
"Tidak jika dilengkapi dengan perlindungan. Kalian lihat kan ada zombie yang memakai Iron Chesplate, kita bisa mengambilnya dengan begitu luka yang didapat berkurang."
"Tapi tetap saja tidak mungkin ada yang mau terluka walaupun itu ringan," Yoga masih saja kontra terhadap argumen Shinta.
"Aku mau! Aku saja yang menjadi umpannya, dengan begitu kalian semua akan selamat!" Kevin mengajukan dirinya untuk memancing Creeper.
"Apa kau yakin? Jangan sampai kau terbebani dan menyesal nantinya!" Yoga memastikan jawaban Kevin.
"Tenang saja aku orangnya kuat, tidak mungkin mati karena ledakan,"
"Baiklah, hati-hati!" Kevin segera memakai Iron armor yang menggeletak di rerumputan dan berlari mendekat ke Creeper.
Sementara itu yang lain sebisa mungkin mengumpulkan semua monster dalam satu titik agar mudah dilenyapkan dalam satu kali percobaan. Mereka masih bertahan dari serangan para monster dalam waktu yang lama, sampai Kevin terlihat dari kejauhan membawa dua Creeper yang sedang mengejar.
"Kenapa ada dua Creepernya, ini bisa mengacaukan rencana tadi dan berakibat fatal," batin Riko resah ketika melihat Kevin berlari terengah-engah.
"Huh..huh.. Kalian semua cepat menyingkir dari sana!"
Mereka bergerak secepat mungkin untuk menghindar, penglihatannya masih ke belakang karena khawatir dengan Kevin.
Saat sudah dekat, Kevin menghantam kumpulan monster yang sudah beradengan baju besinya, diikuti dua Creeper dan ledakan besar terjadi. Asap mengepul membentuk jamur di atas beberapa menit lalu menghilang.
Mereka melihat dengan bola mata sendiri seberapa besar kerusakan yang terjadi akibat dua Creeper tadi. Dalam radius 100 kaki, yang tadinya rerumputan luas ditumbuhi pohon menjadi sebuah cekungan yang cukup dalam. Mayat monster saling bertumpukan di dasar cekungan itu.
Yoga dan Riko segera melompat ke bawah mencari Kevin, bau amis dari mayat sangat menyengat ke hidung mereka namun itu tidak menghalangi keduanya untuk mencari.
Satu per satu mayat monster disingkirkan, tidak lupa mereka memisahkan benda seperti armor dan senjata yang masih menempel pada monster. Ketika menyingkirkan salah satu Zombie, Riko tidak sengaja menginjak genangan air berwarna hijau.
"Apa ini!" Riko terkejut dan langsung mengangkat kakinya dari genangan tadi.
"Mungkin ini adalah genangan yang terbentuk dari darah mereka," Yoga menjawab Riko sambil menunjuk ke arah tumpukan mayat.
"Hati-hati, cairan ini mengandung asam yang kuat, tadi kakiku mengeluarkan asap ketika bersentuhan dengannya."
__ADS_1
"Ayo kita lebih cepat mencari Kevin dengan hati-hati!"
Mereka mempercepat pencarian Kevin dengan pikiran negatif, membayangkan bagaimana nasib tubuh Kevin jika berada di tumpukan mayat ini, pastinya sudah meleleh.
Yoga dan Riko mencapai dasar cekungan tersebut, tetapi sama sekali tidak ada Kevin di situ. Saat itu pikiran mereka campur aduk memikirkan Kevin, apakah sudah mati atau belum. Mereka takut Kevin mati karena meleleh oleh cairan asam dan itu awalnya adalah mereka tidak mencegah Kevin untuk memancing Creeper.
"Kevin... Maafkan aku.." Shinta merasa lemas dengan air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir.
"Karena ide bodohku... Kau... Kau.." Dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya dan mendadak menjadi bisu karena terlalu sedih dalam penyelesaiannya.
Yang lain juga ikut meneteskan air mata namun mencoba untuk menahan suara isak tangis.
"Sudah.. cukup .. Kevin belum tentu mati karena sama sekali tidak ada petunjuk," kata Yoga menenangkan suasana.
"Sekarang lebih baik kita pulang dan beristirahat dan memikirkan Kevin kembai dengan pikiran jernih..." sambungnya sambil mengusap air mata yang jatuh. Mereka hanya mengangguk dan meninggalkan tempat itu dengan langkah berat, suasana hening tanpa gurauan yang terjadi.
