
David menepati janjinya.
Saat pertama kali kedua mata Keira terbuka, yang ia temukan adalah wajah pria itu yang terlihat begitu tenang. Kedua matanya terpejam, bibir sensualnya tertutup, deru napasnya teratur, sebagian rambut hitamnya sedikit berantakan karena posisi bantalnya kurang pas.
Kerutan dikeningnya sedikit terbentuk, menandakkan betapa lelahnya dia. Keira menebak dia belum mendapatkan tidur lebih dari tiga jam. Dia pasti bekerja melewati porsinya.
David memang pekerja keras. Keira menarik senyum tak kentara pada sela-sela nyawanya yang masih belum sempurna. Menghela napas sejenak, ia memberanikan diri mengulurkan tangan untuk memperbaiki posisi bantal David. Ia sedikit menarik bantalnya agar kepala David bisa berbaring dengan sempurna pada posisi yang seharusnya.
Namun, ia tidak menyangka gerakan yang ia pikir sudah sangat hati-hati itu justru membuat mata David bergetar, dan segera Keira ingin menjauhkan tangan tetapi tertahan oleh David yang tiba-tiba sudah menahan tangan Keira.
David kini membuka matanya.
Keira gugup setengah mati.
"Ma-maaf, aku hanya ingin...."
"Selamat pagi..." ucap David dengan suara serak khas orang yang masih sangat mengantuk. Yang membuat Keira terkejut.
David masih sempat-sempatnya berusaha menarik senyum.
"Ah, maaf. Aku tidak bermaksud mengganggu tidurmu, aku…,"
Ucapannya tertupus ketika tiba-tiba David meletakkan tangan Keira di pipinya. Sangat dingin dan lembut. Gadis itu heran sekaligus gugup. Ia lantas menelan ludah. David kembali memejamkan matanya.
"Tanggung jawab..." gumamnya seperti setengah tertidur. "Apa ?" Itu reaksi spontan Keira.
"Tidurkan aku kembali, Keira," pintanya dengan sedikit manja.
Keira menahan geli pada perutnya, rasanya aneh melihat David bersikap seperti itu, di sisi lain, ia juga bingung harus berkata apa. "Bagaimana caranya membuat kau tidur lagi?"
"Buat apa pun yang menurutmu bisa membuatku tenang."
Semakin ke sini, kenapa jadi seperti menantang?
Keira berpikir selama beberapa detik, sebelum akhirnya menggerakkan tangannya di pipi David. Itu adalah ide yang paling standart dan spontan. Ia mengusap pipi hingga ke bagian kepala dengan sangat berhati-hati.
David sesekali membuka matanya yang masih sayu. Sesekali juga ia menarik senyum, itu membuat Keira menjadi percaya diri, karena itu artinya dia menikmatinya. Keira senang saat melihatnya kembali memejam dan kali ini tidak membuka matanya lagi, hembusan napasnya mulai tenang dan lebih teratur.
Keira pikir pria itu sudah kembali ke alam tidurnya.
Keira getap dengan aktivitasnya selama beberapa menit, sampai ia benar-benar yakin. David sudah kembali tidur.
Setelahnya, gadis itu menghela napas. Ia perlahan bangkit, dengan gerakan yang sebisa mungkin tidak menimbulkan suara yang mengganggu. Ia baru tahu, David adalah orang yang mudah terbangun. David memang tidak salah memilih rumah yang jauh dari keramaian kota seperti ini, pria itu punya telinga yang sensitif.
Kalau begini, Keira jadi khawatir akan pola tidur David. Seharusnya dia bisa mendapatkan tidur tanpa intrupsi.
•••••
Skip 2 Minggu Kemudian.
Pada akhirnya Keira menginjakkan kaki kembali di kampus, setelah merasa sembuh total. Ia bahkan sudah mulai bisa menganggkat beberapa barang yang cukup berat tanpa merasa sakit lagi. Dokter Mirae semalam menelfonnya dan menanyakan keadaannya, seolah dia sudah bisa menebak bahwa Keira benar-benar sudah sembuh. Mereka tidak mengobrol panjang, karena dokter Mirae begitu sibuk di Uzbekistan, dia hanya menanyakan keadaan Keira dan kehidupan Keira dengan putranya David.
