Minecraft : Save The Over World

Minecraft : Save The Over World
Pembagian tugas


__ADS_3

Mereka mulai memasang telinga dan mencoba memahami apa yang diucapkan Pak Tua yang ada di hadapannya.


"Hal yang pertama adalah kalian harus mempersingkat waktu untuk menjadi sangat kuat agar bisa menyaingi musuh karena dalam waktu dekat, musuh akan memunculkan diri dan mulai menyerang,"


"Yang menjadi masalah dari mana kita bisa menjadi kuat dalam waktu dekat?" tanya Riko.


"Tenang saja, di sana proses kalian menjadi kuat akan tiga kali lebih cepat dari penduduk biasanya, jadi gunakan kesempatan ini untuk giat berlatih," ucap Dewa memberi semangat.


"Untuk yang ke dua, temui orang yang berada bukit paling tinggi lalu akui dia sebagai gurumu, ingat bukit yang paling tinggi. Untuk yang ke tiga, kalian tidak diperbolehkan untuk membunuh pemimpin utama musuh, karena jika dia mati, dunia Minecraft akan hancur dan di situlah akhir hidup kalian,"


"Mengapa bisa begitu?" tanya Riko.


"Hanya itu yang bisa aku sampaikan, untuk hal yang lainnya kalian harus mencari tahu sendiri," Jawab Dewa agak merasa bersalah karena tidak diizinkan memberikan informasi yang lengkap.


Terlihat kekecewaan dari muka mereka, namun mereka tidak bisa protes dan hanya diam.


"Baiklah, kami akan berusaha sebisa mungkin untuk menjadi kuat dan menemukan sebanyak mungkin informasi di sana," jawab Riko sambil menggepal tangan.


Mereka mengumpulkan keberanian dan tekad pada jalan yang ditempuh, jalan yang memiliki ribuan lubang mengantar kepada kematian. Butuh waktu lama untuk itu.


"Apakah kalian sudah siap?"


Mereka saling melihat satu sama lain untuk melihat kesiapan masing-masing. Semuanya mengangguk pelan dengan tatapan campur aduk.


"Ya, kami siap!" Ucap Yoga mewakili teman-teman yang lain.


Lalu Dewa memunculkan enam bola kristal kecil dari tangannya. Dia menyodorkan bola tersebut kepada mereka yang terlihat penasaran.


"Masing-masing dari kalian ambil satu bola kristal. Genggam erat bola ini, setelah itu pejamkan mata kalian dan pusatkan pikiran terhadap bola, terakhir pecahkan sekuat tenaga," Jelas Dewa kepada mereka.


Sebelum melakukan apa yang diperintahkan Dewa, mereka melihat satu sama lain sekali lagi.

__ADS_1


"Satu dua tiga, pecahkan!" teriak Yoga memberi aba-aba. Mereka memecahkan bola secara bersamaan, tak berlangsung lama tubuh mereka perlahan menghilang namun tidak ada yang menyadari karena semua mata terpejam kecuali Dewa.


"Semoga kalian berhasil!" Ucap Dewa lirih.


-


Mereka muncul di sebuah padang rumput yang sangat luas dan beberapa pohon yang tumbuh menjulang tinggi. Terik sinar matahari membuat semuanya kesilauan ketika membuka mata.


"Ah silau sekali," Kaget Kevin. Dia dengan cepat melindungi matanya dengan tangan.


"Eh, apakah ini benar-benar di minecraft? pemandangannya sama sekali tidak seperti sand box, dan terlihat seperti di Bumi," Ucapnya.


"Benar, apakah kita salah tempat?" tambah Yoga.


"Entahlah aku tidak tahu, tetapi Dewa tidak mungkin melakukan kesalahan kan,"


"Dari pada memikirkan hal itu, lebih baik pikirkan apa yang harus kita lakukan sekarang!"


"Ide bagus Kevin! untuk caranya kamu tenang saja biar aku yang mencontohkannya," ujar Riko memuji sekalian pamer padanya.


Dia kemudian berjalan menuju salah satu pohon yang jaraknya tidak jauh. Lalu dia menempelkan telapak tangannya pada batang pohon. Kevin yang melihat itu menjadi penasaran dengan apa yang dilakukan Riko.


