
Pada gelombang ke dua, formasi yang terbentuk berubah. Yoga dan Riko berada dalam satu ruangan, sementara yang lain di ruangan yang satunya. Kali ini para Archer akan kesulitan untuk menghadapi monster. Bagaimana tidak, pada dasarnya mereka para Archer akan berguna jika menyerang jarak jauh, kalau pun tidak, seharusnya ada Knight yang berada di sampingnya.
"Ini akan jauh lebih sulit dari yang tadi..." Ucap Shinta yang menyadarinya.
Seperti biasa, beberapa portal muncul di hadapan mereka. Semuanya mengambil ancang-ancang khususnya para Archer. Tak lama kemudian muncul puluhan Slime namun dengan ukuran yang lebih besar. Mereka meloncat-loncat mendekati mereka.
"Bersiaplah kawan-kawan!"
Mereka mengeluarkan skill masing-masing yang ada. Ratusan anak panah meluncur ke gerombolan slime, dan dengan cepat menembus tubuh jely mereka, namun serangan tersebut hanya mengurangi seperempatnya saja dari jumlah slime yang fantastis. Sedangkan Yoga dan Riko menyerang secara brutal dan kejam.
Beberapa slime berhasil lolos dari penyerangan tanpa mereka ketahui. Anya yang berada dalam jangkauan mereka tiba-tiba tersungkur jatuh.
"Anya!"
"Aw...sakit sekali," Anya mengerang kesakitan terutama pada sikutnya yang terluka. Lalu matanya melirik tajam pada slime yang berada di dekatnya.
"Sialan kau...terima ini!" Dia memberikan serangan yang cukup berlebihan pada satu slime yang di dekatnya. Shinta yang melihat itu memilih mengabaikan dan fokus terhadap musuh.
Walaupun saat ini sedang terjadi pertempuran, namun bagi Yoga dan Riko malah terlihat seperti ajang perlombaan. Keduanya berusaha untuk paling banyak membunuh monster.
Slime terus saja muncul dari portal hitam tanpa henti, slime ball yang berjatuhan juga sudah mulai menumpuk. Baru sekitar 1 jam berlalu, semua slime sudah dibabat habis oleh mereka. Tentu, tenaga yang dikuras sangatlah banyak. Sambil menunggu tanda-tanda gelombang yang berikutnya, mereka mengambil slime ball yang sudah tak terhitung jumlahnya.
Note : Slime Ball adalah benda yang dijatuhkan slime ketika mati, tapi tidak 100% selalu muncul.
"Eh eh apa ini? Apakah sekarang sedang gempa bumi?" teriaknya yang Riko merasakan sebuah getaran hebat ketika mengambil slime ball.
"Lihat itu!"
Tembok besar yang memisahkan ke dua ruangan tersebut tiba-tiba bergerak naik ke atas dan menghilang. Sontak mereka kaget dengan yang barusan terjadi.
"Kalian lebih baik ke sini!" Yoga menyarankan pada para perempuan agar berkumpul.
Mereka langsung menyetujuinya tanpa pikir panjang. Getaran perlahan menghilang dan kembali tenang. Mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengumpulkan slime ball yang masih tercecer di lantai. Kewaspadaan tetap menghantui mereka setiap melangkah.
Selang beberapa waktu, semua benda yang dianggap berguna sudah dipungut. Getaran kembali dirasakan namun lebih hebat, portal yang sangat besar seperti layar bioskop tiba-tiba muncul.
__ADS_1
"Ini sangat menyebalkan..." Riko mengeluh kesal.
Sebuah kubus besar berwarna hijau menampilkan dirinya, tingginya 5 kali lipat dari slime biasanya, sekitar 5 meter. Aura intimidasi yang hebat dirasakan oleh mereka, untuk melihatnya saja harus mendongak ke atas.
Rasa takut dan lelah bercampur aduk di pikiran mereka, ditambah tekanan yang diberikan slime itu membuat kaki seseorang tidak bisa berhenti gemetar.
"A-apakah ini Raja dari Slime?" Riko mengucapkannya dengan gigi yang tidak bisa berhenti berbenturan.
"Mungkin saja..." balas Yoga yang kelihatannya sudah pasrah.
"Zeva, bisakah kau melihat berapa levelnya?" sambungnya.
Yoga mencoba untuk melihat seberapa persen kemungkinan menang dari monster yang berada jauh di depannya. Zeva mengangguk pelan dengan muka pucat, sesaat dia mendongak ke atas dan menggunakan skill God's Eye nya.
