
Jangan lupa vote dan comment nya geiss💜
.
.
.
.
.
.
.
Pada akhirnya aku tidak punya pilihan lain.
Aku akan menikah dengan David Asrawijaya, pria yang baru aku kenal.
Di usiaku yang baru mencapai 21 tahun.
Aku bahkan belum lulus kuliah.
Perjodohan?
Bukan.
Ini tidak seklasik itu.
Alasan kami menikah adalah lebih pelik dari itu, ini tentang masalah kesehatan. Kesehatanku, lebih tepatnya.
Aku berpikir untuk menjalani masa mudaku dengan bersenang-senang, berkencan, sukses dalam karir, menghasilkan banyak uang, membeli apapun yang aku mau dan baru akan berpikir untuk menikah saat usiaku menginjak angka tiga puluh tahun.
Seperti perempuan pada umumnya, aku ingin menikmati hidup. Aku ingin melakukan banyak hal yang membuat senang, Aku ingin membuat kesenangan sebanyak mungkin yang nanti bisa kuingat saat aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk bangun dari kursiku tanpa tongkat, atau nyaris seluruh rambutku memutih. Aku ingin hari dimana aku bisa menemukan diriku dengan secangkir teh, biskuit, kursi goyang dan aroma rerumputan basah akibat gerimis hujan. Aku ingin saat itu tiba, aku bisa mengenang banyak hal tentang masa mudaku, sepuasnya.
Tetapi,
Semua rencana itu sedikit berantakan, satu bulan yang lalu saat aku merasakan nyeri yang menusuk pada bagian perut bawah ku,
"Ada lebih dari tiga jaringan lapisan rahim dalam yang tumbuh dibagian luar" ucap dokter Mirae dengan menunjuk hasil CT scan dari bagian perut ku.
Aku ingat betapa dengan langsung spontan aku terduduk di lantai rumah sakit. "Ap-apa itu berarti aku--"
Wanita yang sudah cukup tua itu tersenyum, Mungkin 50 tahun lebih? Entahlah, dia masih sehat. Dia masih terlihat sangat muda, dia sangat cantik dan anggun, Kulihat dia menggeleng pelan "Itu hanya endometrium kecil, kita tidak mengangkat semua, kau beruntung itu letaknya di dinding panggul."
Aku tidak paham dengan makna keberuntungan dalam situasi seperti ini. Bagiku, tidak ada keberuntungan lagi.
"Jadi, bentuknya tidak akan berubah?"
Dia terkekeh melihat kekhawatiranku. "Itu bisa diatasi, semuanya hanya soal regenerasi. Kau tenang saja, semua akan kembali seperti semula."
"Ah, itu melegakan."
"Hanya saja..."
Sialan. Seketika aku tegang kembali. "Hanya saja?"
Dokter Mirae menarik napas panjang, kali ini dia menatapku penuh penilaian "Hanya saja kita tidak bisa menjamin bahwa itu akan tumbuh lagi. Dan mempelajari dari semua keteranganmu, mulai dari waktu pertama kali kau mengalami nyeri dan semacamnya, aku khawatir jika regenerasi nya tidak disempurnakan, akan memicu itu timbul lagi."
__ADS_1
"Apa?!" aku spontan memegangi perutku lagi.
"Ada satu solusi terbaik sebenarnya, kemungkinan ini berhasil."
"Apa itu? katakan padaku." Aku bersumpah akan menempuhnya.
Dokter Mirae tampak ragu, dia melihatku dengan tatapan penasaran. "Hmm, dalam kasus yang menimpa usia muda seperti mu, aku biasanya mengatakan hal ini didepan orangtua yang mendampingi. Mereka harus tahu ini."
Detik itu juga duniaku terasa berhenti. Aku spontan menundukkan kepala, merasakan nyeri yang seakan menikam tubuhku secara perlahan. Namun aku menarik satu senyum tegarku lalu berkata.
