Minsugar

Minsugar
Keira side


__ADS_3

Aku merasa benar-benar gila saat memutuskan untuk hidup bersama David Asrawijaya. Pria yang bahkan baru beberapa hari kukenal. Dokter Mirae terus saja memaksaku untuk pergi bersamanya, memintaku untuk memenuhi ajakan David hanya agar aku bisa mengenalnya lebih akrab. Saat pertama kali dia mengajakku ke gedung megah tempat ia bekerja, aku sudah merasa pernikahan ini akan berakhir buruk. Saat dimana ia tiba-tiba memperkenalkanku pada seluruh kenalan dan karyawannya. Saat dimana dia dengan lancang mengecup dan mel*mat bibirku seolah aku sudah sah menjadi miliknya.


Aku sempat marah, tentu saja. Itu adalah ciuman pertamaku, aku tidak munafik. 21 tahun aku hidup,


aku belum pernah mencium atau berciuman dengan lelaki manapun. Bukan tanpa alasan aku melakukannya. Saat aku memutuskan untuk menyukai seorang pria, aku bahkan tak berani menatap wajahnya. Dan David dengan lancang menjadi yang pertama, bahkan disaat aku belum


Baik baik, atau diam.


David Edward Asrawijaya.


Sejak hari itu, namanya terus saja mengisi pikiranku.


Bagaimana kehidupanku nanti setelah aku menikah dengannya? Bagaimana aku harus bersikap, memiliki suami dengan jabatan dan kekayaan yang sama sekali tidak bisa ku anggap remeh. Ia lahir dan tumbuh


di keluarga yang berada, ia tahu cara bersikap dan mengambil alih hati keluargaku. Awalnya aku mengira ini hanya pernikahan karena penyakit yang ku alami saja, dimana seperti yang di sarankan dokter Mirae. Tapi setelah malam pernikahan, akhirnya semua terbongkar.


David menikahiku hanya karena tuntutan. Ibunya ingin melihat putra semata wayangnya menikah sebelum ia pergi ke Uzbekistan untuk mengabdi menjadi seorang relawan disana, ditambah lagi riwayat penyakit dokter Mirae. Tak menutup kemungkinan ia bisa pergi dari dunia ini kapan saja saat usianya menginjak kepala lima tapi ia tak mau menghabiskan sisa hidupnya hanya dengan menjadi pensiunan tanpa membantu banyak orang diluar sana yang membutuhkannya. Awalnya aku kecewa, namun lagi-lagi aku hanya bisa diam. Sikap David yang selalu manis dan perhatian, mau tak mau membuatku jatuh padanya.


Aku belum pernah berhasil menjalin hubungan selama ini. Jadi kurasa, David adalah kekasih sekaligus pria pertama yang berjalan bersamaku hingga sejauh ini.


"Sayang, kau melamun lagi?"


David tiba-tiba datang, memelukku dari belakang dan mencium leherku. Suaranya yang berat dan penuh kelembutan selalu berhasil membuatku terbuai dengannya, lagi dan lagi. Aku menggengam satu tangannya yang sedari tadi berada diatas perutku. Aku berbalik dan melihat mata sayu David tengah menatapku intens.


"Aku ingin bicara" gumamku pelan.


Aku takut David tersinggung lalu marah denganku.


Meski kemungkinan ia marah hanya 2%. David sangat baik memperlakukanku meski hubungan kami hanya sebatas pernikahan karena penyakitku.


"Katakanlah"ucapnya lagi, kali ini ia menghadiahkan satu kecupan manis di bibirku.

__ADS_1


"Aku tahu pernikahan ini hanya tipuan Vid. Tapi bisakah kau memperlakukanku selayaknya Istri yang sesungguhnya? Maksudku aku ingin kau menganggapku benar-benar seb-"


Ia meletakan jari telunjuknya tepat di atas bibirku.


Aku tau David tak ingin lagi membahas hal ini. Aku merasa David memiliki sedikit perasaan untukku. Aku bisa merasakan dari tatapan matanya yang selalu tajam, namun menghangatkan dalam waktu bersamaan.


"Tidak ada pernikahan yang main-main Nyonya David Asrawijaya. Aku telah memintamu pada keluargamu. Aku sudah berjanji pada Tuhan, dan tentu saja pernikahan ini sah. Apapun rencana awal ibu, aku tak terlalu memikirkannya. Yang jelas kau adalah Istriku dan aku adalah Suamimu. Kau berhak seutuhnya atas diriku begitupun sebaliknya."


"Bisakah aku percaya, jika saat ini kau tidak sedang bersandiwara? Aku ingin mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak tahu kapan perasaan ini hadir, tapi aku merasa. Aku sudah mempercayainya untukmu"


David menarik leher Keira, menyatukan bibir keduanya. Saling mengecup dan memberi lum*tan kecil. David dengan segudang kelembutannya. Ia menarik pinggang Keira dan merapatkan tubuh gadis itu padanya. Berniat memperdalam ciuman mereka, seolah David tak ingin melepasnya begitu saja. Keira memukul dada David pelan, ia merasa pasokan oksigen di sekitarnya benar-benar habis tak tersisa.


"Aku memang ingin kau memberikannya padaku sayang. Mungkin aku tidak bisa berjanji untuk tidak membuatmu menangis atau bahkan menyakitimu. Aku hanya manusia biasa, tentu saja aku bisa berbuat salah. Entah saat itu kusengaja ataupun tidak. Inilah aku, aku akan berusaha membahagiakanmu, sebisaku."