Sikap teman yang lain terlihat biasa saja seolah sudah mengetahuinya. Dia bertanya kepada Yoga namun hanya diabaikan, karena malu jika bertanya kepada perempuan, dia langsung menanyainya ke Riko.


"Hey Riko, apa yang sedang kau lakukan sebenarnya?" tanyanya.


"Kamu diam dan tunggu saja di sana, aku sedang berkonsentrasi untuk menghancurkan batang pohon ini, kamu jangan ganggu fokusku," ujarnya memberitahu.


Waktu terus berjalan, Riko dan temannya yang lain mulai cemas karena sama sekali tidak ada reaksi dari batang pohon. Lama kelamaan akhirnya dia menyerah dan kembali berbalik.


"Ini tidak bekerja," Ucapnya kecewa dan menggelengkan kepala dengan lesu.

__ADS_1


"Apa maksudmu tidak bekerja hah! kau hanya menempelkan telapak tanganmu ke batang pohon dan berharap bisa menghancurkannya, lelucon macam apa itu! aku kira akan melihat suatu hal yang membuatku terkejut, namun kau hanya buang-buang waktu saja," Teriak Kevin sangat kesal pada Riko karena  melakukan hal yang sama sekali tidak ada manfaatnya.


"Kamu tenang dulu, usahakan jangan langsung berpendapat tentang suatu hal yang kamu belum memahaminya. Ketika para pemain berada di dalam game minecraft khususnya pada mode survival, untuk menghancurkan block, misalnya batang pohon, seorang pemain harus menekan block tersebut dalam jangka waktu tertentu, kami mengira cara itu akan berhasil di sini. Namun kenyataanya sudah bisa dilihat tadi, Riko gagal menghancurkannya," Jelas Shinta mencoba memperbaiki keadaan.


"Tentu saja, kamu pikir bertahan hidup di sini sama dengan di minecraft, jika mati hanya menekan tombol ulang apa! apakah kalian bisa membedakan kehidupan nyata dengan game!" Teriak Kevin semakin meninggi.


"Woy Kevin jaga ucapanmu, jangan seenaknya menghujat kami!" balas Riko yang tidak bisa menahan amarahnya.


"Apa! apa! hah! kalau kau mau berkelahi sini jangan diam saja! ayo sini kita duel!" balas Kevin yang tidak ingin kalah.


"Kalian! sudah jangan berkelahi! saat ini yang paling dibutuhkan adalah kerja sama agar bisa bertahan hidup bukan malah saling bertengkar, jangan sampai nanti karena perseteruan kalian membuat kita terpecah-belah dan tidak bisa menyelesaikan tugas," Teriak Yoga melerai mereka.


Kevin dan Riko hanya diam memalingkan muka sambil melipat kedua tangannya. Sedangkan Para perempuan ikut membisu mendengarkan Yoga.


"Huh, begini biar kuperjelas satu per satu. Tadi Riko hanya mencoba menghancurkan block agar mengetahui apakah bisa atau tidak. Lagi pula jika berhasil juga akan memudahkan kita," jelasnya kepada Kevin.


"Karena waktu sebentar lagi menjelang malam, kita harus bekerja sama untuk pengumpulan bahan-bahan. Untuk perempuan, kalian cari sesuatu yang mudah dibakar seperti ranting kayu dan dedaunan. Selain itu usahakan agar mendapatkan daun pisang yang lebar," ujar Yoga.


"Eh, memangnya untuk apa daun pisang itu?" tanya Anya yang penasaran.


"Sebagai alas untuk tempat tidur, kau tidak mau tidur langsung menyentuh rumput kan?" ucapnya sambil tersenyum.


"Hehe tidak, nanti kulitku akan gatal-gatal," balas Anya memperlihatkan senyum polos yang imut.


"Lalu untuk laki-laki, masing-masing membuat dua senjata sebagai perlindungan nanti malam jika bertemu dengan monster, yang terakhir adalah mencari sumber air dan ikan untuk dibakar sore nanti, ada yang bersedia melakukannya?"


"Aku saja!" ucap Kevin mengacungkan tangan.


"Baiklah semuanya sudah terkoordinasi, jangan lupa nanti sore kita berkumpul lagi di tempat ini, oke!" kata Yoga.


Mereka mengangguk dan mulai melakukan tugas yang diberikan.

__ADS_1


__ADS_2