"Mereka sudah meninggal saat usiaku masih 16 tahun." kutarik napas berat. "Itu sebuah kecelakaan pesawat." aku tetap mempertahankan senyum palsuku. "Aku tinggal sendiri karena aku memang anak tunggal, dan jika anda bertanya bagaimana aku bertahan hidup..." aku menebak itu dari raut wajahnya. "Aku hidup lewat asuransi yang mereka persiapkan untukku, ditambah kompensasi kerugian dari maskapai yang mereka tumpangi, beberapa saham mereka yang tersebar membuatku mendapat bagian setiap bulannnya."
Dokter Mirae benar-benar terkejut, dia sedikit menganga mendengar penuturanku. "Kau sungguh tinggal sendiri? Sanak saudara? Paman-bibi? Kakek-nenek?"
Aku menggeleng pelan. "Aku merasa lebih baik jika sendiri, aku punya banyak rencana untuk kulakukan sendiri. Aku tidak ingin merepotkan orang lain. Tetapi, mereka tetap menyempatkan waktu untuk menengokku. Ku pikir itu lebih baik."
"Sulit dipercaya," komentarnya sederhana.
Aku sebenarnya berharap tidak akan menceritakan ini pada lebih banyak orang, aku tidak ingin orang lain merasa hidupku menyedihkan, padahal sesungguhnya aku sudah sangat stabil dengan apa yang aku jalani. Aku menikmati hidupku. Aku sudah melewati fase-fase kehilangan terberat itu. Tapi, kondisinya membuat aku harus menceritakan ini, karena tipe dokter Mirae orang yang selalu sangat penasaran, jadi aku tak ingin membuang waktu untuk menunggu pertanyaan yang sebenarnya bisa kutebak darinya. Itulah mengapa aku langsung saja menceritakan semuanya.
"Eum, jadi bisakah kita kembali ke solusi terbaik tadi?" Aku mencoba mengalihkan fokus pembicaraan.
"Ah, iya maaf.." dokter Mirae segera tersadar dan dia berdehem. "Solusi terbaiknya adalah, menikah."
Mataku melebar mendengarnya "Apa?! Menikah?!!" aku berharap salah dengar.
Namun, dokter Mirae mengangguk. "Dengan menikah, kemungkinan besar akan ada kesempatan hamil. Pada masa itu, regenerasi indung telur akan lebih cepat, karena kau akan melahirkan. Itu cara terbaik."
Aku menelan ludah saat mencerna kalimat itu. "Yang benar saja? Aku masih muda. Aku tidak mungkin menikah. Apalagi hamil?"
"Kau punya kekasih? Jika iya, mungkin kalian bisa mencoba membicarakan hal ini, demi kesehatanmu."
"Kalau begitu temukan calon suami."
"Yang benar saja?! Apa tidak ada cara lain? Meminum obat tertentu?"
"Tidak seampuh jika kau melahirkan."
Ingin rasanya aku menenggelamkan wajahku ke dasar bumi.
Mendadak aku merasa begitu ciut.
"Nona.. Keira Putri?..." dokter Mirae memanggil nama lengkapku dengan sangat hati-hati.
Aku yang masih kacau hanya mampu menjawab lirih. "Ya?"
"Bagaimana jika aku punya calon untukmu?"
"Apa?!" diriku tidak bisa memekik kaget.
Dokter Mirae justru tersenyum lebar dan mengangguk antusias. "Aku tahu seseorang yang sudah sangat matang. dia pria yang dewasa, lembut dan tampangnya yang lumayan. Tahun ini dia berusia 30 puluh tahun."
Aku menganga mendengarnya, sejak kapan ruang perawatan ini menjadi tempat biro jodoh?
"Dokter.. maaf, tap-tapi, aku.. maksudku, ini semua--"
Lalu ucapan ku terputus ketika pintu diketuk, tiga detik berikutnya seseorang masuk kedalam ruangan. Dia adalah seorang pria, tampak terburu-buru, pria itu memakai kemeja dengan dasi agak longgar. Ia berjalan mendekati dokter Mirae sambil membawa sebuah kotak plastik.
