanyakan tidak ikut dengan alasan ingin mengikuti event game minecraft yang dibuka siang hari ini," jawab Riko tanpa melirik sedikit pun dan masih fokus pada smartphone.


"Hah! Apakah sepenting itu eventnya dari pada tugas?" ucapnya kesal.


"Eh ka-kalau Verent di mana? timpalnya sedikit gugup.


"Iya juga Verent di mana ya?" cetus salah satu temannya.


"Tadi Verent titip pesan bahwa dia tidak bisa ikut karena mendadak ada acara keluarga..." timpal Ilham.


"Jadi kita hanya ber-enam saja? ini yang aku tidak inginkan jika kerja kelompok." gumamnya.


"Hm.. kalau begitu sekarang saja kita mengerjakan tugasnya," dengus Kevin yang kecewa dengan keputusan untuk ikut kerja kelompok.


Mereka ber-lima hanya mengangguk setuju. Dengan komposisi 3 pria dan 3 gadis, jika mereka dipasangkan masing-masing pasti pertemanan akan lebih dekat.


Kevin, Ilham, Riko, Zeva, Anya, dan Shinta mengerjakan tugas demi tugas dengan fokus tanpa mementingkan keadaan di sekitarnya. Mereka berkonsentrasi dengan selembar kertas berisikan angka-angka dan simbol, tanpa disadari perlahan langit mulai meneteskan ribuan air matanya dari atas, pohon dan rumput sedang bermandi dan terlihat segar.


Suasana hening, yang terdengar hanyalah paduan suara dari katak dan jangkrik, bising kendaraan bersaut-sautan di depan sekolah.

__ADS_1


Namun mereka tetap berkonsentrasi terhadap kertas putih agar cepat selesai.


__ADS_2