Apalagi yang bisa gadis itu jawab selain "Kami baik-baik saja"
Karena, memang tidak ada masalah apa pun, lebih tepatnya, Keira semakin merasa David makin punya dunianya sendiri, begitu pun dengannya. Mereka tinggal satu rumah, tidur bersama, tapi tidak punya banyak waktu untuk saling berbagi dan mengisi. Ini lebih menyedihkan dari orang yang terlibat LDR.
Karena Keira dan David secara fisik dekat, tapi secara batin, mereka saling berjauhan.
Keira mengerti, David sedang dalam masa pra jabatan. Kabar terakhir yang ia tahu, pria itu akan mengembangkan sayap perusahaannya. Keira sangat ingin memperhatikan pria itu, ia mencoba, tapi rasanya semua sia-sia, David seakan berpikir bahwa pekerjaan adalah segalanya. Keira tidak tahu lagi, apa yang ingin pria itu capai sebenarnya? Karena, David sudah memiliki segalanya tanpa harus menyiksa dirinya sendiri.
__ADS_1
"Aku semakin ragu dengan pernikahan kalian." Suara Niken benar-benar sangat mengintrupsi Keira yang sedang menikmati sinar matahari langka siang ini.
"David pria yang baik." Sebenarnya itu jawaban agar membuat Niken tak berbicara lebih jauh.
"Aku tahu, tapi dia sangat aneh. Benar, kan?" Niken menyenggol Dino yang tengah membaca buku.
"Hmm, sedikit." Dino menaikan kedua bahu lalu melanjutkan membaca bukunya lagi.
"Aneh bagaimana?" tanya Keira.
"Pikirkan saja, kau belum pernah mengenalnya sama sekali. Kalian menjalani masa pendekatan yang cukup cepat. Sangat tidak masuk akal, ini dunia nyata, di mana kita membutuhkan masa pacaran untuk bersenang-senang."
"Tapi, dia sudah tidak terlalu muda lagi." Dino membalik lembar bukunya.
"Tetap saja. Meski kalian menikah karena alasan kesehatan, tapi David seolah begitu tahu caranya mencuri hati Keira." Niken lalu meremas satu bahu Keira. "Kei, kau harusnya curiga, mungkin saja dia seorang player. Karena, seorang pria dengan kehidupan dan wajah yang mendukung seperti David takkan mungkin secepat itu memberikan cintanya pada wanita yang sama sekali tidak pernah ia kenal. Dia bahkan menyerahkan seluruh hidupnya bersamamu lewat pernikahan, apa itu masuk akal?"
Keira terkekeh hambar seraya mencerna kalimat Niken. Jika dipikir secara mendalam, semuanya memang benar.
"Aku tidak tahu, aku tidak punya alasan dan memang tidak pernah menemukan satu keburukkan pun tentang David." entah mengapa, Keira mengucapkannya dengan nada yang putus asa.
"Kei, kau harus mengenal David lebih dalam lagi."
"Untuk apa aku melakukannya? Nanti juga aku akan mengenalnya secara perlahan."
"Bukan soal itu, masalahnya, ini penting bagimu. Jadi, semakin kau mengenalnya, semakin kau tahu apa alasanmu untuk bersamanya."
"Apa kau berpikir aku tidak mencintai David?"
"Apa kau yakin kau mencintainya? Bagaimana jika semua ini hanya karena posisimu yang terdesak ditambah dengan kekagumanmu saja?"
Seketika Keira terdiam.
Kini hatinya mendadak bimbang.
Ini seperti sebuah kejutan karena David tiba-tiba menelfonnya dan bertanya apakah Keira sudah selesai dengan bimbingannya hari ini. Keira bilang bahwa ia akan selesai satu jam lagi, dan pria itu menjawab akan segera menjemput Keira satu jam lagi.