———›[]‹———
Nama : Boss Slime
Level : 63
Skill : Slime Ball, Death Fluid
———›[]‹———
Seketika tubuh Zeva langsung ambruk lemas setelah melihat itu, perbedaan antara levelnya dan monster tersebut sangatlah jauh. Teman-temannya semakin panik ketika melihatnya jatuh.
"Ada apa Zeva! Berapa levelnya!"
"Enam, enam puluh tiga..." jawabnya dengan lesu.
Kepanikan semakin menjadi, beberapa dari mereka ada yang pasrah dan tidak terlihat pancaran harapan di mukanya. Yoga masih terdiam memikirkan apa yang harus dilakukan. Shinta juga ikut andil dalam pencarian strategi tersebut. Slime semakin mendekat pada mereka.
"Hanya ada satu cara..." gumam Yoga.
"Teman-teman! Sekarang bukan saatnya untuk mengeluh, untuk mengalahkannya kita harus bekerja sama. Sekarang kita buktikan padanya bahwa kita bisa menaklukkannya!" sekarang Yoga mencoba untuk membangkitkan semangat teman-temannya dulu.
__ADS_1
Sebuah suara yang menggelegar terdengar di telinga mereka, suara yang terlontar dari mulut slime, " Heh mengalahkan aku? Apa kalian semua bercanda dasar makhluk kecil!"
"K-kau bisa berbicara?" mereka terkejut.
Slime menghembuskan nafas berat, "Memangnya tidak boleh apa!"
Mereka semakin ketakutan dengan monster yang ada di hadapannya, keringat dingin terus keluar dan seluncur ke bawah lewat kulit mereka yang kotor.
Slime paham dengan sikap mereka sekarang, "kalian tidak perlu takut, aku tidak akan membunuh kalian..." ucapnya dengan santai.
Ucapan tersebut sontak membuat mereka semua kaget, "Jangan bohong kau! Aku akan membunuhmu! Teriak Riko.
Dia berlari menuju Slime dan mulai menyerang secara brutal, tombaknya menari dengan tempo yang sangat cepat, namun Slime dapat dengan mudah menghindarinya. Teman-temannya melihat dari belakang dengan panik. Riko belum menyerah, dia terus saja menyerang slime, tapi tidak lama kemudian dia jatuh karena kehabisan tenaga.
"Ayolah, aku tidak berbohong. Lagi pula kau takkan sanggup untuk membunuhku," bujuk Slime yang terlihat malas.
"Selain itu aku punya kejutan untuk kalian, dan aku jamin kalian pasti akan senang dengan itu..."
"Aku tidak ingin apa pun! Aku hanya berharap dapat menemukan Kevin saja! Selain itu, mengapa tadi ada ribuan slime yang muncul dan menyerang jika kau tidak ingin membunuh kami! Tolak Yoga sambil membantu Riko untuk berdiri.
"Itu... Sebenarnya slime-slime kecil tersebut sangat menggangguku, jadi aku membuang mereka ke portal. Ayolah setujui saja ajakanku ini!"
Mereka saling melihat satu sama lain, untuk mencari kesepakatan. Diskusi yang dilakukan cukup memakan waktu namun menghasilkan sebuah keputusan yang benar-benar bulat.
"Baiklah... Kami setuju."
"Nah, gitu dong... Kan enak jadinya, kalau begitu kalian semua ikut aku masuk ke dalam portal," ucap Slime dengan gembira.
Sebenarnya keputusan tadi mengandung resiko yang mengancam nyawa, tapi mereka tidak punya pilihan yang lain selain itu. Mereka mengikuti Slime dari belakang namun tetap memasang sikap waspada.
Pemandangan tidak jauh berbeda ketika mereka melewati portal. Hanya saja sedikit lebih indah. Tidak ada sarang laba-laba di sudut atas dinding. Terlihat puluhan botol ramuan tertata rapi di rak. Di sampingnya juga ada beberapa Enchanted book di meja, namun terlihat berantakan.
Note : Enchanted Book adalah buku yang sudah disihir dan mempunyai kekuatan.
Slime membiarkan mereka untuk menikmati pemandangan sekitar sejenak, kemudian dia menuju salah satu meja yang terlihat berbeda dengan yang lainnya.
__ADS_1
"Kalian ke sini," ujarnya dengan suara berat.