Aku benar-benar tak bisa menahan diriku untuk tidak tersenyum. David begitu manis, ia sangat perhatian dan selalu memperlakukanku dengan baik. Terhitung tiga bulan setelah pernikahan kami, David mulai sedikit berubah. Ia sering membentakku meski pun itu hanya masalah kecil. Ia lebih sering pulang larut, saat bangun pagi pun aku tidak lagi menemukan dia di sampingku. Ya, itu hal yang biasa karena dia sering lembur. Aku tau ia direktur dari perusahaan pembuat game. Hal itu membuatnya bekerja ekstra ketika hari peluncuran semakin dekat. Jangankan memelukku posessife atau menenggelamkan wajahku pada dada bidangnya. Setiap pagi aku merasa hampa. Ranjang disampingku selalu kosong.


Aku merasa David berubah. Aku mencoba memperbaiki diriku, mencoba menjadi gadis yang baik untuk suamiku. Tapi bukannya mendapati David kembali, ia justru semakin kasar memperlakukanku. Hingga puncaknya kemarin aku benar-benar merasa tak tahan lagi dengannya. Bayangkan jika Suamimu bercinta dengan wanita lain, tepat di depan matamu. Mendesahkan nama orang lain saat kau sendiri belum pernah dijamah lagi olehnya. Apa saat kau marah, itu berarti kau yang kelewatan?


pada tubuhku. Aku mencoba sabar, bagaimanapun juga dia suamiku dan aku sangat mencintainya.


Namun mendengar ia ingin membunuh bayiku, maksudku bayi kami. Aku benar-benar tak habis pikir lagi dengannya. Aku tidak kuat lagi hidup bersama David. Jika meminta gugatan cerai tidak memungkinkan, aku akan pergi sejauh mungkin dari hidupnya demi menyelamatkan bayiku.


Aku melihat Arga yang terlihat serius mengemudi disampingku. Dari sorot matanya terlihat ia begitu rapuh dan terluka, aku tahu karena aku pun begitu. Dibalik sikap acuh Arga, aku merasa ia menyimpan berbagai macam kepelikan dalam hidupnya.


"Ka Arga!"


la menoleh menatapku. Aku tak lagi menahan diri sekarang. Air mataku tumpah, tangisku tak bisa lagi kubendung. Aku teramat sangat mencintai David. Aku benci diriku yang lemah, saat aku berkali-kali disakiti oleh David, aku bahkan tetap mengingat ia sebagai rumah untukku pulang. Arga terlihat khawatir. Ia langsung menarik tanganku dan menggenggamnya erat.


"Ssstttt, Kei tenangkan dirimu. Kau akan aman bersamaku."la berucap sambil mengelus surai panjangku.


Sebenarnya aku tak menyangka seorang Arga melakukan hal ini. Ia begitu dingin dan acuh, tapi sekarang? la terlihat cemas dan bingung. Ia berkali-kali menawariku apa aku ingin makan, minum atau aku membutuhkan sesuatu. Tapi aku terus menjawabnya dengan gelengan kepala.

__ADS_1


"Aku ingin pergi ka, tolong bantu aku menyembunyikan diri dari Suamiku hikss."


"A-apa yang kau katakan? Bagaimana dengan bayimu?


Lagipula, David tidak akan mau melepaskanmu Keira. Aku jamin itu "


"Aku tak berniat untuk berpisah darinya ka. Aku hanya ingin membesarkan anakku sendiri. Aku terlalu takut jika David benar-benar membunuh bayiku, jika aku tetap bersamanya."


"Aku tidak bisa gegabah Kei. Aku harus merundingkan hal ini dengan yang lain."


"Aku percaya padamu ka."


Saat ini, Arga mengantarku kembali ke rumah pribadi Mike. Bella bilang ia akan tinggal untuk menemaniku disini. Lagipula aku tidak memiliki tujuan lain selain kembali ke rumah Mike.


"Maaf aku tidak bisa mampir, aku harus kembali ke kantor. Kau bisa turun sekarang"


"Ini sudah sangat larut dan kau ingin kembali ke kantor? Jaga kesehatanmu ka."


Aku melihat dia tersenyum. Mengusak suraiku lalu memberi isyarat untukku segera keluar. Kalian tahu kan? Pengusiran secara halus.


"Tenang saja, aku sudah terbiasa"


"Baiklah, aku keluar dulu. Hati-hati dijalan"


Saat aku keluar, Arga tersenyum kepadaku dan melenggang pergi. Aku melihat Bella yang baru sampai dengan mobilnya ia menungguku di depan mobilnya dengan melambaikan kedua tangannya. Niat hati aku ingin menghampirinya, tapi tiba-tiba ada seseorang yang menusukku dari belakang. Sungguh ini sakit sekali. Darah mengalir deras dari punggungku, nyerinya bahkan sampai merambat ke perut. Aku merabanya dengan satu tangan dan aku melihat darah mengalir deras disana. Aku memang tidak sempat membalas atau berontak, kejadian ini terlalu tiba-tiba. Namun sepertinya Tuhan masih berpihak padaku karena aku sempat melihat pelakunya, sebelum aku jatuh tak sadarkan diri.


"Tuhan tolong selamatkan bayiku."


•••


Vote dan commentnya💜🤗

__ADS_1


__ADS_2