Minsugar

Minsugar
Pilih dia atau aku?


__ADS_3

Tap.. Tap.. Tap..


Mike dan Bella mengalihkan pandangan mereka ketika mendengar derap langkah mendekat. David datang bersama dengan Bryan. Namun bedanya, Bryan terlihat santai sedangkan David datang dengan nafas terengah, mungkin pria itu berlari tadi.


"Bagaimana keadaan Istriku?"


Mereka bertiga mengernyit. Sejak kapan David mengakui Keira sebagai Istrinya? Meskipun David tidak pernah menyembunyikan status hubungan mereka, namun sekalipun David tak pernah mendeklarasikan Keira sebagai Istrinya. Ia selalu memanggil Keira dengan sebutan nama. Bella berdehem pelan melihat Mike yang saling pandang dengan Bryan, jangan lupakan kedua mata Mike yang membulat lucu itu.


"Jadi, kau sudah mengakui Keira sebagai Istrimu, Vid?"


"Heil! Apa kau pikir selama ini aku tidak mengakuinya?!" sentak David.


"Perlu ku ingatkan? Kau selalu memanggil Keira dengan nama. Sekalipun kau belum pernah memanggilnya dengan sebutan Istrimu dihadapan kami. Ya wajar kalau kami terkejut!" celoteh Bryan panjang lebar. David hanya mendecih.


"Cih, dasar berlebihan. Bagaimana keadaan Keira?"


"Dia sedang istirahat. Dokter sudah memeriksanya, dia bilang luka Ka Kei tidak terlalu parah, dan untungnya. Dedek bayi selamat."


David bernafas lega. Ia menggulung kemejanya yang tadi sempat ia kancingkan. Mungkin pria itu gerah. Sebelum masuk ke ruang rawat Keira, David kembali menghela nafas panjang. Bryan melirik David, lalu menarik lengan pria itu sebelum ia masuk.


"Kau yakin bisa mengontrol dirimu kan? Jangan buat keributan Vid, aku tidak ingin Keira semakin tertekan. Sebisa mungkin, jaga fokusmu agar si ******** itu tidak keluar lagi!"


"Iya. Aku akan masuk,"


Bryan mengangguk. Membiarkan David yang sukses melangkahkan kakinya, memasuki ruang rawat Keira. Ia melihat mata Keira yang terpejam erat. Tangan pucatnya terpasang infus. David berjalan mendekat, sebisa mungkin ia bergerak pelan agar tak membangunkan Keira. Ia duduk di kursi samping brankar. Menatap wajah Keira dalam. Ia mengamati setiap jengkal wajah Keira. Gadis yang saat ini menyandang status sebagai Istrinya. David mendesis ketika matanya menangkap luka lebam di wajah Keira, sudut bibirnya terlihat sobek dan pelipisnya ditutup perban. Tanpa sengaja matanya menatap leher dan tulang selangka Keira. Ia kembali dibuat meringis saat luka itu benar-benar terlihat mengerikan. Kulit putihnya berubah warna menjadi keunguan. Seperti bekas gigitan dan,


Cambukan.


Davud meremas surainya pelan. Menundukkan kepalanya, mencium punggung tangan Keira. Tanpa sadar, air matanya menetes. Ia lemah sekarang, teramat sangat lemah. Kenapa ia bisa berubah menjadi sosok kejam seperti itu? la bahkan tak memikirkan nasib buah hatinya, yang saat ini berada di perut Keira. Seketika, ia kembali teringat perkataan Bryan. Bagaimana jika Keira pergi? Bagaimana jika Keira lebih memilih pria lain, dan membawa anaknya ikut serta? Apa David benar-benar bisa bahagia dengan Renata? Apa ia bisa melepas Keira?


Ia tidak sadar jika isakan kecilnya membuat Keira terbangun. Gadis itu hanya diam, menatap David yang tengah menunduk dengan isakan kecil yang lolos dari bibirnya. Keira merasa punggung tangannya basah, namun gadis itu masih tetap diam.


"Bagaimana mungkin aku melakukan hal gila ini? Ya Tuhan, kumohon maafkan aku!" Keira bisa mendengar nada keputus asaan disana.


Entah mengapa, hatinya terasa sakit dan tangannya secara reflek terulur untuk menyentuh rambut belakang David. Pria tampan itu tersentak, dengan cepat ia mengusap air matanya dan menatap Keira dengan pandangan sendu. Keira hanya mampu tersenyum, tapi David jelas tahu jika senyum Keira terlihat begitu dipaksakan. Mungkin kedatangannya membuat Keira tak nyaman. Itulah yang ada dipikiran David.

__ADS_1


"Ah, maaf. Kau pasti terganggu! Aku akan pergi!"


Saat David bangkit hendak berjalan keluar.


Keira dengan sigap menarik tangan suaminya dan menggenggamnya. David menatap Keira yang menggelengkan kepalanya pelan. David jelas tahu isyarat yang Keira berikan. Gadis itu meminta untuk David tetap tinggal. Akhirnya David pun kembali duduk disana. Mengambil alih tangan Keira dan beralih menggenggamnya. Keira tak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Kenyataan bahwa David masih memperdulikannya, membuat sebagian kecil dari hatinya menghangat.


