
"Uhuk-uhuk.. uhuk, A..uhuk, Air," Zeva tersedak makanan.
"Cepat kasih dia air! Tadi mana botolnya?"
"Ini airnya sudah habis, aku kehausan tadi, maaf hehe," Riko menyodorkan botol minum yang sudah kosong dan terkekeh malu.
"Riko... Cepat ambil air di sungai," geram Anya.
Riko segera berangkat, tak lupa dia membawa tombak untuk berjaga-jaga dari monster. Dia dengan cepat berlari dan hanya butuh beberapa menit untuk sampai di sana.
Dengan sigap dia menaruh tombak di tanah, lalu membuka tutup botol dan mulai memasukkan air ke dalam beberapa botol sampai penuh. Tidak perlu waktu lama untuk mengisi semuanya sampai penuh, kemudian dia menutup rapat tutup botol dan segera berlari kembali.
"Dia kok lama sekali di sana..." dengus Anya kesal sambil melipatkan tangan di dada.
Riko terlihat dari kejauhan, dia berlari cepat dengan beberapa botol yang sudah terisi penuh di tangannya. Dia melempar satu botol air ketika melihat Zeva yang tidak berhenti batuk. "Tangkap ini!"
Yoga dengan tangkas menangkap botol dan segera memberikan itu kepada Zeva, "Minumlah..."
Zeva minum dengan pelan agar makanan yang tersangkut di tenggorokan turun ke bawah. "Hah...terimakasih ya... Kevin, Yoga."
Keduanya mengangguk senang dan memperlihatkan senyum cerahnya. "Kerja bagus haha," Puji Yoga ke Riko sambil menaruh tangannya di pundak teman laki-lakinya.
"Teman-teman bagaimana kalau sebelum keberangkatan besok, sekarang kita berburu untuk terakhir kalinya di hutan ini? Apa pendapat kalian?"
Semuanya terlihat setuju dan sepemikiran. "Ide bagus tuh sekalian juga untuk meningkatkan level kita."
"Baiklah ayo kita berangkat!"
"Ya!"
Mereka melangkah dengan gagah menuju ke dalam hutan dan mulai menjadi dewa kematian bagi para monster, namun sebelum itu perbekalan juga harus diperhatikan. Masing-masing memakai tas rajutan sendiri yang memuat satu botol air, pisau kecil, dan beberapa lembar daun untuk mengurangi rasa sakit pada luka. Tentu saja ada tempat khusus untuk pisau kecil agar tidak menusuk botol air.
"Eh sebentar, tombak punyaku ke mana?" Riko gelagapan mencari benda itu.
Semuanya berhenti melangkah dan berbalik badan sambil memasang muka datar. "Mungkin tertinggal di dekat sungai ketika kau mengambil air tadi," ucap salah satu dari mereka.
__ADS_1
Dia mengingat lagi apa yang dilakukannya tadi, "Ah mungkin ketinggalan saat di sungai tadi, kalian tidak perlu mencari lagi."
"Kan tadi itu yang aku bilang! Lagi pula dari tadi kami hanya diam saja di sini, tidak bergerak satu meter pun." protes Shinta yang kesal dengan kelakuan temannya.
"Benarkah..aku tadi sedang berpikir jadi tidak mendengar apa pun," sangkalnya.
"Sudah sudah kau pergi sana cepat ambil tombakmu," ujar Yoga memberi saran.
"Hehe... Oke!" Riko berbalik badan dan melangkah cepat menuju daerah sungai.
"Cepatlah!"
"Ya!"
-
Seperti biasa, hanya perlu beberapa menit agar sampai di tepi sungai. Dia melihat-lihat sekitar mencari tombaknya. Dia melihat ujung tongkat kayu panjangnya bersembunyi di semak-semak. Dia yakin lalu mengambilnya dengan cepat, terlihat jelas terdapat ukiran namanya pada tongkat tersebut.
"Ini tombakku..." ucapnya sambil memegang erat dan bersiap untuk pergi. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar sesuatu di seberang sungai.
"Kevin? bukankah itu Kevin?" gumamnya ketika bersembunyi di semak-semak.
