
Waktu bergulir lebih cepat dari biasanya, tugas yang mereka kerjakan pun akhirnya selesai dengan waktu yang agak lama, mereka semua kelelahan dan mengeluh dengan soal matematika tadi. Ilham, Riko dan Kevin langsung merebahkan tubuhnya ke lantai sekolah yang dingin, mereka tidak mempunyai malu walaupun ada teman gadis di depannya.
"Bagaimana soalnya gampang gampang kan?" tanya Zeva pada mereka.
"Huh, gampang menurutmu! Otakku bekerja keras sampai mengebul hanya untuk beberapa soal, itu juga aku tidak yakin dengan jawabannya," dengus Riko kesal mengerutkan alisnya dengan tatapan mata sinis.
"Iya iya benar," sahut Kevin menanggapi Riko yang terlihat melawak.
Mereka semua tertawa mendengar ucapan Riko yang terdengar kesal. Zeva memang terbilang cukup pintar dengan semua pelajaran karena memang dirinya cepat untuk memahami hal baru, berbanding terbalik dengan Riko yang selalu mengeluh kesusahan di setiap pelajaran, padahal yang dibutuhkan adalah giat belajar bukannya malah mengeluh dan pesimis terus menerus.
Walaupun dia tidak pintar, namun mereka tetap menjaga hubungan pertemanan, apalagi Riko mempunyai kepribadian humoris yang selalu bisa membuat orang tertawa akan tingkah laku kelucuannya, sifat itulah yang membuat mereka nyaman.
"Memangnya kau mengerjakannya dengan mudah?" tanya Riko pada Kevin karena membuatnya malu.
"Eh ti-tidak juga," jawab Kevin agak terbata karena dipermalukan balik oleh Riko.
Sontak Suara tawaan kembali meriah mendengar hal tersebut. Terlihat kehangatan dari mereka.
"Huh, huh sudahlah perutku sakit tertawa terus hahaha," kata Ilham sambil memegang perut dan meringkuk di lantai.
"Bagaimana kalau kita bermain game minecraft?" ucap Ilham mengusulkan. Teriakan setuju keluar dari mulut mereka serempak.
"Ya benar, menurutku yang paling tepat adalah minecraft, selain tidak menggunakan internet untuk mengoperasikannya game ini juga dilengkapi fitur agar bisa bermain bersama."
"Kalau begitu, ayo main!" Mereka bersama-sama membuka minecraft dan mulai memainkannya. Masing-masing berlomba untuk membuat struktur sebuah rumah yang menakjubkan layaknya ahli arsitek.
"Huh ayolah, apa tidak ada game lain yang bisa dimainkan selain itu!" Protes Kevin.
__ADS_1
"Memangnya sebegitu bencinya kah kau terhadap game ini?"
"Sudahlah, jika kalian ingin memainkannya aku tidak akan melarang, selain itu aku ingin pulang ke rumah,"
"Eh, tapi di luar masih hujan deras kan?"
"Tidak apa-apa, sekarang aku sudah sangat lapar hehe," ucap Kevin. Kemudian dia berbalik dan berjalan keluar kelas.
"Ouh oke, hati-hati ya!"
Kevin melangkah kesal keluar kelas, dirinya disambut oleh ribuan rintikan air hujan yang tak terhingga saat menginjakan kakinya di depan sekolah.
Karena belum ingin pulang ke rumah, dia memutuskan untuk menikmati hujan dan hawa yang sejuk. Bajunya lusut basah, injakan sepatu yang lambat memunculkan gelombang kecil air di bawah, dia terus melangkah melihat orang-orang berlarian meneduh ke tempat aman sedangkan dirinya tidak, percikan air membesar ketika sebuah mobil melintas cepat di sampingnya, namun dia hanya menatap kosong mengikuti arah mobil yang semakin menjauh.
Mereka melirik sekilas Kevin yang keluar kelas dengan tatapan bingung. Mereka melihatnya sejenak sambil melambaikan tangan, dan kembali fokus pada game. Tanpa disadari sebuah
Asap putih menyelimuti mereka yang sudah pingsan karena terkejut dengan sengatan listrik, asap itu perlahan hilang dan membawa mereka ke suatu tempat.