Selain itu karena bau amis yang sangat menyengat, para hewan memilih menjauh dan menghindar. Mereka sampai di daerah perlindungan buatan sendiri dan langsung merebahkan tubuh yang sudah kelelahan di atas daun pisang. Tanpa ada ucapan, mereka semua tidur dan hanyut dalam kesedihan.
-
Mereka masih saling membisu dengan tatapan kosong beberapa menit setelah bangun.
"Hmm...teman-teman lebih baik kita mempersiapkan diri untuk beraktivitas seperti biasa lagi..." Ujar Yoga sambil mengucek matanya.
Perlahan mereka bangkit dari kenyamanan tempat tidur dan mencoba melepaskan kesedihan yang mendalam.
Waktu terus berjalan, tidak terasa hampir dua minggu mereka di hutan, kekuatan mereka pun meningkat drastis kecuali satu, Magic Job milik masing-masing masih menunjukkan angka nol, sama sekali tidak ada perubahan.
Riko muncul dari semak-semak mengangkat Kelinci yang sudah mati lalu melemparkannya di samping batu-batu. Dia merebahkan tubuhnya di padang rumput yang cukup luas,"Menurutmu apakah kita harus keluar dari hutan ini?"
Yoga yang juga membawa hasil buruannya ikut duduk di samping Riko sembari meluruskan kakinya. "Yah jika kita ingin menjadi lebih kuat, harus keluar dari hutan ini, malah harus menjelajahi dunia minecraft ini, tapi..." ucapannya tiba-tiba berhenti sejenak memikirkan hal yang membuatnya sedih dua minggu yang lalu.
"Tapi apa?" Riko penasaran dengan kelanjutannya.
__ADS_1
"Tapi... apakah Kevin benar-benar sudah pergi?" sambung Yoga melengkapi kalimatnya.
"Kalau itu aku juga tidak tahu, tapi aku sangat yakin sebelum melihat langsung kematiannya, dia masih hidup di bagian hutan yang lain. Tapi kau sebaiknya membicarakan hal ini juga dengan yang lain."
"Ya, rencanaku juga begitu."
"Riko, Yoga, kalian mau makan tidak! Makanan sudah siap nih.." teriak Anya dari kejauhan.
Mata keduanya berbinar dan dengan cepat berlari ke arah makanan. Tapi langkahnya terhenti karena tidak menemukan masakan apa pun. "Di mana makanannya An?" tanya Yoga sambil melihat-lihat.
"Ada kok, tapi masih mentah dan menu utamanya ada di tangan kalian.." Anya tertawa kecil dan berbalik badan.
"Kau... " Riko menggeram kesal.
"Sudahlah, ayo kita cepat memasak dan beristirahat," potong Yoga yang terlihat lesu.
Waktu yang dipakai untuk memasak cukup lama karena faktor tanah yang lembab. Mereka menikmati daging bakar yang gurih tersebut dengn lahap dan cepat.
Para gadis mulai terganggu dengan pakaian kotornya, di kulit mereka mulai muncul bintik-bintik merah yang menyebabkan gatal.
"Teman-teman... bagaimana kalau besok kita keluar dari hutan ini," Ucap Yoga di saat sela sela makan.
"Aku setuju."
"Aku juga."
Para gadis langsung menyetujui usulan Yoga.
"Ya benar, jika kita tidak segera keluar dari hutan ini takutnya penyakit gatal-gatal yang kita idap akan mengganas, dan itu buruk bagi kita, khususnya untuk kami," ucap Shinta mengutamakan para gadis.
"Lalu bagaimana dengan Kevin, apakah kita harus menyerah untuk mencarinya?" tanya Yoga sekali lagi.
"..." semuanya terdiam sejenak.
__ADS_1
"Menurutku lebih baik kita segera keluar dari hutan. Untuk Kevin, ya mungkin jika dia dan kita berjodoh pasti akan bertemu kembali di suatu tempat. Dan misalnya.. ini hanya misalnya ya, kalaupun dia sudah pergi pasti dia tidak ingin melihat teman-temannya kesusahan karena mencari dia. Buktinya dia mengorbankan sebagai umpan agar kita semua bisa selamat," kata Shinta.
"Baiklah, aku anggap kalian semua sepakat dengan usulan Shinta... jadi besok kita harus mempersiapkan perjalanan kita menuju pemukiman terdekat seperlunya, lebih bagusnya kalau lengkap karena menemukan pemukiman tidaklah mudah," Ujar Yoga.