Keira terpaksa membatalkan niatnya untuk pergi ke toko buku, sebenarnya ia berniat untuk membeli refresensi tentang hal-hal yang membahas tentang isu ekonomi internasional untuk mendukung gagasan dari skripsinya. Tetapi, David, ajakan David yang langka ini lebih penting dari segalanya.
Keira sedang menunggu David di pelataran halaman kampus, ia terlalu bersemangat dan menebak-nebak pria itu akan mengajaknya ke mana. Apakah langsung pulang? Meminta Keira menemaninya ke suatu tempat? Atau akan berakhir dengan jalan-jalan romantis?
"Keira Putri?"
Keira menoleh ketika melihat seorang pria yang sedang berjalan ke arahnya, dia tinggi, putih, penampilan sangat modis dengan kaos polos abu-abu dan kemeja biru dongkernya. Keira memiringkan kepala saat melihat sebuah kamera mirrorless yang tergantung di lehernya.
"Maaf?" tanya Keira, yang sebenarnya menanyakan pria itu siapa.
"Aku Nicho Adrian. Panggil saja Nicho." pria itu tersenyum, memamerkan lubang kecil di pipinya. "Maaf, kau pasti terkejut."
Keira bingung sendiri harus bereaksi seperti apa. Jadi, ia hanya bisa berkata. "Ada apa?"
Nicho tersenyum canggung, lalu menyodorkan sebuah amplop cokelat pada Keira. "Ini, aku mengembalikan apa yang seharusnya tidak kumiliki."
Kening Keira berkerut samar. "Apa ini?"
"Buka saja."
Perlahan, Keira membuka isinya, dan matanya melebar ketika melihat lebih dari sepuluh lembar foto-fotonya yang diambil secara tidak sadar. Pengambilannya sangat sempurna, letak dan sudut bidikannya sangat pas. Keira memandangi semuanya, ini diambil saat ia sedang di kafetaria sendirian untuk mengerjakan skripsinya.
Keira menatap Nicho tidak percaya. "Ini...?"
__ADS_1
"Kumohon, jangan marah. Aku mungkin sangat tidak sopan mengambil gambarmu tanpa ijin, tapi sungguh, waktu itu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengarahkan lensaku padamu. Posisi, cuaca, pencahayaan dan objeknya, sangat pas. Sekali lagi, maafkan aku." Nicho sedikit membungkuk, menunjukkan betapa ia merasa bersalah. "Aku mengumpulkan keberanian untuk menemuimu, tapi kau sangat jarang berada di kampus, aku juga meminta nomormu dari Dino, tapi kau tidak membalas pesanku, jadi aku semakin ragu untuk menemuimu."
Keira masih diam, sembari melihat foto-foto yang ada di tangannya. Ia bingung, kenapa ia tidak sadar bahwa ada orang memotretnya saat itu? Apa itu karena ia terlalu serius. Keira hanya menatap Nicho yang masih menunggu jawaban Keira.
Nicho tampak makin gelisah, dia bahkan mengusap belakang kepalanya. "Waktu itu aku sedang mengikuti sebuah kompetisi untuk memotret dengan latar kafetaria, aku harusnya ijin padamu dulu. Foto itu memang terlihat begitu sempurna, tapi saat aku ingin mengirimkannya hari ini, aku merasa tidak bisa. Itu bukan milikku, jadi kukembalikan semuanya padamu, lengkap dengan CD yang berisi soft file-nya, aku menjamin, bahwa tidak ada lagi soft file gambarmu padaku. Aku benar-benar minta maaf."
Keira menarik napas panjang, lalu menarik senyum tipis. Perlahan ia merogoh kembali isi amplop itu dan mengeluarkan sebuah CD yang katanya berisi soft file dari semua foto Keira. Lalu, perlahan Keira sodorkan itu padanya.