Tidak berhenti sampai di situ, dirinya kembali menaruh senjata setengah jadi tersebut dan mengambil kawat yang dirangkai melingkar dan di tengahnya digantung sepotong daging kecil.
"Sepertinya dia sedang membuat jebakan..." pikir Riko.
"Aku lupa mereka sedang menungguku!" gumamnya.
Riko segera kembali ke tempat semula dengan membawa tombaknya.
"Nah itu orangnya yang sedang dibicarakan..." sindir salah satu gadis.
"Hehe, maaf ya aku terlalu lama.." Riko terkekeh.
Perjalanan dimulai kembali, mereka masuk ke dalam hutan dengan hati-hati. Ketika baru melangkah sekitar 50 meter, muncul sebuah suara yang mencurigakan.
__ADS_1
"Kssk...kssk.." suara yang berasal dari semak-semak itu kelihatannya mengikuti mereka. Merasa dikuti, Yoga yang berada di depan barisan memberi tanda untuk berhenti kepada yang lain. Dia mulai memejamkan mata dan mempertajam pendengarannya, telinga mendeteksi adanya pergerakan dari arah kiri.
Sring!
Dengan cepat dia memegang tombak lalu menebaskannya ke arah samping kiri. Tanaman yang berada di situ terbelah menjadi dua dengan sangat rapi. Salah satunya permukaan batang pohon yang terbelah seperti menjadi irisan kue, benar-benar sangat rapi.
Namun tidak ada sesuatu yang mencurigakan, hanya terlihat beberapa ranting pohon dan daun-daun yang sedang turun. Telinganya kembali merespon suatu pergerakan, dia mengayunkan tombaknya ke arah kanan.
"Sama sekali tidak apa-apa..." ujarnya kepada yang lain. Kondisi masih hening tanpa suara, mereka tetap waspada dan fokus. Tiba-tiba suara decitan muncul, namun tidak hanya satu sepertinya ada puluhan makhluk kecil yang sedang menakut-nakuti.
"Kalian mendengar suara itu?"
"I-iya..."
Dan benar saja, puluhan Endermite muncul dari berbagai arah menyerang mereka, sontak semuanya terkejut dan langsung menyerang balik namun tidak terkendali.
"Awas! Endermite!"
"Utamakan keselamatan perempuan, aku dan kau Riko harus lebih ekstra dalam bertahan, dan untuk perempuan, kalian sebisa mungkin untuk membantu membunuh para Endermite ini! Jangan sampai lengah teman-teman!"
Tenaga mereka mulai terkuras habis oleh monster kecil ini, walaupun sudah dihabisi entah berapa kali namun para Endermite ini tetap saja masih muncul. Baru sekitar 30 menit berlalu, semua Endermite sudah habis dibantai.
"Apa-apaan tadi.. muncul secara tiba-tiba, bikin orang kaget saja," dengus Riko kewalahan, tubuhnya sudah terbaring di tanah.
Yoga menyenderkan tubuhnya pada pohon dan mencoba untuk menstabilkan respirasinya. " Itu wajar, maka dari itu kita harus lebih waspada dan berhati-hati kapan pun di mana pun. Ya memang di sini lah habitat mereka, di hutan yang lebat."
"Hmm...apakah masih ingin lanjut berburu?"
"Ya!"
Setelah cukup beristirahat, mereka melanjutkan perburuan lagi. Matahari masih berada di puncak langit hanya sedikit bergeser. Kali ini mereka menempetkan laki-laki di depan dan di belakang pada barisan, khawatir serangan mendadak lagi.
Seekor Slime berukuran kecil muncul di depan, dengan cepat dihabisi dalam satu tusukan tombak dan menjatuhkan sebuah kunci berwarna perak.
Yoga mengambilnya dan memperlihatkan itu pada yang lain. "Kunci apa ini?"
__ADS_1
"Entahlah lebih baik simpan saja mungkin itu sesuatu yang berharga," usul Shinta.
Yoga memasukan kunci tersebut ke dalam tas dan mereka kembali melanjutkan perjalanan.