
Mereka semua menurut dan mendekat ke arah Slime. Nampak sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu di atas meja.
"Bagaimana?" Slime bertanya pada mereka yang tadi terlihat takjub.
Aura yang dikeluarkan Slime bukan lagi berupa tekanan, sehingga mereka bisa lebih tenang dalam mengobrol.
"Pemandangan di sini sungguh indah, ditambah dengan botol-botol yang berjajar rapi serta enchanted book yang ada di lemari menambah kesan ruangan menjadi fantastis," Anya menjawab dengan penuh semangat.
"Yah...kalian termasuk orang-orang beruntung, bisa melihat benda-benda seperti itu, mengingat jarang sekali ditemukan di tempat umum karena jumlahnya yang minim..."
Mereka sempat kebingungan, mengingat untuk membuat benda seperti itu sangatlah mudah ketika di game. Namun mereka tepis pikiran tersebut karena sekarang adalah kehidupan yang nyata.
"Sekarang coba buka kotak di depan kalian, di dalamnya adalah sesuatu yang ingin aku berikan untuk kalian." ucap Slime dengan santai.
Yoga melangkah maju mewakili teman-temannya yang melihat bangga dari belakang. Sebelum membuka kotak itu, dia memejamkan mata sesaat mengambil nafas yang dalam beberapa kali untuk menghilangkan gugup yang masih melanda dirinya. Setelah merasa cukup tenang dan siap, dia mengangkat kotak itu lalu membukanya.
Lima cincin kecil yang berkelip duduk rapi nampak di atas kotak, raut keterkejutan terlihat di muka Yoga membuat teman yang lain menjadi penasaran.
"Cincin emas..." ucap Yoga yang terkagum-kagum.
"Wah...benarkah!"
"Iya, aku tidak berbohong!"
"Sudah lihatkan walapun cincin itu terbuat dari emas namun dia memiliki kegunaan, tidak sebatas hiasan saja. Cincin itu dapat menyimpan barang dengan jumlah tak terbatas," jelas Slime.
Wajah mereka masih menyimpan rasa kagum, "Tapi kenapa kau ingin memberikan ini kepada kami?"
"Itu sebagai ucapan terimakasih dariku karena kalian sudah menghilangkan ratusan slime kecil tadi," jawab Slime dengan santai.
Mereka terlihat senang setelah mendengar itu, rasa lelahnya ketika bertarung dengan ratusan slime terbayarkan. Yoga kemudian mengambil kelima cincin tersebut dan membagikannya pada yang lain.
"Terimakasih!"
"Itu bukan apa-apa, santai...oh ya jika kalian tertarik dengan buku-buku yang ada di lemari, ambil saja..." balas slime sambil menawarkan kembali.
Hal itu tentu membuat mulut mereka terbuka kembali, pasalnya hadiah yang diberikan tidak bisa diterima di akal. Mereka mulai curiga dengan slime.
Salah satu dari mereka memberanikan diri untuk berpendapat, "bukankah ini berlebihan?" ucapnya dengan tatapan mata yang waspada.
__ADS_1
Slime sendiri hanya bisa menghembuskan nafas, "Ayolah kenapa kalian sulit sekali untuk percaya pada seseorang. Aku tidak ada maksud lain, lagi pula sebenarnya benda-benda seperti itu ada banyak di tempat ini."
"Hmm...tentu saja kami harus selektif dalam mempercayai seseorang, apalagi kamu seekor monster. Selain itu bukannya tadi kau bilang benda itu jumlahnya sangat sedikit, berbanding terbalik dengan yang barusan kamu katakan!"
Masing-masing mulai menempelkan tangannya ke ujung senjata yang dibawa, keheningan terjadi beberapa menit. Slime sendiri sebenarnya sudah mulai naik pitam dengan dugaan-dugaan mereka, namun dirinya tetap menahan emosi.
"Sudahlah, masalah percaya atau tidak itu tergantung kalian, aku sudah muak berdebat..." balas Slime.
"Sebelum kalian pergi, aku akan memberikan satu hal lagi, lihatlah ke belakang..." sambungnya.
Mereka hanya diam tapi tetap menuruti kata-katanya. Ketika pandangan bergeser 180 derajat, nampak seorang pemuda yang tidak asing bagi mereka sedang tersenyum lebar.
"Kevin!"
Ya pemuda yang berdiri di belakang adalah teman mereka sendiri yang sudah lama tidak bertemu. Suara tangis harus pecah, mereka langsung lari mendekat dan merangkulnya.
Kevin yang merasa kurang nyaman dirangkul begitu untuk waktu yang lama mulai mengkode agar teman-teman melepaskannya, "Ekhem ekhem, teman-teman maaf."