"Aku suka cara membidikmu, menurutku kau berbakat. Jadi, kuharap wajahku bisa menjadi keberutungan agar kau menang dalam kompetisi itu."
Nicho terkejut saat mendengar kalimat itu. "A-apa? Kka-kau serius?"
Keira mengangguk. “Ambilah, anggap saja aku sedang baik dan karena aku suka hasil bidikanmu. Aku akan menyimpan hasil dari fotonya ini sebagai bayaran." Keira menaikan amplop yang berisi foto-fotonya. "Semoga kau berhasil."
Nicho tak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. "Terima kasih, terima kasih, aku sangat tidak menyangka bahwa... ahh. Ini sulit dipercaya." Nicho menatap Keira dengan penuh ketulusan.
Gadis itu juga membalas senyumnya. Entah mengapa, ia hanya suka bagaimana cara Nicho mengakui kesalahannya, padahal dia bisa saja tidak ijin pada Keira. Tapi, dia sangat sopan dan Keira tahu, butuh keberanian untuk itu. Mereka masih sama-sama larut dalam suasana, sampai akhirnya sebuah mobil berhenti di dekat Keira.
David. Dia sudah tiba rupanya.
David tampak menurunkan kaca mobilnya, terlihat dia yang memakai kaca mata. David hanya menatap Keira tanpa suara dan menggerakkan kepalanya, menyuruh Keira untuk segera masuk. Ia pikir David sangat buru-buru jadi ia langsung berpamitan pada Nicho.
"Aku harus pergi."
Nicho mengangguk dan melambai. "Terima kasih dan hati-hati."
•••••
Mobil melaju meninggalkan pekarangan kampus. Keira masih melihati hasil-hasil foto dari Nicho yang luar biasa, ia tidak menyangka bisa tampak secantik itu saat di foto.
"Kau tampak bahagia hari ini?" David bersuara tanpa menoleh pada Keira.
Ia terkekeh. "Aku hanya tidak menyangka bahwa aku bisa secantik ini saat di foto," canda Keira asal.
"Pria itu yang memotretmu?"
Keira mengangguk. "Heum. Namanya Nicho, aku baru mengenalnya tadi. Foto ini diambil diam-diam, dan dia tadi meminta maaf padaku karena merasa bersalah, jadi dia mencoba mengembalikan semua hasil bidikannya pada ku. Lucu sekali." Keira masih tersenyum, tak habis pikir, sembari kembali memasukkan semua foto-foto itu ke dalam amplop.
"Oh, jadi istriku punya banyak penggemar di kampusnya?" David kini meliri Keira, dengan kening yang berkerut.
Keira menghela napas panjang. "T-tidak..." lalu ia memiringkan tubuhnya untuk memeluk satu lengan David yang sedang bebas karena tidak memegang stir. Ia menyandarkan kepalanya di bahu David. "Aku hanya gadis biasa yang beruntung karena bertemu denganmu." Keira sendiri tak mengerti, mengapa ia jadi manja, mungkin karena efek terlalu senang David menjemputnya.
David tersenyum luluh, dan perlahan melepaskan tangannya dari pelukann Keira untuk dialihkan ke punggung dan bahu Keira. Sesekali tangannya juga mengusap kepala Keira.
"Aku yang beruntung karena menemukanmu, Kei," bisiknya sampai sesekali mengecup puncak kepala Keira.
Keira sempat sedikit mendongak. "Vid? Kenapa tiba-tiba menjemputku, bukannya kau sangat sibuk?"
“Benar, aku sangat sibuk. Sampai kepalaku nyaris pecah, aku mungkin butuh istirhat dan menjernihkan pikiran sejenak di suatu tempat."
"Apa? Memangnya kita akan kemana?"
"Ke tempat yang tepat untuk melakukan sesuatu yang wajib kita lakukan."
"Eum? Maksudnya?"
"Tentu saja. Membuat anak."
David menoleh pada Keira yang sedang menelan ludah tak percaya. "Ayolah, Kei. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. "
__ADS_1
•••