"K-kau menangis? Katakan Keira, apa aku menyakitimu? Kumohon, aku akan pergi, tapi jangan menangis. Anak kita akan membenciku jika aku membuat Bunda kesayangannya menangis." tutur David panjang lebar. Namun bukannya berhenti, tangis Keira malah semakin kencang. Hal itu sukses membuat David kelabakan. Seolah instingnya tengah dipandu, David menarik Keira dan memeluknya erat.


"Kau jahat Vid hikss, kau memintaku pada keluargaku. Lalu dengan seenaknya kau menyakitiku hikss. Kau jahat sekali hikss!" Keira memukuli dada David pelan.


Pria itu hanya mampu terdiam, tak mampu menjawab ucapan Keira. Karena memang benar adanya, bahwa ia memang pria yang jahat. Mana ada Suami yang tega memperlakukan Istrinya begitu kejam? Bahkan ketika sang Suami tak mencintai Istrinya sekalipun. Meskipun bibirnya terkunci rapat, namun tangannya tak berhenti mengusap lembut surai Keira. Mengecup kepala gadis itu berulang kali agar si empunya merasa sedikit tenang.


"Aku benci diriku sendiri hikss, disaat seperti ini. Aku bahkan tidak bisa pergi darimu. Aku sangat ingin melakukannya Vid, tapi dia tidak mau pergi dari Ayahnya hikss."


"Kalau begitu, kau tidak boleh pergi dariku." putus David.


Keira sedikit tak terima. Gadis itu mendongakkan kepalanya menatap David. David menunduk, menatap manik kelam Keira, wajahnya memerah dengan air mata berderai. Bibirnya terlihat bengkak. Mungkin sedari tadi, Keira menggigitnya demi menahan, agar isakannya tak keluar saat itu juga.


"Bagaimana bisa sep-hhmmppphh


David melepas tautan keduanya. Mengusap bibir Keira pelan, dan kembali mengecupnya sekilas. Ia juga menjahili Keira dengan menjilat ujung bibir gadis itu, ujung bibir yang sedikit sobek karena tamparan si keparat yang ada dalam dirinya. Wajah Keira memerah, ia sempat menunduk namun David mengangkat dagunya dan membuat gadis itu mendongak.


"Cantik sekali."


"Jangan bersikap seperti itu. Kau semakin membuatku tak bisa pergi Vid." ucap Keira sendu.


"Setelah semua ini, kau masih berpikir ingin pergi dariku?"


"Apakah ada alasan yang tepat, kenapa aku harus tinggal?"


"Tentu saja ada. Kau Istriku! dan disini..."


David meletakkan tangannya tepat diatas perut Keira. Mengusapnya lembut dan sedetik kemudian menghadiahkan kecupan manis disana. Keira hanya mampu menahan dirinya agar tidak meledak, jantungnya benar-benar berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.


“Disini, ada anak kita. Aku yang membuatnya, jadi kau tidak boleh pergi. Nyonya Asrawijaya,"

__ADS_1


"Bisakah kau memenuhi satu permintaanku? Aku akan tinggal, jika kau mau berjanji satu hal padaku."


"Apa?"


"Tinggalkan Renata."


"Ak-"


"Jika kau tidak bisa, aku tidak akan memaksa Vid. Hanya saja, aku tak ingin di madu. Apalagi aku tahu, jika saat ini kau mempertahankanku hanya demi anak kita. Setelah anak kita lahir, kau berniat mengambilnya dariku kan? Kau ingin menceraikanku dan menikah bersama Renata. Aku tahu semuanya Vid. Tapi maaf, aku tidak bisa. Kau boleh menikah dengan Renata, tapi tolong. Ceraikan aku dan biarkan anak kita ikut bersamaku."


David membeku. Bagaimana Keira bisa tahu akan hal itu? Apakah Bryan mengadukannya pada Keira? Seingatnya, ia hanya mengatakan hal itu pada Bryan dan Renata. Tapi, bukankah tidak mungkin jika Keira tahu dari Renata? Mereka saja tidak saling mengenal.


"B-bukan begitu. Tidak, maksudku. Aku memang berencana melakukan hal itu, tapi bukan aku sepenuhnya yang menginginkan itu Sayang. Dia, sisi lain yang ada dalam diriku."


"Aku bertanya kepadamu sebagai David bukan sisi lain dalam dirimu. Apa kau akan menyanggupi permintaanku untuk meninggalkan Renata? Cukup jawab Ya atau tidak Vid."


"Ya..."


Keira terkejut mendengar satu kata yang meluncur dengan bebas dari bibir David. Meskipun hanya satu kata, namun itu terdengar seperti keajaiban. Keira tahu David begitu mendambakan sosok Renata. Dan sekarang? David bahkan mengatakan dengan gamblang, bahwa ia setuju untuk meninggalkan Renata. Gadis yang beberapa tahun terakhir membuat David hampir gila. Oh tidak, bukankah David memang sudah gila?


"K-kau serius?"


"Beri aku satu ciuman."


"H-hah?!"


Keira termangu. Apa David baru saja memintanya untuk mencium pria itu lebih dulu? Bukankah ini terdengar gila?! Keira tidak pernah melakukannya! Maksudnya, Keira tidak pernah mencium David lebih dulu. Saat melakukan itupun, selalu David yang memulainya.


"Beri aku satu ciuman agar aku bisa memastikan semuanya, Keira!“


"M-memastikan apa?"


"Memastikan, apa aku benar-benar menyukaimu atau tidak,"


•••

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan vote dan commentnya💜


__ADS_2