Mereka segera melepaskan rangkulan, namun tidak ada yang menunjukkan rasa malu setelah itu, malah yang ada mereka menanyakan banyak pertanyaan yang selama ini bersarang di benak masing-masing.
Kevin dengan sabar menjawab pertanyaan satu per satu. Sementara itu slime hanya menatap kehebohan mereka dengan senyum.
"Bagaimana dirimu bisa ada di sini?" tanya salah satu dari mereka.
Perkataannya terpotong oleh Slime yang terlihat marah, "Jangan seperti itu juga!" Slime tidak terima jika dikatai menyeramkan.
Kevin merasa tidak enak dan segera meminta maaf padanya, setelah itu dia melanjutkan ceritanya pada teman-teman. Dia bercerita cukup lama sampai slime harus menahan kantuknya.
"Lebih baik ceritanya nanti saja, aku sudah lelah..." protes Slime.
Mendengar itu, mereka membisukan mulut untuk hal yang tidak penting. Kemudian Slime mengantar mereka ke portal yang berada di ruangan lain.
Sesampainya di sana, Slime berhenti dan menatap wajah mereka sejenak, "Ini adalah portal menuju tempat lain, kalau tidak salah kalian akan keluar di mulut hutan. Jika sudah di sana, hanya perlu berjalan mengikuti arah jalan dan menuju ke kota terdekat..."
Mereka mendengar penjelasan Slime dengan fokus, mengingat nanti akan berguna untuk mereka sendiri. Tentu Slime sangat senang dengan sikap yang ditunjukkan mereka. Setelah melihat-lihat, dia menyadari bahwa ada yang kurang dari mereka.
Kemudian dia segera memanggil Kevin karena hanya dia yang cukup dekat setelah 2 minggu lebih. "Kevin tolong ambilkan semua Enchanted book yang ada di lemari," ucapnya.
"Siap!"
__ADS_1
Kevin segera berlari menuju tempat yang dimaksud lalu memasukkan semua enchanted book ke dalam cincin ajaibnya, setelah itu dia kembali lagi ke mereka.
"Sudah aku masukkan!" ucap Kevin.
Slime lalu mengangguk dan mengatakan sesuatu pada mereka. "Nah sekarang kalian tinggal masuk ke dalam portal ini dan menuju kota."
Sebelum benar-benar pergi, mereka mengucapkan terimakasih pada Slime. Setelah itu satu per satu dari mereka masuk bergantian ke dalam portal. Pemandangan kembali seperti semula ketika keluar, pohon-pohon tumbuh lebat diiringi kicauan burung.
"Hah rasanya ini seperti mimpi saja," Riko melepaskan penatnya dengan menghirup nafas panjang mengingat udara yang di situ sangatlah bersih.
Sinar mentari mulai meredup ketika mereka menapaki sebuah jalan lurus, sebelumnya beberapa dari mereka mengambil beberapa tubuh hewan yang disimpan di daerah yang dulu ditempati.
Shinta yang sedari tadi diam mulai berbicara. "Apakah kalian curiga dengan Boss slime tadi? Sikapnya cukup aneh menurutku..."
"Kau jangan begitu, aku sudah mengenal dirinya selama 2 minggu lebih, dan dia cukup baik," bantah Kevin dengan halus.
"Sudah-sudah, kita kesampingkan hal itu dulu, sekarang lebih baik kalian fokus terhadap pemukiman yang ada di sana." Yoga melerai sambil menunjuk pemukiman yang sudah terlihat, senyuman lebar terukir di mulut mereka.
-
-
-
Sementara itu di suatu tempat yang gelap terjadi percakapan yang serius antara dua makhluk misterius.
"Bagaimana? Apakah tugas yang aku berikan kepadamu berjalan dengan lancar?" ucap salah satu makhluk sambil melangkah tegap.
"Kau santai saja, rencanamu saat ini masih mulus walaupun tadi hampir saja terbongkar..." balas makhluk yang satunya agak takut.
Segera mata makhluk yang bertanya itu mengarah pada makhluk yang tadi membalas, sebuah tatapan sinis dan mematikan. "Awas saja kalau terbongkar! Akan kucabik-cabik dirimu!" ancamnya sadis.
"K-kau jangan macam-macam denganku, bukankah sudah ada kesepakatan bahwa dari pihak masing-masing tidak ada yang boleh membunuh!"
"Heh, baiklah! Untuk sekarang aku tidak akan membunuhmu, tapi jika aku mendengar kegagalan, aku tidak akan basa-basi lagi untuk membunuhmu!"
Setelah mengatakan itu, makhluk yang mengancam dengan cepat hilang dari pandangan makhluk yang satunya. Rasa cemas mereda pada makhluk yang sedang mematung itu, namun tetap saja kecemasan itu masih belum hilang hingga rencananya berhasil.
"Semoga saja tidak ada kendala..."
__ADS_1
-
-