
Keira, gadis itu sungguh menikahi David Edward Asrawijaya.
Dua minggu masa pendekatan yang berjalan sebagaimana mestinya. Mereka tidak terlalu punya banyak kesamaan yang sama. Tapi, David adalah penyeimbang yang baik, mungkin karena dia sudah jauh lebih dewasa. Sehingga tak terhitung sudah berapa kali ia mengalah untuk Keira. Seperti saat mereka pergi menonton, David tidak terlalu begitu menyukai film yang bergenre komedi, tapi dia mengalah karena melihat Keira yang sangat ingin menonton itu.
David masih 29 tahun, meskipun sebentar lagi dia akan berusia 30 tahun. Sedangakan Keira berusia 21 tahun. Perbedaan usia yang lumayan. Jadi gadis itu memanggil David dengan sebutan "Om". Meski David sebenarnya tidak menginginkan itu, tapi ia malah membolehkan Keira memanggil dengan namanya saja. Tapi, Keira merasa itu jadi aneh. Ia ingin menghargai David seperti pria itu juga menghargai nya.
David merupakan anak tunggal. Ayah dan ibunya bercerai saat dia masih berumur 4 tahun. Ayahnya menikah lagi, dan David memilih untuk tinggal bersama Ibunya. Tetapi, meski begitu. David masih tetap menjaga hubungan baiknya dengan ayah dan dua saudara tirinya.
Saat pernikahan berlangsung Keira dikenalkan dengan dua saudara tiri David, Mereka berdua seusia Keira. Mereka hanya berkenalan basa-basi. David dan juga dua saudara tirinya hanya mengobrol seadanya. Satu hal yang Keira dapat dari acara pernikahan itu bahwa David tidak begitu terlalu dekat dengan saudara tirinya.
Pernikahan mereka dipercepat karena Keira yang harus menjalani operasi dan itu tidak bisa di tunda. dokter Mirae juga membantu Keira untuk berbicara pada Paman dan Bibi Keira hingga akhirnya membuat semua pihak keluarga bisa menerima pernikahan itu. Padahal, Keira ingin operasi dijalankan dulu, baru pernikahan. Tapi, pertimbangan lainnya adalah dokter Mirae akan pergi ke Uzbekistan bulan depan untuk sebuah tugas mengabdi, jadi dia sangat ingin menyaksikan putra semata wayangnya itu menikah. Dia sangat ingin pergi dengan lega karena melihat David anaknya itu sudah menikah. Dokter Mirae juga memberi Keira obat untuk menekan perkembangan jaringannya. Jadi, semuanya baik-baik saja. Apalagi yang ada di dalam tubuh Keira masih terbilang jinak.
Jadi, seperti itulah gambaran dan asal usul dari perubahan marga seorang Keira Putri menjadi Keira Asrawijaya.
"Bagaimana keadaanmu?"
Keira terperanjat dari lamunannya, tidak menyadari sejak kapan David ada disitu di ruang perawatannya. Gadis itu terbaring tak berdaya terbungkus baju rumah sakit serta selimut setinggi dada. Ia baru saja sadar dari bius operasi sekitar satu jam yang lalu. Keira selalu meringis dan merenung setiap kali ia akan bergerak, ada sedikit ketakutan ketika ia merasakan ada yang aneh pada tubuhnya.
"A-aku baik." ucap Keira mendadak gugup saat David mendekati bangkar. Pria itu bahkan tidak ijin dulu pada Keira bahwa ia akan mengecup kening Keira dan mengusap lembut surainya.
"Kau akan segera sembuh, jangan terlalu banyak bergerak." David berucap begitu lembut. Bahkan bisa Keira lihat senyum mempesona yang terpancar dari wajah pria yang ia nikahi itu, bisa dibilang masih sangat awet muda. "Jika butuh apapun, katakan padaku." sambung David tetap dengan senyum hangatnya menghiasi wajah mas kulinnya.
Sampai sekarang Keira masih sulit mempercayai bahwa David berusia 29 tahun. Apakah karena dia bekerja di perusahaan pembuat game? Jadi, dia akan selalu bersenang-senang. Itu membuatnya tampak lebih muda.
"Dimana ibumu?" tanya Keira spontan.
