Minsugar

Minsugar
Kuharap kau tidak menyesal


__ADS_3

"Ka Kei!!" Bella begitu terkejut saat melihat Keira jatuh tak sadarkan diri. Ia tak bisa melihat dengan jelas mengingat matanya yang memang bermasalah sejak ia memutuskan untuk masuk ke fakultas Hukum.


Bella berlari secepat kilat dan mendapati Keira jatuh bersimbah darah.


"Ah, damn!! Ka Kei!! KEIRAA!!"


Bella jadi panik sendiri. Mendengar teriakan sang kekasih, Mike pun segera menghambur keluar. Ia juga sama terkejutnya melihat keadaan Keira. Tanpa babibu, pria itu langsung menggendong Keira dan memasukkannya ke dalam mobil Bella. Mereka memacu mobilnya dengan secepat kilat, menuju ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Bella terus saja menangis melihat keadaan Keira.


"Sayang, tenangkan dirimu. Kei akan baik-baik saja."


"A-aku hikss kenapa aku tidak tahu saat Ka Kei di perlakukan seperti itu?! Ini semua karena mataku Mike hikss. Harusnya tadi aku menolongnya hikss!"


"Sayang, kumohon. Sekarang, aku malah lebih khawatir denganmu daripada dengan Keira. " papar Mike.


Pria itu memang paling tidak bisa jika melihat Bella menangis. Enak saja, ia sudah susah payah membahagiakan gadisnya dan lagi-lagi mata cantik itu mengeluarkan cairan bening. Mike tidak suka melihat Bella menangis, apapun alasannya. Itu adalah kelemahan terbesar Mike.


Begitu sampai di rumah sakit. Bella langsung berlari keluar, mencari Dokter khusus penyakit dalam dan kandungan. Ia menyeret Dokter itu dengan paksa. Mereka hanya bisa pasrah mengingat status Bella yang tak bisa di remehkan. Keira di bawa ke ruang IGD untuk mendapat pertolongan pertama. Para tenaga medis pun masuk untuk memeriksa keadaan Keira secara keseluruhan. Bella bahkan tak segan meminta 3 Dokter sekaligus untuk masuk dan menangani Keira.


Melihat Bella yang terus menerus berjalan bak setrikaan. Mike dengan sigap menarik pergelangan tangan gadis itu. Mendudukkan Bella di pangkuannya dan menyatukan kedua bibir mereka. Awalnya Bella terkesiap. ia ingin berontak karena Mike benar-henar tak tahu tempat dan keadaan. Namun pelukan Mike di pinggang Bella yang semakin mengerat, mau tak mau membuat gadis itu diam.


Mike melepas kulumannya ketika merasa Bella sudah lebih tenang. Pria itu tersenyum manis, mengusap bibir merah Bella yang sedikit membengkak akibat ulahnya.


"Merasa lebih baik?“


Mengetahui alasan Mike melakukan hal itu. Bella benar-benar tak bisa menahan senyumnya. Wajahnya bahkan memerah hanya karena perlakuan kecil Mike yang baginya kelewat manis. Bella tersenyum dan menghambur kepelukan Mike. Menenggelamkan wajahnya ke leher pria itu dan berucap dengan tenang.


"Aku selalu baik jika bersamamu. Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku."


"Aku tidak perlu berjanji, karena kau sudah tahu jawabannya sayang."


"Tidak, aku tetap mau kau berjanji!" rajuknya.


Mike mendorong bahu Bella untuk memberi sedikit jarak. Bella pun menatap Mike dengan pandangan bertanya, namun sedetik kemudian pria itu kembali mengecup bibirnya. Hanya kecupan penuh kasih sayang. Tidak ada lum*tan ataupun nafsu didalamnya. Mike mengusap kedua pipi Bella.


"Aku berjanji, Nyonya Ainsley."


••••••


"APA?!! BENARKAH?!" Bryan dibuat kelabakan ketika mendapat telfon dari Mike, yang mengatakan bahwa Keira dilarikan ke rumah sakit.


"Tidak, bukan David pelakunya. Sejak perdebatan tadi siang, dia terus mengekoriku dan tak pergi kemanapun!" ucapnya lagi.

__ADS_1


"Baiklah aku akan kesana dengan David."


Bryan mematikan telfonnya. Ia menatap David yang tertidur. Mungkin efek kelelahan. Memikirkan perusahaan, memikirkan istrinya, jangan lupakan Renata dan alter egonya yang ikut-ikutan menguras habis tenaga David.


"Vid bangun!" Bryan menggoyangkan bahu pria tampan itu.


"Apalagi?"


"Buka matamu dulu!"


Dengan malas David membuka matanya. Menatap Bryan yang tengah sibuk mengancingkan lengan kemejanya.


"Katakan dengan jelas, ada apa? Aku benar-benar tidak ingin membuat masalah lagi sekarang."


Bryan iba mendengarnya. Ia bisa melihat wajah kacau David, tatapan mata yang biasanya tajam mengintimidasi, kini terlihat sayu dan menghitam. Kemeja KITH Versace yang dua kancing atasnya terbuka. Lengan baju yang tergulung sampai kesiku. Bahkan bajunya sudah tak serapi tadi. Baru kali ini Bryan melihat David sekacau ini.