-
Saat pandangannya masih mengikuti arah mobil, suara teriakan membuat kepalanya menengok asal suara tadi. Matanya tertuju pada pertandingan sepak bola di lapangan. Kedua kakinya melangkah ke tempat tersebut tanpa sadar seolah-olah terhipnotis, seperti ada yang menariknya.
Dirinya tidak ingin ketinggalan pada olahraga favoritnya. Sampai di lapangan, dia ikut duduk bersama penonton lain, terlihat dari raut wajahnya, mereka sangat menikmati pertandingan ini.
"Oper bolanya!" teriak salah satu pemain.
Salah satu tim berhasil menerobos pertahanan lawan yang cukup rapat, kerja sama tim tersebut terbilang cukup hebat, walaupun hujan deras sekarang tetapi suasana di sekitarnya bercampur panas tegang.
__ADS_1
Bola memasuki daerah penalto dengan bola yang masih dikuasai tim tadi, bola dibawa dengan sangat lihai sehingga mampu mengecoh semua lawan yang menghadang. Dengan pembawaan seperti iti ditambah kerja sama antar tim membuat tim lawan kewalahan.
"Tendang bolanya!" ucap pemain yang baru saja meng-asist bola ke teman.
Bola melesat ke gawang dalam jarak dekat, namun tendangan itu kurang stabil karena lapangan yang basah, ekspetasi penonton tidak terpenuhi, bola tidak masuk dan malah menabrak tiang gawang lalu memantul dengan cepat. Suara kekecewaan terdengar bersahutan dari para penonton.
Saat pandangan orang-orang sedang tertuju pada bola yang melambung tinggi, seorang pemain dengan perawakan besar dan berotot berlari menerobos pertahanan dengan sangat mudah mencari tempat yang tepat pendaratan bola.
-
Bola mencapai batas puncak tingginya itu mulai turun ke bawah membentuk pola pelangi, pemain lain bersiap untuk menangkapnya namun terlambat karena bola itu baru saja ditendang oleh pemain berotot tadi. Dia menendang dengan posisi volley kemudian diakhiri salto untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
Bola melesat ke depan seperti roket menuju gawang, kiper tidak menduga akan hal itu fokusnya lengah, alhasil bola melesat dengan mulus dan berhasil menerobos pertahanan terakhir ke pojok atas gawang.
"GOL!" teriak penonton dan pemain sesudah menjebol gawang lawan. Tim itu berbaris dan menggoyangkan badannya secara serempak sebagai selebrasinya. Para penonton ikut tertawa melihat kelakuan tersebut. Sorak sorak meriah terdengar cukup lama sampai wasit membunyikan peluit agar kembali fokus.
Kevin merasa terhibur dengan pertandingan itu, dia memutuskan untuk segera pulang ke rumah karena sebentar lagi malam hari. Dia melangkah santai di tepi jalan raya yang sangat ramai, suasana sore saat itu cukup hangat.
"Poster apa itu?" gumamnya saat melihat sebuah poster besar terpampang di gedung kota. Poster itu baru saja di pasang siang ini kata salah satu pejalan kaki yang lewat.
Sebuah gambar terpampang jelas namun tidak asing bagi Kevin, poster yang mempromosikan game minecraft. Dia segera berdecak kesal karena masih mengingat kejadian itu.
"Dasar game sialan, dari pada harus memainkan game itu, lebih baik aku tersambar petir oleh Dewa yang juga bodor karena menciptakan orang yang membuat game ini." ucap Kevin kesal dalam batinnya.
"Dasar game sialan, dari pada harus memainkanmu, lebih baik aku tersambar petir oleh dewa yang juga ikut bodoh karena menghidupkan orang yang membuat game ini." ucapnya terlanjur kesal dalam batin.
Seketika langit langsung mengeluarkan kilatan putih yang sangat cepat menyambar Kevin yang baru saja menyindir Dewa. Kevin langsung jatuh pingsan, suasana di sekitarnya menjadi ricuh dengan banyaknya orang yang berteriak ketakutan.
__ADS_1