Minsugar

Minsugar
Alter ego


__ADS_3

"Kenapa kau menghamilinya Vid hikss, kau kan sudah berjanji padaku hikss."


Renata tampak menangis di pelukan David. Pria itu berdesis kasar dan menjambak rambutnya sedikit frustasi. Ia sangat mencintai Renata dan tak ingin kehilangan gadis itu. Tapi disisi lain, hati kecilnya menolak. Ia merasa ini salah, tak seharusnya ia menduakan Keira. Apapun alasannya, Renata tetap saja pendatang. Meskipun sebelumnya mereka pernah menjalin hubungan sekalipun. Kini status mereka telah berubah. David seorang pria beristri, dan bercinta dengan gadis lain disaat istrinya sedang hamil adalah kesalahan besar.


Namun meski hati kecilnya menolak, David mencoba menepis perasaan gusarnya. Ia percaya ada sebagian dirinya yang lebih kuat dan membuat dia mendapatkan segala yang dia inginkan. Akhirnya pun, David menarik Renata kedalam pelukannya. Mencium dan mengelus puncak kepala gadis itu, hanya agar Renata berhenti menangis.


"Aku tidak tau kenapa aku melakukannya Sayang. Tenanglah. Aku akan menyelesaikan masalah ini."


"Jika kau mengingkarinya, aku tak segan melakukannya sendiri dengan kedua tanganku Vid hikss."


Brak.


Pintu apartement Renata terbuka kasar. Ia bisa melihat Arabella Barsha yang menatap remeh kearah keduanya. Tatapan gadis itu begitu kentara jika ia tengah menahan amarah pada keduanya. Bella masuk dan menutup pintu dengan kakinya. Ia berdecih sinis memandang David dan Renata bergantian.


"Sejak kapan kau jadi wanita murahan seperti ini Renata Maheswari?"


"Tutup mulutmu Bella!!" bukan Renata yang menjawab melainkan David.


Bella berdecih sinis. Kali ini Bella berjalan mendekat, menarik lengan David agar pelukan mereka terlepas. David berdiri didepan Bella dengan wajah memerah dan sorot mata yang tajam.


"Hai Daren, long time no see." desis Bella rendah.


Mendengar hal itu, David merasa sekujur tubuhnya bereaksi. Ia menunjukan seringai menakutkan dan tiba-tiba saja bersikap angkuh dengan melonggarkan dasi dilehernya dan memasukan kedua tangannya kedalam saku celana. Pria itu berjalan mendekat dan mengukung tubuh Bella ke dinding. Jika kalian mengira Bella takut, kalian salah. Bella seorang pengacara senior ia sering menjumpai klien dengan berbagai macam sifat dan karakter. Ia pernah mempelajari ilmu psikologis juga. Jadi, ia tahu persis bagaimana membangunkan si alter ego.


"Hai Arabella Barsha." mendengar nada suara David yang berubah serak, Bella yakin sepenuhnya jika Daren berhasil menguasai tubuh pria tampan itu.


Bella mendorong Daren menarik lengan pria itu menghadap ke Renata. Awalnya Renata sedikit terkejut. Harusnya Daren tidak semudah itu untuk dipancing keluar. Hanya ia yang boleh memanfaatkan keistimewaan David Asrawijaya. Tanpa ia sadar Bella sudah membaca gerak geriknya.


"Kau ini sebenarnya mencintai Daren atau David? Pilihlah salah satu Renata. Jangan serakah dan mejerat dua-duanya." mendengar penuturan Bella membuat Renata terkejut.


"Apa yang kau katakan?! Bagaimana aku memilih?! Mereka dalam satu tubuh yang sama." teriaknya sedikit tidak terima.


"Bunuh Daren atau David?" Bella menaik turunkan alisnya. Wajah cantik gadis itu semakin membuat Renata menggeram.


Ia tidak mungkin membunuh jiwa David dan membiarkan Daren mengambil alih seutuhnya. Ia tidak segila itu berpacaran dengan seorang psycho. Ia tahu Daren adalah sisi buruk David, tapi untuk membunuh jiwa Daren. Tentu saja ia tidak akan pernah melakukannya. Jika David kembali, ia berani bertaruh jika ia akan dibuang oleh pria itu. Pertama kali mereka bertemu, ia melihat raut David yang berubah, pria itu bahkan menutup diri rapat-rapat agar alter egonya tidak kembali keluar.


Ia sempat memata-matai David, dan mendengar kabar bahwa David menikah itu sukses membuat amarah Renata memuncak. Bukan hanya itu, meskipun ia tahu persis pernikahan itu terjadi karena permintaan dokter Mirae ibu David. Tapi ia bisa melihat perubahan David yang begitu mencolok. Pria itu menjadi ramah senyum, selalu rapih dan matanya selalu teduh. Tidak seperti David yang sebelumnya. Tidak pernah senyum, selalu menatap tajam lawannya dan memandang remeh siapapun.


Ia benci kenyataan David hidup bahagia tanpa dirinya. David hanya boleh menjadi miliknya. Bukan orang lain.


"Aku tidak akan membunuh salah satu diantara mereka. Mereka hidup dalam tubuh yang sama, kita akan kehilangan salah satu keistimewaanya jika kita nekat melakukan hal itu."

__ADS_1


"Kita?" Bella mendecih sinis mendengar ungkapan kita dari mulut busuk Renata.


"Daren, aku ingin bertanya denganmu. Apa kau mau berbagi tubuh dengan David?" ia melihat Daren menyeringai.