"Ma.. Aku padahal baru akan parkir di kantor, dan aku melihat kau meninggalkan bekalmu lagi di mobilku."
__ADS_1
Dokter Mirae tampak tersenyum dan berlari menghampiri pria itu dengan mengusap wajahnya dengan penuh sayang. "Anakku, kau tidak perlu mengantarnya kembali."
"Tapi, jika tidak dengan bekalmu sendiri. Kau akan sulit makan, bagaimana jika kau tidak makan siang huh?"
Awalnya aku akan berpikir untuk marah karena pria ini sungguh tak sopan. Dia harusnya bisa mengendalikan urusan pribadinya. Harusnya dia menyadari ada aku disini. Tapi, saat aku menangkap konten yang sedang ia perdebatkan, aku justru terhibur, terkagum dan membuatku menilainya menjadi pria yang sangat perhatian dengan orangtuanya.
Sadar akan eksitensiku, dokter Mirae memberi kode pada putranya itu untuk tenang, dan menatapku sembari sedikit menundukkan kepala. "Ah, maafkan aku." ucap dokter Mirae sopan.
Detik itu juga, pria itu jadi menoleh padaku. Dia tampak terkejut, sepertinya ia baru menyadari bahwa aku ada disini.

"Ah, maaf. Aku tidak memperhatikan sedang ada pasien." dia membungkuk juga dengan sopan, tampak sangat malu dan canggung.
"Tidak masalah," aku menarik senyum tipis.
Pria itu juga membalas senyumku, sembari menggaruk belakang kepalanya, tampaknya dia masih malu.
"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke kantor." pamitnya.
"Anakku, tunggu dulu." panggil dokter Mirae menahan lengan pria itu. Lalu, mata mereka secara bersamaan menoleh padaku.
Aku jadi bingung sendiri. Hanya bisa tersenyum kikuk.
"Keira? Kenalkan, ini orang yang baru saja aku ceritakan padamu."
Pria itu tampak melongo, apalagi saat melihatku terkejut. Aku tak tau harus bagaimana selain perlahan berdiri, dan mengulurkan tangan. Tiga detik setelahnya aku mengutuk diriku karena telah mengulurkan tangan lebih dulu.
Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tidak bisa menurunkannya begitu saja bahkan saat pria itu masih bingung menatapku dan ibunya secara bergantian, sampai akhirnya ia disenggol oleh ibunya dan seketika mengulurkan tangan, menyambut uluran tanganku, sambil berucap.
"Aku David Asrawijaya." ucapnya sambil tersenyum, dia tampak mengehembuskan napas saat menyambut tanganku.
Aku mengangguk. "Keira."
Entah mengapa, saat tangan kami bersentuhan, seluruh duniaku seperti berhenti. Atau mungkin hanya perasaan ku saja, tapi waktu salaman ini terasa sedikit lebih lama, seolah baik diriku ataupun dirinya seperti sedang menerka tekstur tangan masing-masing. Kami tak sadar itu berlangsung selama tujuh detik.
Sampai akhirnya, suara deheman dokter Mirae membuat kami menyudahinya. Kini, aku yang merasa malu. David juga tampak canggung. Kami berdua sesekali saling menatap dan melempar senyum. Aku merasakan jantung ku seperti berdebar kencang saat kulihat matanya menatapku dengan tatapan berbeda, seperti meneliti, atau mengagumi? Entahlah, aku tidak tau.
Aku sampai menundukkan kepala dan menatap jari tangan ku yang saling meremas satu sama lain.
Dan, kurasa disitulah awal dan alasan.
Kenapa pernikahan ini terjadi.
Senyum sialan itu.
Pesona dan auranya.
Dan, juga kesehatanku.
Jadi, kurasa seperti itulah prolog untuk cerita ini.
Jujur, sampai sekarang aku masih bertanya pada diri sendiri.
Bagaimana bisa semua ini terjadi?
Bagaimana bisa?
•••
__ADS_1