"Kurasa setelah operasi mu, dia harus pergi ke suatu tempat. Lusa dia akan ke Uzbekistan. Dia akan kesini setelah urusannya selesai." David duduk kembali dikursinya, dia mengambil satu tangan Keira untuk di genggam dan diberi kehangatan.
"Keluargamu tidak datang?" tanya David heran.
__ADS_1
Keira menggeleng samar. "Aku tidak memberitahu mereka bahwa ini adalah harinya, aku sedang tidak ingin berbicara dengan terlalu banyak orang. Aku ingin ketenangan, kurasa itu yang aku butuhkan."
David menarik senyum manisnya, lalu menempelkan tangan Keira ke pipinya. "Apa itu berarti kau juga membutuhkanku?" goda David dengan melemparkan tatapan khasnya pada gadis itu.
"Om!" Keira menarik turun tangannya, Pria itu selalu berhasil membuat Keira memerah layaknya kepiting rebus.
CUP. David mengecup lembut bibir Keira.
Oke, kali ini wajah Keira sudah seperti tomat masak akibat perlakuan David barusan.
"Sudah ku bilang jangan panggil seperti itu."
Keira berkali-kali bertanya, sudah seberapa banyak wanita yang David kencani selama ini. Karena David sudah sangat pandai membuat wanita merasa nyaman padanya. setiap kali akan menanyakan hal itu, David selalu bilang bahwa itu tidak penting karena ia sudah sangat nyaman dengan Keira gadisnya itu.
Bodohnya. Keira selalu luluh.
"Ada masalah?" tanya Keira secara naluri.
"Bukan masalah besar, aku hanya harus lembur nanti malam. Apa kau terganggu jika aku menginap disini dan membawa laptopku?"
"Aku tidak keberatan."
"Terima kasih. Game memang harus terus di-upgrade huhh," David menghembuskan napas lega, lalu menguap. Dia tampak lelah.
Keira menaikkan sebelah alisnya. "Apa kau sering lembur?"
David menjeda beberapa detik sebelum akhirnya menarik napas panjang. "Biasanya mendekati waktu-waktu peluncuran saja. Selebihnya, aku biasa tidak tidur sama sekali."
"Bagaimana bisa?" Mendengar yang dikatakan David membuat Keira sedikit khawatir.
__ADS_1
"Aku tidak akan kurang tidur, karena aku selalu mencicil tidur ku saat siang hari. Di mobil, atau di ruang kerja saat rapat selesai. Itu sudah hal yang biasa di kantor." David mengambil tangan Keira lagi. " Apa kau keberatan dengan semua itu? Ku pikir aku sudah menceritakanmu tentang pekerjaanku?" Kali ini David yang tampak khawatir, Apa dia pikir ini akan mengubah Keira?.
"Apa yang kau bicarakan? Setiap orang punya kesibukan, setelah ini aku juga akan sibuk kuliah." jawab Keira tenang.
David menyipitkan matanya. "Kuliah?"
Keira mengangguk. "Eum, iyaa. Kenapa?"
"Heum, apakah kau tidak apa-apa jika nanti kuliah sambil hamil? Karena, secepatnya aku harus menghamilimu." David nengucapkannya dengan santai.
Sementara itu wajah Keira sudah kembali memerah layaknya kepiting rebus. "Aiish! Om! Haruskah itu ditanyakan?!."
"Kenapa? itu hal yang penting, Kau harus cepat melahirkan anak bukan?"
"Tapi, tidak bisakah kita tidak terlalu menjadikannya hal yang perlu di bahas secara terang terangan. Maksudku, biarkan saja semua terjadi sesuai waktunya."
David terkekeh dan menurunkan kepalanya, dia seperti merasa tidak enak dan malu atas ucapannya barusan.
"Ah. I-iya, maaf.." David berdiri lalu menatap Keira lekat dan mengecup bibir Keira selama beberapa detik dan kemudian menjadi lum*tan lembut yang David suguhkan. "Jika kau masih memanggil ku dengan sebutan itu, aku pastikan bukan hanya sekedar ciuman tapi bisa lebih dari itu." bisik David seduktif.
Ah, damn it!
Kenapa dia bisa selalu berhasil membuatku merasa begitu di sayangi?
David, kau jauh menembus hatiku.
•••
__ADS_1