"Keira masuk rumah sakit!"


"APA?! A-apa maksudmu ?! Jangan bercanda!" mata yang tadinya berat akibat menahan kantuk, kini terbuka lebar. Bersamaan dengan jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang memikirkan bagaimana keadaan Keira.


"Apa wajahku terlihat begitu?!" sentak Bryan lagi.


David dengan sigap membenahi pakaiannya. Ia memakai sepatunya asal dan kembali menatap Bryan.


"Aku ikut. Berikan kuncimu, aku yang akan mengemudi."


"Aku saja."


"David!"


"Fine!!" David melempar kunci mobilnya ke arah Bryan.


Mereka berangkat dengan tergesa. Lebih tepatnya David yang terus menerus meminta Bryan untuk mengebut.


"Katanya kau tidak cinta dengan Keira. Kenapa bisa sepanik ini?" Bryan masih sempat-sempatnya melemparkan pertanyaan yang lebih tepat di sebut godaan bagi David.


"Aku panik bukan karena Keira. Aku memikirkan anakku yang ada dalam perutnya!"


"Halah, kau saja ingin membunuhnya. Bergaya sekali!"


"Aisshh!! Itu kelakuan si brengsek yang ada dalam tubuhku. Aku sudah lama menginginkan anak, enak saja dia tiba-tiba keluar dan ingin membunuh anakku!"

__ADS_1


Dalam hati Bryan tersenyum. Ia merasa ada titik terang untuk masalah David. Mungkinkah kelainan David perlahan akan menghilang jika pria itu lebih fokus pada calon anaknya?


"Vid!"


"Jangan banyak bicara Yan. Aku hanya ingin kau ngebut sekarang!"


"Hei!! Matamu tidak lihat ini sedang lampu merah?!"


"Haish, apalagi hah? Kau ini cerewet sekali!"


"Kau bisa sembuh!"


Satu kata yang membuat David mengalihkan atensinya penuh pada Bryan. Jimin sendiri tak begitu ambil pusing, pria itu masih dengan santainya mengemudi dengan menatap tenang ke arah jalan raya. Lampu sudah berubah hijau, Bryan pun kembali menekan pedal gas, sebelum si keparat di sampingnya kembali merecokinya.


"Apa maksudmu?"


"Kau bisa sembuh! Apa perkataanku kurang jelas?"


"Sialan, maksudku bagaimana caranya!"


"Bilang yang jelas dong. Tentu saja dengan mengalihkan fokusmu pada calon anakmu, dan coba membuka hati untuk Keira!"


"Kau gila?! Maksudku, tentu saja aku akan memikirkan anakku. Tapi Keira? Come on, dude! Aku tidak berniat untuk benar-benar jatuh hati padanya. Alasan aku bersikap manis dan menerima pernikahan ini hanya agar aku mendapat keturunan darinya, dengan mudah! Ditambah lagi dengan yang ibuku katakan"


“Sialan!! Kau mau kubunuh ya?!"


"Aku mencintai Renata!"


"Lalu kenapa kau tidak menikahi Renata saja waktu itu?!! Kau benar-benar sudah tak waras. Ku kira hanya Daren saja yang brengsek, tak disangka, jati dirimu yang sebenarnya lebih brengsek."


"Jika Renata bisa hamil, tentu aku akan menikahinya. Dia bilang jika dia mandul, maka dari itu suaminya terus menyiksa dia. Dia tak bisa memberikanku keturunan!"


"Katanya cinta, harusnya kau terima semuanya. Bahkan saat gadis yang kau banggakan itu MANDUL!" Bryan sengaja menekankan kata mandul. Ia melihat David menatapnya tajam.


"Tenang saja. Begitu anakku lahir, aku akan menceraikan Keira. Aku akan menikahi Renata dan membesarkan anakku dengannya."


Beberapa kalimat yang meluncur bebas dari mulut David, sukses membuat Bryan ingin membunuh pria itu. Mengambil jantungnya dengan paksa, memenggal kepalanya dan melemparya ke jalan. Sebenarnya apa yang ada dalam otak itu? Sudah jelas Renata meninggalkan David saat pria itu tengah berada dalam masalah. Jika meninggalkannya dalam arti pergi agar David memperbaiki diri, dan berubah menjadi lebih baik tak apa. Masalahnya Renata pergi karena ia berniat menikah dengan pria lain, yang status sosialnya lebih tinggi dari David yang kala itu masih belum sepenuhnya andil dalam perusahaan.


Bryan sudah terlalu jauh mengetahui tentang Renata. Ia bahkan tahu jika sebenarnya Suami Renata yang kini tengah mendekam di penjara, tidak benar-benar menyiksa Renata. Itu hanyalah strategi Renata. Gadis itu tahu jika David masih memata-matainya, maka dari itu ia bermain alibi. Bryan juga tahu jika Renata menggugurkan bayinya sebanyak dua kali. David terlalu baik atau bahkan terlalu bodoh jika menyangkut segala hal tentang Renata.


“Kuharap kau tidak menyesal, jika suatu hari Keira lebih memilih pria lain, dari pada ******** sepertimu."

__ADS_1


•••


Vote dan commentnya yereboun💜


__ADS_2