"Sebenarnya aku benci David yang lemah, tapi Renata tidak mengijinkan ku untuk menguasainya. Jadi aku harus menuruti kekasihku."


"Kau bukan kekasihnya, Daren. Kau hanya di manfaatkan. Selama ini Renata hanya mencintai David. David Asrawijaya, CEO DAGroup. Bukan Daren Petter si alter ego."


"ARABELLA!!" teriak Renata. Gadis itu benar-benar menghancurkan segalanya.


Tak lama setelah itu Nathan, Arga dan Mike tampak masuk diikuti oleh Keira dibelakangnya. Keira tampak kacau, matanya merah dan membengkak dengan rambut yang benar acak-acakan. Daren menatap gadis itu sinis.


"Gadis lemah, untuk apa kau kesini!!." teriaknya sedikit tak terima.


"Apa kau keberatan jika aku membawanya kemari? Daren?" tukas Mike.


"Bagaimana kabarmu Daren? Semenjak kau hadir, sudahkah kau membunuh orang lagi?" kali ini Nathan yang berucap.


"Kudengar kau ingin membunuh bayimu? Kenapa tak sekalian saja kau bunuh Renata? Sepertinya dia tidak sabar untuk bertemu Tuhan dan menanyakan takdir hidupnya yang berantakan." ucap Arga lengkap dengan seringai khasnya.


Tiba-tiba saja David berteriak kesakitan dan memegang kepalanya. Ia merasa pandangannya mengabur dan berputar. Pria itu mencoba meraih pegangan disekitarnya. Bella yang melihat itu dengan sigap memapah tubuh David. Sedangkan Renata? Gadis itu sudah lebih dulu keluar melarikan diri.


David mendesis lirih dan memegangi kepalanya.


David memandang sekitarnya. Pandangannya jatuh pada Keira yang sudah beralih di pelukan Arga.


"Sayang, kenapa kau disini?" tanya David.


Dan bukannya menjawab, Keira justru menarik Arga pergi bersamanya. David yang melihat hal itu hanya menggeram marah. Berniat mengejar istrinya namun gerakannya terhenti ditahan oleh Bella.


"Jangan sekarang, Keira sedang tertekan saat ini."


David menyentak kasar lengan Bella. Ia menatap gadis itu tajam.


"Apa yang kau katakan?! Dia istriku!!"


Bugh.


Mike sudah tak tahan melihat kelakuan David. Ia merasa sahabatnya itu sudah benar-benar gila.


"APA YANG KAU LAKUKAN?!!" teriak David penuh amarah.

__ADS_1


"Tanyakan pada dirimu sendiri Vid. Kau yang membuat Keira membencimu. Aku tahu pernikahan kalian karena permintaan dokter Mirae. Tak apa jika kau membenci Keira. Tapi untuk membunuh bayimu? come on dude kau sudah benar-benar gila?!" teriak Mike tak kalah sengit.


David mematung di tempatnya.


Bayi?


Apa Mike baru saja mengatakan secara tidak langsung bahwa Keira hamil?


"B-bayi?"


"Keira hamil Vid. Dia mengandung anakmu." ucap Nathan.


Mata David terlihat berkaca-kaca. Entah apa yang ada di pikiran pria tampan itu. Namun jauh dalam hati mereka, mereka merasa kasihan dengan David. Pria itu terlalu lemah untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Mereka selalu melakukan segala cara, tapi tubuh David selalu saja bisa diambil alih dengan mudah.


David mendudukan dirinya di sofa. Menyandarkan kepalanya dan mencoba terpejam.


"Apa yang harus aku lakukan? Secara tidak sadar, hati kecilku berkata sudah menyakiti Keira. Aku memang tidak mencintainya, tapi untuk menyakiti? Kalian tahu bukan, aku tidak mungkin melakukannya."


Mike menghela napas pelan. Pria itu melonggarkan dasi yang sedari tadi terasa mencekik lehernya.


"Sayangnya kau sudah melakukannya, Vid."


"Apa?! Bagaimana maksudmu?!"


Bella menatap Mike, mencoba meminta persetujuan kekasihnya. Begitu Mike mengangguk, Bella pun mengatakan segala hal yang tanpa sadar telah dilakukan olehnya. Mulai dari dia yang memperkosa Keira, sampai kekerasan yang sudah ia lakukan. Mendengar kenyataan itu, David benar-benar membeku di tempatnya. Nyawanya seolah tercabut keluar. Sekejam itukah dirinya?


"K-kau sedang tidak bercanda?"


"Kau mencambuknya Ka. Memukul dan menampar Keira dengan sangat kejam."


"Tolong aku, hentikan semua ini. Bella bukankah kau pernah mempelajari ilmu psikologi dari ibuku? Hilangkan kegilaan dalam diriku. Kenapa aku berubah menjadi seorang moster seperti ini? Arrggghh!!"


"Bukan Bella, ibumu ataupun kita Vid. Tapi kau sendiri yang hanya mampu melakukannya."


"Bagaimana aku menghentikan hal ini, sedangkan kemunculannya saja tidak pernah ku ketahui?"


David terlihat benar-benar frustasi. Ia ingin bertemu dengan Keira dan meminta maaf pada istrinya. Namun, disisi lain ia takut hal yang tidak diinginkan kembali terulang. Ia tidak bisa membayangkan sekejam apa dirinya kemarin.


"Bagaimana jika Keira benar-benar membenciku?"


"Itu sudah pasti Vid."

__ADS_1


•••


__ADS_2